Berbagi Cerita di Komunitas Homeschooling Anak Usia Dini KERLAP

Berikut ini adalah catatan sesi berbagi saya bersama Komunitas homeschooling anak usia dini KERLAP.

Format tulisan sudah saya sesuaikan untuk kemudahan pembacaan dan sudah disesuaikan dengan keperluan penulisan di blog ini.

Sharing KERLAP:

Hari/Tgl: Sabtu/7 Nov 2015
Waktu : Pkl 21.00-23.00 WIB
Tema. : Pengalaman Deschooling Ananda, Mengapa Memilih Homeschooling?
Narsum: Paman Ian/Ayah Kiran 
Moderator: Mba Ersita
Notulen. : Mba Retno

Biodata Narasumber:

Nama: Rahdian Saepuloh
Umur: 32 tahun
Domisili: Jakarta Timur
Putra: Kiran
Aktivitas: Menjalani Homeschooling bersama Kiran dan bekerja.
Motto: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kita bisa mempelajari segalanya “jika” kita mau.

Prolog:

Kiran sudah bersekolah sejak umur 2 tahun dengan alasan memberikan kesempatan untuk bersosialisasi daripada duduk manis di rumah menonton televisi. Saat itu kami khawatir anak kami terlalu banyak menonton televisi ketika kami titipkan di rumah kakek dan neneknya karena saya dan istri masih sibuk bekerja. Kegiatan di sekolah tersebut pun tidak ada yang berkaitan dengan akademis dan hanya bermain saja.

Namun menjelang usia 4 tahun dan menghadapi persiapan masuk TK, kami mulai memerhatikan apa yang terjadi di TK saat ini. Rupanya tuntutan sistem sekolah terhadap anak sudah semakin tinggi demi mengejar “keberhasilan” sistem pendidikan kita. Karena khawatir dengan sistem sekolah yang ada sekarang dan saya mendengar dari teman-teman saya bahwa anak-anaknya sudah belajar hal-hal yang akademis di TK sebagai persiapan memasuki sekolah dasar. Anak “wajib” bisa membaca, menulis dan berhitung sebagai sebuah syarat masuk sekolah dasar yang diinginkan (meskipun tidak undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut).

Tidak ada masalah dari tempat Kiran bersekolah sebelumnya, hanya saja kami lebih khawatir dengan kondisi sistem pendidikan sekarang yang cenderung memaksa anak untuk bisa menguasai hal-hal yang akademis sebelum anak-anak matang dan siap.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Proses mengawali dan yg menjadi motivasi
    -eka, mama ginda-

Terima kasih atas pertanyaannya Mbak Eka.
Proses awal deschooling sudah saya lakukan dari semenjak Kiran bersekolah dengan cara melakukan kegiatan sepulang sekolah seperti mengunjungi perpustakaan dan membacakan banyak cerita, bermain di museum dan mengadakan kegiatan lainnya seperti mengajak Kiran mengunjungi tempat kerja saya dan makan siang bersama para pekerja lainnya. Kami pun membuat jadwal mingguan untuk Kiran bermain bersama teman saya yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Biasanya mereka makan siang bersama di luar dan berjalan kaki mengitari komplek perumahan teman saya.

Motivasinya adalah ingin menitikberatkan pada pendidikan karakter Kiran melalui kegiatan keseharian dan mempelajarinya melalui “mengalami” bukan pengajaran ceramah.

  1. Bolehkah minta contoh jadwal HS Kiran?
    -Retno-

Terima kasih Mbak Retno.
Jadwal Kiran selalu berubah mulai dari mengawali homeschooling sampai sekarang. Saya pribadi sempat stress mengatur jadwal karena masih menggunakan pendekatan “memindahkan sekolah ke rumah”. Akhirnya seiring berjalannya waktu kini kami lebih santai menjalani keseharian kami. Saat ini jadwal harian Kiran adalah mengikuti saya ke mana pun saya pergi. Kami belajar di mana pun itu memungkinkan.

Adapun kegiatan rutin yang kami lakukan bersama HSer lainnya adalah :

  • berkumpul dengan Klub Oase setiap hari rabu
  • berkegiatan bersama di Rockstar Gym setiap hari Kamis bersama Keluarga HSer
  • Mengikuti kelas Gymnastic, berenang dan tenis setiap hari Sabtu dan Minggu di Rockstar Gym.
  • Sisanya kami berkegiatan di rumah dan di tempat kerja saya.
  1. Mohon penjelasan bagaimana kalo anaknya yg sdh sekolah sampai kelas 5 sd dan sekarang sedang TK B. Karena saya mau meng-HS kan anak2. Truss bisakah klo kedua ortunya bekerja- -mondang ibu dari matthew kelas 5 sd dan kembar harel n herald TK B-

Terima kasih Mbak Mondang.
Sayangnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mbak Mondang karena tidak memiliki anak yang sudah besar. Mungkin mengadakan sebuah transisi seperti yang saya sebutkan di atas di mana sepulang sekolah menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama anak di luar dan menunjukkan kepada anak bahwa proses belajar bisa dilakukan di mana saja. Kemudian libatkan anaknya juga bahwa keputusan homeschooling ini dibuat bersama anak. Karena jika anaknya ingin bersekolah tetapi orangtuanya ingin homeschooling bisa menjadi konflik juga. Semoga jawaban saya bisa membantu Mbak Mondang. 

Oh ya satu lagi mengenai kondisi kedua orangtuanya yang bekerja.
Saat ini kami berdua dalam keadaan bekerja. Tetapi kondisi pekerjaan saya lebih fleksibel karena memiliki usaha sendiri sehingga memiliki keleluasaan untuk membawa Kiran ke tempat kerja. Saran saya adalah meminta ijin kepada tempat Mbak Mondang atau suami bekerja apakah diperbolehkan untuk membawa anak ke tempat kerja. Jika diijinkan tentunya bisa mengakomodir keperluan homeschooling anaknya tetapi jika tidak, mungkin harus dipikirkan alternatif lainnya. Yang pasti adalah komitmen seluruh anggota keluarga dalam menjalani homeschooling, insyaallah akan selalu ada jalan.

  1. Pernahkah Kiran minta kembali sekolah spt tmn-tmn yang lain? Lalu bgmn jawabannya?
    Trm ksh (Husnul ibunya Hanif)

Terima kasih Mbak Husnul.
Alhamdulillah sempat saya tawarkan untuk kembali ke sekolah tapi dengan tegas anaknya menjawab tidak. Karena lebih menikmati fleksibilitas kesehariannya. Sempat ada kejadian beberapa hari yang lalu saya diundang ke sekolah lamanya kiran untuk menjadi guest speaker dan uniknya saya harus tampil di depan teman-teman Kiran yang dulunya sekelas dengan Kiran. Kiran pun saya ajak untuk menjadi asisten saya pada kegiatan tersebut sekalian melihat apakah ada keinginannya untuk kembali ke sekolah. Ternyata anaknya masih tetap tidak mau bersekolah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di blog kami di sini :http://belajarbersama.com/bertugas-sebagai-asisten/ 

  1. Apakah proses deschooling utk kiran menyenangkan buat Kiran? Karena anak pertama saya juga deschooling sewaktu kelas 2 SD, yang kedua SMP TK saja, kelas 1 langsung hs, rasanya beda antara anak yang pernah sekolah dengan yang langsung hs, kalau Kiran gimana ya…
    -noname-

Alhamdulillah proses homeschooling kami tidak hanya menyenangkan untuk Kiran tetapi untuk orangtuanya. Sebetulnya kamilah sebagai orangtua yang banyak diajari oleh kesehariannya Kiran.

  1. Bagaimana menentukan target belajar Kiran? baik akademis maupun nonakademisnya.

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami tidak memiliki target akademis karena justru tujuan awal kami homeschooling adalah menghindarkan Kiran dari beban akademis sebelum dirinya siap. Meskipun tidak ada masalah mengenai kemampuan kognitifnya. Bahkan sekarang Kiran sudah mampu membaca buku sendiri dan berhitung dengan pengoperasian tambah dan kurang. Semua itu dipelajarinya karena ketertarikannya sendiri bukan atas dorongan kami. Dari kecil kami biasakan Kiran terbiasa dengan buku dan membacakan cerita kepadanya akhirnya muncullah ketertarikan untuk membaca (itu pun dari sebuah permainan Android). Kemudian berhitung pun dia pelajari dari bermain permainan papan ular tangga.

Saat ini kami tidak membuat target spesifik baik akademis maupun nonakademis. Tetapi lebih mengalir dalam keseharian kami dan membahas setiap kejadian untuk penguatan pendidikan karakternya. Seperti contohnya kami bisa membahas masalah kesadaran membuang sampah dan akibatnya terhadap lingkungan bisa menjadi bahan diskusi kami berhari-hari. Cara menghormati orang lain, pentingnya mengantre, cara menyela pembicaraan dengan baik, dll. Hal seperti ini lebih penting bagi kami daripada kemampuan akademisnya.

  1. Apa komentar atau opini orang2 terdekat (khususnya sanak saudara) yg mengetahui Kiran yg awalnya sekolah menjadi HS?

~Mba Febri (Bunda Yasmine)~

Terima kasih Mbak Febri
Pertanyaan yang menarik. Awalnya semua orang menentang keputusan saya termasuk istri saya sendiri. Singkat cerita (karena kalau diceritakan bisa panjang sekali di sini), istri saya sekarang sangat mendukung setelah melihat bagaimana homeschooling kami dilakukan. Tentunya semua orang menentang keputusan ini. Tetapi saya tidak menjadikan hal tersebut sebagai pilihan orang lain. Saya mencoba membuat situasinya jelas bahwa This is our own family and we do everything our own way. Sehingga tidak masalah apakah orangtua atau orang lain menentang, karena ini adalah keluarga kami dan kami tidak perlu meminta ijin kepada siapa pun. Seiring waktu berjalan pun pikiran mereka lebih terbuka setelah melihat keseharian kami. 

  1. Apakah pelajaran yang bersifat akademis itu diajarkan kepada kiran??
    -alisha-

Terima kasih Mbak Alisha.
Pelajaran yang bersifat akademis sama sekali tidak kami ajarkan. Kami lebih banyak membacakan buku cerita kepada Kiran untuk dijadikan pembelajaran dan bahan diskusi.

  1. Berarti Kiran sudah sekitar 3 ato 4 tahun homeschooling ya? Rencananya sampai berapa lama target homeschoolingnya? Diakhir. Homeschooling target orangtua terhadap Kiran apa aja, baik dari sisi anak ataupun lingkungan selepas homeschooling? Terimakasih Ayah Kiran

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Tidak, Kiran menjalani deschooling sejak October 2014 dan mulai menjalani homeschooling sepenuhnya bulan Maret 2015.

Berapa lama kami menjalani homeschooling kami kembalikan lagi kepada Kiran nantinya. Hanya saja saat ini anaknya sangat menikmati homeschooling. Jika nanti anaknya memutuskan terus homeschooling, ya kami lanjutkan. Kemudian jika anaknya ingin masuk sekolah ya, akan kami sekolahkan.

Tujuan utama kami dalam pendidikan Kiran tidaklah menekankan pada kemampuan akademisnya. Tetapi pada kepribadiannya. Secara sederhana kami menginginkan anak yang “benar” daripada anak yang “pintar”. Benar di sini diartikan dengan memiliki karakteristik manusia yang seutuhnya, untuk saling mengasihi tanpa memandang stasus sosial, agama dan sebagainya dan bisa menjadi seseorang yang bisa membuat perubahan yang baik di sekitarnya.

  1. Bolehkah kita sebagai ortu mentargetkan sesuatu skill atau kebisaan pada anak kita? Contoh : anak pandai bahasa inggris & hafal alquran?

~febri~

Terima kasih Mbak Febri.
Inilah yang saya sukai dari model pendidikan rumah (homeschooling). Seperti yang ditulis Mas Aar di bukunya Apa itu Homeschooling: Kata Kunci homeschooling adalah BOLEH. Saya hanya menambahkan asalkan anak juga memahami dan menikmati tujuan dari target tersebut sehingga anak tidak merasa terbebani atas “keinginan orangtua” bukan keinginan anak

  1. Bolehkah tau jadwal/timetable kesehariannya kegiatan kiran dr pagi smp malam? terimakasih.

– Ayu ratih (mama ryuga) –

Terima kasih Mbak Ayu Ratih.

Keseharian Kiran saat ini adalah:

Pagi: menyelesaikan 4 simple steps: Bangun tidur, Membereskan tempat tidur, mandi, dan sarapan. Setelah itu kami bermain bersama sampai siang.

Siang: Menemani saya bekerja di kantor (di kantor pun saya berdayakan untuk membantu sebisanya seperti mengelap meja, mencuci piring dan menawarkan bantuan kepada pekerja jika butuh bantuannya. Misalnya, memberikan dokumen dari satu ruangan ke ruangan lainnya.)

Sore dan malam : Menunggu Bunda Kiran mendatangi tempat kerja saya dan kami pulang ke rumah bersama. Magrib kami wajibkan solat berjamaah. Kemudian Bunda Kiran memperkenalkan Juz Amma. Kemudian selepas Isya biasanya kami melakukan review atas apa yang menjadi perhatian kami pada hari tersebut. Misalanya ada perilaku Kiran yang kurang menyenangkan dan kami membahasnya. Jika tidak ada yang dibahas biasanya kami mengajak Kiran menonton film bersama (elmo atau Charlie and Lola) dan membacakan cerita pengantar tidur.

  1. Memperhatikan pola komunikasi ayah kiran dan kiran selalu menggunakan bhs inggris atau bilingual (saat playdate),, apakah ini termasuk metode HS dari Ayah Kiran? Bagaimana kalau si orangtua yg memiliki keterbatasan dlm bhs inggris, namun ingin memperkenalkan bhs. Inggris kpd anaknya tapi jgn sampai terjebak pada metode pengajaran model sekolah formal

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami (saya dan istri) memang sudah merancang semenjak menikah jika memiliki anak ingin memiliki anak yang bilingual, bahkan kalau bisa poliglot (menguasai banyak bahasa). Tujuannya adalah untuk memberikan keterampilan dan berbahasa dan mencari informasi ke depannya. Misalnya saat ini sumber informasi di internet berlimpah ruah bahkan tak berbatas, hanya saja informasi tersebut hanya tersedia di dalam bahasa Inggris. Informasi dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas.

Jika ingin anaknya bilingual dan tidak terjebak dalam pengajaran model sekolah formal tentunya orangtua harus terlibat dan menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya. Tentu orangtua tidak harus “jago” berbahasa asing tetapi setidaknya menumbuhkan kebiasaan berbahasa asing yang diinginkannya dimulai dengan ungkapan-ungkapan sederhana. Sehingga setelah rasa percaya diri anak muncul, orangtua tinggal menyediakan kesempatan untuk anak menggunakan bahasanya. Misalnya bergaul dengan anak-anak yang bilingual, menonton acara berbahasa asing, atau menggunakan jasa guru bahasa untuk berlatih bersama anak.

Untuk penutup sharing malam ini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada teman-teman sekaligus pengingat untuk diri saya sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita tercinta. Berjejaring untuk saling menguatkan satu sama lain di antara keluarga praktisi homeschooling. Investasi terbesar yang bisa kita berikan untuk anak kita adalah waktu dan kehadiran kita.

Terima kasih untuk Mbak Ersita yang telah meluangkan waktunya menjadi moderator. Terima kasih Mbak Retno dan teman-teman lainnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya membagikan pengalaman yang baru sedikit ini. Semoga kita bisa sama-sama belajar dan informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang lain.

Membangun Keteraturan Melalui Pertemuan Pagi

Kali ini saya ingin berbagi tentang Pertemuan Pagi yang sudah kami lakukan selama seminggu dan sangat bermanfaat untuk membangun keteraturan dalam kesehariannya. Ide ini saya modifikasi dari pengalaman saya mengajar di sebuah sekolah beberapa tahun lalu. Dalam pertemuan pagi ini kami melakukan tiga hal, yaitu, menyanyikan lagu nasional, berbagi cerita, dan berencana. Kegiatan ini kami lakukan setelah Kiran menyelesaikan tanggung jawabnya setiap harinya.

Mengapa menyanyi? Saat ini Kiran senang sekali menyanyi. Setiap kali dia bermain dia selalu bersenandung ria. Sayangnya saya mencampur lagu anak-anak dan lagu dewasa di dalam sebuah media penyimpanan untuk didengarkan di dalam mobil. Jadi Kiran pun sering menyanyikan lagu-lagu dewasa yang tidak tepat untuk usianya saat ini. Target saya adalah Kiran bisa menyanyikan satu lagu (nasional atau anak-anak) setiap minggunya.

Di sesi berbagi cerita, kami saling berbagi satu sama lain tentang banyak hal, mulai dari mainan kesukaannya, menyampaikan perasaan, mengulas kegiatan yang dilakukan sehari sebelumnya sampai masalah perilaku tidak baik yang dilakukannya. Di sini saya bisa menyisipkan hal yang saya anggap penting untuk dibahas, khususnya masalah perilaku atau kedisiplinan dengan bentuk diskusi sehingga menghindarkan saya untuk berceramah.

Selain itu di dalam sesi berbagi ini saya bisa mengevaluasi kemampuan berbahasa Kiran. saat ini evaluasi yang saya lakukan sangat sederhana saya menyimak apakah Kiran mampu menyampaikan isi pikirannya dengan baik dan terstruktur ketika dirinya sedang bercerita.

Di sesi ini, selain belajar tentang pentingnya bergiliran untuk berbicara, banyak hal lainnya yang bisa kita eksplorasi selama kegiatan ini berlangsung.

Bagian ketiga dari pertemuan pagi kami adalah berencana. Kami membahas rencana kegiatan pada hari tersebut. Perencanaan pun kami lakukan dengan sederhana hanya berfokus pada urutan kejadian. Misalnya, “Hari ini kita akan pergi ke lokasi A kemudian setelah itu pergi ke lokasi B dan makan siang di sana.”

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan supaya kegiatan ini bisa berlangsung lancar dan menyenangkan:

  • Lakukan dengan suka cita, jangan terjebak dengan label pertemuan pagi itu sendiri. Silakan berikan nama lain yang lebih bisa diterima oleh anak-anak sehingga bisa menghilangkan kekakuan dalam melakukannya.
  • Urutan kegiatan seharusnya tidak menjadi masalah jika setiap hari si anak memilih untuk membuat urutan yang berbeda. Kita tanggapi keinginan anak sebagai sebuah inisiatif supaya terbiasa menyampaikan keinginannya dan melatih anak untuk bisa memimpin sebuah pertemuan.
  • Biarkan kegiatan tersebut mengalir. Ada kalanya pertemuan berlangsung selama setengah jam tidak jarang juga pertemuan diselesaikan hanya dalam waktu 10 menit. Kuncinya adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari, bukan durasi. Saya tidak menyarankan membuat target waktu karena khawatir kegiatan tersebut akan menjadi kaku dan menjadi tidak menyenangkan lagi bagi anak karena terlalu mengkhawatirkan masalah waktu.
  • Yang paling penting adalah suasananya harus santai dan menyenangkan. Jangan terkesan seperti memindahkan suasana kelas ke dalam rumah.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Menjadi Petualang Cilik di Rumah Perubahan

Menjadi Petualang Cilik di Rumah Perubahan

Poster Petualang Cilik

Hari ini kami mengikutsertakan Kiran dalam kegiatan Petualang Cilik yang diadakan oleh Rumah Perubahan. Kegiatan ini mengajarkan anak untuk bersentuhan langsung dengan alam dan mengelola hasil alam menjadi produk makanan. Setelah menempuh 2 jam perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit karena tersesat dan kondisi jalan yang rusak), kami pun tiba di lokasi. Kami harus memasuki jalan sempit yang hanya cukup satu mobil sehingga ketika kami berpapasan dengan mobil lainnya, masalah lain pun terjadi karena di kedua sisi kami terdapat tembok beton pagar dan rumah orang. Sayangnya petugas parkir yang jumlahnya 5 orang itu tidak berkomunikasi dengan baik untuk mengatur lalu lintas kendaraan yang hendak parkir.

Kami pun segera memarkir mobil dan bergegas mendaftar ulang supaya Kiran bisa mengikuti kegiatan. Kesan pertama memasuki area Rumah Perubahan sedikit aneh, mulai dari akses masuk dari jalan raya yang sempit dan lokasi tempat yang terpisah dari tempat parkir. Tetapi setelah memasuki tempat tersebut, kami pun disambut dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Tanah yang luas dan beberapa bangunan yang dirancang menyatu dengan lingkungan sekitarnya telah mengalihkan perhatian kami dari pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang perjalanan. Kami pun masih harus berjalan melewati sungai kecil dan beberapa kolam ikan yang dirancang untuk kegiatan tertentu.

Suara anak-anak yang sedang asyik bermain pun mulai sayup-sayup terdengar . Kiran segera bergabung mengikuti kegiatan yang dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok menggunakan nama buah-buahan lokal dan terdiri dari 15-20 orang anak. Kegiatan ini diikuti kurang lebih seratus orang anak. Kegiatan anak-anak pun dirancang secara berkelompok untuk menumbuhkan kerjasama di antara anak-anak, seperti, memindahkan air dari satu ember ke dalam ember lainnya menggunakan pipa yang dilubangi sehingga kecepatan mengoper pipa menjadi kunci keberhasilan setiap tim untuk memindahkan air.

Kereta-Keretaan

Bermain Kereta-Keretaan

Estafet Air

Estafet Air

Kemudian anak-anak diajari memetik kangkung dari kebun dan mencucinya sendiri di dalam ember yang telah disediakan. Kangkung ini kemudian dibawa oleh anak-anak untuk diberikan kepada kerbau. Anak-anak pun menikmati pengalaman memberi makan kerbau dari sayuran yang mereka cabut sendiri. Setelah puas memberi makan kerbau, setiap anak diberi kesempatan untuk memandikan kerbau, lebih tepatnya berendam bersama kerbau  😀 

Pada awalnya Kiran enggan bergabung mengikuti kegiatan memandikan kerbau, tetapi karena banyak anak yang menceburkan diri ke dalam kolam, akhirnya Kiran pun terpancing dan memberanikan diri untuk memasuki kolam. Setelah Kiran memasuki kolam, ternyata sulit sekali mengajaknya untuk keluar dari kolam saking serunya bermain dan menciprati kerbau. Meskipun belum berani menaiki kerbau seperti anak-anak lainnya, tetapi Kiran terlihat sangat bergembira.

Setelah membersihkan diri, kami pun menuju Rumah Tempe yang terletak di samping kolam mandi kerbau. Di sini anak-anak melihat dan mencoba membuat tempe. Setiap anak membawa pulang tempenya masing-masing setelah selesai berkegiatan.

Kemudian kami pun beristirahat sejenak dan menyantap bekal makan siang yang kami bawa dari rumah, onigiri buatan Bunda Kiran 🙂 . Setelah selesai makan siang, kami pun melanjutkan kegiatan selanjutnya yang mengetes kemampuan motorik halus dan daya ingat. Anak-anak ditantang untuk menggerakan cincin yang ditenagai oleh 4 buah baterai yang akan berbunyi jika cincin tersebut menyentuh kabel tembaga. Tantangan kemampuan mengingat, menggunakan display digit angka yang terdiri dari 7 tombol untuk membentuk angka nol secara digital. Dengan menggunakan tombol-tombol yang sama, anak-anak ditantang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakak pembimbing.

Berfoto bersama

Kiran sangat gembira mengikuti kegiatan hari ini dan pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.

Pelajaran kami hari ini: 

  • Katakan tidak untuk penggunaan plastik.
  • Menempatkan alas kaki dengan rapi.
  • Pentingnya mengikuti peraturan.
  • Pentingnya menunggu giliran.
  • Berjalan di jalur masing-masing supaya tidak bertabrakan.

Konsep acara yang ditawarkan sangatlah menarik. Namun sepertinya belum bisa dieksekusi dengan baik. Ijinkan saya memberikan masukan kepada pihak penyelenggara berdasarkan pengalaman kami hari ini:

  1. Koordinasi petugas parkir perlu diperbaiki supaya lalu lintas kendaraan lebih bisa dikontrol dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
  1. Kakak pembimbing anak-anak sepertinya menggunakan jasa sukarelawan sehingga terlihat dengan jelas kakak pembimbing tidak begitu menguasai medan dan seringkali kebingungan ketika harus menuju sebuah tempat. Di setiap kegiatan yang diselesaikan pun tidak ada instruksi untuk kegiatan selanjutnya sehingga orangtualah yang sibuk menanyakan apa yang harus dilakukan anak setiap kali sebuah kegiatan diselesaikani. Alangkah baiknya jika kakak-kakak pembimbing dilatih dengan baik sehingga tidak terlalu kesulitan ketika bermanuver dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
  1. Buat peraturan yang jelas mengenai keterlibatan orangtua. Buat sebuah batas di mana orangtua memiliki jarak yang cukup supaya tidak mengganggu kegiatan anak-anak.

    Hari ini saya melihat sebuah acara anak-anak yang diramaikan oleh orangtua. Bahkan anak-anak pun terlihat kebingungan karena terlalu banyak campur tangan orangtua dalam berkegiatan. Belum lagi setiap detik setiap orangtua ingin mengabadikan kegiatan anak-anaknya. Oleh karena itu kesan berpetualang sepertinya kurang dirasakan oleh anak-anak karena campur tangan orangtua yang terkesan menginginkan anaknya tampil sesuai dengan harapan orangtuanya masing-masing.
  1. Pengenalan kegiatan minim sampah seharusnya bisa dijadikan sebagai salah satu sorotan utama kegiatan ini untuk mengajari anak-anak (sekaligus orangtuanya) untuk tidak menghasilkan sampah yang berlebihan. Contohnya ketika memasuki Rumah Tempe, setiap anak harus mengenakan sarung tangan plastik dan masker dengan alasan kebersihan. Sempat saya tanyakan kepada pihak panitia apa yang akan mereka lakukan setelah anak-anak selesai menggunakan sarung tangan dan maskernya. Jawabannya cukup mengejutkan “dibuang”. Padahal sempat saya tanyakan apakah bisa anak-anak mencuci tangannya dengan bersih supaya tidak harus menggunakan sarung tangan plastik. Tetapi alasan higienis lebih penting daripada alasan timbulnya sampah.Selain itu para penjual menjual makanannya menggunakan kemasan sekali pakai sehingga pemandangan sampah berserakan pun tidak dapat dihindari meskipun pihak penyelenggara berkali-kali mengingatkan para peserta untuk membuang sampah pada tempatnya.

Semoga masukan-masukan di atas bisa sampai kepada pihak penyelenggara untuk perbaikan acara selanjutnya dan demi tercapainya cita-cita kita bersama dalam mendidik anak-anak.

Bertugas sebagai Asisten

Bertugas sebagai Asisten

Kali ini saya ingin membagikan sebuah cerita yang sangat berkesan untuk saya secara pribadi. Kemarin saya diminta untuk menjadi guest speaker di sekolah lama Kiran, tempat di mana Bundanya juga mengajar. Kebetulan di sekolah tersebut sedang ada kegiatan Indonesian Cultural Week yang mana setiap kelas mendapat tugas untuk mempelajari sebuah provinsi di Indonesia. Kelas di mana bunda Kiran mengajar mendapatkan provinsi Jawa Barat. Karena saya berasal dari Jawa Barat, saya dimintai bantuan untuk membagikan informasi tentang Jawa Barat.

Kemudian saya mencoba merancang sebuah presentasi singkat menggunakan PowerPoint dan menyematkan beberapa video dan foto menggunakan animasi sederhana dalam setiap transisi slide. Satu hari  sebelumnya saya meminta Kiran untuk menjadi asisten saya dan dia pun menyetujuinya. Keesokan harinya, sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk menunjukkan bahan presentasi yang akan saya tampilkan sekaligus menjelaskan tugas dirinya sebagai asisten adalah bertanggung jawab untuk mengontrol tampilan presentasi pada saat saya menjelaskan. Akhirnya kami sepakati sebuah kode untuk memastikan dirinya mengerti jika saya memerlukan perubahan tampilan dari satu slide ke slide berikutnya.

Mengingat Kiran sudah mengenal abjad, saya pun memintanya untuk mencoba mengetik dua kata yang saya perlukan dalam presentasi tersebut, yaitu ‘West Java’. Terlihat dengan jelas bahwa dirinya sudah mulai nyaman untuk membunyikan huruf sambil mengetiknya di atas keyboard. 15 menit pun berlalu dan kami segera mempersiapkan diri.

Wefie sebelum berangkat

Wefie sebelum berangkat

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, tibalah kami di sekolah tersebut. Kami pun memasuki kelas dan mempersiapkan diri. Ada sebuah pemandangan yang sangat menarik dalam kegiatan ini. Kelas yang diajar oleh Bunda Kiran berisikan banyak teman lama Kiran pada saat Kiran bersekolah dulu di tempat ini selama 2 tahun. Reuni singkat anak-anak pun terjadi ketika anak-anak memanggil nama Kiran di dalam kelas. Laptop pun segera saya keluarkan dari tas dan menempatkan Kiran di posisi yang nyaman supaya dia bisa melihat saya dengan jelas.

Saya pun memulai presentasi dengan bersemangat dan Kiran benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Saya menyaksikan kesungguhannya dalam melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Dia memerhatikan apa yang sedang saya kerjakan dan memfokuskan perhatiannya kepada saya bersiap-siap untuk menerima kode yang akan saya berikan kepadanya. Sungguh luar biasa pengalaman ini. Tidak saya sangka Kiran begitu fokus dan menyelesaikan tugasnya sampai akhir selama satu jam, dan dia tidak beranjak dari tempat duduknya kecuali pada saat dia kebelet pipis.

Kiran mampu menunjukkan kedewasaan dirinya dengan menjadi anak yang mandiri mengetahui ayahnya sedang melakukan sebuah pekerjaan dan memahami bahwa dia bisa bertanggung jawab untuk dirinya sendiri. Tidak ada keluhan apalagi rengekan dirinya minta ditemani karena sendirian mengoperasikan komputer. Bahkan beberapa kali mengingatkan saya untuk melanjutkan presentasi karena saya berbicara terlalu lama dan dia tidak bersabar untuk mengoperasikan komputer.

Setelah kegiatan selesai kami pun berfoto bersama.

IMG-20151103-WA0028
IMG-20151103-WA0025
IMG-20151103-WA0024
IMG-20151103-WA0022
IMG-20151103-WA0021
Menunggu Kode diberikan untuk mengoperasikan komputer
IMG-20151103-WA0018
Garage Sale (Bagian 2)

Garage Sale (Bagian 2)

Setelah hasil penjualan garage sale terkumpul, kami pun mulai merencanakan untuk mendatangi toko mainan yang menjual set kereta api Lego dijual. Kebetulan Kiran memiliki jadwal rutin untuk berkegiatan fisik di Rockstar Gym mal Kota Kasablanka setiap minggunya dan di mal tersebut terdapat tiga buah toko mainan. Namun, ternyata segala sesuatu tidak pernah semanis yang  kita bayangkan. Kami mendatangi ketiga toko tersebut tetapi barang yang dicari ternyata kosong. Akhirnya kami pun mencoba menjelaskan kepada Kiran bahwa kadang-kadang kita harus bersabar dan menunggu. Untuk menghibur Kiran, kami pun merencanakan untuk mengunjungi toko Lego resmi yang berlokasi di Cilandak Town Square beberapa hari berikutnya.

Lego Store in Citos

Gelisah mulai melanda

mencari Lego Train Set

Menjelajahi setiap rak

Tibalah kami di Citos dan dengan penuh semangat Kiran langsung memasuki toko tersebut dan menyusuri semua rak yang ada di dalam toko. Namun, kembali dia harus mengalami kekecewaan karena barang yang dicarinya pun kosong. Kami menyimpulkan bahwa barang tersebut banyak disukai dan laku sekali sehingga untuk mendapatkannya agak sulit. Terlihat dengan jelas rasa kecewa yang mendalam setelah menanti beberapa hari dari kekecewaan yang sebelumnya terjadi. Akhirnya saya pun mencoba memberikan penjelasan bahwa kita harus berusaha lebih untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau. Untuk mengurangi rasa kecewanya kami pun menawari Kiran untuk mengunjungi toko mainan lainnya yang berlokasi di mal Pejaten Village pada hari berikutnya.

Singkat cerita, keesokan harinya, sepulang kerja kami pun mengunjungi toko tersebut dan Kiran mulai merasa khawatir barang yang dicarinya tidak akan ada lagi. Ternyata hal yang dikhawatirkannya pun terjadi, sekali lagi Kiran harus mendengat bahwa barang yang ingin dibelinya tidak ada dan kami pun menerima informasi bahwa memang barang yang kami cari sedang kosong di toko mana pun. Akhirnya kami pun mencoba menawarkan pilihan kepada Kiran apakah uangnya mau disimpan dahulu sampai barang yang dicari tersedia atau mau mencari set kereta lainnya? Akhirnya Kiran memilih untuk mencari kereta jenis lain (mungkin karena sudah sangat ingin memiliki kereta mainan, apa pun mereknya).

Setelah berkeliling di dalam toko yang sama, Kiran pun memilih kereta yang diinginkannya dan ternyata kereta yang dia pilih harganya jauh lebih murah dari kereta Lego yang ingin dibelinya. Karena sisa uang masih banyak, kami pun menawari Kiran untuk membeli Lego Classics supaya dia bisa membuat mainannya sendiri dari batangan Lego Classic (selama ini kami selalu membeli mainan serupa Lego buatan Cina karena harga Lego yang ditawarkan lumayan mahal untuk kami beli). Akhirnya kami pun punya Lego betulan dan rencana yang tadinya mau membeli Lego Train Set sekarang berubah menjadi Train + Lego Set 🙂

Lego & Train

Kami semua pun akhirnya belajar bahwa mungkin ini untuk yang terbaik untuk Kiran. Hikmahnya, kami malah mendapatkan dua jenis mainan dan Kiran pun kegirangan karena akhirnya kesampaian untuk punya mainan kereta lagi dan dapat bonus Lego Classics 😀

Sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk kami kenang bersama melihat perubahan emosi anak kami mulai dari bersemangat, kecewa, sangat kecewa, sampai putus asa, hingga akhirnya kembali bersemangat. Kami pun sebagai orangtua belajar banyak untuk bisa menjelaskan kepada anak kami mengapa semua hal tersebut terjadi dan tidak sesuai dengan harapan kami.

Ternyata memang benar, sekarang satu bulan telah berlalu dan Kiran masih menjaga mainan keretanya dengan utuh. Setiap kali selesai bermain, setiap bagian mainan langsung dimasukkan kembali ke dalam kardusnya dan masih terlihat baru. Segala sesuatu yang didapatkan dengan sulit akan bertahan lebih lama, demikian pelajaran keluarga kami kali ini.