Marbles Painting

Marbles Painting

Hari ini Kiran dan saya mencoba melukis untuk membuat projek kecil harian. Biasanya kalau diajak menggambar, Kiran suka menolak duluan. Tetapi beberapa waktu lalu saya melihat satu postingan di Pinterest, yaitu melukis dengan kelereng. Setelah saya ceritakan kepada Kiran, ternyata gayung bersambut, anaknya mau! Maka kami lakukanlah projek melukis dengan kelereng hari ini. Ternyata menyenangkan loh. Berikut adalah material yang diperlukan untuk membuat projek ini:

  1. Kelereng (kami pakai 5 buah kelereng)
  2. Kertas ukuran apa saja (kami pakai ukuran A4)
  3. Cat beberapa warna (kami pakai akrilik)
  4. Wadah untuk cat
  5. Selotip (untuk menahan kertas)
  6. Kardus (untuk menahan kelereng)

Membuatnya juga mudah, begini caranya:

  1. Masukkan cat ke wadah, satu wadah untuk satu warna cat ya
  2. Masukan satu kelereng ke setiap wadah berisi cat
  3. Letakkan kertas di dalam kardus, pastikan kertas tidak bergerak
  4. Taruh kelereng yang sudah berlumur cat ke atas kertas di kardus
  5. Goyang-goyangkan kardus hingga kelereng bergerak dan membuat goresan warna

Voila!

Hasil gambar menakjubkan muncul di atas kertas. Mudah sekali bukan? Dan sangat menyenangkan untuk anak-anak. Saking senangnya Kiran, ia sampai berinisiatif mengajak saya untuk membuat video tutorial pembuatan lukisan kelerengnya. Silakan ditonton videonya.  Semoga bermanfaat ya ☺  

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berikut ini manfaat yang kami dapatkan dari pengalaman travelschooling kami:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri untuk menjadi role model untuk Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke mana pun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian daerah tersebut

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner lokal

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari kebun yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong.

Belajar bahasa penduduk setempat

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka.

Apakah ada yang mau mengundang kami ke kampung halamannya, hehehe?

 

Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami:

Melatih Diri “Walk the Talk”

Melatih Diri “Walk the Talk”

Menyambung 2 tulisan sebelumnya mengenai rasa sayang dan menyembuhkan luka lama supaya kita bisa memiliki hubungan yang baik bersama anak adalah dengan cara melatih diri, bagaimana kita mulai menerapkan informasi yang kita miliki dan menjadi teladan bagi anak kita.

Apa yang kita lakukan adalah hasil dari perasaan atau emosi kita. Dengan mengenali emosi yang kita rasakan diharapkan kita dapat mengatur perbuatan atau pikiran kita.

Seringkali orangtua dan anak meributkan suatu hal yang dapat membuat hubungan keduanya tidak baik karena keduanya masih mempertahankan ego masing-masing bukan tentang mengapa hal tersebut ‘seharusnya’ terjadi atau dilakukan. Penerimaan satu sama lain tanpa kondisi yang dipersyaratkan memerlukan motivasi dan relevansi sehingga setiap pihak tidak harus berharap terhadap satu sama lain. Sebuah konsekuensi logis.

Tanpa kita sadari tindakan mengontrol anak kita ternyata bukanlah perwujudan dari kasih sayang kita sebagai orangtua melainkan ego yang berawal dari kekurangan diri kita sendiri kemudian berlanjut menjadi sebuah kecemasan sehingga berujung pada kontrol yang sering kita sebut sebagai ‘cinta atau sayang’. Misalnya kita memasukkan anak kita ke sebuah sekolah mahal dengan harapan anak kita bisa sukses atau mapan dan terlindungi secara finansial dan dihormati orang. Ini adalah sebuah asumsi yang berkembang di masyarakat jika anak tidak masuk sekolah yang bagus (baca: mahal) maka masa depannya tidak akan baik. Ketika anaknya tidak sukses lantas kita kecewa karena anak kita tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Inikah yang dinamakan cinta?

SAYANG ATAU TAKUT

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata ‘takut’ atau ‘cinta’? Kita ambil sebuah contoh ketika kita sedang makan bersama anak kemudian anak kita tidak menghabiskan makanannya. Kita semua tahu mengenal dua cara untuk menyelesaikan masalah ini. Yang pertama adalah dengan memaksa anak menghabiskan makanannya atau yang kedua membujuk anak dengan berbagai cerita yang membuat anak merasa bersalah. Mulai dari seberapa panjang perjalanan makanan menuju meja makan, para petani yang bekerja keras untuk menghasilkan makanan sampai bercerita tentang orang-orang kelaparan yang berada di negeri orang lain. Semua ini kita lakukan atas nama cinta atau sayang terhadap anak. Khawatir anaknya sakit atau terjadi sesuatu terhadap anaknya. Padahal rasa “cinta” yang kita rasakan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, tetapi ketakutan orangtua berbalut rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak.

Ternyata rasa sayang tidak harus selalu “tampil” selaras dengan perbuatan. Ketika kita membantu anak mengenal sinyal tubuhnya terhadap rasa lapar tidaklah mudah bagi orangtua. Rasa khawatir yang tidak beralasan atau rasa nyaman yang memudahkan orangtua untuk ‘memberi’ makan kepada anaknya lebih mudah untuk dilakukan. Tetapi anak tersebut tidak memiliki motivasi untuk mengenal segala jenis makanan yang diperlukan bagi tubuhnya dan ketika tidak ada motivasi dari diri sendiri, anak tersebut tidak akan melihat relevansi dari tindakan yang harus dilakukannya sehingga kegiatan makan hanyalah sebuah rutinitas yang harus dilakukannya tanpa tahu pasti mengapa hal itu harus dilakukan dan diperlukan oleh tubuhnya sendiri.

Kita selalu mengajari anak kita untuk merawat barang-barang, rumah, binatang dan kendaraan tetapi sering kali gagal menerapkan konsep merawat diri terhadap anak kita. Ketika ada motivasi kemudian muncul relevansi.

Sebelum kami menjalani homeschooling pun kejadian seperti ini selalu terjadi di dalam kehidupan keluarga kami. Kami menyuruh Kiran makan untuk membuat kami nyaman (karena takut dia sakit jika dia melewatkan waktu makannya). Kami menyuruh Kiran mandi karena sebuah keharusan turun menurun yang terjadi di masyarakat. Kiran harus menggosok giginya sebelum tidur karena kami takut giginya berlubang karena kami takut giginya jelek dan rusak, dan masih banyak rutinitas lainnya yang kami terapkan kepada Kiran tanpa dia memiliki motivasi dan relevansi terhadap setiap kegiatan yang dilakukannya.

Semenjak menjalani homeschooling, kami mulai menyadari hal-hal tersebut dan berdamai dengan diri sendiri bahwa untuk menyayangi anak kami diperlukan kesabaran, rasa sayang tanpa syarat, dan menyembuhkan luka lama kami. Membangun kesadaran dan mengubah pola pikir kami tidaklah mudah. Kami pun masih belajar untuk konsisten menjalaninya. Perlahan tetapi pasti, seiring waktu berjalan kami mulai melihat hasilnya. Belakangan ini kami merasa bahagia ketika Kiran meminta makan karena dia lapar, ketika Kiran sudah mulai menggosok giginya sebelum tidur karena dia sadar giginya adalah tanggung jawabnya dan memerlukan perawatan, ketika Kiran tidur karena tahu tubuhnya perlu istirahat, sampai baru-baru ini Kiran sudah mulai mandi tanpa menggunakan sabun dan sampo karena tidak mau mencemari lingkungan. Perilaku seperti ini tidak mudah dilakukan ketika kami masih berusaha mengontrol dan mengharapkan Kiran melakukan sesuai dengan apa yang kami inginkan.

PEKERJAAN RUMAH KAMI

Mari kita berefleksi, apakah tindakan yang kita lakukan itu demi anak kita atau demi kenyamanan kita?

Setelah mengikuti seminar Pak Gobind mengenai compassionate parenting, ada beberapa hal yang masih kami latih untuk menerapkannya terhadap Kiran:

  • Meningkatkan kesadaran bahwa kami adalah fasilitator yang tugasnya memfasilitasi Kiran untuk menjadi seorang pemelajar.
  • Membantu Kiran menemukan motivasi supaya dirinya memiliki relevansi atas segala hal yang dilakukannya.
  • Melatih diri kami untuk tidak terjebak dengan asumsi dan mulai berfokus pada kenyataan.
  • Mengonfirmasi kembali setiap pertanyaan atau pernyataan Kiran secara keseluruhan tanpa berpekulasi.
  • Tidak membuat Kiran merasa bersalah, mempermalukannya dan apatis
  • Mulai mengganti teknik mengonfirmasi dari “mengapa” menjadi “apa yang membuatmu . . .” atau “apa yang kamu rasakan . . .” untuk membantunya merasa dan mengenali emosi.
  • Yang terakhir adalah walk the talk (konsisten menjalani setiap informasi yang kami miliki)

The way we see the problem is the problem

 

Persiapan Tribuds 2017

Persiapan Tribuds 2017

Beberapa bulan ini, Kiran suka sekali bermain sepeda. Bulan Desember saya menerima informasi di Facebook mengenai kegiatan Triathlon Buddies 2017 yang akan diadakan pada tanggal 4 Februari 2017 di The Springs Club, Serpong. Acara ini adalah perayaan hari jadi Triathlon Buddies yang kelima dengan mengadakan triathlon untuk anak-anak dan dewasa. Kemudian saya beritahukan kepada Kiran apakah berminta mengikuti kegiatan tersebut. Karena belum pernah mendengar kata ‘triathlon’ akhirnya kami berselancar di dunia maya dan melihat beberapa video di Youtube mengenai triathlon yang membuat Kiran tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Sejak sebulan terakhir, kami menambahkan rutinitas baru di pagi hari, yaitu bermain sepeda. Terlihat motivasi yang menggelora dari Kiran ketika setiap malam yang biasanya tidur harus disuruh, belakangan ini Kiran tidur tepat waktu tanpa harus disuruh karena ingin segera pagi dan bermain sepeda. Setiap pagi saya dan Nuni bergiliran menemani Kiran bersepeda mengelilingi gang di sekitar tempat tinggal sampai akhirnya Kiran mengenali gang-gang kecil di sekitar tempat tinggal. Setiap bangun tidur yang pertama dikatakan oleh Kiran adalah “Ayah, lets ride bicycle. I need to practise for triathlon”.

Hari Sabtu kemarin, ada kegiatan trial untuk menyiapkan anak-anak sebelum pelaksanaan kegiatan pada awal Februari nanti. Kami tiba di lokasi pukul setengah enam pagi lengkap dengan peralatan yang diperlukan. Kiran terlihat sangat mengantuk sekaligus antusias ingin segera berkegiatan. Ketika kami tiba di lokasi, Kiran sempat minder karena tidak ada anak yang dikenalnya. Ketika sedang berbaris, Kiran melihat seorang anak dan berteriak “Hey, Ben!” dan terlihat senang bertemu teman kelas taekwondonya di RG. Setelah menerima pengarahan dari kakak pendamping, semua anak pun mulai berkegiatan diawali dengan berenang sejauh 50 meter, bersepeda sejauh 2,4 kilometer dan diakhiri dengan berlari 800 meter.

Dari persiapan ini kami bisa mengantisipasi hal-hal apa saja yang Kiran harus persiapkan untuk kegiatan sebenarnya nanti. Kiran sempat terjatuh dan lecet-lecet di bagian tangan dan kaki ketika sedang berlari karena tidak fokus dan menyenggol kakak pendamping yang sedang berlari juga sehingga Kiran harus mencium aspal. Kami mencoba menekankan kepada Kiran arti dari sebuah kemenangan dan kompetisi. Tidak bosan-bosan kami ingatkan bahwa menjadi nomor satu bukan berarti menjadi pemenang. Menyelesaikan perlombaan dengan jujur dan berusaha sepenuh hati itulah arti dari sebuah kemenangan.

Informasi tambahan: kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kategori :

NEWBIE: orang dewasa (berenang 500 meter, bersepeda 22 kilometer, berlari 5 kilometer)

KIDS A: usia 5-7 tahun (berenang 50 meter, bersepeda 2,4 kilometer, berlari 800 meter)

KIDS B: usia 8-10 tahun (berenang 100 meter, bersepeda 4,8 kilometer, berlari 1,5 kilometer)

KIDS C: usia 11-13 tahun (berenang 200 meter, bersepeda 7,5 kilometer, berlari 3,1 kilometer)

KIDS D: usia 14-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 11 kilometer, berlari 4,1 kilometer)

FAST KIDS COURSE: 11-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 14,8 kilometer, berlari 5 kilometer)

Untuk informasi lebih lanjut bisa ketuk tautan berikut ini: http://triathlonbuddies.com/