Family Team Building with Jakarta Homeschool Club

Reading Time: 3 minutes

Tahun ini kami kembali diundang oleh Ibu Ida Luther  untuk menghadiri kegiatan JHC (Jakarta Homeschool Club) dengan tema family team building yang diadakan hari Sabtu, 10 Desember 2016 di Vila Bukit Hambalang. (Cerita tahun lalu bisa dibaca di sini)

Sekilas mengenai masa kanak-kanak saya yang dibesarkan di dalam masyarakat yang mengharamkan saya untuk mengucapkan selamat natal kepada yang merayakannya. Bahkan ketika tiba di Jakarta, keluarga saya sempat khawatir karena saya tinggal selama bertahun-tahun dengan keluarga penganut Kristen bahkan teman saya adalah Leader Assistant organisasi BSF (Bible Study Fellowship) dari Bethlehem. Cemoohan dari orang-orang sekitar sering saya dengar, mulai dari kafir, murtad, liberal dan sebagainya. Tapi biarlah, anjing menggonggong kafilah berlalu. Saya tidak memiliki waktu untuk membenci orang lain.

Inilah alasannya mengapa saya anti sekali dengan pemberian label terhadap sesuatu. Status agama, status ekonomi, status pendidikan, dan label-label lainnya yang semakin menjauhkan kita sebagai manuasia. Interaksi antar manusia mulai tersaring karena label-label tersebut. Segala sesuatu yang berkaitan dengan label-label tersebut selalu menjadi isu seksi untuk dibahas dan dijadikan pergunjingan. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah keindahan. Semua harus sama, bahkan dikerucutkan lagi harus menjadi satu golongan.

Melihat kondisi toleransi antar umat di negeri tercinta yang sudah mulai terkikis semakin memperkuat kami untuk menunjukkan kepada Kiran arti dari kerukunan hidup beragama yang sudah menjadi pemandangan langka di negeri ini. Mengenali dan memahami setiap umat dengan keyakinannya masing-masing dapat membawa kebahagiaan untuk yang melakukannya. Setiap ajaran agama selalu mengajarkan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya. Bukan kebencian dan kekerasan.

Dalam kegiatan ini Kiran mulai mengamati bagaimana umat lain berdoa, bersyukur dan melakukan perayaannya tanpa sedikit pun merasa terganggu atau canggung dengan keberadaan kami. Semua orang menyambut kami dengan ramah dan memuliakan kami sebagai tamu mereka. Kami mengobrol, bersenda gurau dan bermain bersama seharian. Tua dan muda berkumpul bersama. Tidak ada label yang melekat, sungguh tidak terasa perbedaan di antara kami semua, kami hanyalah para manusia tanpa label yang sedang bergembira.

Kegiatan diawali dengan sarapan bersama kemudian semua orang menyalakan lilin sebagai sebuah simbolisme sambil menyanyikan lagu Joy to the World. Selanjutnya kami berkegiatan bersama dipandu oleh Pak Dudi dan timnya dari Bandung melakukan beberapa permainan yang membuat kami semua tertawa lepas bahkan sampai menangis terpingkal-pingkal. Setelah berkegiatan bersama, kami istirahat untuk menyantap makan siang. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Character Recognition Certificate. Sertifikat ini diberikan kepada setiap anak atas pencapaian masing-masing anak di setiap tahun.

Ibu Ida memanggil setiap anak ke depan dengan menyelamati mereka atas pencapaian mereka. Tahun lalu Kiran mendapatkan nilai Tolerance untuk Character Recognition Certificate yang diterimanya. Tahun ini Kiran mendapatkan Sincerity. Berbeda dengan Kiran, anak-anak JHC mendapatkan penilaiannya dari observasi langsung ketika mereka berkegiatan bersama. Ibu Ida mencatat nilai-nilai yang menonjol dari setiap anak.

Setelah acara pemberian sertifikat selesai, anak-anak saling bertukar kado yang sudah disiapkan sebelumnya. Nilai kado ditentukan seharga Rp 25.000 supaya tidak memberatkan tetapi tetap tidak menghilangkan semangat berbagi di antara anak-anak. Nampak wajah-wajah yang sudah tidak sabar menantikan kegiatan bertukar kado ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan berbagi cerita. Setiap keluarga maju ke depan dan mengucapkan rasa syukurnya tahun ini.

Ini adalah bagian yang paling saya sukai karena setiap orang menyampaikan rasa syukurnya dan mengingatkan saya atas segala kekhilafan saya untuk hal-hal yang tidak pernah saya syukuri. Kami pun mendapatkan giliran dan menyampaikan rasa syukur kami tahun ini bahwa Nuni sudah berhenti bekerja dan dapat meluangkan waktu lebih banyak bersama saya dan Kiran. Sedangkan rasa sykur Kiran tahun ini adalah “I am thankful because I can sleep late until 10 O’clock”. Saya terkesima dengan kepolosan, kesungguhan dan kedewasaan setiap anak ketika menyampaikan rasa syukurnya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan untuk kami semua.

Banyak sekali kegiatan yang menginspirasi kami ketika kami berada di sana. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Luther dan Kim yang sudah mengundang kami dan memberikan kesempatan kepada keluarga kami untuk belajar. Oma Wang dan Oma Maria yang selalu bersemangat di usianya yang sudah senja, salut! Terima kasih juga untuk penerimaan dan keseruannya kepada seluruh keluarga JHC.

Kami sangat berharap dapat memperkenalkan Kiran pada ajaran agama lainnya secara langsung jika ada kesempatan supaya ketika besar nanti Kiran dapat bertumbuh menjadi seorang penyayang terhadap sesamanya, tanpa memedulikan label yang melekat pada orang tersebut.

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Reading Time: 4 minutes

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .