Ruang dan Waktu untuk Minat Alma.

It doesn’t matter that her cutting isn’t straight.
It doesn’t matter that she tape it with black tape and need to used the longest tape to bind a tiny piece of paper.
It doesn’t matter that she only draw the necklace on one side.
It doesn’t matter…

What matter is she have an idea and not afraid to make it happen. The skill will follow eventually.

Dulu ketika Alma saya ajak membuat sesuatu, seringnya ditolak atau setengah jalan berhenti. Reaksi tersebut saya artikan sebagai ketidaktertarikan kepada art & craft. Dibelikan buku mewarnai, buku gambar, spidol, crayon juga jarang disentuh. Kalau digunakan, malah digunakan untuk menggambar badannya atau dipatah-patah.

Namun setelah baca sana-sini, agaknya saya tahu dimana kesalahan saya. Bukan Alma tidak suka art & craft tapi mungkin belum suka. Mungkin kegiatan sebelumnya saya memberikan terlalu banyak komando.

“Pegang gunting begini Alma.”

“Guntingnya dekat garis Alma.”

“Lemnya jangan banyak-banyak Alma.”

“Kalau buat gunting-gunting saja, pakai kertas bekas Alma.”

“Gambarnya jangan di kertas baru lagi, kertas tadi masih ada sisa.” Dan masih banyak lagi.

Bagaimana kegiatan itu akan terasa menyenangkan kalau wejangannya seabrek-abrek. Keinginan saya membantu dan membimbing Alma malah jadi bumerang.

Akhirnya, semua barang art & craft saya turunkan sehingga Alma bisa raih. Awal-awal dia suka bikin salju. Kertas disobek atau gunting kecil-kecil lalu ditebarkan ke atas kemudian jatuh ke lantai. Dulu saya suka ngomel karena ini yang Alma sering lakukan kalau ketemu kertas dan gunting. Kegiatan yang saya maknai hanya buang-buang kertas, tidak ada hasilnya selain sampah kertas. Tapi kali ini saya berusaha melihat dari sisi Alma. Dia sedang berkarya. Dia sedang mencoba. Nikmati saja.

Setelah saya melatih diri untuk menahan tidak memberi wejangan, kesukaan Alma terhadap art & craft meningkat pesat. Hampir semua karya Alma dilakukan mandiri dan semua atas inisiatifnya sendiri.

Menggunting masih belok-belok, begitu juga menarik garis. Masih suka menggunakan lem berlebihan dan kertas banyak yang terbuang. Tapi apakah semua itu lebih penting daripada memupuk minatnya? Kalau anak sudah minat, dia akan mengerjakannya dengan suka cita dan berulang-ulang. Dengan pengulangan inilah dia bisa melatih skill-skill yang diperlukan sesuai dengan kesiapannya. Anak sesungguhnya adalah pembelajar sejati. Berilah mereka ruang dan waktu untuk menemukan dirinya dan minatnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*