Persiapan Tribuds 2017

Persiapan Tribuds 2017

Beberapa bulan ini, Kiran suka sekali bermain sepeda. Bulan Desember saya menerima informasi di Facebook mengenai kegiatan Triathlon Buddies 2017 yang akan diadakan pada tanggal 4 Februari 2017 di The Springs Club, Serpong. Acara ini adalah perayaan hari jadi Triathlon Buddies yang kelima dengan mengadakan triathlon untuk anak-anak dan dewasa. Kemudian saya beritahukan kepada Kiran apakah berminta mengikuti kegiatan tersebut. Karena belum pernah mendengar kata ‘triathlon’ akhirnya kami berselancar di dunia maya dan melihat beberapa video di Youtube mengenai triathlon yang membuat Kiran tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Sejak sebulan terakhir, kami menambahkan rutinitas baru di pagi hari, yaitu bermain sepeda. Terlihat motivasi yang menggelora dari Kiran ketika setiap malam yang biasanya tidur harus disuruh, belakangan ini Kiran tidur tepat waktu tanpa harus disuruh karena ingin segera pagi dan bermain sepeda. Setiap pagi saya dan Nuni bergiliran menemani Kiran bersepeda mengelilingi gang di sekitar tempat tinggal sampai akhirnya Kiran mengenali gang-gang kecil di sekitar tempat tinggal. Setiap bangun tidur yang pertama dikatakan oleh Kiran adalah “Ayah, lets ride bicycle. I need to practise for triathlon”.

Hari Sabtu kemarin, ada kegiatan trial untuk menyiapkan anak-anak sebelum pelaksanaan kegiatan pada awal Februari nanti. Kami tiba di lokasi pukul setengah enam pagi lengkap dengan peralatan yang diperlukan. Kiran terlihat sangat mengantuk sekaligus antusias ingin segera berkegiatan. Ketika kami tiba di lokasi, Kiran sempat minder karena tidak ada anak yang dikenalnya. Ketika sedang berbaris, Kiran melihat seorang anak dan berteriak “Hey, Ben!” dan terlihat senang bertemu teman kelas taekwondonya di RG. Setelah menerima pengarahan dari kakak pendamping, semua anak pun mulai berkegiatan diawali dengan berenang sejauh 50 meter, bersepeda sejauh 2,4 kilometer dan diakhiri dengan berlari 800 meter.

Dari persiapan ini kami bisa mengantisipasi hal-hal apa saja yang Kiran harus persiapkan untuk kegiatan sebenarnya nanti. Kiran sempat terjatuh dan lecet-lecet di bagian tangan dan kaki ketika sedang berlari karena tidak fokus dan menyenggol kakak pendamping yang sedang berlari juga sehingga Kiran harus mencium aspal. Kami mencoba menekankan kepada Kiran arti dari sebuah kemenangan dan kompetisi. Tidak bosan-bosan kami ingatkan bahwa menjadi nomor satu bukan berarti menjadi pemenang. Menyelesaikan perlombaan dengan jujur dan berusaha sepenuh hati itulah arti dari sebuah kemenangan.

Informasi tambahan: kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kategori :

NEWBIE: orang dewasa (berenang 500 meter, bersepeda 22 kilometer, berlari 5 kilometer)

KIDS A: usia 5-7 tahun (berenang 50 meter, bersepeda 2,4 kilometer, berlari 800 meter)

KIDS B: usia 8-10 tahun (berenang 100 meter, bersepeda 4,8 kilometer, berlari 1,5 kilometer)

KIDS C: usia 11-13 tahun (berenang 200 meter, bersepeda 7,5 kilometer, berlari 3,1 kilometer)

KIDS D: usia 14-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 11 kilometer, berlari 4,1 kilometer)

FAST KIDS COURSE: 11-16 tahun (berenang 400 meter, bersepeda 14,8 kilometer, berlari 5 kilometer)

Untuk informasi lebih lanjut bisa ketuk tautan berikut ini: http://triathlonbuddies.com/

Konsekuensi Logis

Konsekuensi Logis

Dua minggu yang lalu, Kiran dan 3 orang temannya menghilangkan bola tendang milik Maji. Salah satu anak menendang bola terlalu tinggi sehingga bolanya melambung keluar pagar. Ketika dicari, bola tersebut hilang dan tidak dapat ditemukan. Lalu, setelah mengatakan maaf ke Maji dan mamanya berarti masalah selesai? NO WAY, JOSE! Mereka harus menerima konsekuensi logis dari perbuatan mereka.

Jadi apa itu konsekuensi logis? It is apology beyond action. Konsekuensi logis adalah strategi yang biasanya digunakan oleh para guru apabila murid-murid di kelas mereka berperilaku yang membuat orang lain tidak nyaman. Ketika saya masih menjadi guru, hampir setiap hari saya menerapkan konsekuensi logis kepada anak-anak apabila peringatan sudah tidak lagi diindahkan serta perilaku dan tindakan mereka tidak membuat nyaman atau bahkan merugikan orang lain. Dengan memberikan konsekuensi logis atau konsekuensi yang sesuai dengan perbuatan mereka, anak-anak akan belajar bertanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan.

Sering kali, orang dewasa, dalam hal ini orang tua, ketika anak misbehave, mereka cenderung memberikan konsekuensi yang tidak logis alias ngga nyambung. Contohnya, anak memukul temannya hingga temannya menangis. Alih-alih menyuruh anak meminta maaf, orang tuanya malah memarahi dan menghukumnya dengan tidak boleh menonton TV selama 1 minggu. Atau kalau di film-film bule, orang tuanya akan bilang “You are grounded, now go to your room!” dan anak yang dihukum akan banting pintu (korban TV banget saya ☺). Nah, dari kacamata si anak, dia akan merasa dihukum. Anak-anak akan takut dihukum. Kalau anak takut, apa yang ia pelajari? “Lain kali jangan sampai ketahuan mama atau papa ah, nanti dimarahi lagi”. Nah, yang ada anak akan takut, takut dimarahi, takut ketahuan. Apakah itu yang Anda mau? Anak takut atau anak belajar? Dengan menerapkan 3 jenis konsekuensi logis berikut ini dalam keseharian Anda, diharapkan nantinya anak akan mengerti dan belajar dari kesalahannya.

YOU BREAK IT, YOU FIX IT.
Strategi pertama adalah You Break It, You Fix It. Kasus Kiran di atas adalah contoh konsekuensi logis yang pertama. Setelah meminta maaf kepada Majid dan Bibi Nada, konsekuensi untuk Kiran dan kawan-kawannya adalah mengganti bola milik Maji. Anak-anak itu sepakat untuk bekerja di rumah, mengumpulkan uang yang nantinya akan digunakan untuk membeli bola. Masuk akal kan? Contoh lainnya, Kiran bermain dengan tanah di pekarangan rumah sehingga mengotori lantai dan halaman. Apakah saya marah? Ngga dong! Setelah meminta maaf kepada saya, Konsekuensi Kiran adalah membersihkan pekarangan dari tanah dan mengepel lantai hingga bersih, dan mencuci bajunya yang terkena noda. Terdengar kejam mungkin untuk sebagian orang tua, tapi lihat sisi pendidikannya, Kiran akan lebih berhati-hati dalam bertindak di kemudian hari.

Strategi ini lebih menekankan pada konsekuensi yang diterima si anak apabila ia merusakkan sesuatu yang disengaja ataupun tidak dan si anak harus memperbaiki kerusakan itu. Anak merusakkan barang, ia harus perbaiki, dengan cara apapun yang ia bisa lakukan. Anak bermain dengan mainan sampai berantakan, konsekuensinya ia harus membereskan mainannya sendiri sampai bersih. Konsekuensi ini harus bersih dari interupsi orang dewasa ya. Biarkan anak belajar memperbaiki kesalahannya.

LOSS OF PRIVILEGE
Strategi kedua ini diterapkan ketika perilaku anak tidak sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat. Orang tua sudah mengingatkan anak beberapa kali, tetapi si anak tidak mendengarkan peringatannya. Konsekuensinya, si anak kehilangan waktu bermainnya untuk beberapa saat atau untuk hari itu. Contoh: setiap hari Kiran mempunyai tanggung jawab yang disebut simple steps. Kegiatan belajar Kiran di rumah dimulai jam 9 dan Kiran memilih untuk bermain tablet sebagai awal kegiatan. Jadi Kiran harus sudah menyelesaikan simple stepsnya sebelum jam 9. Lewat jam 9, berarti konsekuensinya Kiran kehilangan waktu bermain tabletnya.

Contoh lain misalnya, Kiran bermain spidol milik saya. Setelah bermain, Kiran tidak membereskannya lagi sampai saya ingatkan berkali-kali. Untuk itu, konsekuensi Kiran adalah ia tidak boleh bermain lagi dengan spidol saya pada hari itu. Kiran baru boleh meminjam spidol saya lagi sesuai kesepakatan yang dibuat bersama saya. Perlu diingat bahwa konsekuensi logis ini digunakan ketika orang tua dan anak sudah tahu aturan yang berlaku. Jadi ketika konsekuensi ini Anda berikan, usahakan untuk membahas kembali dengan anak agar anak mengerti ekspektasi Anda.

TIME OUT
Strategi ketiga ini diberikan ketika anak tidak bisa mengontrol tindakannya. Ketika bermain bersama teman-temannya, Anda melihat sendiri anak Anda memukul temannya atau anak Anda melakukan hal yang tidak membuat temannya nyaman. Apabila Anda sudah mengingatkan anak berkali-kali namun anak masih saja bertindak tidak terkontrol, time out adalah solusi terbaik. Panggil si anak, ajak anak duduk dekat Anda, beritahu kenapa Anda memanggilnya, dan berikan ia waktu untuk memikirkan tindakannya tadi. Anak Anda bisa kembali bermain setelah ia berjanji untuk mengontrol cara bermainnya.

Dengan menerapkan konsekuensi logis di atas, tidak hanya keseharian orang tua dan anak akan lebih harmonis, tetapi juga membuat anak belajar dari tindakan dan perilaku yang kurang baik (dan juga menjaga kewarasan orang tua hehe). Jadi, stop memberikan hukuman kepada anak, ajak anak bicara, berikan konsekuensi yang logis kepadanya.

Kiran dan temannya sempat protes ketika mereka diminta untuk bertanggung jawab mengganti bola milik Maji. Dia merasa bukan dia yang menghilangkan, tetapi karena Kiran ikut bermain, ia juga harus bertanggung jawab mengembalikan bola Maji. Setelah berdiskusi, diputuskan bahwa anak-anak ini akan bekerja untuk mendapatkan uang. Lalu mereka akan menggunakan uang yang mereka kumpulkan bersama untuk membeli bola baru untuk Maji. Banyak orang tua yang akan menggampangkan masalah seperti ini. Ah 30 ribu aja, nanti mama belikan yang baru. Padahal dengan mendapatkan konsekuensi seperti ini, anak-anak belajar banyak hal. Mereka belajar untuk menghargai barang milik orang lain, menghargai segala jenis pekerjaan, dan akan lebih berhati-hati ketika bertindak. Konsekuensi justru akan mendewasakan mereka, asalkan konsekuensi yang diberikan sesuai dengan perbuatan mereka.

Belajar di Mana Saja

Belajar di Mana Saja

Minggu lalu Kiran memiliki dua proyek. Proyek pertama adalah proyek bersama mengenai DKI Jakarta dan Kiran mendapatkan bagian untuk mencari informasi mengenai pakaian dan rumah Betawi. Proyek yang kedua adalah proyek pribadi Kiran membuat lapbook mengenai ulat sutra. Dua minggu yang lalu Kiran berkunjung ke Rumah Sutra di Bogor dan belajar secara langsung dari ahlinya.

Sesuai dengan judulnya, saya ingin membagikan pengalaman Kiran melakukan presentasi 2 hari yang lalu dalam perjalanan menuju Bandung. Jika Anda menonton video berikut ini abaikan saja lokasinya karena kami berada di dalam sebuah toko waralaba di Stasiun Gambir. Karena jadwal yang cukup padat, kami banyak berkegiatan di luar baik itu berkaitan dengan keseharian Kiran maupun pekerjaan yang saya lakukan. Oleh karena itu, ketika Kiran menyelesaikan proyek lapbooknya, kami membawa lapbook yang Kiran buat dalam perjalanan kami ke Bandung.

Fleksibilitas dalam melakukan kegiatan belajar Kiran adalah salah satu keuntungan dalam menjalani homeschooling bersama Kiran. Kami dapat melakukan pekerjaan atau kegiatan lainnya tanpa harus mengorbankan kegiatan anggota keluarga lainnya.

Tujuan dari proyek ini sebenarnya adalah untuk melatih Kiran membuat lapbook dengan harapan dirinya terbiasa dengan tahapan yang harus dilakukan dalam membuat lapbook sebagai salah satu model belajar yang bisa dilakukannya.

Ada tiga hal yang menarik perhatian Kiran mengenai ulat sutra: ulatnya, predatornya, dan siklus hidupnya. Kiran membuat gambar-gambarnya secara bertahap kemudian menempelkannya di dalam sebuah map. Kiran menulisi gambar-gambar yang dibuatnya sedangkan judul sampulnya ditulis oleh Nuni. Berikut ini presentasi Kiran mengenai ulat sutra:

Membangun Kesadaran Diri

Membangun Kesadaran Diri

Semalam kami pulang dari dokter gigi menemani Nuni. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 dan Kiran sudah tertidur pulas di atas motor. Ketika kami memindahkannya ke atas tempat tidur, Kiran terbangun dan meminta kami untuk membacakannya sebuah cerita.

Kedua matanya sudah sangat berat untuk dibuka ketika Nuni menyelesaikan bacaannya. Saya mengingatkan Kiran bahwa dirinya belum menggosok gigi dan mencuci kaki. Kiran pun seperti biasanya jika sudah tertidur di dalam perjalanan selalu melewatkan rutinitas tersebut. Dan seperti biasa kami pun mengingatkan apa yang akan terjadi dengan giginya jika Kiran sering melewatkan kegiatan menggosok gigi menjelang tidur.

Kiran terlihat berjuang melawan rasa kantuknya tetapi akhirnya tertidur juga. Melihat Kiran yang sudah tidak dapat menahan kantuknya saya pun membiarkan Kiran tertidur dan berdiskusi bersama Nuni untuk mengubah jadwal bersama Kiran memindahkan kegiatan menggosok gigi setelah makan malam atau paling lambat pukul 20.00.

Belum lama kami berdiskusi, Kiran tiba-tiba terjaga dengan tatapan kosong (seolah sedang berpikir). Saya dan Nuni hanya berpandangan memerhatikan apa yang akan Kiran lakukan. Tidak lama kemudian Kiran pun duduk dan meninggalkan tempat tidurnya menuju kamar mandi. Kami tidak dapat berkata-kata dan hanya tersenyum karena Kiran menunjukkan kesadarannya untuk melawan rasa kantuknya dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. 

Saya pun bergegas menemani Kiran ke kamar mandi dan menggosok gigi bersama. Setelah selesai Kiran kembali ke tempat tidur dan kembali ke alam mimpinya. Ini adalah pengingat bagi kami karena terkadang kami pun malas melakukan hal yang seharusnya kami lakukan dengan berbagai alasan.

Kejadian ini membangkitkan motivasi bagi saya dan Nuni meskipun terkesan terlalu dini untuk kami “rayakan”. Usaha kami untuk tidak menghukum anak (seperti yang terjadi pada kami sewaktu kecil) dan membangun kesadaran terhadap Kiran mulai menunjukkan hasil. Dari hari ke hari Kiran mulai menunjukkan kesadaran dirinya ketika melakukan sesuatu (terlepas dari baik atau tidak). Kami mencoba menerapkan bahwa selalu ada hasil dari setiap pilihan yang kita ambil (apakah hasilnya baik atau tidak), yang sebetulnya adalah cerminan dari pilihan tersebut dan harus tetap bersyukur menerima hasilnya.

Contoh lainnya yang sudah Kiran tunjukkan adalah kesadarannya untuk menolak temannya yang mengajak bermain karena dirinya harus mengerjakan proyek atau waktunya belajar. Beberapa waktu lalu kami masih harus menjelaskan kepada Kiran mengapa dirinya belum boleh bermain bersama temannya yang lain karena ada tugas yang harus diselesaikan. Kegiatan berlatih membaca pun sudah dilakukannya secara mandiri secara konsisten Kiran lakukan selepas mandi pagi tanpa harus kami ingatkan. Membantu Kiran menjadi seorang pemelajar mandiri adalah tujuan kami menjalani homeschooling.

Melelahkan memang untuk terus mengingatkan anak kita melakukan hal-hal yang sudah diketahuinya tetapi tetap tidak diacuhkannya. Perlu contoh, waktu dan konsistensi sampai anak kita menyadari alasan untuk melakukannya. Langkah kami menjalani homeschooling semakin mantap dengan menyaksikan perubahan anak kami dari hari ke hari.

Aunt Nikki’s Tale – Reading B8

Aunt Nikki's Tale

Hari ini Kiran membaca buku yang berjudul “Aunt Nikki’s Tale”

Cerita yang dibaca oleh Kiran hari ini sudah mulai panjang. Setiap halaman terdiri dari 2 kalimat dan terdapat 12 halaman.

Kiran mengalami kesulitan ketika membaca karena banyak kosakata baru yang belum dia kenali seperti, aunt, here, raced, right, Africa, started, roar hyenas, laugh, laughed, something, dan shoulder. Namun ada beberapa kosakata baru yang mampu Kiran eja dan lafalkan dengan baik seperti, campfire, peanuts, furry, please, hear, dan called.

Aunt Nikki's Tale

Berdasarkan buku yang dibacanya hari ini, Kiran sudah

  • bisa melafalkan final consonant ‘p’ seperti pada kata ‘trip’ dan ‘up’.
  • bisa melafalkan initial consonant blend ‘sn’ seperti pada kata ’sneaked’ dan ‘snake’.
  • mengenali long vowel ‘y’ seperti pada kata ‘sky’, ‘hyena’, ‘by’, dan ‘my’.
  • mengenali high-frequency words ‘was’.

Sesuai dengan rencana kemarin, sebelum bercerita ulang, Kiran saya ajari 3 daftar pertanyaan (who, what, where) untuk mengulas cerita yang dibacanya. Setelah mengetahui cara tersebut, Kiran mampu menceritakan kembali hampir seluruh cerita yang dibacanya.

Mengingat buku yang dibacanya cukup sulit, saya memotivasi Kiran atas usaha yang dilakukannya dan Kiran akan mengulang buku yang sama untuk latihan membaca esok pagi.