Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .

Semangat untuk Sahabat

Semangat untuk Sahabat

Selamat sore, apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu ya. Sabtu sore ini cerah sekali, tidak terlihat awan kelabu menggelayut di langit seperti beberapa hari ke belakang. Hari Sabtu lalu saya dan Kiran pergi ke Rockstar Gym Kota Kasablanka. Seperti akhir pekan biasanya, Rockstar penuuuhhh sekali. Tetapi Kiran merasakan apa yang saya rasakan. “Rockstar is more fun if my friends are here just like before”.

Kamis lalu, keluarga Belajar Bersama berkumpul di Rockstar Gym Kota Kasablanka. Kiran sangat senang bertemu lagi dengan sahabat-sahabatnya, Ahsan, Akhtar, Alma dan Adiva (minus Maji dan Angkasa). Pada hari itu, anak-anak tidak hanya berkegiatan bersama di Rockstar, tetapi juga merayakan hari yang spesial untuk Ahsan. Kenapa? Karena pada tanggal 21 Juli, Ahsan berulang tahun yang ke 6! Horeee.

Sesampainya di Rockstar, Alma, Adiva, Ahsan, Akhtar dan Kiran masuk ke kelas Gymnastic, Martial Art, and ditutup dengan kegiatan berenang bersama. Setelah selesai, makan malam untuk kami semua sudah disiapkan oleh Bibi Anita, waaahh, senangnyaaa. Selamat ulang tahun ya Ahsan, semoga Ahsan tumbuh menjadi anak yang selalu memberikan manfaat untuk orang banyak serta menjadi penyejuk hati ayah dan mama. Doa kami semua akan selalu menyertai Ahsan.

Melihat begitu semangatnya Kiran mempersiapkan kado ulang tahun untuk Ahsan, saya jadi menyadari betapa berharganya pertemanan mereka. Meskipun usia mereka masih kecil dan sering sekali saling membuat menangis satu sama lain, tapi semua itu tidak sebanding dengan posisi setiap anak di hati masing-masing temannya. Kiran misalnya, bangun tidur, hal pertama yang ia sebut adalah, “Bun, today is Ahsan birthday, come on we need to get hurry to Rockstar”. Membuat kartu ucapan pun dilakukan tanpa negosiasi, langsung saja Kiran kerjakan. Kaget loh saya, biasanya kan Kiran paling susah kalau berurusan sama tulisan hihi.

Alma dan Adiva pun demikian, Bibi Nada bercerita kalau Alma langsung membuatkan gambar yang disukai Ahsan. Alma tahu kalau Ahsan sangat suka dengan mobil, jadi dibuatkanlah gambar mobil untuk Ahsan. Paman Simon juga bilang kalau hadiah yang Adiva berikan ke Ahsan dibeli menggunakan uang Adiva sendiri. Wah, terharu sekali saya mendengar cerita pemberian kado untuk sahabat mereka tersebut.

Saya berharap semoga persahabatan yang sudah terjalin ini bisa berlanjut sampai mereka dewasa. Sahabat yang akan selalu saling mengingatkan, saling mendukung dan saling mengerti. Sahabat yang akan selalu ada dalam suka dan duka.

“One of the best thing in life is when you have friends that treat you like a family”

 

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya menemukan Kiran sedang asyik bermain dengan kereta api mainannya. Saya duduk di sofa dan menyapanya, Kiran langsung berkata “Ayah, I’m sorry if I used your batteries for my train yesterday.” dengan spontan saya merespons “Why did you do that? Why did you not ask permission first?” mencoba mengingatkan peraturan yang telah kami sepakati bersama untuk selalu meminta izin ketika hendak menggunakan barang orang lain.

Kemudian Kiran membalas pertanyaan saya dengan alasan “but I only used it for a short time. Your battery still have power.” Mendengar alasan itu saya pun menunjukkan kekecewaan saya bukan karena baterainya yang dia digunakan tetapi karena Kiran tidak meminta izin. Saat itu saya berpikir ini adalah masalah prinsip dan tidak bisa dibiarkan, Kiran harus tahu bahwa ayahnya sedih dan kecewa. Guilt trap, hal yang saya sendiri tidak sukai tetapi secara spontan saya lakukan terhadap Kiran dengan alasan ingin mengajarinya bahwa tindakan itu tidak dapat dibenarkan.

Akhirnya saya pun memaafkan Kiran dan mengingatkannya untuk selalu meminta izin jika ingin menggunakan barang orang lain. Masalah selesai, Kiran pun kembali bermain dan saya bersiap-siap untuk bekerja.

Ketika sedang bermotor menuju tempat kerja, saya masih memikirkan tentang kejadian tadi. Wajahnya yang menyesal masih terbayang dengan jelas. Terasa ada yang mengganjal dan mengganggu pikiran saya mengenai kejadian tersebut. Sepanjang perjalanan pun saya mencoba mencari tahu apa yang salah dengan kejadian tadi pagi. Saya mulai mempertanyakan apa yang akan saya lakukan jika saya adalah Kiran. Saya tahu apa yang akan saya lakukan, berbohong dan tidak akan ada yang tahu.

Timbul penyesalan dalam diri karena terlambat menyadari bahwa saya seharusnya merespons dengan cara yang berbeda. Dengan penuh kesadaran sekarang saya mencoba untuk membayangkan kejadian tersebut dengan menunjukkan apresiasi dari keberaniannya mengakui kesalahan yang dia lakukan. Padahal kalau Kiran tidak mengatakan hal itu saya pun tidak akan tahu bahwa baterainya dipakai dan tidak akan ada masalah timbul pagi ini. Seharusnya kejadian pagi ini menjadi pengalaman yang lebih berarti bagi kami daripada hanya sekadar berpegang teguh pada prinsip apa pun yang terjadi.

Pelajaran lagi sebagai orangtua (yang seringkali merasa lebih tahu daripada anak) untuk selalu mengambil jeda sebelum merespons terhadap suatu kejadian khususnya yang berkaitan dengan prinsip.

Ada kalanya kita harus mengesampingkan sesuatu untuk menyambut sesuatu yang lain.