As parents we should consider ourselves more lime a Sherpa guide than a trainer or commanding officer. As one who has greater experience, but not greater value, our function is to climb the mountain beside our child, providing direction wherever we can, but above all offering our constant support. Then as we near the peak-as the child becomes an adolescent and then an adult-we stay back and let him or her pursue the dream, asking not even for credit for how much we helped along the way.

Read more

Discipline usually means punishment, a concept that is not entirely useful for those who wish to approach parenting as a spiritual path. If your most deeply held desire is to know God, to make all that you do an act of worship, then the guidance you give your child will be more like the light touch of a butterfly on a flower than the heavy hand of domination that “breaks the will” of a weaker ego. Rather than dispensing rules, regulations, and righteousness, you seek to assist your child to see the path clearly. After all, we are all on this journey together, regardless of our age.

Read more

If our relationship with children is a sacred trust-in no circumstances can anything be more important than protecting and nourishing the children in our care. Those are the function of the adult in all species. And we are not an exception. None of the heinous acts recorded in human history would have been occured if children had been the world’s priority.

Read more

Proyek Mengumpulkan Dana untuk Berdonasi Buku

Pagi ini saya mendapatkan informasi di Facebook dari seorang teman. Informasi tersebut tentang program donasi buku paket yang berjudul Anak Bertanya Pakar Menjawab seharga Rp 120.000 untuk satu paket buku. Karena penasaran dan tidak memiliki informasi yang jelas, saya pun mengunjungi akun resmi https://www.facebook.com/kitaberbagibuku dan meminta informasi lengkap mengenai isi dari buku tersebut. Tidak lama berselang permintaan saya ditanggapi oleh admin dari FB Page tersebut dan diberikan tautan www.anakbertanya.com.

Setelah mengunjungi situs web resminya, yang saya pahami adalah buku ini berisi pertanyaan anak-anak yang dijawab langsung oleh pakarnya. Isi situs web tersebut sangat menarik, karena pertanyaan dari anak-anak dijawab oleh pakarnya menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh anak-anak. Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi situs web di atas.

Tadinya saya berpikir untuk memberikan donasi secara langsung, tetapi kok rasanya tidak berkesan. Tiba-tiba saya memiliki ide dan menyampaikannya kepada Kiran. Ide tersebut adalah mengumpulkan dana untuk berdonasi. Jadi saya sampaikan kepada Kiran bahwa kami bisa membantu anak-anak di tempat yang jauh untuk menerima buku yang kita donasikan. Akhirnya kami putuskan untuk membuat sebuah proyek selama 2 minggu (mulai tanggal 1 Februari sampai 14 Februari) dan kami telah mendiskusikan hal apa saja yang sekiranya Kiran bisa lakukan supaya bisa mendapatkan uang untuk memberikan donasi.

Saya pun mengajak Kiran untuk membuat video untuk menyampaikan proyek ini kepada semua orang. Berikut ini videonya:

Kami pun membuat video mengenai buku kesukaannya.

Setelah membuat video, kemudian kami berdiskusi dan membuat rencana supaya Kiran dapat menghasilkan uang untuk dikumpulkan dan didonasikan. Saya sangat senang berdiskusi dengan Kiran dan tingkat konsentrasinya sudah mulai meningkat dan bertahan lebih lama. Berikut ini hasil diskusi yang kami (semoga terbaca dengan baik):

Hasil Diskusi

Hasil Diskusi

Kami mohon dukungannya dari teman-teman semua semoga proyek ini dapat berjalan dengan lancar. Saya akan mencoba mendokumentasikan kegiatan ini setiap hari (semoga bisa disiplin). Jika ada ide lain yang bisa kami lakukan, silakan sampaikan di kolom komentar.

Untuk yang ingin bergabung mengumpulkan dana, yuk kita berusaha sama-sama.

Informasi terkini*

1 Februari 2016: Pembuatan kampanye di kitabisa.com untuk mempermudah penerimaan donasi. Kampanye sedang dalam pengecekan admin Kita Bisa. Setelah disetujui, akan saya bagikan di media sosial.

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .