Kemarin seperti biasa kami berkumpul di Jagakarsa dan salah satu kegiatannya adalah pergi ke Rumah Sakit Hewan Ragunan yang buka 24 jam dan berlokasi di RM Harsono No. 28, Ragunan, Jakarta Selatan untuk memeriksa keadaan Browny, seekor anak kucing yang kami temukan di jalanan dan kami adopsi. Ada 15 orang anak yang tertarik untuk ikut serta sedangkan 5 anak lainnya lebih memilih untuk bermain hujan-hujannya yang saat itu sedang turun deras. Ketika saya sedang mengatur pembagian kelompok anak-anak, tiba-tiba Kiran berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak ikut serta ke rumah sakit hewan dan bergabung dengan teman-temannya yang bermain hujan. Saya sempat kaget karena awalnya Kiran bersemangat untuk pergi memeriksakan keadaan Browny ke rumah sakit hewan. Saya sempat berpikir mungkin Kiran tidak ingin melewatkan kesempatannya bermain hujan karena itu adalah kegiatan yang Kiran sangat nantikan di musim hujan.

Jujur saja saya sempat kecewa karena Kiran tidak jadi ikut tetapi kemudian saya berpikir mungkin Kiran tidak tertarik karena bulan lalu sudah pernah pergi ke sana, ya sudah saya harus belajar melepas ego. Pagi ini Nuni bercerita kepada saya mengenai salah satu kemenangan yang Kiran banggakan pada hari sebelumnya yang Nuni catat menjelang Kiran tidur dan membuat saya terkejut setelah mendengarnya. Saya belum sempat bercerita tentang kejadian kemarin ketika Kiran batal ikut ke rumah sakit hewan karena lebih memilih bermain hujan. Nuni menceritakan salah satu kemenangan yang diceritakan oleh Kiran adalah tidak ikut sertanya Kiran ke rumah sakit hewan. Saya bingung mendengarnya, bagaimana bisa itu menjadi kemenangan Kiran. Ternyata begini ceritanya menjelang saat Nuni mencatat di Buku Kemenangan Kiran:

Nuni: What happen?

Kiran: The children were going to the vet but I did not go.

Baby Brain (BB) said:
Just join to the vet, you will see browny being treated.

Adult Brain (AB) said:
Just take turn with your other friend. You have been there before. The car is already full. They can have my place.

Mendengar cerita Nuni membuat diri saya sangat malu karena telah berasumsi bahwa Kiran tidak ikut pergi ke rumah sakit hewan karena lebih tertarik bermain hujan dan mendengarkan baby brainnya. Seringkali saya meragukan kemampuan Kiran karena saya masih menganggapnya anak kecil yang masih perlu banyak belajar dari saya dan ternyata seperti halnya kali ini, seringkali saya yang belajar banyak dari Kiran tentang nilai-nilai kehidupan dan ketulusan. Saya harus berlatih lagi untuk tidak berasumsi ketika anak memilih untuk melakukan sesuatu. Percaya bahwa dirinya mampu untuk berpikir bagi dirinya sendiri.