​Berkunjung ke Sanggar Akar Kalimalang

Berawal dari keinginan saya untuk memperkenalkan kegiatan seni kepada Adiva, sabtu pagi kemarin kami mengikuti kegiatan Klub Oase berkunjung ke Sanggar Akar. Ternyata Sanggar Anak Akar dekat sekali dari tempat tinggal kami. Hanya 5 menit perjalanan dengan mobil sudah tiba di lokasi. Saya memang tidak punya ekspektasi apa-apa karena belum pernah datang ke sebuah sanggar sebelumnya, tapi Sanggar Akar ini betul-betul unik.   

Dari luar sanggar ini terlihat seperti rumah saja, dengan banyak tanaman di sisi depan pagarnya. Yang terlihat hanya jalan masuk ke dalam ruangan panjang ke belakang selebar satu mobil. Mirip seperti carport  atau garasi. Ada deretan tanaman perdu di sisi kirinya dengan beberapa pohon di antaranya. Setelah melewati jalan masuk ada aula, sebuah ruangan besar di sebelah kanan berlantaikan keramik putih. Satu-satunya ruangan di seluruh sanggar yang dilapisi keramik putih. Tempat anak-anak berkumpul, berkegiatan bersama, berlatih teater, bermain musik, dan juga menerima tamu. Atapnya tinggi dan di bagian atas aula ini terlihat pagar dan dinding yang terbuat dari kayu. Bangunan ini merupakan bagian depan sanggar. Sedangkan bagian belakang sanggar berupa bangunan berstruktur beton dan berdinding bata exposed setinggi 4 lantai. Tanpa plesteran dan acian. Sangat alami. Lantainya pun hanya acian semen yang dihaluskan, yang sudah licin karena seringnya terinjak alas kaki.

Di sisi belakang aula yang dipisahkan oleh ruang terbuka dengan tangga ke atas, rupanya difungsikan sebagai dapur. Saat itu sedang ada beberapa orang yang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Satu hal yang unik, mereka masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dan kayu bakar ini adalah sumbangan dari masyarakat sekitar sanggar. Di sisi kiri area dapur ini ada ruangan terbuka juga dengan pohon besar di tengahnya. Di ujungnya ada ruangan untuk melukis dan membuat sablon kaos. Di tengah antara kedua ruang terbuka itu terdapat meja besar. Meja ini rupanya meja makan dan meja menerima tamu. Di bagian belakang ada ruangan lagi seperti teras yang dipakai juga untuk menerima tamu, dan di samping kanannya ada gudang properti teater.

Suasana di dalam sanggar ini sangat berbeda dengan kondisi di luar. Sementara jalan Kalimalang selalu ramai dan padat dengan kendaraan, di dalam terasa lebih tenang. Seolah kami tidak berada di Jakarta. Seperti ketenangan di Yogyakarta atau kota kecil lainnya, yang tidak penuh dengan hiruk pikuk kota besar. Di meja besar tempat kami duduk terasa suasana teduhnya pepohonan, dan tercium aroma kayu bakar yang sudah disiapkan untuk memasak. Sementara di aula terdengar anak-anak, termasuk anak-anak Klub Oase yang berlatih teater bersama-sama. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Kami disambut dan berdiskusi banyak dengan dua pengurus Sanggar Akar, Putri dan Nisa. Mereka bercerita tentang bagaimana dulu sanggar ini menjadi tempat tinggal lebih dari 50 anak. Tempat untuk anak-anak belajar dan mengekspresikan dirinya. Sanggar Akar sudah terbentuk sejak 1994 dan menempati bangunan di Kalimalang ini selama lebih dari 10 tahun. Keberadaan Sanggar Akar sudah sangat diterima dengan baik oleh warga sekitar, dan menjadi jalan keluar bagi banyak anak untuk memperoleh pendidikan. Saat ini hanya tinggal 4 orang yang tinggal di sini. Para orangtua yang awalnya menempatkan anaknya di sanggar, menarik kembali anak-anaknya ke sekolah formal karena terbitnya Kartu Jakarta Pintar. Di satu sisi tentunya saya mengerti bahwa pemerintah berusaha supaya semakin banyak anak yang bisa melanjutkan sekolah, tapi di lain sisi sangat disayangkan tempat seperti Sanggar Akar ini menjadi redup, karena sejatinya pendidikan tidak hanya didapatkan di bangku sekolah saja. Bahkan mungkin anak-anak bisa mendapatkan lebih banyak di sini.

Setelah mengobrol sejenak, kami diajak berkeliling bangunan sanggar ini oleh Nisa. Di lantai atas ada beberapa ruangan termasuk ruang lab komputer, ruang administrasi, ruang rapat, ruang kerja, dan ruang-ruang lainnya. Termasuk juga kamar-kamar tempat tinggal. Di lantai 3 ada sebuah ruangan besar yang bisa juga dipakai sebagai tempat latihan musik dan teater, sebagai pengganti aula apabila diperlukan. Ada sebuah papan tulis hitam masih dengan gambar partitur yang terakhir ditulis. Dan ada sebuah piano, yang walaupun tampak sudah lama tidak dipakai tapi ternyata masih merdu suaranya. Pak Siddiq, salah satu anggota Klub Oase, sempat mencoba memainkan beberapa baris lagu.

Di lantai 2 kami sempat bertemu dan berbincang dengan Bapak Ibe Karyanto, pimpinan dari Sanggar Akar. Beliau bercerita tentang perjuangan membangun Sanggar Akar hingga memiliki bangunan sebesar sekarang ini. Para penggagas Sanggar Akar memang ingin memberikan wadah bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, dan memberikan hak-hak anak untuk mengembangkan diri. Oleh karena itu mereka berjuang supaya bisa memiliki bangunan ini. Bangunan setinggi 4 lantai ini ternyata dibangun hanya oleh 2 orang tukang dan anak-anak Sanggar Akar. Dari mulai sampai selesai layak huni menghabiskan waktu 9 bulan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat sekitar, sehingga bisa diterima keberadaannya, dan membuat para orangtua merasa tenang menitipkan anaknya di sini. Sebuah social cost yang sangat tinggi, yang mungkin bisa hilang, karena ada wacana pembangunan jalan layang yang menyebabkan bangunan ini terkena pembebasan lahan. Walaupun belum jelas kapan pelaksanaannya, namun ini membuat para pengurus sanggar merasa waswas. Tak terbayang bagaimana jerih payah semua orang yang ikut berperan di bangunan sanggar ini akan hilang, dan anak-anak tidak punya tempat lagi untuk belajar dan mengembangkan diri.

Tapi selama bangunan ini masih berdiri, Sanggar Akar akan terus berkarya. Seperti pertunjukan teater dan musik yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Juga kelas-kelas pelatihan untuk anak-anak, yang sebagian besar diisi oleh para relawan. Seperti latihan teater yang diikuti oleh anak-anak Oase di aula depan. Setelah sesi perkenalan, mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat pertunjukan bermain peran singkat. Mereka dibebaskan untuk saling berdiskusi untuk menentukan cerita dan peran masing-masing anak. Selama kami berkeliling tadi rupanya anak-anak sedang sibuk merancang pertunjukan mereka. Sesudah itu satu per satu kelompok mementaskan cerita yang mereka buat bersama. Setelah selesai satu pementasan, mereka menjelaskan ceritanya dan anak-anak dari kelompok yang lain bisa bertanya.

Memang sangat singkat dan sederhana, tapi ide cerita itu datang dari anak-anak sendiri, mereka bisa dan mau berkompromi, bekerjasama saling mengisi peran dalam pertunjukan mereka. Sungguh banyak yang dipelajari anak-anak hari ini. Selain mendapat teman-teman baru, berkunjung ke sebuah bangunan sanggar yang unik, bisa mengalah untuk menerima ide dari anak yang lain, dan mencoba untuk menjalankan tugasnya memerankan cerita yang mereka setujui bersama. Semua ini dilakukan hanya dalam waktu 1 jam. Mungkin orang dewasa pun mengalami kesulitan untuk merancang pertunjukan singkat hanya dalam waktu 1 jam. Sungguh kita bisa belajar banyak dari anak-anak kita.

Sejujurnya pada saat awal saya masuk ke dalam sanggar ini kesan pertama saya adalah bangunan ini tua dan tidak terawat, mungkin jarang dibersihkan. Banyak barang di mana-mana. Tapi setelah saya semakin mengenalnya, itu cuma satu nilai minus yang tertutup oleh banyak nilai plus. Bagaimana sanggar ini dibangun, seberapa banyak impian dan harapan para pendiri dan pengurusnya, dan sudah berapa banyak anak yang terbantu olehnya. Saya harap Sanggar Akar terus berkarya dan bahkan menjadi lebih besar supaya bisa membantu lebih banyak anak. Seperti juga anak saya….

“Adiva…, apakah kamu senang bermain di sini hari ini?”

“Iya, pa… Aku tadi jadi zombie…”

“Mau main ke sini lagi?”

“Mau…………” 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*