Garage Sale (bagian 1)

Garage Sale (bagian 1)

Reading Time: 3 minutes

Baru memulai lagi untuk menulis kegiatan belajar kami dan mencoba untuk lebih konsisten menulis. Semoga bisa lebih disiplin lagi untuk merekam jejak pembelajaran keluarga kami ke depannya.

Lego City Train Starter Set

Lego City Train Starter Set

Kali ini saya ingin berbagi kenangan dari proyek garage sale yang kami lakukan bulan lalu. Ide ini berawal dari sebuah keinginan Kiran untuk membeli kereta Lego yang selama ini dia inginkan.

Mengingat mainan di rumah sudah banyak sekali dan dari pengalaman sebelumnya kami pernah membelikan mainan set kereta api tapi hanya bertahan 3 hari karena langsung “dibedah” oleh Kiran di saat bermain dan berakhir menjadi potongan kecil-kecil. Akhirnya kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda supaya Kiran bisa lebih menghargai mainan yang dimilikinya.

Suatu hari ketika kami sedang membereskan barang-barang yang sudah tidak kami gunakan lagi, muncullah ide untuk menjual barang-barang tersebut karena kami sudah tidak menggunakan barang-barang itu dan rumah kami lumayan penuh sesak oleh barang-barang yang tidak banyak kami gunakan lagi. Akhirnya kami diskusikan ide ini bersama Kiran dan menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya jika dia membantu untuk membersihkan barang-barang yang akan kami jual, hasil penjualannya akan digunakan untuk membelikan dia set kereta api Lego yang selama ini dia inginkan.

Persiapan

Pada tahap persiapan, Kiran membantu kami mengelap barang-barang yang akan dijual. Dengan penuh semangat dia membersihkan setiap bagian dari barang-barang yang dipegangnya. Sungguh suatu pemandangan yang menarik bagi kami melihat kesungguhan Kiran terlibat di dalam kegiatan ini.

Penjualan

Kemudian pada tahap penjualan, kami pun begadang untuk memotret dan menawarkan barang-barang kami melalui akun Facebook saya. Gayung bersambut, kami sangat terharu melihat respon dari teman-teman kami yang membantu kami untuk merealisasikan keinginan anak kami. Dukungan moral dan material pun terus berdatangan dari teman-teman kami. Kami tidak pernah menyangka barang-barang tersebut bisa laku dengan cepat. Akhirnya dalam waktu 1 hari banyak barang-barang kami yang terjual.

Pengiriman

Setelah tahap penjualan ternyata sekarang ada tahap pengiriman di mana kami harus membungkus dan mengirimkan barang-barang yang sudah terjual ke alamat pembeli. Pengalaman berkesan lainnya pun terjadi ketika Kiran membantu membungkus setiap barang dengan kertas koran dan menulisi paket yang akan dikirimkan dengan antusias. Saya pun mulai menjelaskan alasan mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca untuk mendukung kehidupannya, seperti yang sedang kami lakukan saat itu mengirimkan paket. Saya menyuruh Kiran untuk melabeli setiap barang dengan tujuan supaya kami bisa membedakan barang-barang tersebut setelah terbungkus kertas koran. Tidak hanya di situ, proses belajar lainnya untuk Kiran adalah ketika saya harus menulis alamat setiap pembeli pada setiap paket yang akan dikirim. Kiran pun melihat dengan jelas mengapa setiap orang harus bisa menulis dan membaca.

Mempersiapkan Paket

Mempersiapkan Paket

Menulisi Paket

Menulisi Paket

Singkat cerita kami pun langsung mengirimkan paket yang telah siap dikirimkan melalui layanan JNE yang berlokasi di dekat rumah. Kiran menanyakan mengapa kita harus mengirimkan barang-barang tersebut dan mana uang dari penjualannya? Saya menjelaskan bahwa kami sudah menjualnya dan uangnya akan dikirim kepada saya melalui transfer bank. Selain melakukan pengiriman melalui layanan JNE kami pun menggunakan layanan jasa GOJEK untuk langsung mengirimkan barang kepada teman-teman yang membeli barang dari kami dan berdomisili di Jakarta.

Ada beberapa teman yang menanyakan mengapa barangnya sudah dikirim duluan padahal mereka belum membayar. Semua saya lakukan karena saya melihat ketulusan dari teman-teman itu membantu kami membuat semua ini terjadi. Tentunya tidak ada prasangka buruk jika barangnya tidak akan dibayar setelah barang tersebut kami kirimkan karena kami pun merasakan teman-teman itu melakukan pembelian bukan karena mereka sangat menginginkan barang yang kami jual melainkan semangat berbagi untuk membantu proyek yang sedang kami kerjakan bersama Kiran. Ada orang-orang yang kami kenal dan ada juga yang tidak begitu kami kenal tetapi berada di dalam lingkaran pertemanan media sosial.

Akhirnya total uang yang terkumpul sebesar Rp 1.065.000 dan semua pendapatan dari penjualan ini kami rencanakan untuk membeli Lego Train Set untuk Kiran.

Bersambung . . .

UCAPAN TERIMA KASIH:

Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Moi Kusman, Bibi Anita Diah Permata, Mbak Kusendra Yunika Advend, Neng Ochie, Paman Simon dan Bibi Yulia, Himsurya Saputra, Eva Yunianingsih, Kak Aio (yang nawar tapi maunya minta mahal bukan minta murah šŸ™‚ ), Ms Sani Gama, Mbak Britania Sari (terima kasih atas tambahannya).

Terima kasih yang tak terhingga karena telah membantu kami untuk memberikan pengalaman yang berkesan untuk Kiran.

Kiran Belajar Mengendarai Sepeda

Kiran Belajar Mengendarai Sepeda

Reading Time: 1 minute

Beberapa minggu terakhir Kiran sedang bersemangat untuk naik sepeda. Padahal sepeda kuning roda 4 yang dia punya sekarang kami belikan tahun lalu. Tapi kalau memang anaknya belum siap ya dimotivasi seperti apapun hasilnya itu sepeda terparkir saja di rumah. Ayahnya yang terlalu bersemangat membelikan sepeda sepertinya.

Minggu lalu, tiba-tiba saja Kiran mengajak ayahnya untuk belajar sepeda. Ayahnya lalu mencopot roda kecil di ban belakang sepeda Kiran. Awalnya KiranĀ menolak untuk kedua roda kecilnya dilepas, tapi ternyata mau juga anaknya.

Belajar hari pertama, Kiran dan ayahnya pergi ke lapangan bola dekat Rindam Jaya. Karena belinya tahun lalu, jadi kaki Kiran sudah bisa dijejakkan ke tanah kalau dia mau jatuh. Selama belajar di lapangan, total jatuh sekali dan nangis hanya sekali šŸ™‚ . Untung semangatnya tidakĀ kendur. Koordinasi antara tangan, kaki dan keseimbangan badannya sepertinya sudah siap.

Keesokan harinya, Kiran dengan bangganya pamer kalau dia sudah bisa naik sepeda ke kakek dan neneknya. Memang, belajar itu lebih mudah dan cepat kalau si anak sudah siap.

Belajar di mana saja, kapan saja

Belajar di mana saja, kapan saja

Reading Time: 3 minutes

Selamat pagi, cuaca hari ini cerah sekali, semoga membuat aktifitas kita semua menjadi lebih bersemangat (baca: bakalan gerah kayanya hari ini). Kiran dan ayahnya sedang bekegiatan di luar nih. Jadi setiap hari Selasa dan Kamis ada pertemuan rutin para praktisi homeschooling anak usia dini bernama Tunas di daerah Tanah Kusir. Tempat tersebut bernama Hikari, tempat teduh dan asri yang pernah di gunakan sebagai TK. Karena pernah menjadi TK, maka di situ ada beberapa permainan seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan Ā Monkey Bar. Pekarangannya pun cukup luas, anak-anak bisa berlarian di tanah yang lumayan lapang.

Pada hari Kamis minggu lalu, kebetulan anak-anak sekolah libur, jadi saya bisa ikut Kiran dan ayahnya datang ke Hikari. Ternyata pengajarnya pada hari itu adalah suami saya sendiri!! (Pantesaaann pagi-pagi repot sendiri :D). Kegiatan di Hikari dimulai dengan perkenalan dengan teman baru, kebetulan ada satu anak yang baru bergabung dengan Tunas. Anak-anak terlihat sangat senang mendapatkan teman baru. Salam dan saling menyapa memang menjadi salah satu kegiatan wajib anak-anak Tunas, agar mereka terbiasa menyapa satu sama lain. Salam pun dilakukan kepada semua orang, tidak hanya antara teman-teman sebaya.

Topik yang sedang diajarkan hari itu adalah bagian-bagian dari pohon, seperti akar, batang, dahan, ranting, dan daun. Anak-anak bereksplorasi, mengamati dan mengobservasi bagian-bagian dari tumbuhan secara langsung. Beruntung Hikari banyak terdapat banyak pepohonan tinggi dan besar, jadi anak-anak bisa memegang dan menyentuh langsung pohon-pohon besar itu. Ada kejadian lucu ketika anak-anak diminta untuk mencari bagian akar dari pohon rambutan. Mereka semua kaget ketika diberitahu kalau akar pohon rambutan itu menyembul dari bawah tanah. Mungkin mereka pikir itu batang biasa hehe. Cara sang guru ā€œmengajarkanā€ anak-anak balita itu benar-benar menarik dan interaktif; jadi anak-anak Ā merasa mereka sedang bermain dan belajar. Seru sekali kegiatan mereka! Ā Jadi kepingin ikutan terus kegiatan Tunas di Hikari hehe.

memegang batang pohon

memegang batang pohon

ini namanya ranting

ini namanya ranting

Setelah itu, anak-anak bersiap untuk makan siang. Tetapi sebelum itu, mereka harus antre untuk mencuci tangan mereka. Para orang tua sudah menyiapkan makanan untuk anak-anak mereka masing-masing diĀ tempat makannya masing-masing. Jadi, semua anak makan sendiri tanpa bantuan orang tua. Sehabis makan, anak-anak mengulas kembali apa yang mereka sudah lakukan dengan riang dan antusias.

Ternyata kegiatan anak-anak homeschooling itu sangat menyenangkan. Mereka sangat aktif dan yang pasti tanpa paksaan melakukan aktifitas di sana. Anak-anak mendapatkan ilmu tanpa harus duduk diam di meja. Untuk saat ini, Kiran mengikuti kegiatan di dua perkumpulan homeschooling, Tunas dan Oase. Para orang tuanya pun sangat open-minded, informatif, berwawasan luas, dan bersahabat. jadi, siapa bilang anak homeschooling itu tidak bersosialisasi dan hanya belajar di rumah? Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja.

anak-anak dan orang tua Tunas

anak-anak dan orang tua Tunas

Oh iya, bagi yang tertarik untuk bergabung, klub Tunas berkegiatan di Hikari daerah Tanah Kusir setiap Selasa & Kamis pukul 10.00 ā€“ 12.00. Klub Oase berkegiatan di daerah Cipinang setiap hari Rabu pukul 09.00 ā€“ 12.00.

Untuk lokasi Hikari, silakan ketuk tautan berikut ini :Ā Hikari (dengan petunjuk dari Pondok Indah Mall 2)

Untuk lokasi berkegiatan di Klun Oase biasanya bertempat di Rumah Inspirasi.

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Reading Time: 3 minutes

Kali ini saya ingin membagikan cerita tentang permainan kesukaan Kiran.

Pada perayaan natal tahun lalu Kiran mendapatkan kejutan dari Paman Des dan menerima sebuah kado natal berupa permainan ular tangga klasik. Kemasan dari permainan ini didisain dengan apik dan mengedepankan tampilannya yang sangat klasik sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengingat masa kecilnya memainkan permainan ini.

Kado Natal

Ini adalah permainan papan pertama Kiran. Pada saat itu juga Kiran meminta untuk memainkannya. Dalam waktu 1 hari Kiran mulai memahami cara memainkan permainan ini dengan konsep permainan yang sangat sederhana, naik ketika berhenti di tangga dan turun ketika berhenti di ular. Semua orang yang Kiran kenal diajak memainkan permainan papan ini, mulai dari ayah dan bundanya hingga semua orang yang tinggal di rumah kakek dan neneknya yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Ketika semua orang sudah “selesai” bermain dan Kiran masih ingin bermain, biasanya dia akan mengatakan bermain sendirian.Ā 

“So, nobody wants to play with me? Okay, I can play by myself.”

Bermain ular tangga sendirian

Tanpa terasa kami mulai mengenalkan angka satuan, belasan, dan puluhan kepada Kiran karena dia penasaran dengan banyaknya angka yang tertera di atas papan permainan. Seiring waktu berjalan, dalam waktu satu minggu, Kiran sudah mengerti konsep belasan dan puluhan. Setelah itu tanpa diajarkan, Kiran mulai memahami konsep penambahan di bagian papan paling bawah yang menunjukkan satuan. Ketika orang-orangan berdiri di angka 3 dan KiranĀ melempar dadu yang menunjukkan angka 4, secara otomatis tangan mungilnya akan menggiring orang-orangannya ke kotak angka 7. Saya sendiri sempat terkaget melihat apa yang dilakukannya. Tanpa disadari, dia sudah mulai memahami konsep penambahan. Akhirnya sedikit-demi sedikit kami mulai menantang Kiran untuk memindahkan orang-orangannya tanpa menghitung setiap kotak yang dilaluinya melainkan langsung melompati kotak-kotak tersebut dan menempatkan orang-orangannya di kotak yang dituju.

permainan ular tangga

Ular tangga

Tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah terbiasa memainkan permainan papan ini setiap hari (dan bisa lebih dari Ā 10 kali setiap harinya), Kiran mulai terbiasa menyebutkan angka-angka yang diperlukannya untuk mendaratkan orang-orangannya di kotak yang ingin dia tuju. Ketika dia sudah mulai bosan, dia mulai mencari cara bagaimana memainkan permainan ini dengan cara yang berbeda (saya sendiri saja belum pernah melakukannya), yaitu bermain mundur dari atas ke bawah tanpa mengubahĀ fungsi dari tangga dan ularnya. Ketika orang-orangan kami mendarat di tangga, maka kami harus “kembali ke atas” (karena tujuannya adalah kami harus menuruni papan permainan).

Bangun tidur, selepas mandi, setelah makan, pagi, siang, petang, malam, tanpa mengenal waktu, semua orang yang Kiran temui akan diajak bermain ular tangga. Saya merasa beruntung sekali Kiran mendapatkan kado tersebut dan ketika saya menyampaikan cerita ini kepada pamannya, Paman Des merasa senang sekali kado pemberiannya telah berguna.

Meskipun permainan papan ini terkesan “jadul” tetapi permainan sederhana ini telah memberi warna dalam kehidupan keluarga kami sehingga kami selalu bisa berkumpul, bercengkerama dan tertawa bersama tanpa mengenal waktu, rasa lelah dan beban pekerjaan yang sedang membelenggu kami. Sungguh sangat menakjubkan bahwa permainan “purbakala” bisa mempererat hubungan anggota keluarga dan mengajari anak kami sesuatu yang mungkin akan sangat sulit kami ajarkan dengan penuh kerelaan dan kesenangan, yaitu berhitung.

Begitu banyak permainan-permainan modern yang dijual dan dinyatakan sebagai permainan “edukatif” sehingga setiap orang tua (termasuk saya) mulai “menabung” berbagai macam permainan supaya Kiran bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mulai dari flashcard sampai permainan digital.

Permainan-permainan yang ditawarkan di era modern ini memang sangat menarik perhatian. Mulai dari kemasan hingga pernak-pernik mainannya itu sendiri. Namun dibandingkan dengan permainan “purbakala” ini, semua permainan yang sudah saya tabung dan bernilai jauh lebih besar itu tidak semenyenangkan permainan papan ini, ular tangga.

Sebuah pelajaran mendasar sebagai orang tua yang belajar dari anaknya, bahagia itu sangat murah dan sederhana.

Belajar Memasak dan Bertanam

Belajar Memasak dan Bertanam

Reading Time: 2 minutes

Senang rasanya bisa menghabiskan waktu bersama anak tersayang dan sekaligus berkarir. Tentunya sangat melelahkan membesarkan anak sambil bekerja, tetapi sangat sepadan dengan kebahagiaan yang saya dapatkan untuk selalu bersama anak di setiap kesempatan yang ada.

Hari ini kami memutuskan untuk melakukan kegiatan memasak sayuran dan bertanam. Bunda Kiran sudah melakukan persiapan malam sebelumnya dengan menyiapkan bumbu yang harus dimasukkan ke dalam makanan. Karena Bunda Kiran harus bekerja, hanya saya dan Kiran yang melakukan kegiatan ini. Setelah melakukan rutinitas pagi, kami pun meluncur keluar untuk membeli sayuran dan alat bertanam (karena belum memiliki peralatannya).

Kami pun membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sayur sop. Kiran tampak serius memperhatikan aktivitas sang penjual yang gesit melayani pembelinya. Akhirnya tiba sang penjual melayani keperluan kami dan Kiran terlihat senang ketika menerima barang belanjaannya.

Setelah itu kami pun meluncur ke Pasar Minggu untuk membeli peralatan bertanam. Seperti biasanya, perhatian Kiran langsung terpusat pada kereta api yang hilir mudik hampir setiap lima menit. Setelah 4 rangkaian kereta berlalu, saya pun mendapatkan peralatan yang kami perlukan untuk bertanam. Kemudian kami kembali ke rumah dengan bersemangat.

Berbelanja alat bertanam di Pasar Minggu

Sibuk memerhatikan kereta api yang datang silih berganti

Sesampainya di rumah, kami langsung membersihkan dinding tanam dan mengganti tanah yang ada di dinding taman dengan media tanam yang sudah kami beli minggu lalu. Kami mendapatkan sebuah kejutan ketika sedang membersihkan tempat Ā tanam. Ternyata Kiran menemukan seekor keong dan penemuan binatang ini semakin menyemangati Kiran untuk bertanam. Setelah semuanya selesai, kami pun melanjutkan kegiatan kami, memasak sayur sop.

Kami mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan dan Kiran bertugas untuk mencuci sayuran sampai bersih. Setelah selesai dicuci, kami melanjutkan proses selanjutnya, yaitu memotong. Mengingat Kiran masih terlalu muda untuk memotong menggunakan pisau, sebagai gantinya Kiran bertugas untuk menguliti wortel. Tiga buah wortel pun selesai dikuliti oleh Kiran dan selanjutnya saya membantu untukĀ memotong sayuran.

Setelah semuanya selesai, saya memasak sayuran tersebut di dapur dan Kiran asyik bermain dengan binatang temuannya, sang keong di depan rumah. Setelah beberapa saat, sayur sop pun siap untuk dihidangkan dan kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang.

Voila! Sayur sop siap untuk disantap

Makan siang pun selesai dan Kiran ingin bermain di rumah kakeknya. Akhirnya Kiran menghabiskan sisa siangnya mengunjungi kakek dan neneknya. Saya pun segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja.