Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Dua bulan sudah berlalu semenjak kami meresmikan untuk menjalani pendidikan rumah untuk Kiran. Ibarat benih, kami masih berjuang untuk mencari setitik cahaya untuk bisa tumbuh dan bermanfaat bagi alam. Setalah 2 tahun Kiran menjalani masa pendidikan anak usia dini, kami masih merasakan kesulitan dalam menjalani transisi dari model bersekolah ke pendidikan rumah.

Rencana untuk aktif menulis di blog pun tinggallah rencana karena kami masih berjuang mengatur waktu antara pekerjaan dan menjalani hari bersama Kiran. Kami tidak sempat membuat kiriman untuk blog, karena kegiatan yang luar biasa sibuknya. Hal ini membuat saya berpikir untuk lebih berdisplin lagi dan berkomitmen dalam menulis di blog. Sepertinya saya harus belajar untuk lebih mengatur waktu supaya bisa memenuhi target yang saya inginkan. Menulis kiriman setiap minggu akan lebih masuk akal ketimbang menulis kapan saja. Di bulan Mei ini dan ke depannya saya akan mencoba untuk membuat tulisan setiap minggu dan semoga saya bisa melaksanakannya.

Begitu banyak peristiwa selama bulan Maret dan April dan saya ingin merekam peristiwa tersebut untuk kami kenang nanti selagi masih banyak detil yang saya ingat. Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Maret dan April dalam pendidikan rumah kami:

Pendidikan Rumah Kiran

Secara resmi kami menjadikan bulan Maret sebagai momentum untuk memulai pendidikan rumah Kiran secara resmi dan bertepatan dengan berakhirnya masa bersekolah Kiran. Sepertinya tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menjalani pendidikan rumah jika menunggu kesiapan kami sebagai orangtua atau Kiran sebagai anak yang akan menjalaninya.

Ternyata memang benar, banyak sekali tantangannya dalam memulai pendidikan rumah kami. Seperti yang selalu dikatakan praktisi pendidikan rumah lainnya dan buku-buku tentang homeschooling pun selalu memberikan “peringatan” bahwa tahun pertama akan sulit sekali karena saat tersebut adalah awal dari segalanya, sehingga masih banyak hal yang harus dicoba.

Bagi kami ada beberapa hal yang sangat sulit kami jalani seperti: merancang jadwal, melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan, memilih kegiatan yang diminati Kiran, dan yang tersulit dari semua itu adalah mencoba membuat anak kami sebagai subjek (pelaku), bukan objek.

Mengingat kami berdua bekerja, kami mencoba membagi tugas untuk bisa mengisi kegiatan yang berarti untuk Kiran. Istri saya menyiapkan segala keperluan dan bahan-bahan untuk keperluan makan siang saya dan Kiran yang nantinya tinggal kami olah.

Setiap pagi kami memulai kegiatan pada pukul 9 pagi meskipun kami sudah bangun dari pagi. Hal ini kami atur untuk memastikan kami bisa memulai kegiatan tanpa ada kendala. Misalnya, bangun kesiangan, Kiran masih belum siap, belum mandi, dan lain sebagainya. Setelah kami melakukan rutinitas 4 Simple Steps kami, barulah kami memulai kegiatan yang diawali dengan kegiatan fisik, seperti bermain sepeda, bermain bola sepak, atau bermain bola ping pong. Setelah itu kami lanjutkan dengan kegiatan membaca. Saya bacakan satu atau dua buku kemudian saya menyuruh Kiran untuk mengulang secara lisan cerita yang telah saya bacakan dan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Kami sisipkan juga beberapa kegiatan yang berkaitan dengan komputer untuk mengenalkan Kiran pada pengoperasian komputer dengan cara bermain game (untuk belajar matematika), mendengarkan dongeng, mendengarkan lagu dan bernyanyi (untuk belajar bahasa) dengan cara yang menyenangkan karena Kiran beranggapan bahwa dirinya sedang bermain game. Kami menggunakan abcmouse.com dan online resources dari Calvert untuk kegiatan ini. Setiap kegiatan kami rancang berdurasi 30 menit, sekaligus mengenalkan konsep jam juga kepada Kiran. Setiap hari selama 30 menit pun Kiran mendapatkan “hak istimewanya” untuk bisa melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa ada larangan dari saya (meskipun tetap saya berikan pilihan seperti bermain mobil-mobilan, menonton, atau bermain tablet).

Pada pukul 11 siang kami pun mulai mengolah bahan-bahan untuk makan siang kami yang sudah disiapkan dengan baik oleh istri saya. Kiran membantu memotong sayuran, menyiapkan piring dan membereskan piring-piring kotor dan mencucinya. Saya pun jadi belajar mengolah makanan 🙂

Kegiatan tersulit adalah pada saat makan siang, ketika Kiran selalu memilih makanan yang ingin dimakannya. Meskipun sulit, setiap hari saya mencoba menanamkan pengertian kepada Kiran bahwa tubuh kita membutuhkan makanan dan tidak semua makanan yang dibutuhkan oleh tubuh akan kita sukai. Proses makan ini biasanya memakan waktu lebih lama daripada proses memasaknya. Makan siang kami biasanya berdurasi 30 menit sampai 1 jam.

Kami mencoba merancang jadwal pendidikan rumah Kiran sebagai berikut ini:

 Hari Kegiatan
Senin Berkegiatan di rumah
Selasa Berkegiatan bersama Tunas
Rabu Berkegiatan bersama Oase
Kamis Berkegiatan bersama Tunas
Jumat Berkegiatan di rumah
Sabtu Berkegiatan di Rockstar Gym
Minggu Berkegiatan di Rockstar Gym

Banjir Informasi

Kekalapan kami sebagai orangtua yang mengumpulkan banyak sumber untuk kegiatan Kiran dan ketidakmampuan kami mengolah informasi yang telah dikumpulkan, benar-benar sebuah pelajaran penting bagi kami untuk benar-benar lebih memerhatikan ketertarikan Kiran dan bukanlah ketertarikan kami sebagai orangtua. “Mengarahkan” Kiran tanpa menghilangkan semangatnya ternyata lebih sulit dari yang kami bayangkan.

Dunia Bermain

Sebuah bukti bahwa anak berusia 5 tahun masih usianya bermain. Kami pun akhirnya belajar menerima bahwa anak kami masih senang “bermain” dan belum siap menerima kegiatan yang terlalu banyak dibumbui “peraturan” atau kegiatan yang terlalu benyak melibatkan pensil dan kertas.

Kami masih berusaha untuk tertarik dengan hal-hal yang membuat Kiran tertarik. Bukanlah hal yang mudah bagi kami dengan keseharian kami sebagai pekerja dan selalu berinteraksi dengan orang dewasa beserta permasalahannya yang timbul dari pekerjaan kami kemudian harus segera mengubah diri kami menjadi playful ketika bersama Kiran.

Transisi Situasi

Transisi dari tempat kerja ke rumah atau sebaliknya sangat penting. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan saat sulit mengingat tanggung jawab pekerjaan yang sangat besar. Namun, setiap hari saya harus belajar “berdamai dengan diri sendiri” bahwa saya harus bisa berfokus kepada anak saya ketika bersamanya dan fokus bekerja ketika tidak sedang bersama anak saya. Perasaan bersalah selalu menghinggapi diri saya ketika di Kiran, saya memeriksa surel atau menerima panggilan telepon yang berkaitan dengan pekerjaan. Akhirnya sedikit demi sedikit saya harus menerima bahwa pekerjaan bisa menunggu ketika saya bersama Kiran dan ketika bekerja, saya harus bisa efisien supaya tidak mengganggu kebersamaan saya bersama Kiran.

Menemani Ayah Bekerja

Khusus untuk hari Selasa dan Kamis, sepulang berkegiatan di Tunas, Kiran ikut bekerja bersama saya dan menghabiskan sisa waktunya di tempat kerja saya. Untungnya banyak sekali orang yang peduli terhadap Kiran sehingga saya bisa fokus melaksanakan pekerjaan saya. Kadang-kadang ada kenalan yang berbaik hati mengundang Kiran setiap selasa Kamis siang sampai sore untuk bermain di rumahnya yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari tempat kerja saya. Istri saya pun biasanya menemui kami sepulang kerja supaya kami bisa pulang ke rumah bersama-sama.

Berjejaring

Kebetulan di bulan Maret adalah awal dari kebersamaan saya dan Kiran berkegiatan bersama Tunas (sebuah komunitas homeschooling untuk anak usia dini). Kami mulai mengatur jadwal supaya bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dengan sambutan yang hangat dari setiap anggota Tunas mulai dari pertemuan pertama kami di Museum Polri, akhirnya saya lebih terlibat di Tunas. Untuk mempermudah para orangtua berkegiatan bersama anak-anaknya juga supaya lebih anak-anak lebih terarah, akhirnya para orangtua memutuskan untuk merancang kegiatan untuk anak-anak berdasarkan tema.

Tema Kegiatan

Tema untuk bulan April adalah tentang tanaman. Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan kami bersama Tunas :

Berkemah di Bumi Perkemahan Ragunan

Di penghujung bulan Maret, kami mencoba mengajak Kiran untuk berkemah. Sudah beberapa bulan ke belakang kami berjanji kepada Kiran akan mengajaknya berkemah. Ketika kami pergi ke sana, Kiran senang sekali karena dan akhirnya tahu rasanya berkemah.

Fieldtrip ke Kebun Raya Bogor

Pada bulan April, kami pergi ke Kebun Raya Bogor untuk menepati janji kami yang lainnya kepada Kiran untuk melihat paus biru (binatang kesukaannya) di Museum Zoologi. Kami pergi bersama pamannya yang kebetulan belum pernah naik KRL. Berdasarkan komentar beliau naik KRL ke Bogor, ternyata tidak beda jauh dengan fasilitas yang ada di negara luar sana (Baru sadar kalau sistem perkeretaapian di Jakarta sudah tertata dengan baik).

Bermain Biola

Ketika orang-orang menanyai Kiran tentang alat musik yang disukainya, Kiran hanya menjawab biola. Pada awalnya kami pun kaget karena tidak pernah memperkenalkan biola kepada Kiran. Ternyata Kiran mengetahui alat musik gesek ini dari tayangan Elmo’s World. Setelah beberapa waktu berlalu pun hanya biola yang disebutkan oleh Kiran. Akhirnya kami pun mencoba untuk meyakinkan diri jika Kiran memang tertarik untuk bermain biola. Kami pun berjanji untuk membelikan Kiran biola jika dia memang ingin bermain biola.

Berhubung harga biola yang tidak murah, saya pun mengajak Kiran ke Taman Surapati untuk melihat orang-orang berlatih bermain biola di taman. Di taman Kiran mendapatkan kesempatan untuk menjajal bermain biola dan setelah itu semangatnya semakin berkobar. Melihat binar di matanya, saya sepulang dari taman, kami pun membeli biola dan berencana untuk berlatih biola setiap minggu di taman tersebut.

Bermain biola Mengenal Biola

Mengikuti Gerakan Ayah Bercerita

Suatu hari di pertengahan bulan April saya mendapatkan informasi mengenai Gerakan Ayah Bercerita. Kegiatan ini adalah pelatihan untuk para ayah yang ingin belajar mendongeng. Beruntung sekali saya berkesempatan mengikuti kegiatan ini yang dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kebetulan mendongeng adalah salah satu kesulitan terbesar saya yang lainnya selain menggambar. Banyak informasi yang saya dapatkan dari kegiatan ini dan sekarang hanya tinggal melatih kemampuan mendongeng saya untuk Kiran.

Belajar Mendongeng melalui Workshop Gerakan Ayah Bercerita
Gerakan Ayah Bercerita – Grup Condet

Berikut ini adalah pengalaman seru lainnya selama 2 bulan terakhir ini dalam kegiatan pendidikan rumah Kiran:

Di umurnya yang kelima tahun kami sangat senang dengan perkembangan Kiran selama ini, berikut ini adalah beberapa hal yang sebelumnya menjadi perhatian kami dan sekarang Kiran bisa melakukannya dengan baik:

  • bersikap lebih mandiri daripada sebelumnya, seperti menyiapkan keperluannya sendiri, mengenakan pakaiannya sendiri dan menyiapkan alat makannya sendiri.
  • lebih nyaman bertemu dengan orang-orang baru.
  • bisa mengendarai sepeda roda dua
  • bisa berinteraksi bersama anak-anak di bawah usianya.
  • mampu mandi sendiri.
  • mampu mengutarakan keinginannya secara lisan.
  • mampu menyampaikan perasaannya ketika merasa senang atau sedih.
  • bisa berenang dengan gaya dog’s paddle.
  • mampu mengikuti instruksi beberapa instruksi yang disampaikan secara sekaligus.
  • mulai menunjukkan minatnya terhadap musik.
  • bisa bermain tebak-tebakan.
  • bisa becanda
  • bisa mengikuti peraturan
  • mampu mengantre dengan baik
  • mampu bersabar menunggu giliran.
  • berani bergaya di depan kamera.
  • bisa berbagi mainan bersama orang lain

Semoga kiriman ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan semoga ke depannya kami bisa lebih konsisten lagi dalam membuat kiriman. Masih banyak sekali hal yang harus kami pelajari sebagai orangtua dan semoga kami bisa terus menikmati proses pembelajaran keluarga kami.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*