Enough is Enough

Enough is Enough

Minggu lalu saya mendengar Kiran ditegur oleh Nuni karena mencoba mematikan semut. Sambil memompa ban sepeda saya yang kempes saya mengobrol dengan Kiran menanyakan alasan dari tindakannya. “But the ant didn’t die” kilahnya, lalu saya mencoba mengganti ‘why’ dengan “How do you feel about it?”, mencoba menerapkan saran dari Pak Gobind oleh-oleh seminar compassionate parenting. “I feel sorry” jawabnya. Kemudian Kiran melanjutkan kalimatnya dengan “His father will be looking for him if he is dead”.

Tiba-tiba jawaban Kiran membuat saya terdiam dan memerhatikan sekeliling. Kilasan informasi dari buku yang saya baca bersama Kiran melintas di kepala saya kemudian obrolan pun berlanjut “Why do you think animals extinct?” saya bertanya kepada Kiran. “Because people killed them”, jawabannya mengejutkan saya. “Why did the people kill the animals?” saya ingin memastikan sudut pandang yang dimilikinya. “I don’t know” Kiran menutup pembicaraan kami dan meninggalkan saya dalam perenungan. Kami pun melanjutkan kegiatan kami untuk bersepeda bersama pagi itu.

Masih di hari yang sama setelah saya pulang kerja saya teringat sebuah buku yang pernah kami baca bersama mengenai perjalanan manusia prasejarah. Kami pun membaca kembali buku tersebut yang mengawali bacaan kami masa di mana manusia prasejarah belum mengenal peralatan untuk membantunya bertahan hidup. Saya membayangkan pada masa itu semua makhluk berada pada posisi yang sama untuk bertahan hidup, membunuh atau dibunuh. Kemudian beberapa ratus tahun kemudian manusia mulai menemukan peralatan dari bebatuan dan menggunakan pakaian dari kulit binatang untuk membantu mereka bertahan hidup. Api pun ditemukan dan mengubah sejarah manusia. Manusia mulai memegang kendali dan dapat mempertahankan diri dari binatang buas bahkan membuat perangkap binatang yang ingin mereka tangkap. Seiring waktu berjalan, kemampuan manusia untuk bertahan hidup mulai berkembang dengan bantuan beberapa penemuan lainnya. Mereka pun sudah mulai berhenti berpindah-pindah dan mulai menetap di suatu tempat bahkan memiliki hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka tidak perlu lagi berburu demi mengenyangkan perutnya untuk tetap bertahan hidup.

Lembar demi lembar kami baca dan diskusi pun mengalir begitu saja. Kami mencoba membayangkan situasi yang dijelaskan dari masa ke masa. Saya pun mencoba membantu Kiran memahami bahwa apa yang dimiliki oleh orang-orang pada masa kini tidak tersedia di masa lampau. Seberapa berharganya sebuah tongkat, potongan bebatuan dan api untuk keberlangsungan hidup mereka.

Sekarang kita berada di masa yang serba canggih dan kegiatan berburu adalah sebuah olahraga dan bukan kemampuan yang harus dimiliki untuk bertahan hidup. Kemampuan berpikir manusia sudah sangat berkembang melampaui batas-batas yang bisa dibayangkan oleh manusia prasejarah. Sekarang kita berburu harta supaya bisa bertahan hidup. Manusia modern ini sudah merasa tidak memerlukan binatang untuk bertahan hidup. Uang dalam jumlah besar dikeluarkan untuk mengembalikan banyak hal yang sudah tidak kita dapatkan lagi dari alam. Habitat binatang berganti gedung-gedung pencakar langit, sawah-sawah berubah menjadi pabrik, sungai-sungai dan laut dicemari limbah dan sampah dari keseharian kita. Lalu manusia modern ini menghabiskan waktu untuk mendidik diri mencari solusi dari masalah yang ada. Sepertinya kita sudah melampaui batas kebutuhan kita dari sekadar bertahan hidup.

Binatang-binatang sudah kita binasakan karena habitatnya kita hancurkan supaya kita menikmati keistimewaan hak untuk hidup dari sekadar bertahan hidup. Manusia prasejarah membunuh binatang karena mereka membutuhkannya untuk bertahan hidup tanpa merusak rantai kehidupan. Kita sudah tahu cara yang lebih beradab untuk bertahan hidup tetapi malah merusak rantai kehidupan karena sudah menjadi sifat kita untuk tidak pernah merasa cukup. Banyak binatang semakin punah bahkan es di kutub utara pun sudah mulai mencair dan kita masih bisa hidup tentram seolah tidak ada andil dalam kerusakan yang terjadi.

Berapa buah pendingin ruangan yang kita pasang di dalam rumah hanya untuk menyejukkan tubuh kita di dalam rumah. Semakin panas bumi ini semakin banyak pendingin ruangan yang diproduksi dan dipasang di setiap rumah. Tidak cukupkah panas yang kita rasakan saat ini membuat kita membuat kita berpikir andil kita terhadap rasa panas yang kita alami? Ketidakseimbangan alam yang terjadi akibat keegoisan kita.

Belum cukupkah kita memuaskan ego kita dengan memiliki lebih dari yang kita ‘butuhkan’ untuk bertahan hidup?

Tentunya kita kita tidak bisa memperbaiki kerusakan yang telah terjadi, tetapi kita bisa memperpanjang usia bumi dan memperlambat kerusakan terhadap bumi supaya generasi-generasi selanjutnya masih dapat menikmati tinggal di bumi. Mari merenungi gaya hidup kita apakah mempercepat kehancuran bumi atau memperlambatnya.

Buku pun selesai kami baca dan semakin menyadarkan kami untuk selalu bersyukur karena masih bisa menikmati dan tinggal di bumi sebelum masa kehancuran itu tiba.

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Seruan Kepada Penghuni Bumi

Saat ini Jakarta sedang dilanda banjir. Saya tidak tertarik untuk mengaitkan kejadian ini dengan berita politik karena tidak ada manfaatnya bagi kehidupan kehidupan saya. Melalui tulisan ini saya ingin membuat pengingat bagi saya dan teman-teman semua bahwa bumi ini sudah terlalu berat untuk menanggung beban dari gaya hidup yang kita anggap sudah maju dan beradab.

Apakah benar hidup yang kita jalani ini adalah kemajuan dari kehidupan sebelumnya?

Terbayang masa kecil saya ketika berusia 5 tahun di mana air minum kemasan belum hadir dan keberadaan makanan ringan pun belum tersedia di warung-warung. Saya masih bisa menukarkan sandal bekas yang sudah tidak terpakai dengan serantang makanan ringan kepada seorang tukang loak keliling yang memikul dua buah keranjang besar berisikani makanan ringan. Selain itu, jajanan masa kecil saya hanyalah kerupuk berlumur kecap bertemankan mentimun yang biasa saya minta dari petani yang kebunnya berada di dekat rumah. Rumah saya berada di tengah persawahan dan listrik pun belum ada. Orangtua saya memiliki warung yang mana para pembelinya adalah orang-orang yang tinggal di atas gunung dan harus berjalan setidaknya 3 kilometer hanya untuk membeli sesuatu dari warung kami.

Kami dimanjakan dengan hasil kebun yang berlimpah khususnya buah-buahan. Kakek saya pun rajin membuat kuaci dari biji matahari dan peuyeum yang manisnya pas terbuat singkong berukuran lengan orang dewasa untuk memanjakan cucu-cucunya ketika kami berkunjung ke rumahnya. Almarhumah nenek saya biasa berkeliling kampung menjajakan sisa buah-buahan yang berlimpah dari hasil kebunnya dan tidak habis kami makan mulai dari sirsak, jambu air, nangka, dan rambutan. Gambas yang kami dapatkan dari kebun adalah alat yang kami gunakan untuk mandi dan mencuci peralatan makan. Tukang abu gosok setiap hari berkeliling karena belum ada sabun colek atau sabun pencuci peralatan kala itu. Wangi cengkeh pun selalu menjadi ciri khas di rumah kakek dan nenek saya sehingga membuat saya tidak suka dengan baunya.

Peralatan makan yang kami gunakan adalah piring kaleng, rantang dan alat makan yang paling keren saat itu adalah piring yang terbuat dari melamin. Sendok dan garpu jarang kami gunakan karena kami selalu menggunakan jemari kami untuk menyantap makanan yang dihidangkan. Satu-satunya sampah yang kami hasilkan saat itu adalah daun pisang dan kertas koran bekas atau kertas bekas majalah Bobo yang sering digunakan untuk membungkus makanan ketika berjualan. Sisa makanan pun tidak pernah menjadi masalah karena biasa kami berikan ke binatang ternak seperti ayam atau ikan di kolam belakang rumah.

Beberapa tahun kemudian warung orangtua saya mulai dimasuki makanan ringan berkemasan. plastik mulai digunakan sebagai pengganti keranjang belanja yang biasa ibu saya gunakan untuk berbelanja di pasar tradisional. Semakin ke sini penggunaan kardus dan plastik sudah menggantikan fungsi keranjang belanja sepenuhnya. Sampai sekarang saya hidup di masa orang-orang yang panik ketika air minum di dalam galon habis. Sedikit demi sedikit orang-orang sudah melupakan caranya menyiapkan makanan ringan dan masakan sendiri karena sudah dimanjakan dengan ketersediaan jajanan cepat saji. Selain dianggap enak dan murah, kepraktisan menikmati makanan tersebut menjadi alasan utama keahlian membuat makanan sendiri mulai memunah. Saat ini sudah tidak ada lagi jajanan berupa buah-buahan hasil kebun yang bisa mereka jajakan di warungnya, tidak ada lagi ikan asin berpeti-peti untuk mereka dagangkan bahkan kerupuk pun sudah lagi tidak ditempatkan di dalam kaleng.

Beralih dari kondisi makanan yang saya sebutkan di atas, bangunan tempat tinggal pun berevolusi dengan cepat dari rumah panggung, rumah semi permanen hingga sepenuhnya permanen sampai-sampai air hujan pun tidak mampu diserap lagi karena tanahnya sudah dilapisi semen demi menghindari kondisi becek di kala musim hujan.

Saat ini saya sedang merenungi arti kata ‘kemajuan’, mulai dari mencermati kata tersebut dari rasa berbahasa yang saya miliki sampai merujuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Apakah benar kondisi yang saat ini kita alami adalah kemajuan? Berpendidikan lebih tinggi demi penghasilan lebih besar daripada yang orangtua kita dapatkan membuat kita hidup lebih beradab terhadap bumi yang kita tinggali? Berpengetahuan lebih dibandingkan orang-orang terdahulu telah membawa manfaat bagi tempat tinggal kita? Apalagi di zaman sekarang di mana dunia secara harfiah berada di genggaman tangan kita. Informasi apa pun yang ingin kita ketahui tinggal kita tanyakan menggunakan layanan mesin pencari di internet.

Foto ini saya ambil 3 hari yang lalu di sungai dekat rumah yang waktu saya kecil masih bisa saya nikmati untuk berenang atau bermain rakit yang terbuat dari batang pohon pisang. Apakah ini yang disebut dengan kemajuan? Pemandangan inilah yang tersisa untuk Kiran. Baru satu generasi, bayangkan pemandangan untuk generasi selanjutnya.

Apa yang terjadi dengan pendidikan anak-anak kita? Ke mana pun kita menoleh hanya keegoisan yang menjadi contoh dalam keseharian kita. Mengenyangkan perut tanpa memikirkan kemasannya, menghilangkan dahaga tanpa memikirkan sampahnya, mendinginkan suhu ruangan yang semakin memanas dengan menambah pendingin ruangan di setiap sudut rumah, membuang sampah di luar rumah kita supaya rumah kita bersih bahkan tidak sanggup untuk menyimpannya sementara di dalam kendaraan sehingga seringkali sampah-sampah tersebut terbang keluar jendela mobil. Semuanya demi kenyamanan diri tanpa memikirkan penghuni lain yang tinggal ‘serumah’ di bumi ini. Apakah ini yang kita namakan sebagai kemajuan, beradab, berpengetahuan?

Gaya hidup yang kita miliki telah membebani bumi di mana kita tinggal, setiap hari pohon ditebang, tanah dilapisi, laut dicemari, lalu sekeliling kita akhirnya dipenuhi sampah. Benarkah ini bukan masalah kita bersama? Tidak perlu berkunjung ke Bantar Gebang, tengoklah dapur kita masing-masing dan coba simpan sampah yang kita hasilkan selama 2-3 hari kemudian kita nikmati wewangian dan binatang yang yang berada di dapur kita. Ya, kondisi dapur itu tidak berbeda jauh dengan kondisi bumi kita.

Tidak ada seorang pun yang luput dari keegoisan yang saya sebutkan di atas termasuk saya sendiri. Tulisan ini bukanlah kritikan maupun penghakiman melainkan ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap peran kita sebagai penghuni yang bertugas merawat bumi yang kita tinggali. Kehancuran bumi tidak bisa dihindari tetapi setidaknya dengan kesadaran yang kita miliki, kita bisa memperpanjang usia bumi untuk anak dan cucu kita supaya mereka masih memiliki kesempatan untuk menikmati bumi ini, ataukah bumi ini tidak perlu kita acuhkan dan menunggu hadirnya sebuah perusahaan yang menjual udara berkemasan untuk kita hirup dan menambah daftar etalase warung.

Mari kurangi sampah kita dengan melakukan tindakan-tindakan kecil seperti membawa botol minum sendiri untuk diisi ulang, membawa kotak makanan untuk jajan di luar rumah, menghindari penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak dapat terurai oleh alam dan hal-hal lainnya yang bisa kita lakukan. Berhenti menimbun barang yang tidak kita perlukan. Bagi yang memiliki barang-barang yang tidak digunakan lagi tetapi masih layak pakai, silakan berikan kepada yang membutuhkan (tidak selalu berarti orang yang kekurangan harta). Anda juga bisa berikan di Grup Berbagi untuk Bumi jika memiliki kesulitan. Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil. Jangan pernah berpikir tindakan yang kita lakukan sia-sia. Gerakan zero waste sedang dikumandangkan, bisa kita mulai dengan langkah awal less waste terlebih dahulu.

Semoga setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita semua bertanggung jawab atas tempat tinggal kita yang kita namai bumi.