Observasi di Dalam Keseharian

Hari ini kami sekeluarga pergi ke IKEA di Serpong untuk mengantar adik kami membeli beberapa barang. Situasi di IKEA lebih penuh daripada biasanya karena ada obral entah mulai kapan tetapi akan berakhir pada tanggal 10 Januari 2017.

Setelah berkeliling melihat-lihat, tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.30 dan kami pun pergi menuju area makan yang antreannya sudah mulai mengular. Setelah mengantre selama 40 menit, kami pun menyantap makan siang kami dengan lahap. Hal yang paling kami sukai dari IKEA adalah konsep swalayannya. Segala informasi terkait barang tercatat dengan baik mulai dari deskripsi barang sampai dengan dimensi barang. Tidak hanya itu, informasi tersebut dilakukan dalam Bahasa Indonesia. Apa yang istimewa dengan label yang ditulis dengan Bahasa Indonesia? Karena tidak semua perusahaan yang berbisnis di Indonesia melakukannya. Bagi saya, hal ini adalah suatu bentuk kepedulian dan profesionalisme perusahaan tersebut dalam melayani konsumennya.

Tidak hanya deskripsi barang yang disediakan di sana, denah setiap area telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pengunjung dan petunjuk yang mudah dibaca dapat ditemukan di mana-mana. Sudah terbayang bukan situasi di sana layanannya seperti apa? Apa kaitannya dengan cerita saya di atas? Nah ini yang ingin saya bagikan, setelah kami menyelesaikan makan siang, kami pun membereskan peralatan makan yang kami gunakan (mengikuti arahan instruksi yang dipasang di atas meja makan untuk menyimpan peralatan makan yang sudah digunakan pada tempat yang telah disediakan).

Di bagian tengah area makan terdapat ruangan kecil bersekat tanpa pintu dengan tulisan besar yang dapat dibaca oleh semua orang (yang bisa membaca) bahwa peralatan makan kotor yang sudah digunakan harus disimpan di situ. Meskipun pemandangannya sudah membaik dibandingkan kondisi terakhir kami ke sini (waktu itu banyak orang yang meninggalkan peralatan makannya di meja dan tidak membereskannya), sekarang peralatan makannya sudah mulai naik ke atas kereta dorong dan kereta dorong berisikan piring-piring kotor itu ditinggalkan di luar ruangan penyimpanan piring kotor sehingga banyak kereta dorong penuh dengan piring dan gelas kotor. Setelah saya periksa, tempat penyimpanan piring kotor di ruangan tersebut ternyata masih kosong.

Tidak hanya itu, ketika kami tiba di area parkir dan hendak memasukkan barang yang kami beli, sekali lagi terlihat kereta dorong yang berderet memenuhi tempat antrean di area muat barang pelanggan. Padahal lima meter dari area tersebut terdapat sebuah tempat dengan kereta dorong yang berderet rapi dan di bagian atas tempat tersebut terdapat petunjuk dengan tulisan besar yang meminta setiap pelanggan untuk mengembalikan troli yang sudah digunakannya di tempat tersebut yang hanya berjarak sekian meter dari area muat barang.

Inilah fenomena yang terjadi di dalam masyarakat kita. Bukan berniat usil atau merasa diri paling benar, tetapi saya ingin membagikan pengalaman ini sebagai pengingat bagi kita sebagai orangtua dari generasi penerus bangsa baik yang menjalani homeschooling maupun yang bersekolah untuk mempertanyakan kembali esensi dari pendidikan yang kita jalani di dalam keluarga kita. Saya yakin semua orang di sana hari ini tidak ada yang buta huruf dan pastinya banyak yang bergelar S1 atau lebih tinggi. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa masih banyak hal yang harus kita benahi dalam dunia pendidikan kita.

Banyak orang yang memiliki mobil mewah dan masih membuang sampah dari mobil yang ditumpanginya karena merasa mobilnya lebih berharga daripada bumi tempat dia tinggal. Masih banyak orang yang membuang sampah di depan tempat tinggal orang lain karena merasa rumahnya harus bebas sampah dan tidak apa-apa jika lingkungannya kotor yang penting rumahya bersih. Merasa diri punya uang berlebih dan merasa baik-baik saja ketika membuang makanan yang tidak dihabiskannya.

Tidak perlu kita lakukan karyawisata ke kota lain (apalagi ke negara lain) hanya untuk memberikan pengalaman kepada anak kita mengenai suatu hal. Masalah kedisiplinan seperti contoh di atas misalnya, bagi masyarakat Serpong, silakan ajak anak-anak Anda untuk mengunjungi IKEA dan melakukan karyawisata di sana. Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan kecuali ongkos pulang dan pergi ke lokasi. Bagi yang tidak memiliki ongkos untuk pergi ke IKEA silakan lakukan observasi di warung, tukang bakso, tukang bubur, dan tempat lainnya. Perhatikan bagaimana “lumrahnya” ketika ada seorang penjual sedang melayani seorang pembeli dan diserobot oleh pembeli lain dengan alasan buru-buru atau alasan lainnya sehingga perilaku menyerobot itu dianggap wajar.

Banyak hal lainnya dalam keseharian yang bisa kita jadikan bahan diskusi bersama anak. Tidak perlu keluar dana besar bahkan bisa gratis. Yang diperlukan adalah kemampuan observasi kita terhadap apa yang terjadi di dalam keseharian kita. Contoh-contoh di atas hanyalah sedikit dari pemandangan yang biasa kita lihat dalam keseharian kita. Apakah Anda memiliki pengalaman yang sama? Silakan bagikan pengalaman Anda di kolom komentar di bawah ini.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*