Dimple

Pagi kemarin:

Kiran: Bunda, ayah has dimples on his cheeks, do I have one?

Bunda: Yes, you did Ki, when you were a baby. I’ll find the photo later.

Sore tadi:

Bunda: Here’s the photo Ki, see, you had one on your right cheek.

Kiran: Oh yeah, I have dimple like ayah (sumringah)

Bunda: How come I dont have one? (Pura-pura sedih)

Kiran: Dont worry Bun, I think you have, but it is covered by fat on your cheeks. (Muka lempeng)

Cars Project

Beberapa minggu lalu, Kiran mengerjakan proyek keduanya setelah membuat proyek Lapbook ulat sutra. Karena waktu itu Kiran sedang suka dengan ulat dan proses metamorfosisnya, saya melihat semangat di dirinya ketika mengerjakan proyek ulat sutra. Bu Septi juga waktu itu pernah berbagi cerita, ketika anak-anaknya masih kecil, beliau menanyakan APA yang anak-anaknya ingin pelajari, sehingga semangat belajarnya akan tetap terjaga sampai poyeknya selesai. Mengacu pada pengalaman beliau, maka saya mencoba menerapkannya kepada Kiran.

Sebelum memulai proyek kedua ini, Saya bertanya kepada Kiran hal apa yang ingin ia pelajari. Untuk kali ini ternyata Kiran ingin tahu lebih banyak tentang jenis-jenis mobil. Dari jawabannya, saya jadi tahu apa minat anak saya pada saat ini.

Setelah itu, kami membuat rencana untuk proyek mobilnya. Di sini, saya memperkenalkan Kiran untuk membuat rencana menggunakan model pertanyaan 5W1H. dengan model pertanyaan ini, saya ingin Kiran belajar menjabarkan dan merencanakan projeknya secara detil. Dengan membuat rencana, saya ingin Kiran mengerti bahwa dengan membuat perencanaan terlebih dahulu akan mebuat pekerjaannya lebih terarah dan diakhir proyek, akan terlihat kesulitan dan kendala yang terjadi di luar rencana sehingga untuk proyek selanjutnya akan bisa lebih matang lagi dalam membuat perencanaan. Berikut contoh jawaban 5W1H yang Kiran lakukan:

What : What cars are you going to put in your project? 6 cars (merk Kiran sebutkan)

Who : Who is going to do the project? Me and with help from bunda

When : When are you going to do it? Everyday for 4 days

Where : Where are you going to conduct you project? At home and showrooms

Why : Why do you choose this project? I choose this project because I like cars

How : How are you going to do the project?

  • Go to showroom, ask the expert some questions and ask for brochures
  • Check on the internet
  • Draw and print car pictures
  • Present it to my friends
  • Review

Keesokan harinya, sesuai dengan rencana yang Kiran buat, kami mengunjungi total tiga dealer mobil untuk mencari informasi langsung (dari ahlinya). Dalam kegiatan ini Kiran juga saya perkenalkan dengan adab mewawancarai orang lain, mulai dari menyapa, memperkenalkan nama, tujuan, dan menutup wawancara. Pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber juga merupakan pertanyaan yang berasal dari Kiran, saya tidak bantu sama sekali. Terserah saja apa yang ingin ia tanyakan. Pada tahap ini, saya melihat kekurangan Kiran ketika bertanya kepada orang lain. Hal ini tentu  menjadi bahan diskusi kami pada malam harinya. Jadi ketika mengunjungi showroom kedua dan ketiga, Kiran mulai memperlihatkan perkembangan dalam bertanya.

Karena keterbatasan waktu (rencananya Kiran hanya menuliskan 4 hari), untuk 3 merk mobil yang lain, Kiran mencari informasinya melalui internet. Dalam kegiatan ini, Kiran belajar mencari informasi lewat website, menyimpan gambar, menyalin gambar ke Microsof Word, serta mengedit gambar. Karena masih tahap perkenalan dengan komputer, maka prosesnya cukup memakan waktu. Tapi karena Kiran menikmatinya, saya juga ikutan senang melihat proses belajarnya. Untuk penggunaan komputer, saya memberikan contoh kepada Kiran bagaimana cara menggunakan komputer, setelah itu, saya biarkan ia melakukannya sendiri. Satu-satunya yang saya bantu hanya mencolokkan charger laptop dan memasukkan kertas ke dalam printer. Sisanya Kiran lakukan sendiri (meskipun lama).

Karena ini Project Based Learning, ketika membuat rencana, Kiran sudah memutuskan akan membuat lapbook untuk proyek ini. Maka setelah selesai mendapatkan semua informasi yang diperlukan, Kiran pun mulai menyusun dan menempel semua gambar ke media yang ia pilih (jilid buku bekas). Kiran menggunting, menempel, menulis, dan menyusun semua gambarnya sendiri.

Setelah semua selesai, Kiran berlatih untuk mempresentasikan proyeknya. Untuk presentasi, saya mau semua yang dijelaskan Kiran adalah murni dari pemikirannya sendiri. Jadi saya hanya memberitahu tata cara presentasi yaitu,

  • Pembuka (salam, memperkenalkan diri dan mukadimah proyek)
  • Isi (proses perjalanan membuat proyek ini)
  • Penutup (mengundang audience untuk bertanya dan menutup presentasi)

Setelah itu, keesokan harinya Kiran mempresentasikan hasilnya kepada ayahnya. Kiran terlihat bangga sekali dengan hasil karyanya.

Hari selanjutnya, kami mengulas kembali projek yang dikerjakan, dan menuliskan apa yang Kiran sudah rasa baik, hal-hal yang perlu diperbaiki untuk projek selanjutnya, dan apa yang Kiran sukai dari projek ini. Ulasan seperti ini diperlukan agar ketika mengerjakan proyek selanjutnya akan bisa lebih baik lagi.

Ketika melakukan proyek ini, Kiran bersemangat sekali. Jika anak diberikan kesempatan untuk melakukan dan mengerjakan hal yang ia suka dan memilih yang akan dikerjakan, binar di matanya menjelaskan semuanya. Ini pengalaman belajar yang saya lakukan dengan Kiran. Semoga bermanfaat.

Marbles Painting

Marbles Painting

Hari ini Kiran dan saya mencoba melukis untuk membuat projek kecil harian. Biasanya kalau diajak menggambar, Kiran suka menolak duluan. Tetapi beberapa waktu lalu saya melihat satu postingan di Pinterest, yaitu melukis dengan kelereng. Setelah saya ceritakan kepada Kiran, ternyata gayung bersambut, anaknya mau! Maka kami lakukanlah projek melukis dengan kelereng hari ini. Ternyata menyenangkan loh. Berikut adalah material yang diperlukan untuk membuat projek ini:

  1. Kelereng (kami pakai 5 buah kelereng)
  2. Kertas ukuran apa saja (kami pakai ukuran A4)
  3. Cat beberapa warna (kami pakai akrilik)
  4. Wadah untuk cat
  5. Selotip (untuk menahan kertas)
  6. Kardus (untuk menahan kelereng)

Membuatnya juga mudah, begini caranya:

  1. Masukkan cat ke wadah, satu wadah untuk satu warna cat ya
  2. Masukan satu kelereng ke setiap wadah berisi cat
  3. Letakkan kertas di dalam kardus, pastikan kertas tidak bergerak
  4. Taruh kelereng yang sudah berlumur cat ke atas kertas di kardus
  5. Goyang-goyangkan kardus hingga kelereng bergerak dan membuat goresan warna

Voila!

Hasil gambar menakjubkan muncul di atas kertas. Mudah sekali bukan? Dan sangat menyenangkan untuk anak-anak. Saking senangnya Kiran, ia sampai berinisiatif mengajak saya untuk membuat video tutorial pembuatan lukisan kelerengnya. Silakan ditonton videonya.  Semoga bermanfaat ya ☺  

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berikut ini manfaat yang kami dapatkan dari pengalaman travelschooling kami:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri untuk menjadi role model untuk Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke mana pun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian daerah tersebut

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner lokal

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari kebun yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong.

Belajar bahasa penduduk setempat

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka.

Apakah ada yang mau mengundang kami ke kampung halamannya, hehehe?

 

Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami: