Say Good Night, Lizzy – Reading B6

Reading Time: 2 minutes

Say Good Night, Lizzy

Hari ini Kiran membaca buku “Say Good Night, Lizzy”.

Ketika membaca, Kiran terburu-buru sehingga ada beberapa kata yang ditebak meskipun Kiran sudah mengenali kata-kata tersebut, seperti, said dibaca say, lived dibaca loved, ever dibaca every. Saya harus mengingatkan Kiran untuk membaca lebih tenang dan tidak tergesa-gesa.

Dalam buku ini terdapat kosakata baru yang belum pernah Kiran lihat seperti, another, begged, please, late, tucked, turned, light, dan Stanley. Kiran tidak mengalami kesulitan membaca kata-kata tersebut dengan menggunakan metode pengejaan penggabungan bunyi huruf (blending sound).

Say Good Night, Lizzy

Kiran sempat terhenti membaca kata-kata yang sudah dikenalinya dan saya mengingatkan Kiran untuk menggunakan metode pengejaan seperti di atas untuk membaca kata-kata berikut: drink, call, with, until, hear,closed, dan fell.

Berdasarkan buku yang dibacanya hari ini, Kiran sudah

  • bisa melafalkan initial consonant blend ‘st’ seperti pada kata ‘story’, ‘Stanley’, dan ‘stay’.
  • bisa melafalkan vowel diagraph ‘oo’ seperti pada kata ‘book’, dan ‘good’.
  • mengenal high-frequency words ‘said’ dan ‘good’

Setelah selesai membaca buku, Kiran saya suruh menceritakan kembali buku yang dibacanya. berikut ini cerita ulang versi Kiran.

“Lizzy is going to bed. Lizzy’s dad ask her to sleep but Lizzy’s dad is the one who sleep first.”

Sam Starts School – Reading B5

Reading Time: 1 minute

Sam Starts School

Berikut ini adalah catatan anekdot Kiran untuk kegiatan membaca buku yang berjudul Sam Starts School:

Buku ini bertemakan sekolah. Kiran mengenal kata-kata yang berkaitan dengan tema seperti, school, teacher, food, homework, children, dan lunch.

Kiran masih melafalkan kata ‘want’ sama dengan pelafalan pada kata ‘went’. Kiran mengalami kesulitan untuk melafalkan kata ‘my’ karena Kiran mengenal huruf ‘y’ di akhir kata sebagai bunyi ‘i’ sehingga melafalkannya seperti pada kata ‘me’.

Sam Starts School

Kiran sempat terhenti tetapi mampu melanjutkan bacaannya setelah membunyikan huruf-hurufnya ketika menemui kata-kata berikut: teacher, nobody, really, other, given, dan ever.

Berdasarkan buku yang dibacanya hari ini, Kiran sudah 

  • bisa melafalkan long vowel i_e seperti pada kata like, likes, dan nice
  • bisa melafalkan long vowel o_e seperti pada kata homework dan home
  • menggunakan high frequency words ‘don’t’, ‘like’, dan ‘say’

Setelah selesai membaca buku, Kiran dapat menjelaskan perasaan Sam sebelum memasuki sekolahnya dan setelah selesai sekolah.

First Sam was afraid to go to school, but later he likes it.

Going to The Doctor – Reading B4

Reading Time: 2 minutes

Kiran sudah mulai menunjukkan ketertarikan dan konsisten dengan kegiatan membacanya yang sudah berlangsung selama dua minggu. Kegiatan ini Kiran lakukan setelah menyelesaikan 4 simple stepnya. Dulu kegiatan membaca mandiri ini masih terjadi secara spontan ketika Kiran merasa ingin melakukannya atau ketika kami melakukan DEAR time (Drop Everything And Read). 

Sayangnya kegiatan ini tidak kami dokumentasikan dari awal karena kami mengira Kiran belum konsisten melakukannya. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, betul? Kebetulan juga pada kegiatan hari Selasa lalu, kami mulai mencatat perkembangan anak-anak ketika berkegiatan bersama dengan membuatkan anecdotal record (catatan anekdot) per anak ketika mempresentasikan hasil karyanya kepada kami.

http://belajarbersama.com/ini-tanggung-jawabku-apa-tanggung-jawabmu/

Berikut ini hasil pengamatan saya hari ini:

Setelah menyelesaikan rutinitasnya di pagi hari, Kiran mengambil buku Going to The Doctor (B4). Kiran sudah mulai mengenali silent ‘e’ seperti pada kata ‘shake” dan ‘brave’. Kiran masih harus diingatkan membunyikan abjad dan menggabungkannya ketika menemui kata baru seperti ‘nurse’ dan ‘crying’ 

Kiran masih membaca huruf ‘b’ sebagai huruf ‘d’. Begitu pula dengan kata ‘want’ yang dibaca dengan pelafalan yang sama seperti pada kata ‘went’.

Setelah selesai membaca bukunya, Kiran saya suruh menceritakan kembali dan berikut kutipannya:

Sam going to the doctor. Sam goes to the doctor because he is sick. He is flu. And he is brave. The bear make him brave. Sam huges the bear so Sam is brave.

Kiran sudah menunjukkan konsistensinya dalam kegiatan membaca secara mandiri. Situasi ini menunjukkan kesiapannya untuk belajar membaca sendiri. Kiran masih memerlukan bantuan dan motivasi ketika menemukan kata baru.

Berdasarkan buku yang dibacanya hari ini, Kiran sudah

  • bisa melafalkan initial consonant blend seperti pada kata brave” dan bring’
  • menggunakan high frequency word  ‘to’ di dalam buku ini, dan
  • bisa melafalkan long vowel a_e seperti pada kata ‘shake dan ‘brave‘.
Bermain Bersama di Alam Bebas

Bermain Bersama di Alam Bebas

Reading Time: 3 minutes

Kami memiliki agenda bulanan untuk bermalam bersama dengan tujuan mempererat ikatan di antara keluarga. Di Jakarta semua kegiatan selalu diadakan di dalam ruangan, sulit sekali untuk berkegiatan di luar ruangan. Oleh karena itu kami merasa ada baiknya memiliki agenda bulanan bersama anak-anak supaya mereka bisa bermain di alam bebas dan merasakan keindahan alam secara langsung. Beberapa kali kami berkemah bersama tetapi kali ini kami menginap di rumah Paman Rian yang berlokasi di Parakan Salak, Sukabumi. Kami menginap di sana selama 3 hari 2 malam.

Setelah menempuh perjalan selama tiga jam kami tiba di rumah Paman Rian dan kami semua langsung disuguhi pemandangan luar biasa, para petani yang sedang menanam padi. Terik matahari mulai terasa menyengat kulit. Terlihat seorang petani membuat pola kotak-kotak menggunakan peralatan sederhana di sawah yang tanahnya sudah diolah untuk membantu petani lainnya menanam padi menggunakan pola tersebut sebagai panduan jarak tanam. Di saat yang sama petani-petani lainnya yang kebanyakan adalah perempuan bekerja beriring menanam bibit padi di area yang sudah disiapkan. Anak-anak kami sangat beruntung karena untuk pertama kalinya mereka menyaksikan secara langsung proses penanaman padi. Anak-anak melihat usaha para petani yang bekerja keras untuk menanam padi.

Setelah puas mengamati para petani bekerja di sawah, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sungai yang terletak tidak jauh dari sawah. Kami melewati kebun singkong di mana tanaman-tanaman tersebut tumbuh tinggi menunjukkan kesuburan tanahnya. Anak-anak pun melewati tumpukan jerami sisa panen sebelumnya dan melakukan pengamatan singkat di sana.

Tidak lama kemudian kami pun tiba di sungai. Anak-anak terlihat sangat menikmati waktu mereka di sungai. Mungkin karena aliran airnya yang tidak begitu deras membuat mereka nyaman bermain di sana. Mereka melompat ke sana kemari mencoba memuaskan keingintahuan mereka di sungai. Mereka menemukan kepiting, ikan dan udang di sungai yang sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun melempari sungai dengan bebatuan  dan mengamati cipratan air yang terjadi menggunakan ukuran batu yang berbeda. Setelah puas berbasah-basah mereka pun kembali ke rumah Paman Rian dan membersihkan diri. Ternyata beberapa jam kemudian mereka mengajak kami pergi ke sungai lagi. Keriangan pun terjadi lagi di sungai dan mereka kembali ketika matahari hampir terbenam. Senangnya melihat mereka bermain bebas di alam terbuka. Syukur kami terhadap berkah dan karunia-Nya.

Keesokan harinya Paman Rian dan Bibi Rina mengajak kami untuk mengunjungi sebuah Situ Gunung di Cisaat. Kami menempuh perjalanan selama dua jam untuk tiba di lokasi. Ternyata danau ini terletak di bawah kaki Gunung Pangrango. Tidak banyak yang kami lakukan di sana selain makan dan menikmati pemandangan di sekitar danau yang diramaikan oleh kegembiraan anak-anak yang sedang asyik bermain bersama. Setelah kami semua memuaskan diri di sana, kami pun kembali untuk menyantap makan siang bersama. Setelah makan siang, kira-kira kegiatan apa yang anak-anak lakukan? Bermain di sungai (lagi).

Dua jam kemudian mereka sudah kembali. Terdengar teriakan mereka dari tengah sawah berlari kembali menuju rumah karena hujan mulai mulai turun dan semakin deras. Hujan tidak berhenti sampai malam hari dan kami pun mengisi waktu kami dengan mengobrol bersama dan anak-anak menyibukkan diri mereka dengan berbagai kegiatannya menghibur diri mereka sendiri dengan bermain bersama. Memang benar, dalam keadaan terbatas, anak-anak dapat mengeksplorasi imajinasinya tanpa harus dimanjakan dengan berbagai mainan (edukatif). Beberapa konflik terjadi tetapi pada akhirnya mereka dapat menyelesaikannya sendiri. Malam pun tiba dan suara obrolan kami digantikan oleh keheningan malam yang diiringi kemerduan suara binatang-binatang di sawah. 

Hari terakhir, kami pun mendapatkan kejutan karena pada pagi hari kami berjalan kaki ke pasar tradisional untuk sarapan di sana ternyata tidak jauh dari sana kami menemukan danau kecil yang bernama Situ Sukarame dan rencana sarapan di pasar pun batal dan kami menghabiskan pagi menyusuri pinggir danau. Anak-anak menaiki rakit untuk menyeberangi danau dan melihat seekor kalajengking yang telah mati. Sekali lagi mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan di Jakarta. Meskipun anak-anak kelelahan tetapi semuanya merasa senang.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 dan kami pun kembali ke Jakarta dengan perasaan senang luar biasa. Terima kasih Bibi Rina, Paman Rian, Rafa dan Rendra untuk pengalamannya yang tidak akan terlupakan. Banyak hal yang anak-anak pelajari di dalam kegiatan ini. Selama tiga hari anak-anak bermain bersama dan semakin mengenal satu sama lain. Obrolan malam orangtua pun menarik untuk ditindaklanjuti. Obrolannya tentang apa? Nanti saja saya ceritakan kalau sudah terealisasi supaya penasaran  😉 

CATATAN

Dalam perjalanan ini kami menggunakan aplikasi Wave untuk memantau masing-masing kendaraan ketika sedang berkendara sehingga mempermudah kami ketika kendaraan kami terpencar cukup jauh. Wave adalah sebuah aplikasi untuk berbagi lokasi secara waktu nyata (real time) dengan kontak yang kita pilih dan waktu akses pun dapat kita batasi mulai dari 15 menit sampai dengan 8 jam demi kenyamanan privasi penggunanya. Fungsinya lebih kurang sama seperti Life360 tetapi dengan batasan waktu sehingga para pengguna Wave hanya saling berbagi akses  ketika diperlukan saja sedangkan Life360 tidak dibatasi oleh waktu dan selalu terhubung setiap saat (meskipun bisa kita matikan secara manual di bagian pengaturan jika diperlukan). Aplikasi ini pun dilengkapi dengan fitur chat dan bisa melakukan panggilan. Kita bisa berbagi lokasi dengan salah satu kontak kita atau secara berkelompok dengan cara membuat grup (maksimal 10 kontak).

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Reading Time: 2 minutes

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .