Pentingnya Konsep Diri Positif

Ingat masa-masa kita sekolah? Ketika menerima hasil ujian yang kurang baik, tentunya  semua orang merasa kecewa, sedih mungkin juga marah dengan diri sendiri. Setelah itu ada yang menyerah dengan keadaan dan terus bersedih atau meratapi  nasib ada juga yang termotivasi untuk mencoba lebih keras. Kira-kira apa ya yang  menyebabkan perbedaan dari kedua reaksi ini?

Salah satu hal yang memengaruhi seseorang dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya adalah cara pandangnya terhadap sesuatu dan ini berkaitan erat dengan konsep diri (http://www.gozen.com/why-one-kid-gives-up-while-another-one-does-not-a-visual-story/). 

Konsep diri adalah bagaimana kita menilai dan memandang  diri kita sendiri, yang kemudian akan menentukan bagaimana kita menjalani hidup.  Apabila kita memiliki pandangan positif dan sehat maka pengalaman kita akan positif juga. Bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan tetapi kita akan memiliki pendekatan yang sehat dan baik ketika menghadapi suatu masalah. Apabila pandangan atau penilaian terhadap diri kita kurang baik dan rapuh maka ketika menghadapi kesulitan dalam hidup kita akan merasa sangat kesusahan dan kewalahan. Apabila anak memiliki konsep  diri yang positif tentunya akan sangat menolong dirinya dalam menjalani hidupnya sehari-hari.

Konsep diri bersumber dari respon atau penilaian orang terdekat terhadap diri kita dan penilaian terhadap diri sendiri.

Konsep diri positif: saya cantik, saya pandai memasak, saya pintar menggambar.
Konsep diri negatif: saya hitam, saya pendek, saya tidak bisa memasak, saya menggambar lingkaran saja jelek.

Perlu diingat konsep diri ini adalah masalah PERSEPSI. Jadi bisa saja dua orang sama-sama hitam dan pendek tapi yang satu merasa cantik/ganteng, yang satu lagi merasa jelek. Dua  orang yang memiliki kemampuan memasak yang sama tapi yang satu tetap merasa tidak bisa apa-apa sedang yang satu lagi merasa bangga dengan kemampuannya.

Orang tua diharapkan tidak memberi cap pada anak, baik yang diucapkan atau yang dirasakan dalam hati. Menggunakan kalimat yang positif ketika berkomunikasi dengan anak.

Contoh:

“Aduuh, susah banget ngajarin kamu”  diubah menjadi Kamu bisa kok nak, hanya perlu waktu saja, ayo kita coba lagi”.

“Gitu aja kok ga bisa” diubah menjadi  “Yuk kita coba lagi, tadi hanya kurang sedikit kok. Ayo semangat.”

“Kamu nih bikin malu ibu”  diubah menjadi “Jangan khawatir, kita semua pernah buat salah, mama tau kamu anak baik. Kesalahan kan proses belajar.”

“Duuuh males banget siih”  diubah menjadi Mungkin kamu capek ya. Ayoo.. semangat. Sebentar lagi selesai kok.”

Bagaimana orang tua dapat membantu menumbuhkan konsep diri positif pada anak? 

1. MULAI DARI ORANG TUA DULU

  • Orang tua yang memiliki konsep diri positif, anaknya positif pula. Jadi yang merasa jelek, tidak becus dan lain-lain, segeralah diperbaiki. Sadari bahwa kita semua unik dan punya kelebihan. Kalau kita merasa jelek karena fitur tubuh yg kita tidak suka, sama saja kita bilang ke anak kamu juga jelek karena hidungmu pun tidak mancung seperti ibu. Atau kalau kita rajin sekali mengkritisi diri sendiri, maka anak juga akan dengan sangat mudah mengkritisi diri sendiri.  Hal ini akan menumbuhkan keraguan dalam diri anak pada kemampuannya sendiri.
  • Berdamai dengan masa lalu. Kita semua punya masalah dan sampah masa lalu. Berdamailah dan maafkanlah masa lalu itu. Karena sampah masa lalu itu dapat membuat pandangan kita ke depan menjadi negatif dan memberatkan langkah kita.

2. PAHAMI APA ITU KONSEP DIRI

Komponen konsep diri:

1. Gambaran tentang diri

  • fisik: saya tinggi, saya gemuk
  • afeksi: saya penyayang, saya pendiam, saya pemalu
  • keahlian: saya seorang ayah, saya guru, saya ibu

2. Bagaimana kita menilai diri sendiri (kepercayaan diri) 

Positif: saya suka tubuh saya, saya ibu yang hebat
Negatif: saya terlalu tinggi, saya ibu yang ga becus

Komponen kepercayaan diri atau self esteem:

Harga Diri

Anak yang merasa dihargai keberadaannya, yang didengar oleh orang tersayangnya akan cenderung memiliki kepercayaan tinggi. 

Yang bisa dilakukan:
– Sapa anak dengan penuh kebahagiaan ketika bertemu (bangun tidur, habis main, pulang sekolah, dll)
– Panggil dengan nama, bukan olokan
– Bicara dengan penuh kasih
– Mendengarkan anak dengan penuh perhatian

Keberhasilan

Perasaan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu dan berhasil, akan menumbuhkan rasa percaya diri

Yang bisa dilakukan:

– Beri anak kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri sesuai usianya. Berilah pilihan sederhana dan hargai pilihannya. Contoh, sejak kecil memilih baju sendiri.

– Beri kesempatan untuk mengalami keberhasilan kecil sesuai usia. Tentu saja perlu diingat semua proses. Kalau gagal, anak diberi semangat bukan dimarahi. Contoh : pakai baju sendiri, merapikan kamarnya, membantu memasak dan jangan samakan hasilnya dengan orang dewasa. Hargai proses yang telah mereka lakukan agar anak tidak patah semangat.

– Terlibatlah dalam kegiatan yang anak sukai walau kita tidak suka. Ini akan menunjukkan bahwa kita mendukung anak.

Konsistensi

Anak butuh keteraturan. Segala perubahan sebaiknya luangkan waktu untuk menjelaskan kepada anak. Aturan-aturan yang dibuat hendaknya konsisten dan berlaku untuk semua orang. Apabila ada pengecualian, harus didasari alasan yang jelas untuk anak. Libatkan pula anak dalam membuat aturan-aturan dalam rumah.

Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan dapat menumbuhkan rasa suka terhadap dirinya sendiri atau menumbuhkan kepercayaan diri. Rayakan keberhasilan anak dengan cara yang sederhana dan terima kegagalannya sebagai proses belajar dengan membesarkan hatinya. 

Gambaran ideal tentang diri: 

Bantu anak memiliki keinginan  untuk  menjadi lebih baik dengan mencontohkan impian atau bayangan ideal tentang diri kita sendiri.

– Saya ingin jadi ibu yang selalu hadir buat anak.

– Saya ingin jadi pengusaha sukses.

3. KENALI TEMPERAMEN ANAK

Setiap anak berbeda dan spesial. Ada yang pendiam dan ada yang aktif. Ada yang sensitif ada yang tidak. Ada yang mudah berteman ada yang suka menyendiri.

Semua ini hanya ciri-ciri unik seseorang. Tidak ada yang lebih baik dan buruk. Temperamen adalah pola tindakan dan emosi  yang menjadi karakterisktik seseorang yang berpengaruh terhadap cara merespon lingkungan.  Dalam membimbing anak, kita harus memerhatikan dan mengenali tempramen anak. Dengan mengetahui temperamen anak, orangtua dapat membantu keunikan anak ke arah yang lebih positif. Jangan memaksa anak untuk seperti anak yang lain. Fokuslah pada kelebihannya. Ketika orangtua merespon anak sesuai dengan temperamennya anak akan tumbuh sehat dan gembira. Hal ini juga akan mengurangi rasa frustasi orang tua dan anak. 

Demikian 3 langkah yang dapat orangtua lakukan untuk membentuk konsep diri positif dalam diri anak. Apabila anak memiliki konsep diri positif, maka akan lebih mudah untuk dirinya mengadapi tantangan hidup.  Konsep diri positif membuat anak melihat dirinya dan lingkungannya dengan positif juga, dengan pandangan ke depan yang positif maka dengan mudah anak-anak mencintai dirinya dan lingkungannya. Tentunya dengan rasa cinta ini, insya allah anak-anak dapat membuat keputusan yang baik pula terhadap kehidupannya.

Leave a Reply

Required fields are marked*