Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Reading Time: 3 minutes

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem

 

Memeluk Emosi

Memeluk Emosi

Reading Time: 4 minutes

Menjalani homeschooling merupakan pencerahan bagi keluarga kami. Belajar satu sama lain, saling memahami antara satu sama lain dan mencoba untuk saling mengerti. Setiap kali mendapat ilmu untuk tujuan homeschooling ternyata selalu kembali kepada pembenahan diri orangtua. Mendidik anak bukanlah mengajari anak tetapi mengajari diri sendiri supaya bisa menjadi teladan bagi anak. Setiap pemelajaran yang terjadi di dalam menjalani homeschooling adalah proses mengenali diri.

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai keakuan, tulisan ini akan membahas mengenai emosi dan luka lama. Emosi adalah luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti sedih, malu, marah, gembira, kecewa, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi dari luka lama di sini adalah sebuah pengalaman tidak menyenangkan dari masa lalu atas cara kita diperlakukan (oleh siapa pun) dan membentuk perilaku kita saat ini.

Orangtua membesarkan anaknya supaya anaknya bisa menjadi anak yang ‘berbakti’ kepada orangtua, bermanfaat bagi keluarga dan negara, menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik supaya kelak sukses dan mapan, membuatkan rumah di dekat rumah orangtuanya supaya bisa tinggal berdekatan dan banyak bentuk keakuan lainnya yang orangtua lakukan atas nama rasa sayang. Seorang anak yang dibesarkan sebagai kebanggaan orangtua, menuruti apa kata orangtua dan memenuhi harapan orangtua sebenarnya berada dalam tekanan emosi yang sangat besar karena semua perilakunya harus memenuhi harapan orangtua.

Seperti yang saya alami ketika duduk di bangku sekolah bagaimana susahnya untuk menduduki peringkat satu di dalam kelas. Ketika nilai-nilai ulangan saya tidak sebesar murid-murid lainnya, ketika saya dituntut untuk menggungguli siswa berprestasi di sekolah dengan kemampuan akademis yang pas-pasan. Ketika tuntutan itu tidak dapat saya penuhi saya pun dibandingkan, dimarahi dan diceramahi yang dengan perkataan yang menjatuhkan kepercayaan diri sehingga saya merasa orangtua saya membuat saya merasa bersalah, kecewa, kesal dan marah terhadap diri sendiri karena tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Saya pun mulai bertumbuh dengan rasa takut, tidak mampu dan tidak percaya diri. Perasaan ini saya pendam dan tidak pernah saya tangani sampai saya dewasa dan akhirnya tanpa saya sadari membentuk kepribadian saya.

Setelah saya lebih dewasa dan berada dalam posisi ‘mampu’ membuat keputusan sendiri, pertentangan antara saya dan orangtua pun tidak terhindarkan. Saya selalu mencoba untuk berseberangan dengan setiap pemikiran mereka karena tidak ingin merasa bersalah lagi.

Menyedihkan memang ketika semua itu dilakukan atas nama cinta berbalut ego karena sebenarnya orangtua saya hanya ingin memastikan kehidupan yang lebih baik dari yang mereka miliki. Di saat yang bersamaan saya berterima kasih dengan cara saya dibesarkan karena menjadikan saya menjadi pribadi yang tidak cengeng dan mandiri. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari setiap kejadian. Cerita di atas bukan mengenai perlakuan orangtua saya terhadap saya, karena saya memahami mereka hanya melakukan apa yang mereka ketahui dengan caranya sendiri tetapi tentang hasil dari perbuatan kita sebagai orangtua yang dapat membuat luka terhadap anak kita tanpa kita menyadarinya.

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind, saya baru sadar bahwa alasan saya terlalu keras dengan diri saya adalah bukan karena saya berprinsip melainkan karena saya tidak merawat dan menyembuhkan luka dari masa lalu tersebut di atas. Saya selalu menuntut hasil yang sempurna, melihat hasil seperti yang saya inginkan, dan sangat kaku dengan aturan. Untuk urusan pekerjaan mungkin baik, tetapi dalam kehidupan keseharian saya kesulitan mengelola emosi di dalam diri. Seringkali saya harus ‘merasa’ kecewa untuk hal-hal sepele. Emosi saya sering terpancing ketika saya tidak menemukan barang di tempat yang semestinya, ketika orang-orang di rumah tidak berlaku seperti yang saya pikir seharusnya mereka berlaku.

Untuk menghindari emosi yang saya rasakan ketika perasaan itu muncul seringkali saya diam dan mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Tidak jarang juga saya tidak bisa menahan diri mencerocos sampai semua pesan saya keluarkan baru merasa lega dengan melupakan perasaan orang tersebut. Yang selalu saya sesalkan adalah ketika saya kurang istirahat kemudian segala sesuatu dengan mudahnya menjadi pemicu untuk membuka luka lama saya.

Ternyata hal-hal yang selama ini saya hindari bahkan berjanji untuk tidak akan dilakukan telah menjadi bagian diri saya dan berevolusi dalam bentuk yang lain. Beberapa hari setelah seminar saya mencoba untuk melatih kesadaran mengenali luka yang ada di dalam diri. Mencari naga yang yang bersembunyi di dalam diri untuk menjinakkannya.

Kuncinya adalah belajar ‘merasa’. Bagaimana kita memperlakukan diri kita dan orang lain sebagaimana mestinya tanpa ada syarat yang melekat. Perasaan sayang yang dibalut dengan marah, kesal atau kecewa hanyalah sebuah ilusi dari luka lama kita. Naga yang terbangun dari tidurnya.

Pak Gobind membuat contoh ketika kita terluka di bagian tangan, kemudian seseorang menyentuh luka tersebut tentu rasa sakit akan kita rasakan. Sesungguhnya orang tersebut hanya mengingatkan kita akan luka yang kita miliki supaya kita merawat dan menyembuhkan luka tersebut. Luka tersebut ibarat pengalaman masa lalu kita yang pahit yang belum kita sembuhkan karena tidak tahu cara merawatnya. Orang yang menyentuh luka tersebut bisa jadi siapa saja termasuk anak kita yang sebetulnya bukan yang membuat kita terluka tetapi memberitahu dan mengingatkan kita akan luka masa lalu yang harus kita rawat dan sembuhkan. Berterima kasihlah kepadanya.

MEMELUK EMOSI

Ketika kita berhadapan dengan seseorang kemudian muncul emosi yang membuat kita tidak nyaman (terintimidasi, marah, malu dan lain sebagainya), berbicaralah dengan diri sendiri mengapa rasa itu muncul.

Keberadaan orang-orang di sekitar saya ternyata membantu saya untuk mengenali setiap luka dalam diri yang harus saya rawat dan sembuhkan. Caranya bagaimana? hadapi dan kenali sumber emosi yang kita rasakan. Berbicaralah dengan diri kita di masa lalu apa yang membuat kita terluka. Rawatlah luka tersebut dengan mengenali luka yang kita miliki sampai luka tersebut dapat kita sembuhkan.

Perbuatan adalah tanggapan dari emosi yang kita miliki. Saya harus belajar ‘merasa’ dan mengenali luka yang saya miliki. Emosi yang saya miliki tidak ada sangkut pautnya dengan orang tersebut. Seseorang yang membuat saya kesal, malu, marah atau benci adalah cerminan dari luka yang saya miliki. Saya harus belajar merasakan emosi yang saya miliki dan berhenti mengalihkan perasaan yang muncul setiap kali datang. Belajar menerima supaya terhindar dari keakuan supaya bisa merasakan tulusnya menyayangi.

Mari kita bersama-sama belajar merasa.

Belajar Melepas Keakuan

Belajar Melepas Keakuan

Reading Time: 3 minutes

Kali ini saya dan Nuni mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Gobind Vashdev mengenai compassionate parenting. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan pada pemelajaran kali ini dan saya akan mencoba mengulas kembali hal apa saja yang menjadi perhatian saya ketika mengikuti kegiatan tersebut. Hasil belajar setiap orang bisa berbeda sehingga apa yang saya akan sampaikan sepenuhnya adalah interpretasi saya pribadi. Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini sangat mungkin dikarenakan kesalahan interpretasi saya atau ketidakpahaman saya terhadap informasi yang saya terima dan sewaktu-waktu dapat diralat demi kejelasan informasi.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti seminar beliau. Fokus dari seminar ini adalah bagaimana orangtua dapat memahami arti dari kata cinta atau kasih sayang yang sebenarnya supaya kita bisa berhubungan baik dengan anak. Baru kali ini saya kesulitan menulis karena banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan. Oleh karena itu saya akan membagi pengalaman mengikuti seminar Pak Gobind menjadi beberapa bagian supaya mudah untuk dibaca sekaligus memberikan saya waktu untuk mengulas kembali informasi yang saya terima.

Untuk bagian pertama, saya akan menyampaikan pelajaran yang saya terima tentang perbedaan sayang  dengan kemelekatan (tanpa mengurangi rasa hormat demi kejelasan berbahasa izinkan saya mengubah kata ‘kemelekatan’ dengan ‘keakuan‘ yang saya anggap mendekati arti yang dimaksud karena ‘kemelekatan’ tidak sesuai dengan norma berbahasa Indonesia). Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba jujur dan berdialog dengan dirinya sendiri supaya mendapatkan manfaat dari apa yang akan saya bagikan.

Tanpa kita sadari ternyata kata ‘sayang’ yang selama ini kita gunakan berbeda makna dengan kata ‘sayang’ yang sesungguhnya ingin kita gunakan. Selama ini yang kita kenali adalah bentuk sayang dengan syarat. Kita melakukan sesuatu dengan melekatkan timbal balik dalam bentuk harapan. Contohnya kita menyayangi pasangan atau anak kita dengan harapan pasangan atau anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita memarahi anak dengan balutan kata sayang untuk memperlembutnya dan menyembunyikan perasaan kita yang tidak dapat kita kelola dengan baik untuk mengontrol anaknya (disengaja atau tidak). Kita memperlakukan orang lain dengan baik dan berharap orang lain memperlakukan kita dengan baik juga. Pokoknya semua yang saya berikan atau saya lakukan harus saya terima kembali dalam bentuk yang sama. Sehingga ketika kita tidak menerima sesuai yang kita harapkan muncul rasa kecewa. Dari mana rasa kecewa ini bisa muncul jika bukan dari sebuah harapan?

Apakah sudah mulai terbayang kata ‘sayang’ (baca: keakuan) yang terjadi seperti dalam hubungan di atas? Anda boleh setuju atau tidak dengan hal ini. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik atau menghakimi tetapi sekadar berbagi, sebuah ajakan untuk meningkatkan kesadaran diri. Mungkin kita tidak tahu atau tidak sadar akan apa yang biasa kita lakukan. 

Apa yang terjadi ketika kita tidak menerima perlakuan sesuai harapan? Apakah kita masih merasakan hal yang sama untuk orang itu? Apakah hubungan kita dengan orang itu berubah? Kemudian apakah motivasi dari setiap tindakan yang kita lakukan berdasarkan pengharapan atau pelepasan?

Rasa sayang yang sesungguhnya tidak akan melekatkan apa pun kepada orang yang kita sayangi; anak, pasangan, orangtua, atau pun orang lain. Tidak ada sebuah harapan atau timbal balik dari perlakuan yang kita berikan baik secara fisik maupun emosi. Bahkan mungkin sebetulnya kita tidak mencintai pasangan kita, tetapi mencintai kriteria yang ada pada pasangan kita. Kriteria yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri sehingga ketika kita bertemu dengan seseorang yang ‘memenuhi’ kriteria tersebut, terjadi sebuah pemenuhan ‘keakuan’ di antara keduanya. Tanpa diantisipasi ternyata banyak sekali hal-hal yang tidak memenuhi kriteria dari pasangan tersebut setelah tinggal bersama sehingga rasa yang terjadi di antara keduanya hanyalah keakuan, “Kalau kamu tidak begini, aku akan begitu”, “kalau kamu anu aku akan anu”. Seringkali kita melakukan hal yang sama terhadap anak kita, misalnya, “kalau kamu tidak menghabiskan makanannya, kita tidak jadi beli es krim ya”.

Jika memang begitu adanya, saya ingin mengatakan “aku tidak mencintaimu istriku. Aku ingin belajar melepasmu, mendukungmu sampai kamu mencapai potensi diri tertinggimu. Aku akan selalu bersamamu, menerimamu dan memahamimu, bukan mengubahmu seperti apa yang aku inginkan.”

Untuk ananda Kiran, semoga ini menjadi pengingat untuk ayah supaya ayah bisa menyayangimu tanpa syarat. Ayah akan belajar untuk tidak melekatkan keakuan dan menyayangimu apa adanya.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono

Persiapan Tribuds 2017

Persiapan Tribuds 2017

Reading Time: 2 minutes

Beberapa bulan ini, Kiran suka sekali bermain sepeda. Bulan Desember saya menerima informasi di Facebook mengenai kegiatan Triathlon Buddies 2017 yang akan diadakan pada tanggal 4 Februari 2017 di The Springs Club, Serpong. Acara ini adalah perayaan hari jadi Triathlon Buddies yang kelima dengan mengadakan triathlon untuk anak-anak dan dewasa. Kemudian saya beritahukan kepada Kiran apakah berminta mengikuti kegiatan tersebut. Karena belum pernah mendengar kata ‘triathlon’ akhirnya kami berselancar di dunia maya dan melihat beberapa video di Youtube mengenai triathlon yang membuat Kiran tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Sejak sebulan terakhir, kami menambahkan rutinitas baru di pagi hari, yaitu bermain sepeda. Terlihat motivasi yang menggelora dari Kiran ketika setiap malam yang biasanya tidur harus disuruh, belakangan ini Kiran tidur tepat waktu tanpa harus disuruh karena ingin segera pagi dan bermain sepeda. Setiap pagi saya dan Nuni bergiliran menemani Kiran bersepeda mengelilingi gang di sekitar tempat tinggal sampai akhirnya Kiran mengenali gang-gang kecil di sekitar tempat tinggal. Setiap bangun tidur yang pertama dikatakan oleh Kiran adalah “Ayah, lets ride bicycle. I need to practise for triathlon”.

Hari Sabtu kemarin, ada kegiatan trial untuk menyiapkan anak-anak sebelum pelaksanaan kegiatan pada awal Februari nanti. Kami tiba di lokasi pukul setengah enam pagi lengkap dengan peralatan yang diperlukan. Kiran terlihat sangat mengantuk sekaligus antusias ingin segera berkegiatan. Ketika kami tiba di lokasi, Kiran sempat minder karena tidak ada anak yang dikenalnya. Ketika sedang berbaris, Kiran melihat seorang anak dan berteriak “Hey, Ben!” dan terlihat senang bertemu teman kelas taekwondonya di RG. Setelah menerima pengarahan dari kakak pendamping, semua anak pun mulai berkegiatan diawali dengan berenang sejauh 50 meter, bersepeda sejauh 2,4 kilometer dan diakhiri dengan berlari 800 meter.

Dari persiapan ini kami bisa mengantisipasi hal-hal apa saja yang Kiran harus persiapkan untuk kegiatan sebenarnya nanti. Kiran sempat terjatuh dan lecet-lecet di bagian tangan dan kaki ketika sedang berlari karena tidak fokus dan menyenggol kakak pendamping yang sedang berlari juga sehingga Kiran harus mencium aspal. Kami mencoba menekankan kepada Kiran arti dari sebuah kemenangan dan kompetisi. Tidak bosan-bosan kami ingatkan bahwa menjadi nomor satu bukan berarti menjadi pemenang. Menyelesaikan perlombaan dengan jujur dan berusaha sepenuh hati itulah arti dari sebuah kemenangan.

Informasi tambahan: kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kategori :

NEWBIE: orang dewasa (berenang 500 meter, bersepeda 22 kilometer, berlari 5 kilometer)

KIDS A: usia 5-7 tahun (berenang 50 meter, bersepeda 2,4 kilometer, berlari 800 meter)

KIDS B: usia 8-10 tahun (berenang 100 meter, bersepeda 4,8 kilometer, berlari 1,5 kilometer)

KIDS C: usia 11-13 tahun (berenang 200 meter, bersepeda 7,5 kilometer, berlari 3,1 kilometer)

KIDS D: usia 14-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 11 kilometer, berlari 4,1 kilometer)

FAST KIDS COURSE: 11-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 14,8 kilometer, berlari 5 kilometer)

Untuk informasi lebih lanjut bisa ketuk tautan berikut ini: http://triathlonbuddies.com/

Konsekuensi Logis

Konsekuensi Logis

Reading Time: 3 minutes

Dua minggu yang lalu, Kiran dan 3 orang temannya menghilangkan bola tendang milik Maji. Salah satu anak menendang bola terlalu tinggi sehingga bolanya melambung keluar pagar. Ketika dicari, bola tersebut hilang dan tidak dapat ditemukan. Lalu, setelah mengatakan maaf ke Maji dan mamanya berarti masalah selesai? NO WAY, JOSE! Mereka harus menerima konsekuensi logis dari perbuatan mereka.

Jadi apa itu konsekuensi logis? It is apology beyond action. Konsekuensi logis adalah strategi yang biasanya digunakan oleh para guru apabila murid-murid di kelas mereka berperilaku yang membuat orang lain tidak nyaman. Ketika saya masih menjadi guru, hampir setiap hari saya menerapkan konsekuensi logis kepada anak-anak apabila peringatan sudah tidak lagi diindahkan serta perilaku dan tindakan mereka tidak membuat nyaman atau bahkan merugikan orang lain. Dengan memberikan konsekuensi logis atau konsekuensi yang sesuai dengan perbuatan mereka, anak-anak akan belajar bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan.

Sering kali, orang dewasa, dalam hal ini orang tua, ketika anak misbehave, mereka cenderung memberikan konsekuensi yang tidak logis alias ngga nyambung. Contohnya, anak memukul temannya hingga temannya menangis. Alih-alih menyuruh anak meminta maaf, orang tuanya malah memarahi dan menghukumnya dengan tidak boleh menonton TV selama 1 minggu. Atau kalau di film-film bule, orang tuanya akan bilang “You are grounded, now go to your room!” dan anak yang dihukum akan banting pintu (korban TV banget saya ☺). Nah, dari kacamata si anak, dia akan merasa dihukum. Anak-anak akan takut dihukum. Kalau anak takut, apa yang ia pelajari? “Lain kali jangan sampai ketahuan mama atau papa ah, nanti dimarahi lagi”. Nah, yang ada anak akan takut, takut dimarahi, takut ketahuan. Apakah itu yang Anda mau? Anak takut atau anak belajar? Dengan menerapkan 3 jenis konsekuensi logis berikut ini dalam keseharian Anda, diharapkan nantinya anak akan mengerti dan belajar dari kesalahannya.

YOU BREAK IT, YOU FIX IT.
Strategi pertama adalah You Break It, You Fix It. Kasus Kiran di atas adalah contoh konsekuensi logis yang pertama. Setelah meminta maaf kepada Majid dan Bibi Nada, konsekuensi untuk Kiran dan kawan-kawannya adalah mengganti bola milik Maji. Anak-anak itu sepakat untuk bekerja di rumah, mengumpulkan uang yang nantinya akan digunakan untuk membeli bola. Masuk akal kan? Contoh lainnya, Kiran bermain dengan tanah di pekarangan rumah sehingga mengotori lantai dan halaman. Apakah saya marah? Ngga dong! Setelah meminta maaf kepada saya, Konsekuensi Kiran adalah membersihkan pekarangan dari tanah dan mengepel lantai hingga bersih, dan mencuci bajunya yang terkena noda. Terdengar kejam mungkin untuk sebagian orang tua, tapi lihat sisi pendidikannya, Kiran akan lebih berhati-hati dalam bertindak di kemudian hari.

Strategi ini lebih menekankan pada konsekuensi yang diterima si anak apabila ia merusakkan sesuatu yang disengaja ataupun tidak dan si anak harus memperbaiki kerusakan itu. Anak merusakkan barang, ia harus perbaiki, dengan cara apapun yang ia bisa lakukan. Anak bermain dengan mainan sampai berantakan, konsekuensinya ia harus membereskan mainannya sendiri sampai bersih. Konsekuensi ini harus bersih dari interupsi orang dewasa ya. Biarkan anak belajar memperbaiki kesalahannya.

LOSS OF PRIVILEGE
Strategi kedua ini diterapkan ketika perilaku anak tidak sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Orang tua sudah mengingatkan anak beberapa kali, tetapi si anak tidak mendengarkan peringatannya. Konsekuensinya, si anak kehilangan waktu bermainnya untuk beberapa saat atau untuk hari itu. Contoh: setiap hari Kiran mempunyai tanggung jawab yang disebut simple steps. Kegiatan belajar Kiran di rumah dimulai jam 9 dan Kiran memilih untuk bermain tablet sebagai awal kegiatan. Jadi Kiran harus sudah menyelesaikan simple stepsnya sebelum jam 9. Lewat jam 9, berarti konsekuensinya Kiran kehilangan waktu bermain tabletnya.

Contoh lain misalnya, Kiran bermain spidol milik saya. Setelah bermain, Kiran tidak membereskannya lagi sampai saya ingatkan berkali-kali. Untuk itu, konsekuensi Kiran adalah ia tidak boleh bermain lagi dengan spidol saya pada hari itu. Kiran baru boleh meminjam spidol saya lagi sesuai kesepakatan yang dibuat bersama saya. Perlu diingat bahwa konsekuensi logis ini digunakan ketika orang tua dan anak sudah tahu aturan yang berlaku. Jadi ketika konsekuensi ini Anda berikan, usahakan untuk membahas kembali dengan anak agar anak mengerti ekspektasi Anda.

TIME OUT
Strategi ketiga ini diberikan ketika anak tidak bisa mengontrol tindakannya. Ketika bermain bersama teman-temannya, Anda melihat sendiri anak Anda memukul temannya atau anak Anda melakukan hal yang tidak membuat temannya nyaman. Apabila Anda sudah mengingatkan anak berkali-kali namun anak masih saja bertindak tidak terkontrol, time out adalah solusi terbaik. Panggil si anak, ajak anak duduk dekat Anda, beritahu kenapa Anda memanggilnya, dan berikan ia waktu untuk memikirkan tindakannya tadi. Anak Anda bisa kembali bermain setelah ia berjanji untuk mengontrol cara bermainnya.

Dengan menerapkan konsekuensi logis di atas, tidak hanya keseharian orang tua dan anak akan lebih harmonis, tetapi juga membuat anak belajar dari tindakan dan perilaku yang kurang baik (dan juga menjaga kewarasan orang tua hehe). Jadi, stop memberikan hukuman kepada anak, ajak anak bicara, berikan konsekuensi yang logis kepadanya.

Kiran dan temannya sempat protes ketika mereka diminta untuk bertanggung jawab mengganti bola milik Maji. Dia merasa bukan dia yang menghilangkan, tetapi karena Kiran ikut bermain, ia juga harus bertanggung jawab mengembalikan bola Maji. Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa anak-anak ini akan bekerja untuk mendapatkan uang. Lalu mereka akan menggunakan uang yang mereka kumpulkan bersama untuk membeli bola baru untuk Maji. Banyak orang tua yang akan menggampangkan masalah seperti ini. Ah 30 ribu aja, nanti mama belikan yang baru. Padahal dengan mendapatkan konsekuensi seperti ini, anak-anak belajar banyak hal. Mereka belajar untuk menghargai barang milik orang lain, menghargai segala jenis pekerjaan, dan akan lebih berhati-hati ketika bertindak. Konsekuensi justru akan mendewasakan mereka, asalkan konsekuensi yang diberikan sesuai dengan perbuatan mereka.