Peran Ayah, Pentingkah?

Selamat pagi, cuaca gloomy sekali hari ini. Bangun tidur masih terdengar suara rintik hujan dan langit yang terlihat masih menggantung seakan enggan memberikan jalan untuk matahari bersinar. Melongok ke arah kasur saya melihat kedua orang yang saya sayangi masih terlelap dalam tidur mereka. Rasanya jadi ingin ikut kembali menarik selimut. Tapi tanggung jawab di sekolah sudah menunggu.

Hari ini Kiran tidak masuk sekolah karena ia dan ayahnya akan mengunjungi Museum Bank Mandiri bersama anggota Klub Oase. Mereka akan pergi menggunakan kereta komuter dari Pasar Minggu. Wah, Kiran semangat sekali ketika ia tahu bahwa ia dan ayahnya akan pergi naik kereta api. Seru sekali mendengar celotehan dari bibir kecilnya waktu bercerita tentang rencananya naik kereta api.

Bunda, you should come with us” katanya kemarin. “I wish I could, sayang” jawabku. Bagi Kiran, pergi tanpa salah satu dari orang tuanya bukanlah masalah. Ia cukup mandiri untuk bisa beraktifitas dan berinteraksi walaupun tanpa ibu atau ayahnya.

Ketika wacana meng-homeschool-kan Kiran diketahui oleh beberapa teman, beberapa pertanyaan yang terlontar dari mereka adalah: “Wah, nanti loe resign dong? Nanti yang ngajar siapa? Elo kan?” Respon mereka ketika tahu jawaban saya “Bukan, nanti yang ngajar ayahnya di rumah” :

  • Loh, bukannya homeschool itu ibunya ya yang ngajar? (belum tahu konsep HS)
  • Emang ayahnya bisa ngajar ya? (belum kenal suami saya)
  • Enak ya ayahnya bisa ngajar juga. (kenal dan tahu suami saya)

Beruntung saya mempunyai pasangan hidup yang mengerti pentingnya pendidikan anak, mau mencari tahu apa yang baik bagi pendidikan anak, dan terlibat langsung dalam mendidik anak kami. Suami saya tidak menyerahkan keputusan pendidikan Kiran seluruhnya kepada saya. Jadi tidak ada istilah “Bikinnya berdua, tapi kok yang ngurus istri sendiri” di keluarga kami hehe.

Jadi nanti Kiran homeschool-nya sama ayahnya, bukan sama ibunya? Iya! Tetapi bukan berarti saya tidak ikut andil dalam mengajar Kiran.  Saya percaya peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam proses perkembangan anak.  Sayangnya, masih banyak para pria yang “kadang-kadang” saja menjadi ayah. Dengan dalih kesibukan, mereka “kadang-kadang” membantu anak belajar di rumah, “kadang-kadang” bermain dengan anak, dan “kadang-kadang”  berdialog dengan anak. Kesibukan mencari nafkah untuk keluarga seolah jadi alasan untuk menyerahkan semua pendidikan anak kepada ibu. Padahal peran ayah sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak.

Interaksi seorang anak dengan ayah akan berpengaruh kepada perkembangan karakter dan kehidupan sosial si anak di masa depan.

Melly Puspita Sari, psikolog sekaligus pengarang buku “The Miracle of Hug” mengatakan bahwa pelukan seorang Ayah dapat menjadi media untuk mentransfer kemandirian dan keberanian ke anak  berinteraksi dengan figur otoritas di luar rumah. Anak yang sering mendapat pelukan ayah cenderung menjadi anak mandiri, tidak penakut, dan lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.

Sedangkan pelukan dari ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak. Ibu adalah figur yang penuh kasih sayang. Ketika anak sakit, ibu akan memeluk anak maupun mengambilkan obat untuk anak. Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain. (Sumber)

Saya pernah membaca  tulisan yang dibuat oleh Sarah Binti Halil yang ditulis untuk meraih gelar magister di fakultas pendidikan di Mekah (tapi lupa sumbernya di mana ;p) tersebut bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat 14 dialog antara ayah dan anak. Sementara dialog antara ibu dan anaknya  hanya 2 kali. Ternyata dalam Al-Qur’an pun dialog antar ayah dan anak jauh lebih banyak daripada dengan ibu, 14 berbanding 2. Al-Qur’an seakan ingin menyerukan kepada semua ayah agar lebih banyak bercakap-cakap dan berbicara dengan anak. Lebih sering daripada ibu yang memang sehari-harinya sudah bersama anak di rumah. Seperti yang tertulis di dalam QS. Luqman:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman (31) ayat 13).

Jadi peran ayah sangatlah penting bagi perkembangan seorang anak. Sama pentingnya dengan peran seorang ibu bagi kehidupan anak tersebut. Jadi, sesibuk apapun ayah, jangan sampai menjadi seorang ayah bisu, ayah yang seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya, ayah yang pembicaraannya hanya itu-itu saja (sudah kerjain PR? Sudah makan? Sudah mandi?), dan ayah yang lebih memilih memegang HP daripada berinteraksi dengan anak.

Saya harap semua ayah bisa berperan aktif dalam proses pendidikan dan perkembangan anak. Ayah bukanlah “hamba” yang hanya diamanahi untuk membesarkan anak yang “dititipkan” kepadanya. Tetapi ayah adalah pemimpin yang sedianya bisa menjadi seorang pendidik, pendengar, dan sahabat untuk anak-anaknya.

Posted by Nuni

Ibu satu anak yang telah mengajar di sekolah formal semenjak kuliah dan meninggalkan Sekolah HighScope Indonesia setelah 9 tahun mengajar di sana kemudian memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya secara langsung dan menjadi seorang ibu profesional.

Leave a Reply

Required fields are marked*