I Need Time Out for a While

Bayangkan dua kejadian ini di pagi hari, Anda sedang menyiapkan sarapan sambil mengingatkan anak Anda untuk mandi, 15 menit kemudian ternyata si anak masih belum mandi. Anda mengingatkan lagi untuk mandi. Keran air terdengar menyala dan ketika Anda melongok ke dalam kamar mandi, bak mandi penuh busa, mainan basah di lantai, isi botol shampoo habis. Kejadian yang kedua, kakak dan adik sedang main bersama. Si kakak senang sekali menggoda si adik dan adik menangis ketika digoda kakaknya. Tetapi jika kakak diam, si adik akan mulai menggoda si kakak. Anda tinggal sebentar, ternyata mereka sedang memperebutkan sesuatu, si adik menangis, dan mainan berantakan di mana-mana.

Do they sound familiar? Mungkin itu hampir pernah dirasakan oleh semua ibu ya. Kalau dipikir-pikir rasanya mau memarahi anak. Tapi apakah memarahi anak sampai suara naik beberapa oktaf akan menyelesaikan masalah? Apakah nyerocos kepada anak sampai Anda puas berarti anak mengerti kesalahannya? Tidak bunda. Penelitian menunjukkan bahwa sel-sel otak anak akan hilang apabila Anda menggunakan suara keras apalagi membentaknya. Memarahi anak di depan umum juga bukanlah cara yang baik dan bijak. Mengapa? Karena anak akan merasa malu dimarahi di depan orang lain, bahkan di depan kakak atau adiknya. Anak adalah pribadi yang punya harga diri dan harus Anda hormati. Anda juga tidak mau diperlakukan seperti itu kan? Jadi apabila Anda mengalami situasi seperti dua kejadian di atas, Time Out adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengelola emosi Anda.

Apa itu Time Out?

Time Out adalah salah satu metode self- control yang orang tua bisa lakukan di rumah ketika emosi tidak terkontrol. Pada awalnya, Time Out adalah konsekuensi yang diterapkan oleh sekolah tempat saya mengajar dulu. Ketika anak murid melakukan hal yang melanggar peraturan dan anak tersebut sudah diingatkan berkali-kali, konsekuensi yang diterima oleh anak adalah Time Out, yaitu berhenti dari kegiatan yang sedang dilakukan, duduk di kursi atau suatu tempat, dan menenangkan diri. Apabila sudah tenang kembali, anak tersebut akan diajak bicara oleh guru. Sejalan dengan ide tersebut, untuk Time Out ini, kitalah sebagai orang tua yang menggunakan metode ini untuk menenangkan diri sejenak. Apabila diri kita sudah tenang, ajak anak untuk membicarakan perilakunya dan memutuskan bersama apa yang harus diperbaikinya.

 Seperti apa teknis Time Out? Ingatkan anak untuk menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan. Katakan kepadanya bahwa Anda tidak suka dengan tindakannya dan Anda butuh Time Out. Biarkan anak duduk dan memikirkan perilakunya yang sudah membuat Anda kesal. Bicarakan insiden dengan anak Anda baik-baik setelah emosi Anda reda. Diskusikan baik-baik agar anak mengerti kesalahannya dan cari jalan keluar bersama agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Setelah beberapa kali menerapkan metode Time Out ini di rumah, anak saya mengerti bahwa ketika orang tuanya membutuhkan Time Out, berarti ada tindakan atau perilakunya yang harus diperbaiki.

Ketika bertemu Bu Septi Wulandani di event Kamtasia beberapa bulan lalu, saya menanyakan bagaimana beliau bisa mengelola emosinya ketika mengajar dan mendidik 3 orang anak yang usianya terpaut tidak jauh satu sama lain. Selama 9 tahun mengajar di sekolah menghadapi 24 anak yang setiap hari berkonflik sudah merupakan makanan sehari-hari untuk saya. Tetapi ketika menghadapi anak sendiri, sungguh menguras emosi. Bu Septi menjelaskan bahwa emosi dalam menghadapi anak itu wajar, tetapi bagaimana cara mengatasi emosi tersebutlah yang penting. Jangan sampai anak menjadi korban emosi kita yang tidak terkontrol. Cara yang Bu Septi lakukan adalah ketika beliau kesal dengan anaknya beliau memasuki ke kamar mandi, menyalakan air keran, dan menangis sampai perasaan beliau lega. Ketika perasaan lebih baik, barulah Bu Septi keluar dan kembali lagi mengajar ketiga anaknya. Setelah itu beliau akan membahas masalah yang terjadi dengan anak-anaknya. Cara yang Bu Septi pakai ternyata sama dengan Time Out yang dipakai di sekolah saya dulu. Jadi tidak hanya anak yang butuh waktu untuk menenangkan diri, orang tua juga ternyata memerlukannya.

Time Out untuk saya benar-benar bermanfaat. Selain membantu saya mengelola emosi, juga membawa dampak positif untuk anak saya. Kiran menjadi lebih peka dan lebih mengerti ketika diajak berdiskusi. Perlu diingat oleh  orang tua, sering kali ucapan yang keluar dari hati yang penuh emosi akan menyakiti orang yang menjadi lawan bicara, dalam hal ini anak sendiri.  Lagipula, marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada malah membuat kepala Anda sakit.

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Copi adalah seorang ayah yang mencoba mengajari anaknya yang bernama Paste dengan baik. Kebahagiaan Paste adalah segalanya bagi Copi. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk Paste supaya Paste bisa menjadi seorang anak yang berhasil. Tetapi Paste tidak melakukan hal-hal yang diharapkan Copi mulai merasa tidak bahagia yang kemudian ternyata sedikit demi sedikit merenggut kebahagiaan Paste. Seperti apa ceritanya? Silakan Anda tonton sendiri film singkat yang berjudul Alike.

Film singkat di atas mengingatkan saya dengan cara kita semua dibesarkan (setidaknya untuk generasi saya atau pendahulu saya), “pendidikan” sangatlah penting bagi “masa depan” kita, begitulah petuah yang sering kita dengar dari orangtua kita. Tidak ada yang salah dengan petuah tersebut karena setiap orangtua akan melakukan segalanya demi kebahagiaan anaknya.

Hanya saja bagaimana caranya kita mengetahui bahwa anak kita bahagia?

Orangtua seringkali lupa dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Bahkan kita sering mendengar ungkapan bahwa kita harus menjadi “orang” yang diartikan sebagai seseorang yang dihormati orang lain dan terpandang yang biasanya mengacu pada sebuah status, baik itu status ekonomi atau pangkat.

Orangtua mulai mengambil kendali tanpa melibatkan anaknya untuk menentukan masa depan si anak. Para orangtua mulai khawatir anaknya tidak mampu “bertahan hidup” sehingga mereka beranggapan bahwa dengan mempersiapkan anaknya lebih awal, anaknya dapat mencuri start lebih dulu sehingga anaknya bisa “tampil” dan menjadi juara. Sayangnya perilaku seperti ini bertolak belakang dengan tujuan awal memberikan kebahagiaan kepada si anak. Sebuah awal yang sangat menentukan bagi kebahagiaan si anak. Waktu bermain yang semakin sedikit, kreatifitas yang mulai dibatasi, hingga tekanan dari ketidaksiapan mental dan fisik anak yang ditumbalkan yang berawal dari rasa khawatir anaknya tidak bisa menjadi “orang”.

Apakah ini sebuah penghakiman bahwa apa yang orangtua kita lakukan salah? Tentu saja tidak. Ini adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Semua orang bertindak atas pengetahuan dan pilihan yang dimilikinya masing-masing. Analogi sederhananya adalah seperti kebiasaan kita memakan sayuran. Apakah kita memakan sayuran karena kita tahu itu sehat untuk tubuh kita meskipun kita tidak suka dengan rasanya atau kita tidak memakan sayuran karena kita tidak suka rasanya yang aneh meskipun kita tahu tubuh kita memerlukan nutrisi dari sayuran tersebut.

Mari sapa anak kita apakah dirinya merasa bahagia?

Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

Bermain Sambil Belajar di Pulau Pari

​Hari Kamis lalu Kiran, Alma, Adiva dan Syifa bersama-sama dengan kami orang tua mengikuti kegiatan eksplorasi di Pulau Pari, salah satu pulau di kepulauan seribu. Kegiatan tersebut diadakan oleh Mba Ines Setiawan dari SHINE. Di sana, anak-anak belajar tentang hutan bakau serta manfaatnya, polusi laut serta dampaknya, dan budi daya rumput laut langsung dari ahlinya.

Sebelum berlayar ke Pulau Pari, kami semua menginap di rumah Bibi Sari dan Paman Samli karena rumah mereka lebih dekat ke Pelabuhan Tanjung Pasir, tempat kapal laut yang akan membawa kami ke Pulau Pari.

Berdasarkan Itinerary, kapal akan berlayar pada pukul 6 pagi. Karena jarak yang cukup jauh dan lalu lintas yang tidak bisa diprediksi, kami berangkat pukul 4.45 pagi. Sampai di pelabuhan, waktu menunjukkan pukul 6 dan terlihat rombongan yang sudah siap menaiki 2 kapal nelayan yang akan membawa kami ke Pulau Pari. All aboard and off we went sailing to the island.

Setelah mengarungi laut selama hampir satu setengah jam, sampailah kami di Pulau Pari. Ternyata pulau yang lokasinya bersampingan dengan pulau Tidung ini cukup besar dan merupakan pulau yang dihuni oleh penduduk.

Setelah semua berkumpul, kami masih harus berjalan sekitar 10 menit menuju Pantai Perawan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh cuaca yang cerah, langit biru, pasir putih, dan air laut yang tenang. Air laut Pantai Perawan berbeda dengan pantai-pantai yang lain. Apa bedanya? Airnya tenang sekali, tidak ada ombak yang akan menarik anak-anak ketika mereka bermain, airnya juga cukup dangkal, membuat orang tua tenang membiarkan anak-anak bermain sepuasnya. Tapi tujuan kami ke sana bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi untuk belajar tentang hutan bakau, polusi laut serta budi daya rumput laut.

Materi pertama tentang hutan bakau disampaikan oleh Mr Yuri Romero. Beliau adalah seorang Marine Archeologist dan aktivis lingkungan yang berasal dari Kuba. Beliau menjelaskan tentang ekosistem laut, terumbu karang, dan pohon bakau dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh seorang pelajar bernama Mia Andika Sri Az Zahra. Penjelasan tentang hutan bakau dan ekosistem laut diakhiri Mr Romero dengan permainan interaktif antara orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa diminta membuat 5 kelompok kecil sambil bergandengan tangan dan anak-anak diminta menjadi hewan-hewan kecil di laut seperti udang, ikan dan kepiting. Sedangkan Mr Romero dan dua orang lainnya berperan sebagai pemangsa hewan-hewan kecil tersebut. Beliau menginstruksikan anak-anak untuk masuk ke dalam lingkaran orang tua untuk menghindari kejaran predator laut. Rupanya permainan ini merupakan simulasi kehidupan ekosistem laut dan hutan bakau. Permainan edukasi seperti ini memang lebih mengena bagi anak-anak.

Pemateri kedua adalah Bapak Adi Slamet Riyadi, seorang kandidat Doctor, Marine Environmental Chemistry, Ehime University, Jepang. Bapak Adi menjelaskan tentang pencemaran laut, penyebabnya, serta dampak dari pencemaran yang jelas-jelas hasil dari perilaku tidak bertanggung jawab kita semua. Bapak Adi menjelaskan bahwa pencemaran tersebut membawa pengaruh pada rantai makanan di laut yang pada akhirnya manusia jugalah yang akan merasakan dampak negatifnya.

Pemateri terahir adalah seorang petani rumput laut muda berpengalaman bernama Bapak Asep. Dengan gamblang beliau menjelaskan bahwa rumput laut pada tahun 2000 tumbuh sangat subur di perairan Pulau Pari. Namun sekarang ini sudah tidak bisa tumbuh lagi dikarenakan tingginya polusi di perairan sekitar pulau Pari yang berjarak kurang lebih 30 mil laut dari bibir pantai Jakarta.  Penyebab utama  rusaknya budidaya rumput laut di pulau Pari adalah limbah minyak dan oli dari Jakarta. Padahal masyarakat Pulau Pari menggantungkan hidupnya dari hasil laut, terutama rumput laut.

Cukup berat memang materi-materi yang diberikan oleh pembicara-pembicara hebat yang saya sebutkan diatas. Lalu apakah Kiran mengerti apa yang disampaikan? Tentu tidak ☺. Saya dan suami mengerti bahwa materi yang disampaikan pada kegiatan ini bukanlah untuk anak usia 6 tahun seperti Kiran. Lalu pembelajaran apa yang didapatkan Kiran? Dari pengamatan saya dan suami kemarin, hal-hal seperti inilah yang kami mau Kiran alami:

Menjadi bagian dari suatu kelompok

Pantai selalu menjadi tempat favorit Kiran. Namun ketika waktu bermain airnya kemarin harus terhenti karena materi akan dimulai, di situlah Kiran belajar untuk bergabung dengan peserta yang lain, menjadi bagian dari suatu kelompok.
Kiran belajar mendengarkan dan menghormati orang yang sedang berbicara
Selama sesi diskusi, kami mengingatkan Kiran untuk berada di dekat pemateri. Fokus anak usia 6 tahun seperti Kiran memang masih pendek, namun dengan Kiran mau duduk sambil bermain pasir dengan peserta lain bagi kami sudah merupakan proses belajar untuk Kiran.

Belajar bersabar dan mengesampingkan keinginan pribadinya

Durasi materi yang disampaikan oleh setiap pembicara rata-rata sekitar 45 menit. Waktu yang cukup lama untuk anak seperti Kiran untuk bisa duduk dan mendengarkan isi materi yang disampaikan. Namun, Kiran ternyata bisa bersabar sampai pembicara selesai dan akhirnya bisa kembali bermain di pantai.

Belajar berani melawan rasa takutnya

Dalam perjalanan kembali ke Pelabuhan Tanjung Pasir, kondisi laut cukup membuat hati beristighfar berkali-kali. Angin yang cukup besar membuat deburan ombak mengangkat dan mengayun-ayun kapal yang kami tumpangi. Para penumpang kapal banyak yang berteriak dan menunjukkan rasa takut. Saya berusaha keras untuk menunjukkan poker face saya kepada Kiran. Tapi sepertinya Kiran juga merasakan apa yang saya rasakan. Beruntung suami saya sangat tenang, sehingga Kiran bisa tertidur walaupun perahu terombang ambing dihempas ombak. Kiran bangun ketika perahu masih cukup jauh dari pelabuhan. Tiba-tiba Kiran bernyanyi lagu Moana, lagu favoritnya sekarang ini. Saya tanyakan mengapa dia bernyanyi, untuk melawan rasa takut jawabnya. Untuk saya jawaban yang Kiran berikan menunjukkan bahwa dia belajar untuk mengalihkan pikirannya dengan sesuatu yang ia sukai.

Bagi kami dengan ikut kegiatan seperti ini banyak sekali pengalaman yang bisa dialami oleh anak-anak. Bagaimana berinteraksi dan bersikap dalam suatu kelompok itu yang paling penting, konten mah nomor sekian, wong Kiran saja cuma ingat “Mangrove trees protect the fish from predators”, sisanya lupa.

Family Team Building with Jakarta Homeschool Club

Tahun ini kami kembali diundang oleh Ibu Ida Luther  untuk menghadiri kegiatan JHC (Jakarta Homeschool Club) dengan tema family team building yang diadakan hari Sabtu, 10 Desember 2016 di Vila Bukit Hambalang. (Cerita tahun lalu bisa dibaca di sini)

Sekilas mengenai masa kanak-kanak saya yang dibesarkan di dalam masyarakat yang mengharamkan saya untuk mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya. Bahkan ketika tiba di Jakarta, keluarga saya sempat khawatir karena saya tinggal selama bertahun-tahun dengan keluarga penganut Kristen bahkan teman saya adalah Leader Assistant organisasi BSF (Bible Study Fellowship) dari Bethlehem. Cemoohan dari orang-orang sekitar sering saya dengar, mulai dari kafir, murtad, liberal dan sebagainya. Tapi biarlah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya tidak memiliki waktu untuk membenci orang lain.

Inilah alasannya mengapa saya anti sekali dengan pemberian label terhadap sesuatu. Status agama, status ekonomi, status pendidikan, dan label-label lainnya yang semakin menjauhkan kita sebagai manuasia. Interaksi antar manusia mulai tersaring karena label-label tersebut. Segala sesuatu yang berkaitan dengan label-label tersebut selalu menjadi isu seksi untuk dibahas dan dijadikan pergunjingan. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keindahan. Semua harus sama, bahkan dikerucutkan lagi harus menjadi satu golongan.

Melihat kondisi toleransi antar umat di negeri tercinta yang sudah mulai terkikis semakin memperkuat kami untuk menunjukkan kepada Kiran arti dari kerukunan hidup beragama yang sudah menjadi pemandangan langka di negeri ini. Mengenali dan memahami setiap umat dengan keyakinannya masing-masing dapat membawa kebahagiaan untuk yang melakukannya. Setiap ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya. Bukan kebencian dan kekerasan.

Dalam kegiatan ini Kiran mulai mengamati bagaimana umat lain berdoa, bersyukur dan melakukan perayaannya tanpa sedikit pun merasa terganggu atau canggung dengan keberadaan kami. Semua orang menyambut kami dengan ramah dan memuliakan kami sebagai tamu mereka. Kami mengobrol, bersenda gurau dan bermain bersama seharian. Tua dan muda berkumpul bersama. Tidak ada label yang melekat, sungguh tidak terasa perbedaan di antara kami semua, kami hanyalah para manusia tanpa label yang sedang bergembira.

Kegiatan diawali dengan sarapan bersama kemudian semua orang menyalakan lilin sebagai sebuah simbolisme sambil menyanyikan lagu Joy to the World. Selanjutnya kami berkegiatan bersama dipandu oleh Pak Dudi dan timnya dari Bandung melakukan beberapa permainan yang membuat kami semua tertawa lepas bahkan sampai menangis terpingkal-pingkal. Setelah berkegiatan bersama, kami istirahat untuk menyantap makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Character Recognition Certificate. Sertifikat ini diberikan kepada setiap anak atas pencapaian masing-masing anak di setiap tahun.

Ibu Ida memanggil setiap anak ke depan dengan menyelamati mereka atas pencapaian mereka. Tahun lalu Kiran mendapatkan nilai Tolerance untuk Character Recognition Certificate yang diterimanya. Tahun ini Kiran mendapatkan Sincerity. Berbeda dengan Kiran, anak-anak JHC mendapatkan penilaiannya dari observasi langsung ketika mereka berkegiatan bersama. Ibu Ida mencatat nilai-nilai yang menonjol dari setiap anak.

Setelah acara pemberian sertifikat selesai, anak-anak saling bertukar kado yang sudah disiapkan sebelumnya. Nilai kado ditentukan seharga Rp 25.000 supaya tidak memberatkan tetapi tetap tidak menghilangkan semangat berbagi di antara anak-anak. Nampak wajah-wajah yang sudah tidak sabar menantikan kegiatan bertukar kado ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita. Setiap keluarga maju ke depan dan mengucapkan rasa syukurnya tahun ini.

Ini adalah bagian yang paling saya sukai karena setiap orang menyampaikan rasa syukurnya dan mengingatkan saya atas segala kekhilafan saya untuk hal-hal yang tidak pernah saya syukuri. Kami pun mendapatkan giliran dan menyampaikan rasa syukur kami tahun ini bahwa Nuni sudah berhenti bekerja dan dapat meluangkan waktu lebih banyak bersama saya dan Kiran. Sedangkan rasa sykur Kiran tahun ini adalah “I am thankful because I can sleep late until 10 O’clock”. Saya terkesima dengan kepolosan, kesungguhan dan kedewasaan setiap anak ketika menyampaikan rasa syukurnya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan untuk kami semua.

Banyak sekali kegiatan yang menginspirasi kami ketika kami berada di sana. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Luther dan Kim yang sudah mengundang kami dan memberikan kesempatan kepada keluarga kami untuk belajar. Oma Wang dan Oma Maria yang selalu bersemangat di usianya yang sudah senja, salut! Terima kasih juga untuk penerimaan dan keseruannya kepada seluruh keluarga JHC.

Kami sangat berharap dapat memperkenalkan Kiran pada ajaran agama lainnya secara langsung jika ada kesempatan supaya ketika besar nanti Kiran dapat bertumbuh menjadi seorang penyayang terhadap sesamanya, tanpa memedulikan label yang melekat pada orang tersebut.

Presentasi Proyek Bersama

Presentasi Proyek Bersama

Hari Selasa lalu kami melakukan kegiatan seperti biasa di rumah Bibi Nada. Tetapi pertemuan kali ini sedikit berbeda dari pertemuan Selasa lainnya, karena anak-anak mempresentasikan hasil diskusi dan kerja sama antar partner untuk proyek pertama mereka, yeiyy, we are so excited! Anak-anak sudah mempersiapkan proyek ini dari satu minggu yang lalu seperti yang telah dibahas oleh Ayah Kiran sebelumnya. Jadi setiap anak bekerja dengan satu orang temannya untuk mencari solusi dari masalah yang selalu ada ketika bertemu setiap hari Selasa, seperti tidak mau main bergantian, memilih teman, bermain yang aman, dll. Berkat proyek perdana ini, anak-anak juga jadi tahu yang namanya Video Call menggunakan aplikasi Google Hangout, wah lucu deh melihat tingkah polah anak-anak itu ketika melihat wajah temannya di layar HP. Diskusinya 5 menit, bercandanya satu jam hahaha.

Jam 10 tepat kegiatan di mulai. Bibi Sari menawarkan diri untuk menjadi fasilitator kegiatan anak-anak kali ini. Ada yang menarik dari sesi berbagi kali ini, hampir semua anak mencoba untuk memberikan tebak-tebakan! Ya, tebak-tebakan. Seperti tebakan yang diberikan oleh Kiran, “What car that starts with letter L?” Semua orang termasuk orang tua yang mendampingi berusaha untuk menjawab. Ada yang menjawab Lexus tetapi ternyata Tetooott, salah jawabannya. “La Ferrari” jawab Ahsan. dan ternyata jawabannya benar. Tetapi namanya juga anak-anak, ada tebakan yang serius dan ada tebakan yang ngga nyambung. Tapi itu semua menambah keceriaan kami semua.

Selesai pertemuan pagi, anak-anak kami berikan waktu untuk bermain sampai waktunya makan siang. Masih mengusung konsep ala Reggio Emilio, anak-anak bermain tanpa mainan sama sekali. Kami mencoba membiarkan anak-anak untuk mengembangkan imajinasi bersama-sama dengan menggunakan keadaan di lingkungan sekitar rumah Bibi Nada.

Para orang tua pun hampir semua sedang mencoba menjalani pola makan Ketogenic, yaitu pola makan rendah karbo dan tinggi lemak. Jadi makan siang setiap selasa selalu tersedia makanan berlemak dan berkolesterol tinggi hihihi. Bibi Nadalah yang membuat kami mau mencoba pola makan ini. Tujuan pola makan ini Cuma satu: hidup lebih sehat plus bonus berat badan yang turun. Semangat teman2, semoga kita sehat selalu!! Salam lemak!!

Selesai makan siang, anak-anak bersiap untuk mempresentasikan proyek mereka masing-masing dan difasilitasi oleh Paman Simon. Presentasi dimulai dari Ahsan dan Alma yang menjelaskan bagaimana bermain yang nyaman. Ahsan dan Alma bersama-sama membuat poster dan menggambar. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi dari Akhtar dan Rava. Kedua anak ini masing-masing membuat poster dan menjelaskan bermain dengan semuanya dan tidak memilih teman. Selanjutnya, Adiva dan Rendra yang mempresentasikan cara menjadi pendengar yang baik. Adiva dan Rava menggambar bersama-sama sebelum memulai menjelaskan hasil diskusi mereka. Presentasi proyek diakhiri dengan penjelasan dari Kiran dan Syifa yang menjelaskan bagaimana caranya bergiliran. Syifa dan Kiran memutuskan untuk merekam hasil diskusi mereka dengan bantuan Paman Ian supaya video mereka bisa diunggah di Youtube.

Tak lama sehabis presentasi terakhir selesai, hujan mulai turun dengan derasnya dan anak-anak pun mengakhiri presentasi perdana hari itu dengan hati gembira, karena sehabis itu mereka mandi hujaaaaaannn. Wah, raut muka mereka terlihat sangat bahagia ketika semua orang tua memberikan mereka izin untuk bermain bersama di bawah guyuran air hujan.

Pengalaman hari ini sangat berharga, anak-anak memulai Problem Based Learning perdana mereka dengan lancar. Semoga dengan dimulainya PBL ini, anak-anak akan semakin peka dalam menganalisis masalah dan semakin mudah mencari solusi atas masalah yang terjadi di sekitar mereka. Semoga ilmu yang mereka pelajari sekarang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.