Berakhir Pekan di Sarongge

Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, saya segera bersiap-siap dan memesan layanan ojek online untuk mengantar saya ke salah satu SPBU di jalan Gatot Subroto, Jakarta. Setelah menunggu lama akhirnya saya berhasil tiba di lokasi sekitar pukul 03.30 dan bertemu teman-teman baru yang akan menghabiskan waktu bersama selama 2 hari ke depan dengan tema kegiatan The Forest Romance. Kami akan pergi ke Sarongge di daerah Cianjur untuk bertemu penulis buku Cerita Hidup Rosidi dan Sarongge, Tosca Santoso.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam akhirnya kami tiba di lokasi pertama, Negri Kopi yang dimiliki dan dikelola oleh Pak Tosca. Mengingat peserta kegiatan ini belum saling mengenal, setelah menikmati sarapan lezat bersama, Pak Anggun sebagai koordinator tur ini mengajak kami berkenalan satu sama lain. Terdapat 15 orang peserta tur dan 4 di antaranya adalah oleh asing yang berasal dari Malaysia, Inggris, Belanda dan Aljazair. Selanjutnya kami mendengarkan penjelasan Pak Tosca mengenai kondisi Sarongge sejak 20 tahun yang lalu sampai saat ini kemudian beliau menjelaskan beberapa bagian yang terdapat di dalam buku novelnya, Sarongge. Bagi yang ingin mengenal sosok Pak Tosca saya menyarankan untuk membeli buku novel Sarongge dan membaca pengantar dari Novelis Ayu Utami yang ternyata adalah sahabat beliau sejak mereka masih bekerja sebagai wartawan di era Orde Baru. Saya mengenal nama Tosca Santoso juga karena iklan tur gabungan yang diadakan oleh Pak Anggun yang menginformasikan tur sudah termasuk buku novel dan akan ada penandatanganan oleh penulisnya. Setelah saya menelusuri novel dan penulisnya di Goodreads saya menemukan bahwa beliau juga menulis buku lainnya Cerita Hidup Rosidi. Setelah membaca ulasan di laman tersebut saya langsung mendaftar tur dengan harapan bisa bertemu beliau dan Abah Rosidi sebagai salah seorang penyintas korban salah tangkap dengan label PKI.

Setelah asyik berdiskusi dan mengobrol, kami diajak Pak Tosca mengunjungi tempat pengolahan kopinya yang diberi nama Negri Kopi. Sudah 3 tahun terakhir ini Pak Tosca menanam dan mengolah kopi di Sarongge yang sampai sekarang sudah memiliki merek dagang sendiri Negri Kopi. Pengolahan biji kopi sampai menjadi bubuk kopi dijelaskan langsung oleh Pak Tosca dengan lengkap.

Tempat berikutnya adalah Saung Sarongge, pusat belajar masyarakat sekitar yang kami jadikan tempat persinggahan untuk beristirahat sambal menikmati sajian makan siang yang telah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. Saung yang dirancang dengan arsitektur sunda, julang ngapak, didominasi oleh bahan kayu menunjukkan gambar-gambar yang sangat menarik perhatian. Mulai dari berbagai informasi mengenai hewan, jenis-jenis tumbuhan dan pepohonan di Taman Nasional Gunung Gede sampai perkembangan kondisi program adopsi pohon sebagai usaha untuk menghijaukan kembali lereng Gunung Gede yang rusak karena kegiatan bertani.

Pukul 14.00 kami melanjutkan perjalanan ke tempat kami menginap di kediaman anak Abah Rosidi yang berdurasi sekitar 30 menit dari Saung Sarongge. Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan dengan pemandangan segar perkebunan sayur yang sedang berbuah. Mobil pickup yang kami tumpangi hanya bisa mengantarkan kami sejauh jalan masih memungkinkan. Di penghujung jalan yang bisa dilalui mobil, kami berjalan kaki beberapa ratus meter untuk tiba di lokasi. Tempat menginap kami ada 2 rumah yang keduanya adalah rumah warga. Satu rumah ditempati oleh para wanita dan satu lagi ditempati oleh para pria. Setibanya kami di sana, kami langsung mendatangi tempat Abah Rosidi dan berkenalan dengan beliau. Abah Rosidi adalah seorang korban salah tangkap karena dianggap sebagai salah satu anggota PKI dan harus bekerja rodi selama 13 tahun berpisah dari keluarganya. Beruntung istri beliau sangat menyayanginya sampai rela mendatangi sel tempat beliau ditahan hingga keempat orang anaknya lahir di sel tersebut. Tanpa proses pengadilan yang jelas, beliau dibebaskan (baca: dibuang) di hutan Sarongge tanpa perbekalan apa-pun dan beliau bertahan hidup bersama 3 orang buangan lainnya di sana. Mereka berempat memulai hidup baru dan membangun keluarganya di sana. Dari keempat orang tersebut Abah Rosidi adalah orang terakhir yang masih hidup dan masih terlihat segar di usianya yang sudah menginjak 86 tahun. Saat ini beliau menghabiskan masa tuanya bersama anak dan cucunya serta membuat kerajinan dari bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya seperti, alat musik karinding, tongkat bambu, hiasan dari batok kelapa dan hiasan dari jamur. Para peserta tur pria tinggal di rumah Ibu Entin, salah satu anak Abah Rosidi yang memproduksi sabun mandi Sarongge dan minyak sereh untuk menopang kebutuhan ekonominya. Malam harinya kami menghabiskan waktu bersama ditemani kehangatan api unggun dan gelak tawa teman-teman baru saya.

Matahari terbit di Sarongge

Keesokan harinya sebelum kami melakukan perjalanan ke hutan Taman Nasional Gunung Gede kami menikmati keindahan matahari terbit. Kami melakukan perjalanan selama beberapa jam menelusuri hutan yang masih terjamah orang sampai hutan primer yang tidak terjamah orang. Terasa sekali perbedaannya, kami melihat pohon Ki Hujan yang kerap kali disebutkan Pak Anggun sebagai salah satu sorotan perjalanan ini karena pohon tersebut telah berusia lebih dari 200 tahun. Berbagai jenis pepohonan dijelaskan oleh pemandu kami yang salah satunya adalah anak lelaki Abah Rosidi, Pak Wawan dan dua orang temannya. Sepanjang perjalanan kami melihat banyak pohon arbei. Kami juga mencicipi beberapa tanaman yang bisa kami gunakan sebagai sumber air jika tidak ada air di hutan.

Ada kejadian yang membuat kami semua panik di tengah perjalanan pulang kami dari hutan. Beberapa teman kami diserang tawon hutan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “engang suuk”. Beberapa teman kami terkena sengatan tawon dan salah satunya mendapatkan lebih dari 8 sengatan di sekujur tubuhnya. Saya menyaksikan sendiri teman baru tersebut dipenuhi tawon seperti yang pernah saya lihat di film-film dan berusaha melarikan diri dari serangannya. Kami semua tunggang langgang menjauh dari tempat tersebut menghindari serangan sekelompok tawon. Syukurlah para korban tawon tersebut segera mendapatkan pengobatan. Pengalaman tersebut akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan bagi kami semua, khususnya ketika mengingat kata lebah atau tawon. Akhirnya kami membagi kelompok menjadi dua, satu kelompok melanjutkan perjalanan menuju air terjun yang membutuhkan waktu 3 jam perjalanan untuk pergi ke sana sampai tiba di tempat menginap dan satu kelompok lagi yang berisikan para korban sengatan tawon yang harus berjalan kaki menelusuri lereng gunung selama 45 menit berikutnya untuk bisa tiba di tempat menginap dan beristirahat.

Kesederhanaan pedesaan adalah kemewahan yang disediakan alam dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Rasa syukur saya panjatkan atas nikmat yang Sang Maha berikan kepada kami semua. Silakan tonton video perjalanan saya selama di sana berikut ini:

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*