Pelajaran Berharga dari Sebuah Asumsi

Pelajaran Berharga dari Sebuah Asumsi

Kemarin seperti biasa kami berkumpul di Jagakarsa dan salah satu kegiatannya adalah pergi ke Rumah Sakit Hewan Ragunan yang buka 24 jam dan berlokasi di RM Harsono No. 28, Ragunan, Jakarta Selatan untuk memeriksa keadaan Browny, seekor anak kucing yang kami temukan di jalanan dan kami adopsi. Ada 15 orang anak yang tertarik untuk ikut serta sedangkan 5 anak lainnya lebih memilih untuk bermain hujan-hujannya yang saat itu sedang turun deras. Ketika saya sedang (more…)

Mengenal Metode Charlotte Mason

Mengenal Metode Charlotte Mason

Kamis, 14 September kami mengadakan kegiatan berbagi tentang metode Charlotte Mason. Kegiatan berbagi ini didorong oleh permintaan banyak teman sepulangnya kami menghadiri Temu Raya Praktisi Charlotte Mason (CM) Indonesia selama 4 hari mulai dari 31 Agustus sampai 3 September di Kopeng, Salatiga.

Kegiatan berbagi ini diisi oleh Ayu Primadini dan Priska Akwila Sabrina Widianto yang telah menjalani metode Charlotte Mason selama beberapa tahun, saya sendiri berperan sebagai moderator. Kami tidak mengira banyak orang yang tertarik untuk mempelajari metode Charlotte Mason yang seringkali dihakimi kaku dan sulit karena filosofi dan prinsip-prinsipnya. Dari 35 orang yang mengonfirmasi kedatangannya melalui Facebook Event yang kami buat, ternyata pada hari H terdapat 59 orang yang hadir bahkan 2 di antaranya sengaja datang dari Sumatera dan Lombok demi acara yang kami adakan di rumah salah satu teman kami, Nada Arini di daerah Jagakarsa. (more…)

Benar Vs Salah

Benar Vs Salah

Pagi itu setelah Kiran selesai berlatih teknik berenangnya, saya memberikan waktu kepada Kiran untuk bermain di kolam renang bermain anak-anak. Belum lama saya duduk, saya mendapati Kiran tengah memanjat bagian samping tangga luncuran. Ketika hendak menegur Kiran untuk menggunakan tangga yang tersedia tiba-tiba saya berhenti dan merenung sejenak, “Mengapa saya harus menegur Kiran? Apakah yang dilakukannya salah?” Dia tidak mengantre, dia melanggar peraturan dan bagaimana kalau dia terjatuh kemudian terluka, dan banyak hal lainnya yang berkecamuk di dalam pikiran saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melakukan pengamatan sambil merekam kegiatan bermain Kiran selama satu jam.

Selama pengamatan berlangsung saya mencoba mengontrol diri untuk tidak mengatakan apa pun bahkan ketika Kiran memanggil pun, saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Ada perasaan yang mengganggu ketika saya “berpikir” Kiran telah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat saya kecewa, sedih dan marah karena tidak dapat mengikuti peraturan yang sebetulnya (manurut saya) sudah diketahuinya. Kemudian saya berdialog dengan diri sendiri dan bertanya “Apa yang membuat kamu emosi?” Saya mencoba memeluk emosi yang sedang saya rasakan saat itu. Kemudian saya teringat dengan konsep kata “kotor” yang disampaikan oleh Gobind Vashdev. Apa sebenarnya kotor itu? Ini adalah sebuah konsep bahasa yang sifatnya subjektif karena definisi kotor saya dan Anda pasti berbeda. Ketika kita melihat lantai penuh pasir mengapa kita mengatakan lantai tersebut kotor. Mengapa tidak kita katakan saja lantainya berpasir karena memang begitu keadaannya.

Setelah mengingat konsep bahasa yang sifatnya subjektif tersebut, saya mulai berefleksi kembali tentang pengamatan saya terhadap perilaku Kiran di kolam renang. Saya merasakan emosi karena saya “menilai” tindakan yang Kiran lakukan salah. Kemudian saya mencoba mendefinisikan kata benar dan salah berdasarkan pemahaman saya saat itu dan bagaimana saya dapat membahasakannya kepada Kiran dan ternyata sulit. Selama saya merekam saya hanya berdoa semoga dia terluka atau membuat orang lain terluka.

Singkat cerita pada saat makan malam bersama saya menunjukkan kepada Kiran rekaman video ketika dia sedang di kolam renang dan dengan sungguh-sungguh bertanya sekadar ingin tahu apa yang dipikirkannya pada setiap hal yang saya soroti di dalam rekaman video tersebut. Saya pun mencoba mengolah kalimat saya sebaik mungkin dan bertanya kepada Kiran “May I know what made you climbed the side of the stairs instead of using the stairs?” Kiran pun menjawab “I want to do it (go up)  faster”. Kemudian saya menanggapi jawabannya “is there any other reason why you did that?” dan ternyata tidak ada alasan lainnya kecuali ingin mengambil jalan pintas supaya dia bisa tiba di atas luncuran lebih cepat.

Selanjutnya kami membahas mengenai keberadaan peraturan di semua tempat dan mengapa peraturan tersebut dibuat. Kiran memang sudah tahu semua hal terkait peraturan dan alasannya. Saya melihat perilakunya tidak jauh berbeda dengan kita sebagai orang dewasa yang mengambil jalan pintas meskipun tahu kita melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku atau kesalahan yang kita lakukan. Misalnya, membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, melanggar lampu lalu lintas, memotong antrean, dan banyak hal lainnya yang kita lakukan. Saya merasa lega karena bisa menahan diri dan menunggu sampai waktu makan malam untuk mendapatkan jawaban yang jujur itu dan terhindar dari jebakan penghakiman dan emosi saya.

Masalah sebenarnya adalah bukan mengenai benar atau salah melainkan kesadaran dari tindakan yang kita lakukan. Kita akan menerima hasil dari apapun yang kita lakukan, konsekuensi logis. Kiran mengambil jalan pintas risikonya terjatuh dan terluka, maka itulah konsekuensi logisnya. Menurut pendapat saya menumbuhkan kesadaran terhadap anak tentang konsekuensi logis dari setiap pilihannya lebih penting daripada memberitahunya tentang benar dan salah atau baik dan buruk.

Untuk menghindari jebakan konsep bahasa yang subjektif, di dalam video ini saya menghitung berapa kali Kiran menggunakan tangga dan mengambil jalan pintas untuk tiba di atas luncuran. Video tersebut kami jadikan bahan refleksi bersama dan kesimpulan yang kami dapatkan adalah boleh bersenang-senang tetapi dengan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain baik secara fisik maupun emosi.

Pertama kalinya saya berdiskusi dengan Kiran dengan melepas semua ego yang saya miliki sebagai orang dewasa yang merasa lebih tahu yang benar dan yang salah. Benar dan salah adalah konsep bahasa yang bersifat subjektif sehingga membahas perilaku dia apa adanya tanpa memberikan label “benar” atau “salah” membantu saya dan Kiran untuk berefleksi lebih baik lagi terhadap segala sesuatu yang dilakukannya tanpa harus menghakiminya.

Jangan menonton video di bawah tanpa membaca tulisan ini seutuhnya supaya Anda memahami tujuan saya membuat video ini.

Memeluk Kegagalan

Memeluk Kegagalan

Memilih untuk menjalani homeschooling harus siap menjadi perintis baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar. Seperti yang dituliskan Mas Aar di dalam bukunya Apa Itu Homeschooling . . .

“Dibutuhkan keteguhan dan kelenturan mental untuk melawan arus yang berbeda.”

“Keteguhan mental yang utama adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab keberhasilan dan kegagalan proses pendidikan pada pundak sendiri. Keluarga tidak bisa lagi mencari kambing hitam kurikulum sekolah, kualitas guru, kebijakan pendidikan, dan lain-lain jika menemui kegagalan.”

Apakah kita siap menerima risiko kegagalan ini?

Jawabannya sederhana, keberhasilan dan pemelajaran didapat dari kegagalan bukan? Oleh karena itu kita harus menerima kegagalan sebagai proses bukan hasil.

Kegagalan pertama keluarga kami adalah memindahkan sekolah ke rumah ketika mengawali homeschooling. Kurikulum Calvert pun kami import dari Amerika demi menyediakan kurikulum terbaik untuk Kiran. Biaya investasi yang kami keluarkan pun untuk membeli kurikulum tersebut sangat besar untuk kami, $1,148. Meskipun akhirnya kami mendapatkan potongan harga dengan membayar $689 dengan menggunakan program Family Financial Aid yang mereka sediakan. Koper besar berisi kurikulum untuk kami gunakan selama setahun pun kami titipkan kepada seorang sahabat yang sedang pulang kampung ke Amerika. Buku tebal berisikan lesson plan, buku-buku pelajaran, alat belajar mulai dari penggaris, CD, pensil warna, akses untuk materi pendukung online (Brainpop Jr, education.com dan lain lain) sampai kertas sudah disediakan sehingga kami tidak perlu menyediakan apa pun untuk “mengajari” Kiran di rumah.

Kami gembira luar biasa karena sudah memiliki peralatan yang lengkap untuk pembelajaran Kiran di tingkat Kindergarten (saat itu Kiran berusia 4,5 tahun).

Karena kami berdua memiliki latar belakang pendidikan di bidang pendidikan tidaklah sulit untuk mengikuti lesson plan yang sudah disediakan. Namun selama 2 bulan pertama kami berusaha mengikuti panduan yang disediakan dengan mengganti rutinitas pembelajaran berkali-kali. Kondisi kami saat itu sangat tertekan karena harus “mengejar target” yang disediakan di dalam kurikulum. Saya dan Nuni Amaliah pun berefleksi dan mencoba mencari solusi yang terbaik dalam mengajari Kiran.

Setelah berdiskusi hampir setiap malam, suatu hari saya mencoba melepas ego dan ternyata jawabannya ada di depan mata selama ini, KIRAN. Sorot matanya tidak menunjukkan kebahagiaan dalam menjalaninya.

Ya, kami stress dan mengalami kesulitan dalam mengawali perjalanan homeschooling kami karena kami “memindahkan sekolah” ke rumah kami, kami masih “mengajari” anak kami, dan kami masih melihat Kiran sebagai “objek” pendidikan. Kami pun segera menghentikan semuanya di bulan ketiga dan menata ulang perjalanan homeschooling kami. Kurikulum yang kami miliki pun mulai kami tinggalkan karena berisikan program membaca, menulis dan berhitung, tidak ada bedanya dengan materi yang disediakan di dalam kurikulum TK di Indonesia hanya saja tampilannya lebih menarik dan lebih sistematis.

Bertemu dengan praktisi homeschooling lainnya benar-benar sangat membantu kami saat itu. Bagaimana kami harus belajar berdamai dengan diri sendiri dan mulai “bertumbuh bersama” anak kami bukan menjadi pengajar untuknya.

Ya inilah kegagalan pertama dalam perjalanan homeschooling kami. Apakah kami menyesali apa yang terjadi? Tentu saja tidak. Kami sangat bersyukur telah melakukannya sehingga betul-betul tahu dan memahami bahwa homeschooling bukan tentang orangtua menjadi guru bagi anaknya atau memindahkan sekolah ke rumah. Kegagalan tersebut menjawab kegelisahan yang selama ini kami rasakan mengenai sistem pendidikan yang tersedia. Cara pandang kami terhadap pendidikan menjadi lebih jelas.

Sedikit demi sedikit kami mulai berfokus kepada Kiran bukan apa yang kami ingin Kiran lakukan. Mengobrol, memerhatikan sorot matanya ketika melakukan sesuatu dan menemaninya setiap saat membantu kami untuk membantunya menjadi seorang pemelajar dengan cara yang diinginkannya dan menyenangkan. Sampai sekarang kami pun masih menjalani kegagalan-kegagalan lainnya dan menerima semuanya sebagai proses belajar kami semua. Jadi jangan takut untuk menjalani kegagalan karena itu adalah bagian dari proses belajar dan keberhasilan. Ketika Anda atau anak Anda mulai tertekan berhenti sejenak dan lihat sorot mata anak Anda, jawabannya akan Anda dapatkan seketika.

Armpitizing

Lagi bermain gulat dengan Kiran:

(Kiran kena piting)

Kiran: Bundaa, stop, stop . . . (sambil ketawa) you are armpitizing me . . .

Bunda: What? Armpitizing?

Kiran: You are armpitizing me, like you just did, covering my face with armpit . . . just like bottomizing and fartinizing . . .

When present continuous tense gone wrong..