Menjadi Petualang Cilik di Rumah Perubahan

Poster Petualang Cilik

Hari ini kami mengikutsertakan Kiran dalam kegiatan Petualang Cilik yang diadakan oleh Rumah Perubahan. Kegiatan ini mengajarkan anak untuk bersentuhan langsung dengan alam dan mengelola hasil alam menjadi produk makanan. Setelah menempuh 2 jam perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit karena tersesat dan kondisi jalan yang rusak), kami pun tiba di lokasi. Kami harus memasuki jalan sempit yang hanya cukup satu mobil sehingga ketika kami berpapasan dengan mobil lainnya, masalah lain pun terjadi karena di kedua sisi kami terdapat tembok beton pagar dan rumah orang. Sayangnya petugas parkir yang jumlahnya 5 orang itu tidak berkomunikasi dengan baik untuk mengatur lalu lintas kendaraan yang hendak parkir.

Kami pun segera memarkir mobil dan bergegas mendaftar ulang supaya Kiran bisa mengikuti kegiatan. Kesan pertama memasuki area Rumah Perubahan sedikit aneh, mulai dari akses masuk dari jalan raya yang sempit dan lokasi tempat yang terpisah dari tempat parkir. Tetapi setelah memasuki tempat tersebut, kami pun disambut dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tanah yang luas dan beberapa bangunan yang dirancang menyatu dengan lingkungan sekitarnya telah mengalihkan perhatian kami dari pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang perjalanan. Kami pun masih harus berjalan melewati sungai kecil dan beberapa kolam ikan yang dirancang untuk kegiatan tertentu.

Suara anak-anak yang sedang asyik bermain pun mulai sayup-sayup terdengar . Kiran segera bergabung mengikuti kegiatan yang dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok menggunakan nama buah-buahan lokal dan terdiri dari 15-20 orang anak. Kegiatan ini diikuti kurang lebih seratus orang anak. Kegiatan anak-anak pun dirancang secara berkelompok untuk menumbuhkan kerjasama di antara anak-anak, seperti, memindahkan air dari satu ember ke dalam ember lainnya menggunakan pipa yang dilubangi sehingga kecepatan mengoper pipa menjadi kunci keberhasilan setiap tim untuk memindahkan air.

Kereta-Keretaan
Bermain Kereta-Keretaan
Estafet Air
Estafet Air

Kemudian anak-anak diajari memetik kangkung dari kebun dan mencucinya sendiri di dalam ember yang telah disediakan. Kangkung ini kemudian dibawa oleh anak-anak untuk diberikan kepada kerbau. Anak-anak pun menikmati pengalaman memberi makan kerbau dari sayuran yang mereka cabut sendiri. Setelah puas memberi makan kerbau, setiap anak diberi kesempatan untuk memandikan kerbau, lebih tepatnya berendam bersama kerbau  😀 

Pada awalnya Kiran enggan bergabung mengikuti kegiatan memandikan kerbau, tetapi karena banyak anak yang menceburkan diri ke dalam kolam, akhirnya Kiran pun terpancing dan memberanikan diri untuk memasuki kolam. Setelah Kiran memasuki kolam, ternyata sulit sekali mengajaknya untuk keluar dari kolam saking serunya bermain dan menciprati kerbau. Meskipun belum berani menaiki kerbau seperti anak-anak lainnya, tetapi Kiran terlihat sangat bergembira.

Setelah membersihkan diri, kami pun menuju Rumah Tempe yang terletak di samping kolam mandi kerbau. Di sini anak-anak melihat dan mencoba membuat tempe. Setiap anak membawa pulang tempenya masing-masing setelah selesai berkegiatan.

Kemudian kami pun beristirahat sejenak dan menyantap bekal makan siang yang kami bawa dari rumah, onigiri buatan Bunda Kiran 🙂 . Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan kegiatan selanjutnya yang mengetes kemampuan motorik halus dan daya ingat. Anak-anak ditantang untuk menggerakan cincin yang ditenagai oleh 4 buah baterai yang akan berbunyi jika cincin tersebut menyentuh kabel tembaga. Tantangan kemampuan mengingat, menggunakan display digit angka yang terdiri dari 7 tombol untuk membentuk angka nol secara digital. Dengan menggunakan tombol-tombol yang sama, anak-anak ditantang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakak pembimbing.

Berfoto bersama

Kiran sangat gembira mengikuti kegiatan hari ini dan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.

Pelajaran kami hari ini: 

  • Katakan tidak untuk penggunaan plastik.
  • Menempatkan alas kaki dengan rapi.
  • Pentingnya mengikuti peraturan.
  • Pentingnya menunggu giliran.
  • Berjalan di jalur masing-masing supaya tidak bertabrakan.

Konsep acara yang ditawarkan sangatlah menarik. Namun sepertinya belum bisa dieksekusi dengan baik. Ijinkan saya memberikan masukan kepada pihak penyelenggara berdasarkan pengalaman kami hari ini:

  1. Koordinasi petugas parkir perlu diperbaiki supaya lalu lintas kendaraan lebih bisa dikontrol dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
  1. Kakak pembimbing anak-anak sepertinya menggunakan jasa sukarelawan sehingga terlihat dengan jelas kakak pembimbing tidak begitu menguasai medan dan seringkali kebingungan ketika harus menuju sebuah tempat. Di setiap kegiatan yang diselesaikan pun tidak ada instruksi untuk kegiatan selanjutnya sehingga orangtualah yang sibuk menanyakan apa yang harus dilakukan anak setiap kali sebuah kegiatan diselesaikani. Alangkah baiknya jika kakak-kakak pembimbing dilatih dengan baik sehingga tidak terlalu kesulitan ketika bermanuver dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
  1. Buat peraturan yang jelas mengenai keterlibatan orangtua. Buat sebuah batas di mana orangtua memiliki jarak yang cukup supaya tidak mengganggu kegiatan anak-anak.

    Hari ini saya melihat sebuah acara anak-anak yang diramaikan oleh orangtua. Bahkan anak-anak pun terlihat kebingungan karena terlalu banyak campur tangan orangtua dalam berkegiatan. Belum lagi setiap detik setiap orangtua ingin mengabadikan kegiatan anak-anaknya. Oleh karena itu kesan berpetualang sepertinya kurang dirasakan oleh anak-anak karena campur tangan orangtua yang terkesan menginginkan anaknya tampil sesuai dengan harapan orangtuanya masing-masing.
  1. Pengenalan kegiatan minim sampah seharusnya bisa dijadikan sebagai salah satu sorotan utama kegiatan ini untuk mengajari anak-anak (sekaligus orangtuanya) untuk tidak menghasilkan sampah yang berlebihan. Contohnya ketika memasuki Rumah Tempe, setiap anak harus mengenakan sarung tangan plastik dan masker dengan alasan kebersihan. Sempat saya tanyakan kepada pihak panitia apa yang akan mereka lakukan setelah anak-anak selesai menggunakan sarung tangan dan maskernya. Jawabannya cukup mengejutkan “dibuang”. Padahal sempat saya tanyakan apakah bisa anak-anak mencuci tangannya dengan bersih supaya tidak harus menggunakan sarung tangan plastik. Tetapi alasan higienis lebih penting daripada alasan timbulnya sampah.Selain itu para penjual menjual makanannya menggunakan kemasan sekali pakai sehingga pemandangan sampah berserakan pun tidak dapat dihindari meskipun pihak penyelenggara berkali-kali mengingatkan para peserta untuk membuang sampah pada tempatnya.

Semoga masukan-masukan di atas bisa sampai kepada pihak penyelenggara untuk perbaikan acara selanjutnya dan demi tercapainya cita-cita kita bersama dalam mendidik anak-anak.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*