Piknik di Kebun Raya Bogor

Piknik di Kebun Raya Bogor

Ada 2 tujuan utama kegiatan kami kali ini. Pertama, mencari ruang bergerak untuk anak-anak agar bisa leluasa bermain. Dan yang kedua, kami orangtua yang mencari tempat ngunyah-ngunyah lucu dengan setting yang berbeda. Akhirnya, Kebun Raya Bogor pun jadi pilihan yang pas.

Jam 8 pagi kami sudah berkumpul di stasiun Lenteng Agung untuk berangkat menggunakan KRL menuju Bogor. Paman Ian memberikan peraturan singkat kepada anak-anak untuk tidak berlari-lari dan harus selalu berpegangan tangan. Perjalanan naik kereta dari Lenteng Agung ke Bogor hanya 2000 rupiah/orang. Sangat murah. Kalau tidak punya kartu e-money Mandiri atau flazz, BCA, bisa menggunakan kartu single trip dengan jaminan 10.000 rupiah. Jaminan ini bisa diambil kembali setelah kita mengembalikan kartu ke loket. Sesampainya di stasiun Bogor, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot nomor 2. Cukup bayar 4000 rupiah sudah sampai di depan gerbang Kebun Raya Bogor.

Untuk masuk ke Kebun Raya Bogor kami harus membeli tiket masuk seharga 15.000 rupiah perorang. Kemudian kami mencari tempat untuk menggelar tikar dan yang terpenting, gelar makanan.

Dan seperti biasa, Bibi Yulia selalu juara dalam mempersiapkan bawaannya. Rantang susun dengan isi beraneka macam lauk, pudding, buah dan sirup lengkap dengan es batu. “Nggak sekalian bawa kursi dan meja makan nih, Bibi Yulia?” Pokoknya ke mana pun dan di mana pun kami beraktivitas dijamin tidak akan kelaparan.

Sebenarnya kami belum merencanakan aktivitas anak-anak selama berada di sana. Paling hanya ke museum Zoologi, tapi itu pun kami rencakanan pada saat pulang nanti. Tapi kenyataannya anak-anak memang tidak memerlukan rencana untuk bermain dan bersenang-senang. Berikan mereka lapangan luas, bola dan alam. Mereka pun bersenang-senang dan membuat sendiri permainan dari apa yang mereka temukan. Dedaunan, batu, batang pohon, serangga, serta Paman Simon. Terhitung mulai dari jam 10 sampai jam 4 sore tidak sekalipun terucap kata bosan atau capek dari mulut mereka. Berbeda dengan kami orangtua yang kelelahan padahal seharian hanya duduk-duduk ngobrol dan ngunyah. Mungkin ke depannya perlu dibuatkan juga aktivitas untuk kami agar stamina tetap terjaga.

Piknik usai, kami pun mengunjungi Museum Zoologi. Waktu operasional museum adalah jam 07.30 sampai dengan 16.00 dan sekarang tidak perlu membayar lagi karena tiket Kebun Raya Bogor sudah termasuk tiket masuk Museum Zoologi. Di sini pun tidak kalah serunya. Anak-anak bisa melihat berbagai macam binatang yang ada di Indonesia termasuk kerangka paus yang dahulu terdampar di Pantai Pamengpeuk. Seru sekali aktivitas kami kali ini. Selanjutnya wisata ke mana lagi ya? Ada ide?

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Ringkasan Kegiatan Bulan Maret dan April

Dua bulan sudah berlalu semenjak kami meresmikan untuk menjalani pendidikan rumah untuk Kiran. Ibarat benih, kami masih berjuang untuk mencari setitik cahaya untuk bisa tumbuh dan bermanfaat bagi alam. Setalah 2 tahun Kiran menjalani masa pendidikan anak usia dini, kami masih merasakan kesulitan dalam menjalani transisi dari model bersekolah ke pendidikan rumah.

Rencana untuk aktif menulis di blog pun tinggallah rencana karena kami masih berjuang mengatur waktu antara pekerjaan dan menjalani hari bersama Kiran. Kami tidak sempat membuat kiriman untuk blog, karena kegiatan yang luar biasa sibuknya. Hal ini membuat saya berpikir untuk lebih berdisplin lagi dan berkomitmen dalam menulis di blog. Sepertinya saya harus belajar untuk lebih mengatur waktu supaya bisa memenuhi target yang saya inginkan. Menulis kiriman setiap minggu akan lebih masuk akal ketimbang menulis kapan saja. Di bulan Mei ini dan ke depannya saya akan mencoba untuk membuat tulisan setiap minggu dan semoga saya bisa melaksanakannya.

Begitu banyak peristiwa selama bulan Maret dan April dan saya ingin merekam peristiwa tersebut untuk kami kenang nanti selagi masih banyak detil yang saya ingat. Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Maret dan April dalam pendidikan rumah kami:

Pendidikan Rumah Kiran

Secara resmi kami menjadikan bulan Maret sebagai momentum untuk memulai pendidikan rumah Kiran secara resmi dan bertepatan dengan berakhirnya masa bersekolah Kiran. Sepertinya tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menjalani pendidikan rumah jika menunggu kesiapan kami sebagai orangtua atau Kiran sebagai anak yang akan menjalaninya.

Ternyata memang benar, banyak sekali tantangannya dalam memulai pendidikan rumah kami. Seperti yang selalu dikatakan praktisi pendidikan rumah lainnya dan buku-buku tentang homeschooling pun selalu memberikan “peringatan” bahwa tahun pertama akan sulit sekali karena saat tersebut adalah awal dari segalanya, sehingga masih banyak hal yang harus dicoba.

Bagi kami ada beberapa hal yang sangat sulit kami jalani seperti: merancang jadwal, melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan, memilih kegiatan yang diminati Kiran, dan yang tersulit dari semua itu adalah mencoba membuat anak kami sebagai subjek (pelaku), bukan objek.

Mengingat kami berdua bekerja, kami mencoba membagi tugas untuk bisa mengisi kegiatan yang berarti untuk Kiran. Istri saya menyiapkan segala keperluan dan bahan-bahan untuk keperluan makan siang saya dan Kiran yang nantinya tinggal kami olah.

Setiap pagi kami memulai kegiatan pada pukul 9 pagi meskipun kami sudah bangun dari pagi. Hal ini kami atur untuk memastikan kami bisa memulai kegiatan tanpa ada kendala. Misalnya, bangun kesiangan, Kiran masih belum siap, belum mandi, dan lain sebagainya. Setelah kami melakukan rutinitas 4 Simple Steps kami, barulah kami memulai kegiatan yang diawali dengan kegiatan fisik, seperti bermain sepeda, bermain bola sepak, atau bermain bola ping pong. Setelah itu kami lanjutkan dengan kegiatan membaca. Saya bacakan satu atau dua buku kemudian saya menyuruh Kiran untuk mengulang secara lisan cerita yang telah saya bacakan dan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Kami sisipkan juga beberapa kegiatan yang berkaitan dengan komputer untuk mengenalkan Kiran pada pengoperasian komputer dengan cara bermain game (untuk belajar matematika), mendengarkan dongeng, mendengarkan lagu dan bernyanyi (untuk belajar bahasa) dengan cara yang menyenangkan karena Kiran beranggapan bahwa dirinya sedang bermain game. Kami menggunakan abcmouse.com dan online resources dari Calvert untuk kegiatan ini. Setiap kegiatan kami rancang berdurasi 30 menit, sekaligus mengenalkan konsep jam juga kepada Kiran. Setiap hari selama 30 menit pun Kiran mendapatkan “hak istimewanya” untuk bisa melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa ada larangan dari saya (meskipun tetap saya berikan pilihan seperti bermain mobil-mobilan, menonton, atau bermain tablet).

Pada pukul 11 siang kami pun mulai mengolah bahan-bahan untuk makan siang kami yang sudah disiapkan dengan baik oleh istri saya. Kiran membantu memotong sayuran, menyiapkan piring dan membereskan piring-piring kotor dan mencucinya. Saya pun jadi belajar mengolah makanan 🙂

Kegiatan tersulit adalah pada saat makan siang, ketika Kiran selalu memilih makanan yang ingin dimakannya. Meskipun sulit, setiap hari saya mencoba menanamkan pengertian kepada Kiran bahwa tubuh kita membutuhkan makanan dan tidak semua makanan yang dibutuhkan oleh tubuh akan kita sukai. Proses makan ini biasanya memakan waktu lebih lama daripada proses memasaknya. Makan siang kami biasanya berdurasi 30 menit sampai 1 jam.

Kami mencoba merancang jadwal pendidikan rumah Kiran sebagai berikut ini:

 Hari Kegiatan
Senin Berkegiatan di rumah
Selasa Berkegiatan bersama Tunas
Rabu Berkegiatan bersama Oase
Kamis Berkegiatan bersama Tunas
Jumat Berkegiatan di rumah
Sabtu Berkegiatan di Rockstar Gym
Minggu Berkegiatan di Rockstar Gym

Banjir Informasi

Kekalapan kami sebagai orangtua yang mengumpulkan banyak sumber untuk kegiatan Kiran dan ketidakmampuan kami mengolah informasi yang telah dikumpulkan, benar-benar sebuah pelajaran penting bagi kami untuk benar-benar lebih memerhatikan ketertarikan Kiran dan bukanlah ketertarikan kami sebagai orangtua. “Mengarahkan” Kiran tanpa menghilangkan semangatnya ternyata lebih sulit dari yang kami bayangkan.

Dunia Bermain

Sebuah bukti bahwa anak berusia 5 tahun masih usianya bermain. Kami pun akhirnya belajar menerima bahwa anak kami masih senang “bermain” dan belum siap menerima kegiatan yang terlalu banyak dibumbui “peraturan” atau kegiatan yang terlalu benyak melibatkan pensil dan kertas.

Kami masih berusaha untuk tertarik dengan hal-hal yang membuat Kiran tertarik. Bukanlah hal yang mudah bagi kami dengan keseharian kami sebagai pekerja dan selalu berinteraksi dengan orang dewasa beserta permasalahannya yang timbul dari pekerjaan kami kemudian harus segera mengubah diri kami menjadi playful ketika bersama Kiran.

Transisi Situasi

Transisi dari tempat kerja ke rumah atau sebaliknya sangat penting. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan saat sulit mengingat tanggung jawab pekerjaan yang sangat besar. Namun, setiap hari saya harus belajar “berdamai dengan diri sendiri” bahwa saya harus bisa berfokus kepada anak saya ketika bersamanya dan fokus bekerja ketika tidak sedang bersama anak saya. Perasaan bersalah selalu menghinggapi diri saya ketika di Kiran, saya memeriksa surel atau menerima panggilan telepon yang berkaitan dengan pekerjaan. Akhirnya sedikit demi sedikit saya harus menerima bahwa pekerjaan bisa menunggu ketika saya bersama Kiran dan ketika bekerja, saya harus bisa efisien supaya tidak mengganggu kebersamaan saya bersama Kiran.

Menemani Ayah Bekerja

Khusus untuk hari Selasa dan Kamis, sepulang berkegiatan di Tunas, Kiran ikut bekerja bersama saya dan menghabiskan sisa waktunya di tempat kerja saya. Untungnya banyak sekali orang yang peduli terhadap Kiran sehingga saya bisa fokus melaksanakan pekerjaan saya. Kadang-kadang ada kenalan yang berbaik hati mengundang Kiran setiap selasa Kamis siang sampai sore untuk bermain di rumahnya yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari tempat kerja saya. Istri saya pun biasanya menemui kami sepulang kerja supaya kami bisa pulang ke rumah bersama-sama.

Berjejaring

Kebetulan di bulan Maret adalah awal dari kebersamaan saya dan Kiran berkegiatan bersama Tunas (sebuah komunitas homeschooling untuk anak usia dini). Kami mulai mengatur jadwal supaya bisa mengikuti kegiatan yang dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Dengan sambutan yang hangat dari setiap anggota Tunas mulai dari pertemuan pertama kami di Museum Polri, akhirnya saya lebih terlibat di Tunas. Untuk mempermudah para orangtua berkegiatan bersama anak-anaknya juga supaya lebih anak-anak lebih terarah, akhirnya para orangtua memutuskan untuk merancang kegiatan untuk anak-anak berdasarkan tema.

Tema Kegiatan

Tema untuk bulan April adalah tentang tanaman. Berikut ini adalah beberapa foto kegiatan kami bersama Tunas :

Berkemah di Bumi Perkemahan Ragunan

Di penghujung bulan Maret, kami mencoba mengajak Kiran untuk berkemah. Sudah beberapa bulan ke belakang kami berjanji kepada Kiran akan mengajaknya berkemah. Ketika kami pergi ke sana, Kiran senang sekali karena dan akhirnya tahu rasanya berkemah.

Fieldtrip ke Kebun Raya Bogor

Pada bulan April, kami pergi ke Kebun Raya Bogor untuk menepati janji kami yang lainnya kepada Kiran untuk melihat paus biru (binatang kesukaannya) di Museum Zoologi. Kami pergi bersama pamannya yang kebetulan belum pernah naik KRL. Berdasarkan komentar beliau naik KRL ke Bogor, ternyata tidak beda jauh dengan fasilitas yang ada di negara luar sana (Baru sadar kalau sistem perkeretaapian di Jakarta sudah tertata dengan baik).

Bermain Biola

Ketika orang-orang menanyai Kiran tentang alat musik yang disukainya, Kiran hanya menjawab biola. Pada awalnya kami pun kaget karena tidak pernah memperkenalkan biola kepada Kiran. Ternyata Kiran mengetahui alat musik gesek ini dari tayangan Elmo’s World. Setelah beberapa waktu berlalu pun hanya biola yang disebutkan oleh Kiran. Akhirnya kami pun mencoba untuk meyakinkan diri jika Kiran memang tertarik untuk bermain biola. Kami pun berjanji untuk membelikan Kiran biola jika dia memang ingin bermain biola.

Berhubung harga biola yang tidak murah, saya pun mengajak Kiran ke Taman Surapati untuk melihat orang-orang berlatih bermain biola di taman. Di taman Kiran mendapatkan kesempatan untuk menjajal bermain biola dan setelah itu semangatnya semakin berkobar. Melihat binar di matanya, saya sepulang dari taman, kami pun membeli biola dan berencana untuk berlatih biola setiap minggu di taman tersebut.

Bermain biola Mengenal Biola

Mengikuti Gerakan Ayah Bercerita

Suatu hari di pertengahan bulan April saya mendapatkan informasi mengenai Gerakan Ayah Bercerita. Kegiatan ini adalah pelatihan untuk para ayah yang ingin belajar mendongeng. Beruntung sekali saya berkesempatan mengikuti kegiatan ini yang dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal saya. Kebetulan mendongeng adalah salah satu kesulitan terbesar saya yang lainnya selain menggambar. Banyak informasi yang saya dapatkan dari kegiatan ini dan sekarang hanya tinggal melatih kemampuan mendongeng saya untuk Kiran.

Belajar Mendongeng melalui Workshop Gerakan Ayah Bercerita

Gerakan Ayah Bercerita – Grup Condet

Berikut ini adalah pengalaman seru lainnya selama 2 bulan terakhir ini dalam kegiatan pendidikan rumah Kiran:

Di umurnya yang kelima tahun kami sangat senang dengan perkembangan Kiran selama ini, berikut ini adalah beberapa hal yang sebelumnya menjadi perhatian kami dan sekarang Kiran bisa melakukannya dengan baik:

  • bersikap lebih mandiri daripada sebelumnya, seperti menyiapkan keperluannya sendiri, mengenakan pakaiannya sendiri dan menyiapkan alat makannya sendiri.
  • lebih nyaman bertemu dengan orang-orang baru.
  • bisa mengendarai sepeda roda dua
  • bisa berinteraksi bersama anak-anak di bawah usianya.
  • mampu mandi sendiri.
  • mampu mengutarakan keinginannya secara lisan.
  • mampu menyampaikan perasaannya ketika merasa senang atau sedih.
  • bisa berenang dengan gaya dog’s paddle.
  • mampu mengikuti instruksi beberapa instruksi yang disampaikan secara sekaligus.
  • mulai menunjukkan minatnya terhadap musik.
  • bisa bermain tebak-tebakan.
  • bisa becanda
  • bisa mengikuti peraturan
  • mampu mengantre dengan baik
  • mampu bersabar menunggu giliran.
  • berani bergaya di depan kamera.
  • bisa berbagi mainan bersama orang lain

Semoga kiriman ini bisa bermanfaat bagi yang membaca dan semoga ke depannya kami bisa lebih konsisten lagi dalam membuat kiriman. Masih banyak sekali hal yang harus kami pelajari sebagai orangtua dan semoga kami bisa terus menikmati proses pembelajaran keluarga kami.

Belanja Hotwheels

Belanja Hotwheels

Hari Minggu kemarin Kiran mendadak ingin mengajak ke mal untuk membeli hotwheels. Padahal koleksi hotwheels Kiran lumayan banyak (sepertinya Kiran merasa bosan memainkan mobil yang sama). Akhirnya kami ada ide untuk mengeluarkan tabungan koin yang selama ini Kiran kumpulkan dan terkumpullah uang receh sebanyak Rp 25.000,-

Sedikit flashback, ini adalah kedua kalinya Kiran mengeluarkan tabungan koinnya. Sebelumnya Kiran sudah mengumpulkan koin kurang lebih setahun dan ketika kami buka (pada saat itu Kiran ingin membeli sebuah mobil truk) ternyata lumayan juga. Ketika kami hitung uang koin yang terkumpul sebanyak 400 ribuan. Pada saat itu kesulitan juga menukarkan koin karena warung pun sudah tidak tertarik lagi dengan uang recehan dan setiap warung yang kami datangi memasang wajah aneh seolah tidak percaya jaman orang sudah memakai kartu ATM, kami masih mengumpulkan koin sebanyak itu. Tetapi akhirnya sebuah tempat fotokopi mau menerima uang koin kami meskipun tidak semuanya berhasil ditukarkan. Sisanya saya simpan di bagasi motor untuk membayar uang parkir 😉 Singkat cerita, akhirnya Kiran membeli truk mainan yang diinginkan seharga Rp 30.000 dan sisa uangnya ditabung kembali di dalam celengan ayam 🙂

Kembali ke masa kini, kali ini tidak begitu banyak uang koin yang terkumpul dan kami hanya mengeluarkan koin sebesar Rp 25.000 senilai dengan harga mobil hotwheels. Kami menghitung dan menyimpan koin-koin tersebut di dalam sebuah tas kecil dan kami pun berangkat ke sebuah mal di Jakarta Selatan. Dengan sepenuh hati Kiran menjaga uang yang dibawanya di dalam tas supaya tidak diambil “bank robber” (korban cerita lego) 😉

Setiba di mal tersebut, kami menyelesaikan keperluan kami dan selepas itu meluncur ke salah satu toko mainan yang sangat lengkap. Kiran sempat terhenti di bagian depan toko mainan tersebut karena melihat karakter kesukaannya, Thomas sang kereta api. Kami mengetahui bahwa Kiran sangat ingin membeli mainan tersebut tetapi kami mengingatkan tujuan kami mendatangi tempat tersebut adalah untuk membeli sebuah mobil Hotwheels. Kiran pun berkata “I want this for my birthday present okay?” seraya menunjuk Thomas sang kereta api.

Kemudian kami memasuki toko tersebut lebih dalam dan ini pertama kalinya di mal tersebut kami memasuki toko mainan ini. Kami pun bingung di mana harus menemukan Hotwheels yang ingin Kiran beli. Kebetulan salah seorang penjaga toko berdiri tidak jauh dari tempat kami dan kami menyuruh Kiran untuk bertanya kepada penjaga toko tersebut di mana letak mobil Hotwheels dijajakan. Dengan sangat bersemangat Kiran mendekati penjaga toko tersebut dan dengan baiknya penjaga toko tersebut mengantar Kiran ke tempat yang diinginkan.

Akhirnya penantian telah berakhir dan Kiran langsung memutuskan untuk memilih salah satu mobil yang dipajang. Kemudian Kiran segera meluncur ke tempat kasir dan mengantre. Ketika giliran Kiran tiba untuk membayar, kasir sempat bingung menanyakan uang untuk mobil yang ingin Kiran beli karena Kiran hanya menyodorkan kantong kecil (berisi koin-koin). Inilah yang terjadi di tempat pembayaran:

Setelah melakukan pembayaran, akhirnya Kiran segera memainkan mobil yang telah dibelinya dan mengakhiri hari dengan kegembiraan memainkan mobil-mobilan tersebut.

Pelajaran yang sangat berharga untuk kami sebagai orangtua bahwa kebahagiaan untuk anak itu tidak harus mahal dan lux.

Museum Polri

Museum Polri

Kali ini menerima undangan terbuka dari Tunas (salah satu komunitas homeschooling di Jakarta Selatan) untuk pergi ke Museum Polri. Hanya saya dan Kiran yang berangkat ke museum karena kegiatan ini dilakukan pada hari kerja dan Bunda Kiran harus bekerja. Kiran bersemangat sekali ketika saya beritahu bahwa di sana dia akan melihat helikopter.

Ketika tiba di sana, saya bertemu keluarga-keluarga baru yang penuh semangat menemani anak-anaknya berkegiatan. Sebelum semuanya berkumpul kami sudah mencuri start untuk berfoto di depan museum. Di bagian depan museum terparkir gagah sebuah tank dan helikopter. Ketika kami memasuki lobi museum, kami disambut oleh 3 orang polisi wanita yang ramah. Sebuah mobil polisi pun terparkir di pojok lobi yang langsung menjadi incaran anak-anak.

Rangkaian tur museum diawali dengan menonton sebuah film di lantai 2. Sempat terkaget juga ketika memasuki ruang menonton di museum ini, karena sangat bersih, tertata rapi dan tasteful. Kurang lebih seperti bioskop XXI (kecuali mutu suaranya, belum Dolby ;)). Tidak menyangka mendapat kualitas setara bioskop untuk menonton di museum ini. Film yang dimainkan adalah tentang polisi wisata di Bali. Bercerita mengenai sekelompok anak yang berperan sebagai polisi wisata. Untuk mengetahui detil ceritanya, silakan datang langsung ke lokasi 🙂

Ruang menonton

Setelah film selesai dimainkan, kemudian ketiga polwan tersebut mengajak anak-anak bermain area Kids Corner. Di area ini anak-anak bisa bermain peran menjadi polisi. Kostum polisi pun tergantung rapi siap untuk digunakan. 2 buah mobil dan motor bertenaga baterai terparkir di pinggir area. Namun sayang, sepertinya daya baterai untuk motor mainan tersebut tidak diisi ulang sehingga anak-anak agak kesulitan menggunakan motor mainannya. Namun hal itu tidak menghambat anak-anak untuk menikmati waktu mereka di sana. Selain itu tersedia macam-macam puzzle dan mainan edukatif lainnya yang tersedia di atas meja. Anak-anak juga belajar sedikit tentang rambu lalu lintas dari ketiga polwan yang ramah itu.

Yang paling menarik di area ini adalah dindingnya. Dinding di area ini sudah disulap menjadi sebuah permainan bercerita di mana kita akan berperan sebagai detektif yang harus memecahkan sebuah kasus dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Konsep yang sangat menarik, namun permainan ini lebih tepat dimainkan untuk anak berumur 8 tahun ke atas karena melibatkan kemampuan membaca dan berlogika.

Kids Corner

Bermain di Kids Corner

Setelah anak-anak selesai bermain di Kids Corner, ketiga polwan tadi melanjutkan rangkaian kegiatan tur dengan menjelaskan macam-macam seragam polisi. Mulai dari seragam polisi berkuda, lengkap dengan pecutnya sampai berbagai jenis topi yang dikenakan oleh polisi. Kemudian anak-anak diajak untuk melihat robot penjinak bom yang dikendalikan menggunakan pengendali jarak jauh dan sebuah komputer untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh robot penjinak itu. Anak-anak bersemangat sekali mendengarkan penjelasan dari ketiga polwan tersebut sampai beberapa anak langsung berkomentar ingin menjadi polisi supaya bisa bermain dengan robot penjinak bom (namanya juga anak-anak, bawaannya tetap saja ingin bermain) 😉

Selepas itu, kami diajak turun kembali ke lantai 1 untuk melihat koleksi persenjataan yang terdapat di museum. Yang menarik ketika kami berada di lantai 1 adalah tantangan yang diberikan oleh salah satu polwan kepada anak-anak ketika menanyakan jika ada anak yang ingin bernyanyi. Ternyata Kiran langsung menjawab tantangan polwan tersebut dan menyanyikan lagu “The Alphabet Song” 2 kali. Saya kaget sekaligus senang, karena saya tahu Kiran selalu malu jika disuruh bernyanyi atau tampil di depan ayah dan bundanya. Inilah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan Kiran yang dilakukan atas keinginan dia sendiri dan dilakukan penuh percaya diri. Berikut ini penampilan Kiran:

Setelah Kiran selesai bernyanyi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan melihat koleksi senjata dan kendaraan kepolisian yang terdapat di museum. Rangkaian kegiatan ini pun diakhiri dengan anak-anak berfoto bersama di depan gedung museum dengan latar helikopter dan tank.

Setelah itu, kami pun makan siang bersama di lobi museum (Terima kasih kepada Mbak Yulia yang sudah mau repot membawa karpet dan tempat sampah terpilah). Tidak terasa 4 jam sudah berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun akhirnya berpamitan dan berfoto bersama 🙂

Seru sekali berkegiatan bersama dengan keluarga lainnya dan bertemu keluarga-keluarga baru dengan ceritanya masing-masing. Kiran pun mempunyai teman-teman baru.