Sekilas Tentang Reggio Emilia

Kegiatan Belajar Bersama minggu ini sedikit berbeda dari biasanya. Kalau yang terdahulu dimulai dengan circle time dan dipandu oleh salah satu orang tua, kali ini kami mencoba melakukan pendekatan Reggio Emilia dengan tema imaginasi. Kami meletakkan tali-tali berukuran pendek di ruang tamu secara acak dan membiarkan anak-anak menemukannya. Mereka bisa menggunakannya sesuai keinginan dan imaginasinya tanpa panduan. Benar saja, tak lama kemudian anak-anak mulai bermain dengan tali-temali itu.  Sempat digunakan untuk tarik tambang, skipping, lompat tali, alat untuk mengukur lebar lantai oleh Ahsan dan Adiva mencoba menyambung-nyambung talinya sendiri. Barang sederhana yang bisa berubah menjadi berbagai macam fungsi bagi anak-anak.

Pendekatan Reggio Emilia adalah filosofi pendidikan progresif yang berpusat pada anak usia dini dan pra sekolah. Sekolah-sekolah yang menerapkan pendekatan Reggio Emilia akan berbeda satu sama lainnya karena sekolah akan menyesuaikan dengan kebutuhan anak dan kebiasaan lingkungan atau daerahnya masing-masing. Pendekatan ini melihat anak sebagai individu yang penuh rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi sekitarnya. Anak mampu membentuk ide dan pembelajarannya sendiri. Maka dari itu pendekatan ini menganjurkan kegiatan dan pertanyaan yang dapat melebar (open ended) selain memupuk kreatifitas juga memupuk rasa ingin tahu dan eksplorasinya. Semua pertanyaan, pernyataan dan ekspresi dari anak adalah valid, penting dan patut didengarkan.

Reggio Emilia juga menyarankan orang tua berbincang-bincang dengan anak ketika mereka sedang bermain dan mengeksplorasi. Hal ini dilakukan untuk menggali minat, perasaan dan seberapa dalam pengetahuan mereka untuk kita jadikan arahan dalam membuat kegiatan berikutnya. Apa yang mereka suka dari kegiatan itu? mengapa mereka suka itu? Apa yang mereka tahu tentang itu? Apa yang telah mereka katakan tentang hal itu? Apa yang mereka ingin tahu selanjutnya? dan lain lain. Alma yang suka dengan planet dan galaksi ketika diajak bicara lebih dalam ternyata menyukainya untuk dijadikan latar belakang imaginasi dari cerita-ceritanya, bukan dari segi sciencenya. Jadi kegiatan yang cocok berikutnya mungkin membaca buku dengan latar belakang planet, melukis cerita yang dia karang atau membuat tarian tentang matahari.

Reggio Emilio juga percaya bahwa banyak bahasa yang digunakan anak dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Tidak hanya verbal dan tulisan saja tapi bisa juga dengan tarian, gerak tubuh, lukisan, nyanyian dan masih banyak lagi. Semuanya sama baiknya dan patut dieksplorasi bersama.

Peran orang tua dalam pendekatan ini adalah sebagai mentor dan pemandu dalam anak belajar “cara belajar”, bukan sebagai kamus atau ensklopedia.  Tugas orang tua ketika anak bertanya adalah memandu anak untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya, bukan mencarikan jawaban. Misalnya anak bertanya tentang “Mengapa pagi lebih dingin?” daripada mencarikan jawaban untuk anak, bantu anak mengeksplorasi segala kemungkinan jawaban dengan bertanya kembali kepada anak dengan pertanyaan yang lebih sederhana, menemukan bacaan bersama, percobaan, pengamatan dan lain-lain.

Lingkungan juga dilihat sebagai bagian penting yang dapat menginspirasi anak-anak. Tempat bermain sebaiknya mencerminkan minat anak saat itu atau yang akan dieksplorasi selanjutnya. Bebas dari tumpukan mainan. Jumlah mainan yang banyak justru hanya akan mengganggu fokus anak dalam menggali minatnya lebih dalam. Mainan juga disarankan berbentuk bebatuan, kayu, balok, lego, play dough, dan lain-lain yang dapat menjelma menjadi berbagai macam benda dan fungsi.

Begitulah sekilas tentang pendekatan Reggio Emilia.  Buat saya sendiri, Reggio Emilia adalah jawaban yang saya cari-cari dalam mendidik pembelajar mandiri, yaitu dimulai dengan belajar “cara belajar” atau learning to learn.

2 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked*