Perjalanan Pendidikan Rumah 2015

Dengan berakhirnya tahun 2015, mengingatkan keluarga kami bahwa sudah hampir satu tahun Kiran menjalani pendidikan rumah. Banyak hal yang terjadi dan tidak semuanya sempat kami tuliskan di dalam blog ini. Kami pun masih kesulitan mengatur jadwal keseharian pendidikan Kiran sekaligus mencoba menuntaskan segala tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan kami. Semoga tahun ini kami bisa mengatur jadwal keseharian kami lebih baik lagi dan lebih konsisten menuliskan perjalanan keluarga kami khususnya tentang pendidikan rumah Kiran .

Pendidikan Rumah Kiran

Semenjak Kiran menjalani pendidikan rumah, kami sangat bersyukur Kiran telah tumbuh menjadi anak yang sangat percaya diri dan mampu berinteraksi dengan anak-anak yang lebih muda usianya. Karena kegiatannya yang hampir setiap hari berinteraksi dengan orang-orang baru dari berbagai usia (anak-anak hingga orang dewasa) membuat Kiran lebih mudah beradaptasi dengan orang-orang yang baru ditemuinya.

Setelah menjalani pendidikan rumah, Kiran pun menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab. Saat ini Kiran sudah mampu untuk melakukan tugas-tugasnya dengan mandiri tanpa harus dibantu (meskipun kadang-kadang harus diingatkan) seperti, merapikan tempat tidur, berkomitmen dalam mengatur waktu mainnya, membantu kami menyiapkan peralatan makan sebelum makan dan mencuci peralatan makannya sendiri, membereskan mainan dan membuat dapat menyelesaikan rencana yang kami rancang (meskipun kadang-kadang harus diingatkan ketika hatinya sedang tidak merasa senang). Perilaku yang paling kami apresiasi adalah kejujurannya ketika Kiran berani mengakui hal-hal buruk yang dilakukannya dan menyampaikannya kepada kami tanpa rasa takut dan atas kesadarannya sendiri.

Untuk kemampuan berbicaranya dalam bahasa Inggris sudah lebih baik dan Kiran telah dapat menggunakan kalimat kompleks sampai pada 3 buah kalimat. Kemampuan berbahasa Indonesianya (bahasa Indonesia yang sebenarnya) masih kurang, karena lebih sering berkomunikasi dengan dialek Jakarta. Saat ini kami memang masih berfokus untuk menguatkan kemampuan dasar bahasa Inggrisnya terlebih dahulu sampai dirinya mampu membaca, kemudian kami akan beralih untuk mengajarinya  berbahasa Indonesia.

Kami tidak memiliki target secara khusus untuk tahun pertama pendidikan rumah Kiran, karena masih dalam tahap mempererat hubungan orangtua dan anak. Kami pun masih dalam proses deschooling yang sedikit demi sedikit mulai kami rasakan manfaatnya. Secara keseluruhan kami sangat senang dengan segala perkembangan Kiran di tahun pertama pendidikan rumahnya.

Mencoba Menemukan Kesesuaian

Di luar perkembangan tumbuh kembang Kiran, kami sebagai orangtuanya yang kebetulan bergelut di dunia pendidikan merasa sangat kesulitan untuk mencari cara terbaik dalam menjalani kegiatan pendidikan rumah Kiran. Sebagai guru, kami terbiasa dengan adanya perencaaan dan melakukan kegiatan dengan cara pemberian materi atau lembar kerja yang terstruktur. Pada awalnya kami melakukan kesalahan yang mungkin umum dilakukan oleh para pemula yang menjalani pendidikan rumah. Kami mengatur jadwal untuk Kiran sedemikian rupa layaknya jadwal sekolah. Kegiatan tersebut hanya bertahan satu bulan dan segera kami hentikan karena kami merasa apa yang kami lakukan hanyalah memindahkan sekolah ke rumah dan apa yang kami lakukan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan rumah kami.

Karena kami tidak melihat Kiran menikmati kegiatan-kegiatan yang kami berikan akhirnya kami pun berusaha mengatur ulang segalanya. Berbagai jadwal keseharian sudah kami coba tetapi masih belum menemukan jadwal keseharian yang “ideal” seperti yang kami inginkan. Kami masih menemukan salah satu pihak “terkorbankan” baik dari sisi Kiran maupun sisi kami sebagai orangtuanya. Akhirnya kami pun mulai mencoba pendekatan pendekatan yang berbeda dengan cara menghilangkan kegiatan-kegiatan yang “kami anggap bagus” dan lebih memerhatikan hal-hal yang Kiran anggap lebih menarik. Kami mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri (tidak memberikan harapan-harapan baik untuk dari kami maupun dari Kiran) dan mulai menjalani keseharian kami dengan mengalihkan perhatian kami kepada Kiran bukan pada kegiatan yang harus dilakukannya. Sedikit demi sedikit kami pun mulai mendapatkan irama keseharian kami. Kami selalu berpikir terlalu rumit untuk hal yang sebetulnya sederhana. Tetapi kami pun belajar dan mulai melatih diri untuk “mengingat” kembali dunia anak-anak.

Satu hal yang selama ini kami pelajari, kemantapan diri. Bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan perencanaan kita tetapi tetap mencari cara untuk mencapai tujuan merupakan hal yang lebih penting karena untuk mencapai tujuan diperlukan penyesuaian.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*