Museum Polri

Museum Polri

Reading Time: 3 minutes

Kali ini menerima undangan terbuka dari Tunas (salah satu komunitas homeschooling di Jakarta Selatan) untuk pergi ke Museum Polri. Hanya saya dan Kiran yang berangkat ke museum karena kegiatan ini dilakukan pada hari kerja dan Bunda Kiran harus bekerja. Kiran bersemangat sekali ketika saya beritahu bahwa di sana dia akan melihat helikopter.

Ketika tiba di sana, saya bertemu keluarga-keluarga baru yang penuh semangat menemani anak-anaknya berkegiatan. Sebelum semuanya berkumpul kami sudah mencuri start untuk berfoto di depan museum. Di bagian depan museum terparkir gagah sebuah tank dan helikopter. Ketika kami memasuki lobi museum, kami disambut oleh 3 orang polisi wanita yang ramah. Sebuah mobil polisi pun terparkir di pojok lobi yang langsung menjadi incaran anak-anak.

Rangkaian tur museum diawali dengan menonton sebuah film di lantai 2. Sempat terkaget juga ketika memasuki ruang menonton di museum ini, karena sangat bersih, tertata rapi dan tasteful. Kurang lebih seperti bioskop XXI (kecuali mutu suaranya, belum Dolby ;)). Tidak menyangka mendapat kualitas setara bioskop untuk menonton di museum ini. Film yang dimainkan adalah tentang polisi wisata di Bali. Bercerita mengenai sekelompok anak yang berperan sebagai polisi wisata. Untuk mengetahui detil ceritanya, silakan datang langsung ke lokasi 🙂

Ruang menonton

Setelah film selesai dimainkan, kemudian ketiga polwan tersebut mengajak anak-anak bermain area Kids Corner. Di area ini anak-anak bisa bermain peran menjadi polisi. Kostum polisi pun tergantung rapi siap untuk digunakan. 2 buah mobil dan motor bertenaga baterai terparkir di pinggir area. Namun sayang, sepertinya daya baterai untuk motor mainan tersebut tidak diisi ulang sehingga anak-anak agak kesulitan menggunakan motor mainannya. Namun hal itu tidak menghambat anak-anak untuk menikmati waktu mereka di sana. Selain itu tersedia macam-macam puzzle dan mainan edukatif lainnya yang tersedia di atas meja. Anak-anak juga belajar sedikit tentang rambu lalu lintas dari ketiga polwan yang ramah itu.

Yang paling menarik di area ini adalah dindingnya. Dinding di area ini sudah disulap menjadi sebuah permainan bercerita di mana kita akan berperan sebagai detektif yang harus memecahkan sebuah kasus dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Konsep yang sangat menarik, namun permainan ini lebih tepat dimainkan untuk anak berumur 8 tahun ke atas karena melibatkan kemampuan membaca dan berlogika.

Kids Corner

Bermain di Kids Corner

Setelah anak-anak selesai bermain di Kids Corner, ketiga polwan tadi melanjutkan rangkaian kegiatan tur dengan menjelaskan macam-macam seragam polisi. Mulai dari seragam polisi berkuda, lengkap dengan pecutnya sampai berbagai jenis topi yang dikenakan oleh polisi. Kemudian anak-anak diajak untuk melihat robot penjinak bom yang dikendalikan menggunakan pengendali jarak jauh dan sebuah komputer untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh robot penjinak itu. Anak-anak bersemangat sekali mendengarkan penjelasan dari ketiga polwan tersebut sampai beberapa anak langsung berkomentar ingin menjadi polisi supaya bisa bermain dengan robot penjinak bom (namanya juga anak-anak, bawaannya tetap saja ingin bermain) 😉

Selepas itu, kami diajak turun kembali ke lantai 1 untuk melihat koleksi persenjataan yang terdapat di museum. Yang menarik ketika kami berada di lantai 1 adalah tantangan yang diberikan oleh salah satu polwan kepada anak-anak ketika menanyakan jika ada anak yang ingin bernyanyi. Ternyata Kiran langsung menjawab tantangan polwan tersebut dan menyanyikan lagu “The Alphabet Song” 2 kali. Saya kaget sekaligus senang, karena saya tahu Kiran selalu malu jika disuruh bernyanyi atau tampil di depan ayah dan bundanya. Inilah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan Kiran yang dilakukan atas keinginan dia sendiri dan dilakukan penuh percaya diri. Berikut ini penampilan Kiran:

Setelah Kiran selesai bernyanyi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan melihat koleksi senjata dan kendaraan kepolisian yang terdapat di museum. Rangkaian kegiatan ini pun diakhiri dengan anak-anak berfoto bersama di depan gedung museum dengan latar helikopter dan tank.

Setelah itu, kami pun makan siang bersama di lobi museum (Terima kasih kepada Mbak Yulia yang sudah mau repot membawa karpet dan tempat sampah terpilah). Tidak terasa 4 jam sudah berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun akhirnya berpamitan dan berfoto bersama 🙂

Seru sekali berkegiatan bersama dengan keluarga lainnya dan bertemu keluarga-keluarga baru dengan ceritanya masing-masing. Kiran pun mempunyai teman-teman baru.

Bincang Seru Homeschooling di Museum Bank Mandiri

Bincang Seru Homeschooling di Museum Bank Mandiri

Reading Time: 3 minutes

Kali ini saya ingin menulis tentang acara Bincang Seru Homeschooling yang diadakan oleh Klub Oase di Museum Bank Mandiri pada tanggal 24 Januari 2015. Hal yang paling menarik dari acara ini adalah gelora semangat para pendaftar yang ingin hadir di acara ini.

Banyak sekali cerita lucu dari panitia karena kursi yang tersedia sangat terbatas sebanyak 200 kursi. Begitu flyer digital disebar di media sosial, semua kursi sudah terisi dalam satu hari. Bahkan banyak sekali pendaftar yang harus panitia tolak karena kuota peserta sudah tercapai.

Berbagai cerita lucu mengisi hari-hari panitia dengan kekhawatirannya karena panitia harus menolak banyak pendaftar ketika pendaftaran ditutup. Ada yang memaksa akan datang pada hari pelaksanaan meskipun tidak diperbolehkan, ada yang mentransfer uang dan uangnya tidak mau dikembalikan padahal sudah dijelaskan pendaftaran sudah ditutup, ada pula yang membayar dan berniat untuk tidak masuk ke dalam ruangan tapi rela mendengarkan di pinggir jendela, dan cerita-cerita lainnya yang tidak kalah serunya. Perlu diketahui bahwa penutupan pendaftaran dilakukan karena kuota peserta sudah tercapai dan ruangan di tempat diselenggarakannya acara hanya bisa menampung 200 orang.

Antusiasme para peserta yang ikut ataupun ditolak membuat saya berpikir bahwa orang-orang sudah mulai khawatir dengan pilihan sekolah formal yang tersedia. Selain pendidikan sudah beralih fungsi sebagai sebuah bisnis yang menguntungkan, pendidikan di sekolah formal yang tersedia juga cenderung terlalu menekan peserta didiknya untuk hanya berfokus di bagian akademis tanpa mengalokasikan waktu kepada peserta didik untuk mengenali dirinya sendiri.

Kami pun memutuskan untuk beralih dari sekolah formal dan ingin menjalankan homeschooling karena ketiadaan alternatif tempat belajar yang bisa memenuhi kebutuhan anak saya, yaitu bermain. Anak saya baru akan masuk TK, tetapi tuntutan yang ada di TK saat ini sudah jauh meleset dari tujuan diciptakannya TK.

Sepertinya homeschooling mulai banyak dilirik oleh banyak keluarga indonesia sebagai alternatif pendidikan anak-anak mereka yang tidak tercukupi oleh sekolah formal. Meskipun masih banyak orang-orang beranggapan bahwa homeschool itu adalah sebuah lembaga. Pada saat sesi ketiga ada seorang ibu yang bertanya mengenai lembaga penyelenggara homeschool yang katanya beliau dengar biaya homeschool itu tidaklah murah. Pak Sumardiono yang dikenal sebagai Pak Aar sebagai salah satu pembicara di acara tersebut mempertegas bahwa homeschool itu bukanlah sebuah lembaga, melainkan pendidikan berbasis keluarga. Pada prinsipnya di dalam menjalani homeschooling, segala sesuatu yang dilakukan oleh sebuah keluarga untuk membantu proses pendidikan keluarga tersebut adalah boleh dan tidak ada yang salah dengan yang dilakukan oleh sebuah keluarga. Masalah mahal atau murah, kembali lagi pada jenis kegiatan yang kita lakukan ketika menjalani homeschooling. Tetapi yang pasti, tidak akan ada biaya untuk “sumbangan bangunan sekolah”.

Setiap keluarga memiliki keunikannya masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak bisa menyeragamkan sebuah bentuk homeschooling. Menurut pendapat saya pribadi (meskipun belum sepenuhnya menjalani homeschooling), kegiatan homeschooling harus melibatkan orangtua di dalam prosesnya. Meskipun tidak terlibat secara langsung di dalam pengajaran, tetapi kitalah (orangtua dan anaknya) yang harus memetakan pendidikan yang akan kita jalani ketika melakukan homeschooling. Pak Aar pun menjelaskan bahwa orangtua sebetulnya berperan sebagai kepala sekolah. Orangtua bisa mengajari anaknya sendiri, memasukkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan, atau menggunakan jasa orang lain untuk mengajari anaknya.

Selepas acara berakhir ada orangtua yang bersikukuh menyekolahkan anaknya, ada pula yang merasa bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa, ada pula yang merasa termotivasi dan yakin bahwa homeschooling bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagi yang masih merasa bingung harus memulai dari mana ketika merencanakan homeshooling untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ada baiknya mencari informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk homeschooling. Sebagai permulaan, silakan kunjungi www.rumahinspirasi.com. Tersedia ebook dan webinar yang bisa diunduh dengan membayar sejumlah uang. Dengan nominal yang yang sangat terjangkau, Pak Aar dan istrinya Ibu Lala telah mengumpul informasi yang sangat lengkap untuk membantu setiap keluarga yang berniat menjalankan homeschool mempersiapkan diri dan memastikan apakah kegiatan homeschooling ini adalah pilihan yang tepat.

Untuk yang bingung mencari lingkungan yang mendukung kegiatan homeschooling, bisa bergabung di Klub Oase (Jakarta Timur) atau Tunas (Jakarta Selatan). Saya bertemu banyak orang-orang hebat yang sangat mengedepankan pendidikan anaknya dengan cara belajar mandiri dan menyenangkan untuk anak-anaknya. Sejauh ini baik orangtua maupun anak-anak yang menjalani homeschooling yang saya temui merupakan orang-orang hebat yang mengerti artinya belajar sebagai sebuah kebutuhan bukan keharusan.