Puisi adalah satu-satunya pelajaran yang saya paling benci ketika sekolah dulu. Karena ketika belajar puisi, pasti berbarengan dengan deklamasi, alias membacakan puisi di depan kelas. Untuk murid pemalu seperti saya yang tidak suka jadi pusat perhatian tentu sangat menyiksa, apalagi guru-guru Bahasa Indonesia saya dari zaman SMP tidak ada yang bisa membangkitkan gairah dan minat saya dalam belajar puisi. Alhasil, saya sangat tidak menikmati puisi dan prosa Bahasa Indonesia.

Ternyataaa, puisi masuk dalam pelajaran wajib setiap hari di metode CM dan saya mau tidak mau harus membacakannya untuk Kiran. Karena setiap hari saya menemani Kiran membaca satu puisi, lambat laun, saya jadi menikmati dan begitu pula Kiran. Puisi pertama yang Kiran hafalkan adalah Stars yang ditulis oleh Jane Taylor (1783-1824). Saya dan Ian pun ikut juga menghafalkan bersama bait demi bait dari puisi tersebut untuk menunjukkan kepada Kiran kalau orang tuanya juga masih belajar puisi juga bersamanya. Tidak hanya karya Jane Taylor, Kiran juga belajar puisi karya A.A. Milne, Christina Rosetti, Sutan Takdir Alisjahbana, Mother Goose dan Shel Silverstein. Karya puisi dari penyair terakhir, Shel Silverstein, Where the Sidewalk Ends adalah yang menjadi favorit Kiran. Saya mengopi buku tersebut dari Perpustakaan Cikini. Kiran sangat menyukai puisi-puisi yang ada di buku itu, sampai ia selalu memilih puisi sebagai pelajaran pertamanya setiap hari.

Untuk ujian kemarin, Kiran memilih untuk mendeklamasikan Puisi karya Shel Silverstein yang berjudul I Must Remember. Ia bisa membacakan setiap larik dari puisi itu dengan baik. Namun Kiran belum mendeklamasikan puisi yang ia baca dengan baik. Dan itu menjadi catatan penting untuk saya agar bisa menjadi fasilitator pelajaran puisi yang baik untuk termin selanjutnya.