Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem

 

Memeluk Emosi

Memeluk Emosi

Menjalani homeschooling merupakan pencerahan bagi keluarga kami. Belajar satu sama lain, saling memahami antara satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti. Setiap kali mendapat ilmu untuk tujuan homeschooling ternyata selalu kembali kepada pembenahan diri orangtua. Mendidik anak bukanlah mengajari anak tetapi mengajari diri sendiri supaya bisa menjadi teladan bagi anak. Setiap pemelajaran yang terjadi di dalam menjalani homeschooling adalah proses mengenali diri.

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai keakuan, tulisan ini akan membahas mengenai emosi dan luka lama. Emosi adalah luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti sedih, malu, marah, gembira, kecewa, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi dari luka lama di sini adalah sebuah pengalaman tidak menyenangkan dari masa lalu atas cara kita diperlakukan (oleh siapa pun) dan membentuk perilaku kita saat ini.

Orangtua membesarkan anaknya supaya anaknya bisa menjadi anak yang ‘berbakti’ kepada orangtua, bermanfaat bagi keluarga dan negara, menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik supaya kelak sukses dan mapan, membuatkan rumah di dekat rumah orangtuanya supaya bisa tinggal berdekatan dan banyak bentuk keakuan lainnya yang orangtua lakukan atas nama rasa sayang. Seorang anak yang dibesarkan sebagai kebanggaan orangtua, menuruti apa kata orangtua dan memenuhi harapan orangtua sebenarnya berada dalam tekanan emosi yang sangat besar karena semua perilakunya harus memenuhi harapan orangtua.

Seperti yang saya alami ketika duduk di bangku sekolah bagaimana susahnya untuk menduduki peringkat satu di dalam kelas. Ketika nilai-nilai ulangan saya tidak sebesar murid-murid lainnya, ketika saya dituntut untuk menggungguli siswa berprestasi di sekolah dengan kemampuan akademis yang pas-pasan. Ketika tuntutan itu tidak dapat saya penuhi saya pun dibandingkan, dimarahi dan diceramahi yang dengan perkataan yang menjatuhkan kepercayaan diri sehingga saya merasa orangtua saya membuat saya merasa bersalah, kecewa, kesal dan marah terhadap diri sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Saya pun mulai bertumbuh dengan rasa takut, tidak mampu dan tidak percaya diri. Perasaan ini saya pendam dan tidak pernah saya tangani sampai saya dewasa dan akhirnya tanpa saya sadari membentuk kepribadian saya.

Setelah saya lebih dewasa dan berada dalam posisi ‘mampu’ membuat keputusan sendiri, pertentangan antara saya dan orangtua pun tidak terhindarkan. Saya selalu mencoba untuk berseberangan dengan setiap pemikiran mereka karena tidak ingin merasa bersalah lagi.

Menyedihkan memang ketika semua itu dilakukan atas nama cinta berbalut ego karena sebenarnya orangtua saya hanya ingin memastikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki. Di saat yang bersamaan saya berterima kasih dengan cara saya dibesarkan karena menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak cengeng dan mandiri. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari setiap kejadian. Cerita di atas bukan mengenai perlakuan orangtua saya terhadap saya, karena saya memahami mereka hanya melakukan apa yang mereka ketahui dengan caranya sendiri tetapi tentang hasil dari perbuatan kita sebagai orangtua yang dapat membuat luka terhadap anak kita tanpa kita menyadarinya.

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind, saya baru sadar bahwa alasan saya terlalu keras dengan diri saya adalah bukan karena saya berprinsip melainkan karena saya tidak merawat dan menyembuhkan luka dari masa lalu tersebut di atas. Saya selalu menuntut hasil yang sempurna, melihat hasil seperti yang saya inginkan, dan sangat kaku dengan aturan. Untuk urusan pekerjaan mungkin baik, tetapi dalam kehidupan keseharian saya kesulitan mengelola emosi di dalam diri. Seringkali saya harus ‘merasa’ kecewa untuk hal-hal sepele. Emosi saya sering terpancing ketika saya tidak menemukan barang di tempat yang semestinya, ketika orang-orang di rumah tidak berlaku seperti yang saya pikir seharusnya mereka berlaku.

Untuk menghindari emosi yang saya rasakan ketika perasaan itu muncul seringkali saya diam dan mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Tidak jarang juga saya tidak bisa menahan diri mencerocos sampai semua pesan saya keluarkan baru merasa lega dengan melupakan perasaan orang tersebut. Yang selalu saya sesalkan adalah ketika saya kurang istirahat kemudian segala sesuatu dengan mudahnya menjadi pemicu untuk membuka luka lama saya.

Ternyata hal-hal yang selama ini saya hindari bahkan berjanji untuk tidak akan dilakukan telah menjadi bagian diri saya dan berevolusi dalam bentuk yang lain. Beberapa hari setelah seminar saya mencoba untuk melatih kesadaran mengenali luka yang ada di dalam diri. Mencari naga yang yang bersembunyi di dalam diri untuk menjinakkannya.

Kuncinya adalah belajar ‘merasa’. Bagaimana kita memperlakukan diri kita dan orang lain sebagaimana mestinya tanpa ada syarat yang melekat. Perasaan sayang yang dibalut dengan marah, kesal atau kecewa hanyalah sebuah ilusi dari luka lama kita. Naga yang terbangun dari tidurnya.

Pak Gobind membuat contoh ketika kita terluka di bagian tangan, kemudian seseorang menyentuh luka tersebut tentu rasa sakit akan kita rasakan. Sesungguhnya orang tersebut hanya mengingatkan kita akan luka yang kita miliki supaya kita merawat dan menyembuhkan luka tersebut. Luka tersebut ibarat pengalaman masa lalu kita yang pahit yang belum kita sembuhkan karena tidak tahu cara merawatnya. Orang yang menyentuh luka tersebut bisa jadi siapa saja termasuk anak kita yang sebetulnya bukan yang membuat kita terluka tetapi memberitahu dan mengingatkan kita akan luka masa lalu yang harus kita rawat dan sembuhkan. Berterima kasihlah kepadanya.

MEMELUK EMOSI

Ketika kita berhadapan dengan seseorang kemudian muncul emosi yang membuat kita tidak nyaman (terintimidasi, marah, malu dan lain sebagainya), berbicaralah dengan diri sendiri mengapa rasa itu muncul.

Keberadaan orang-orang di sekitar saya ternyata membantu saya untuk mengenali setiap luka dalam diri yang harus saya rawat dan sembuhkan. Caranya bagaimana? hadapi dan kenali sumber emosi yang kita rasakan. Berbicaralah dengan diri kita di masa lalu apa yang membuat kita terluka. Rawatlah luka tersebut dengan mengenali luka yang kita miliki sampai luka tersebut dapat kita sembuhkan.

Perbuatan adalah tanggapan dari emosi yang kita miliki. Saya harus belajar ‘merasa’ dan mengenali luka yang saya miliki. Emosi yang saya miliki tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut. Seseorang yang membuat saya kesal, malu, marah atau benci adalah cerminan dari luka yang saya miliki. Saya harus belajar merasakan emosi yang saya miliki dan berhenti mengalihkan perasaan yang muncul setiap kali datang. Belajar menerima supaya terhindar dari keakuan supaya bisa merasakan tulusnya menyayangi.

Mari kita bersama-sama belajar merasa.