Situ Gunung Sukabumi

Bermain Bersama di Alam Bebas

Kami memiliki agenda bulanan untuk bermalam bersama dengan tujuan mempererat ikatan di antara keluarga. Di Jakarta semua kegiatan selalu diadakan di dalam ruangan, sulit sekali untuk berkegiatan di luar ruangan. Oleh karena itu kami merasa ada baiknya memiliki agenda bulanan bersama anak-anak supaya mereka bisa bermain di alam bebas dan merasakan keindahan alam secara langsung. Beberapa kali kami berkemah bersama tetapi kali ini kami menginap di rumah Paman Rian yang berlokasi di Parakan Salak, Sukabumi. Kami menginap di sana selama 3 hari 2 malam.

Setelah menempuh perjalan selama tiga jam kami tiba di rumah Paman Rian dan kami semua langsung disuguhi pemandangan luar biasa, para petani yang sedang menanam padi. Terik matahari mulai terasa menyengat kulit. Terlihat seorang petani membuat pola kotak-kotak menggunakan peralatan sederhana di sawah yang tanahnya sudah diolah untuk membantu petani lainnya menanam padi menggunakan pola tersebut sebagai panduan jarak tanam. Di saat yang sama petani-petani lainnya yang kebanyakan adalah perempuan bekerja beriring menanam bibit padi di area yang sudah disiapkan. Anak-anak kami sangat beruntung karena untuk pertama kalinya mereka menyaksikan secara langsung proses penanaman padi. Anak-anak melihat usaha para petani yang bekerja keras untuk menanam padi.

Setelah puas mengamati para petani bekerja di sawah, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sungai yang terletak tidak jauh dari sawah. Kami melewati kebun singkong di mana tanaman-tanaman tersebut tumbuh tinggi menunjukkan kesuburan tanahnya. Anak-anak pun melewati tumpukan jerami sisa panen sebelumnya dan melakukan pengamatan singkat di sana.

Tidak lama kemudian kami pun tiba di sungai. Anak-anak terlihat sangat menikmati waktu mereka di sungai. Mungkin karena aliran airnya yang tidak begitu deras membuat mereka nyaman bermain di sana. Mereka melompat ke sana kemari mencoba memuaskan keingintahuan mereka di sungai. Mereka menemukan kepiting, ikan dan udang di sungai yang sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun melempari sungai dengan bebatuan  dan mengamati cipratan air yang terjadi menggunakan ukuran batu yang berbeda. Setelah puas berbasah-basah mereka pun kembali ke rumah Paman Rian dan membersihkan diri. Ternyata beberapa jam kemudian mereka mengajak kami pergi ke sungai lagi. Keriangan pun terjadi lagi di sungai dan mereka kembali ketika matahari hampir terbenam. Senangnya melihat mereka bermain bebas di alam terbuka. Syukur kami terhadap berkah dan karunia-Nya.

Keesokan harinya Paman Rian dan Bibi Rina mengajak kami untuk mengunjungi sebuah Situ Gunung di Cisaat. Kami menempuh perjalanan selama dua jam untuk tiba di lokasi. Ternyata danau ini terletak di bawah kaki Gunung Pangrango. Tidak banyak yang kami lakukan di sana selain makan dan menikmati pemandangan di sekitar danau yang diramaikan oleh kegembiraan anak-anak yang sedang asyik bermain bersama. Setelah kami semua memuaskan diri di sana, kami pun kembali untuk menyantap makan siang bersama. Setelah makan siang, kira-kira kegiatan apa yang anak-anak lakukan? Bermain di sungai (lagi).

Dua jam kemudian mereka sudah kembali. Terdengar teriakan mereka dari tengah sawah berlari kembali menuju rumah karena hujan mulai mulai turun dan semakin deras. Hujan tidak berhenti sampai malam hari dan kami pun mengisi waktu kami dengan mengobrol bersama dan anak-anak menyibukkan diri mereka dengan berbagai kegiatannya menghibur diri mereka sendiri dengan bermain bersama. Memang benar, dalam keadaan terbatas, anak-anak dapat mengeksplorasi imajinasinya tanpa harus dimanjakan dengan berbagai mainan (edukatif). Beberapa konflik terjadi tetapi pada akhirnya mereka dapat menyelesaikannya sendiri. Malam pun tiba dan suara obrolan kami digantikan oleh keheningan malam yang diiringi kemerduan suara binatang-binatang di sawah. 

Hari terakhir, kami pun mendapatkan kejutan karena pada pagi hari kami berjalan kaki ke pasar tradisional untuk sarapan di sana ternyata tidak jauh dari sana kami menemukan danau kecil yang bernama Situ Sukarame dan rencana sarapan di pasar pun batal dan kami menghabiskan pagi menyusuri pinggir danau. Anak-anak menaiki rakit untuk menyeberangi danau dan melihat seekor kalajengking yang telah mati. Sekali lagi mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan di Jakarta. Meskipun anak-anak kelelahan tetapi semuanya merasa senang.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 dan kami pun kembali ke Jakarta dengan perasaan senang luar biasa. Terima kasih Bibi Rina, Paman Rian, Rafa dan Rendra untuk pengalamannya yang tidak akan terlupakan. Banyak hal yang anak-anak pelajari di dalam kegiatan ini. Selama tiga hari anak-anak bermain bersama dan semakin mengenal satu sama lain. Obrolan malam orangtua pun menarik untuk ditindaklanjuti. Obrolannya tentang apa? Nanti saja saya ceritakan kalau sudah terealisasi supaya penasaran  😉 

CATATAN

Dalam perjalanan ini kami menggunakan aplikasi Wave untuk memantau masing-masing kendaraan ketika sedang berkendara sehingga mempermudah kami ketika kendaraan kami terpencar cukup jauh. Wave adalah sebuah aplikasi untuk berbagi lokasi secara waktu nyata (real time) dengan kontak yang kita pilih dan waktu akses pun dapat kita batasi mulai dari 15 menit sampai dengan 8 jam demi kenyamanan privasi penggunanya. Fungsinya lebih kurang sama seperti Life360 tetapi dengan batasan waktu sehingga para pengguna Wave hanya saling berbagi akses  ketika diperlukan saja sedangkan Life360 tidak dibatasi oleh waktu dan selalu terhubung setiap saat (meskipun bisa kita matikan secara manual di bagian pengaturan jika diperlukan). Aplikasi ini pun dilengkapi dengan fitur chat dan bisa melakukan panggilan. Kita bisa berbagi lokasi dengan salah satu kontak kita atau secara berkelompok dengan cara membuat grup (maksimal 10 kontak).

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

2 Comments

    1. Harus Teh Anne seru. Tempatnya seru untuk trekking. Ada Tanakita camping ground juga. Selain itu ada beberapa air terjun. Sayang anak-anaknya masih kecil jadi belum bisa diajak trekking beneran ?.

Leave a Reply

Required fields are marked*