Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta ūüôā

Apology of Action

Apology of Action

Selamat sore semuanya, apa kabar hari ini? Semoga kita semua sehat-sehat selalu ya. Saya sedang berada di atap Mall Kota Kasablanka, menemani Kiran berenang. Di kejauhan saya melihat dua orang anak laki-laki mengambil kacamata renang seorang anak perempuan, adik salah satu anak laki-laki sepertinya. Si anak perempuan itu menangis dan kedua anak laki-laki itu dimarahi oleh seorang perempuan. Saya jadi ingat kejadian Selasa lalu di rumah bibi Nada.

Waktu itu terjadi insiden yang melibatkan duo sahabat Kiran dan Ahsan ketika sedang berkegiatan di rumah Alma. Insiden tersebut mengakibatkan hancurnya mainan pesawat milik Alma dan Maji sampai berkeping-keping. Memang apa yang dua anak ini lakukan? Jadi sepertinya mereka ingin mengetahui hubungan antara barbel 1 kilo, pesawat replika plastik besar dan gaya gravitasi bumi. Mereka menjatuhkan barbel 1 kilo itu ke atas pesawat plastik Alma. Hasilnya sudah bisa ditebak, hancur minaahh itu pesawat.

Apology of Action

Korban

Mengetahui pesawatnya hancur, Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Tapi apa gunanya polisi kalau masalah bisa selesai hanya dengan meminta maaf? Meskipun Alma memaafkan Kiran dan Ahsan, tetap ada konsekuensi yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengganti pesawat mainan Alma yang rusak. Kalau di ilmu keguruan yang saya pernah pelajari, konsekuensi yang Kiran dan Ahsan harus jalani ini disebut Apology of Action, yaitu permintaan maaf yang diiringi oleh tindakan nyata sebagai rasa tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. You break it, you fix it, istilahnya begitu. Kamu merusakkan mainan aku, kamu harus perbaiki. Tidak bisa diperbaiki? Ganti dengan yang baru. Jadi dengan konsekuensi logis seperti ini, diharapkan anak akan belajar dari perbuatan mereka sehingga di kemudian hari tidak melakukannya lagi. Ada 3 jenis konsekuensi logis yang bisa diterapkan kepada anak-anak, nanti akan saya bahas ditulisan selanjutnya.

Jadi apa konsekuensi logis yang Kiran dan Ahsan lakukan? Berdasarkan diskusi antara Kiran dan Ahsan yang didampingi oleh kedua orang tua, mereka sepakat akan mengumpulkan uang untuk mengganti pesawat Alma. Harga pesawat tersebut menurut Bibi Nada sekitar 80 ribu, jadi Kiran dan Ahsan akan patungan masing-masing 40 ribu dan akan membeli pesawat tersebut bersama-sama. Di rumah, Kiran dan Ahsan berdiskusi dengan orang tua masing-masing tentang bagaimana cara mengumpulkan uang.

Pada hari Rabu, saya berdiskusi dengan Kiran, bagaimana caranya mengumpulkan uang. Awalnya Kiran mau membuat kartu dan menjualnya ke om dan tantenya, tapi karena anaknya ogah nulis banyak, ide itu dicoret. Ide selanjutnya Kiran mau menjual beberapa mainannya, tapi karena galau tak berkesudahan, coret lagi hehe. Sampai akhirnya tersebut ide membuat kue. Kebetulan setiap hari Jumat itu Cooking Project Day, jadi sekalianlah kami berproject ria membuat Genji Pie cookies. Kenapa Genji Pie cookies? Kebetulan Kiran suka sekali makanan itu, dan berhubung membuatnya gampang banget dan cepat, jadilah kue tersebut kami eksekusi.

Hasil diskusi kami tulis di papan diskusi. Sebenarnya Kiran punya cukup uang miliknya untuk membeli pesawat baru, tapi saya dan ayahnya sepakat untuk tetap menyarankan Kiran mencari uang. Niat kami untuk mengajarkan tanggung jawab kepada Kiran atas segala tindakan yang dilakukannya. Judulnya jualan, padahal modal membeli bahannya saja 70 ribu dan diambil dari uang tabungan Kiran hahahaha.

Biasanya kalau cooking project sama Kiran itu ngga lama, at least Kiran membantu di awal-awal untuk mencampur bahan dan mencetak beberapa kali dan di akhir untuk menyapu lantai dan membereskan peralatan. Karena fokusnya masih singkat, biasanya saya yang meneruskan perjuangan sampai selesai. Nah untuk cooking project kali ini Kiran benar-benar melakukan dari awal sampai akhir. Mulai dari mencetak adonan, memotong, memasukkan ke stoples, sampai mempromosikan hasil kuenya ke pembeli. Cooking project kami mulai dari jam 10 dan selesai jam 3. Waktu yang cukup lama untuk Kiran karena teman-teman di rumah sudah bolak-balik memanggil Kiran untuk mengajak bermain bersama. Tapi karena project kuenya belum selesai, Kiran tidak bisa bermain. Terlihat wajahnya sedih karena tidak bisa bermain dengan temannya dan kami harus mengingatkan Kiran kembali kenapa ia harus melakukan project ini. Untuk satu stoples kue dijual 15 ribu rupiah. Alhamdulillah dagangan (hasil nodong om tante kakek dan ayah) laris manis hehe.

Di malam hari, saya mengulas kembali kegiatan hari ini dengan Kiran, saya senang Kiran bisa mengalami konflik seperti ini. Semoga apa yang Kiran dan Ahsan pelajari dari konsekuensi yang mereka lakukan, membuat mereka lebih berhati-hati lagi ketika bermain.

Cooking Project . . . and Much More . . .

Cooking Project . . . and Much More . . .

Hari selasa ini tanpa direncanakan ternyata banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Bahkan dimulai dari jam 8 pagi. Dan ini dimulai dengan kegiatan untuk para orangtua, latihan kungfu . . .

Olah Raga

Karena ada permintaan dari teman-teman akhirnya saya mencoba memberikan latihan kungfu. Belum bisa disebut latihan sih… lebih tepatnya olahraga beladiri kungfu.¬† Untuk hari pertama ini pesertanya baru 4 orang. Lumayanlah, mudah-mudahan minggu depan bertambah. Sayangnya Bibi Anita belum bisa bergabung karena masih flu, dan Bibi Yulia masih repot dengan Angkasa dan sayur asemnya . . .

Sementara para orangtua berjuang mengatasi badannya yang kaku, anak-anak bermain sendiri di dalam rumah. Kecuali Maji, yang senang sekali bergabung dengan kami. Bahkan karena terlalu dekat akibatnya kena sikut ibunya sendiri ūüôā

Semangat ya paman dan bibi, minggu depan kita latihan lagi supaya badan tambah kuat dan sehat. Kita perlu energi banyak untuk menangani anak-anak .

Setelah beristirahat sejenak, dan mandi tentunya, kami memulai cooking project. Hari ini anak-anak membuat piza . . . mudah sekali membuat piza. Base yang dipakai ada 2 macam, roti piza yang sudah jadi, dan kulit tortilla. Keduanya bisa dibeli di supermarket, sudah matang dan aman dimakan langsung. Kulit tortilla lebih enak karena tipis jadi toppingnya lebih terasa.

Untuk toppingnya kami sediakan saos tomat sebagai dasar, dan beraneka macam topping seperti: sosis, bawang bombay, paprika, nanas, ditutup dengan keju cheddar dan mozarella tentunya. Selain topping yang rasanya gurih, disediakan juga topping yang manis. Seperti strawberry jam, peanut butter, dan coklat tabur.

Anak-anak belajar banyak dalam kegiatan ini. Mereka belajar untuk menyimak dan mendengarkan, belajar mengikuti instruksi yang diberikan, belajar berhitung ketika memarut keju, dan belajar menanti giliran.

Setelah semua bahan topping dipotong, sekarang waktunya anak-anak berkreasi di atas piza mereka. Dan . . . topping favorit semua anak adalah sosis dan keju. Itu berarti masih banyak topping yang lain untuk piza para orangtua. Untuk memanggang piza pun tidak terlalu lama. beberapa menit saja di oven sudah siap makan. Ini karena roti piza yang dipakai sudah matang. Jadi tinggal melelehkan kejunya saja supaya terlihat menarik. Sekarang waktunya makan . . . semua terlihat enak. Great job kids! mari nikmati piza kreasi kita sendiri. Kalau kurang nanti kita buat lagi di rumah ya.

Setelah pesta piza, kegiatan diteruskan dengan makan siang. Yes. Makan siang dengan lauk sayur asem, ikan asin, ikan goreng, tempe dan tahu, tak ketinggalan sambel. Memang para orangtua ini perutnya dobel sepertinya.

Sambil menikmati makan siang kami menonton film The Beginning Of Life. Sebuah film dokumenter di 9 negara tentang proses perkembangan bayi dan anak usia dini. Film yang sangat bagus untuk belajar parenting. Mengingatkan kembali betapa berharganya seorang anak dan betapa pentingnya peran kita sebagai ayah dan ibu.

Selama para orangtua menonton, anak-anak sibuk bermain di luar. Dan seperti biasa terjadi beberapa insiden kecil di antara mereka, yang biasanya bisa mereka selesaikan sendiri tanpa campur tangan orangtua. Tapi kali ini ada insiden yang cukup besar dampak kerusakannya. Ahsan dan Kiran rupanya bereksperimen apa yang terjadi kalau barbel seberat 2 kg dijatuhkan di atas mainan pesawat Alma yang terbuat dari plastik. Dan hasilnya mainan pesawat itu hancur. Di sini Paman Ian mengambil inisiatif sebagai mediator. Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Dan setelah berdiskusi disepakati kalau mereka akan mengganti mainan pesawat tersebut dengan mainan yang serupa. Dan mereka harus menggantinya dengan uang mereka sendiri. Ini akan menjadi project Ahsan dan Kiran selama 1 minggu ke depan. Bagaimana mereka berusaha mendapatkan uang dengan usaha mereka sendiri untuk mengganti mainan Alma yang rusak? Dan bagaimana mereka berusaha mencari mainan yang serupa, bahkan pergi bersama-sama untuk membelinya. Tentu saja didampingi orangtua.

Korban Eksperiment Ahsan dan Akhtar

Kita nantikan cerita perjalanan Ahsan dan Kiran minggu depan.

Piknik di Kebun Raya Bogor

Piknik di Kebun Raya Bogor

Ada 2 tujuan utama kegiatan kami kali ini. Pertama, mencari ruang bergerak untuk anak-anak agar bisa leluasa bermain. Dan yang kedua, kami orangtua yang mencari tempat ngunyah-ngunyah lucu dengan setting yang berbeda. Akhirnya, Kebun Raya Bogor pun jadi pilihan yang pas.

Jam 8 pagi kami sudah berkumpul di stasiun Lenteng Agung untuk berangkat menggunakan KRL menuju Bogor. Paman Ian memberikan peraturan singkat kepada anak-anak untuk tidak berlari-lari dan harus selalu berpegangan tangan. Perjalanan naik kereta dari Lenteng Agung ke Bogor hanya 2000 rupiah/orang. Sangat murah. Kalau tidak punya kartu e-money Mandiri atau flazz, BCA, bisa menggunakan kartu single trip dengan jaminan 10.000 rupiah. Jaminan ini bisa diambil kembali setelah kita mengembalikan kartu ke loket. Sesampainya di stasiun Bogor, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot nomor 2. Cukup bayar 4000 rupiah sudah sampai di depan gerbang Kebun Raya Bogor.

Untuk masuk ke Kebun Raya Bogor kami harus membeli tiket masuk seharga 15.000 rupiah perorang. Kemudian kami mencari tempat untuk menggelar tikar dan yang terpenting, gelar makanan.

Dan seperti biasa, Bibi Yulia selalu juara dalam mempersiapkan bawaannya. Rantang susun dengan isi beraneka macam lauk, pudding, buah dan sirup lengkap dengan es batu. “Nggak sekalian bawa kursi dan meja makan nih, Bibi Yulia?” Pokoknya ke mana pun dan di mana pun kami beraktivitas dijamin tidak akan kelaparan.

Sebenarnya kami belum merencanakan aktivitas anak-anak selama berada di sana. Paling hanya ke museum Zoologi, tapi itu pun kami rencakanan pada saat pulang nanti. Tapi kenyataannya anak-anak memang tidak memerlukan rencana untuk bermain dan bersenang-senang. Berikan mereka lapangan luas, bola dan alam. Mereka pun bersenang-senang dan membuat sendiri permainan dari apa yang mereka temukan. Dedaunan, batu, batang pohon, serangga, serta Paman Simon. Terhitung mulai dari jam 10 sampai jam 4 sore tidak sekalipun terucap kata bosan atau capek dari mulut mereka. Berbeda dengan kami orangtua yang kelelahan padahal seharian hanya duduk-duduk ngobrol dan ngunyah. Mungkin ke depannya perlu dibuatkan juga aktivitas untuk kami agar stamina tetap terjaga.

Piknik usai, kami pun mengunjungi Museum Zoologi. Waktu operasional museum adalah jam 07.30 sampai dengan 16.00 dan sekarang tidak perlu membayar lagi karena tiket Kebun Raya Bogor sudah termasuk tiket masuk Museum Zoologi. Di sini pun tidak kalah serunya. Anak-anak bisa melihat berbagai macam binatang yang ada di Indonesia termasuk kerangka paus yang dahulu terdampar di Pantai Pamengpeuk. Seru sekali aktivitas kami kali ini. Selanjutnya wisata ke mana lagi ya? Ada ide?

Memberi Ruang kepada Kakak Beradik

Memberi Ruang kepada Kakak Beradik

Punya anak dengan jarak usia relatif dekat (2 thn), jenis kelamin sama, dan muka juga mirip-mirip. Saya harus hati-hati dalam memperlakukan mereka. Saya harus selalu mengingat bahwa mereka itu 2 manusia yang berbeda; beda karakter, beda keinginan, dan yang pasti ingin diperlakukan dengan berbeda juga.

“De, kok nggak ikut latihan futsal seperti Mas?”

“De, kok ikutnya dance sih liat tuh mas nya latihan basket”

“Mas, kok bayamnya tidak dimakan? Ade, makan bayamnya lahap sekali loh”.

Mungkin tanpa sadar kita pernah melontarkan kata-kata diatas. Terkadang sebagai orang tua pengennya yang gampang-gampang aja. Melontarkan kata-kata di atas jelas akan sangat mudah membakar persaingan di antara keduanya. Untuk jangka pendek sangat meringankan pekerjaan saya tentunya. Dengan mudahnya mereka akan terpancing dengan kalimat-kalimat di atas. Tetapi sayang, kemudahan-kemudahan itu hanya akan menambah masalah baru di kemudian hari. Bukan hanya sibling rivalry yang muncul, mereka menjadi tidak tahu apa yang sebetulnya yang mereka inginkan. Mereka mengerjakan sesuatu hanya demi persaingan semu yang dibentuk oleh pertanyaan ataupun pernyataan seperti contoh di atas. #tepokjidat #sadarlah #waraslah

Sebagai orang tua seringkali kita terjebak untuk membandingkan anak-anak kita dengan alasan keseragaman biar-nggak-ribet, biar-gampang, dan biar-biar lainnya yang hanya akan merusak fitrah si anak.

Semoga kita selalu diberi kewarasan untuk selalu mengapresiasi mereka apa adanya sesuai dengan karakter masing-masing dan mereka bisa menjadi dirinya sendiri dengan segala keunikannya.