Memeluk Kegagalan

Memeluk Kegagalan

Memilih untuk menjalani homeschooling harus siap menjadi perintis baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar. Seperti yang dituliskan Mas Aar di dalam bukunya Apa Itu Homeschooling . . .

“Dibutuhkan keteguhan dan kelenturan mental untuk melawan arus yang berbeda.”

“Keteguhan mental yang utama adalah kesediaan untuk memikul tanggung jawab keberhasilan dan kegagalan proses pendidikan pada pundak sendiri. Keluarga tidak bisa lagi mencari kambing hitam kurikulum sekolah, kualitas guru, kebijakan pendidikan, dan lain-lain jika menemui kegagalan.”

Apakah kita siap menerima risiko kegagalan ini?

Jawabannya sederhana, keberhasilan dan pemelajaran didapat dari kegagalan bukan? Oleh karena itu kita harus menerima kegagalan sebagai proses bukan hasil.

Kegagalan pertama keluarga kami adalah memindahkan sekolah ke rumah ketika mengawali homeschooling. Kurikulum Calvert pun kami import dari Amerika demi menyediakan kurikulum terbaik untuk Kiran. Biaya investasi yang kami keluarkan pun untuk membeli kurikulum tersebut sangat besar untuk kami, $1,148. Meskipun akhirnya kami mendapatkan potongan harga dengan membayar $689 dengan menggunakan program Family Financial Aid yang mereka sediakan. Koper besar berisi kurikulum untuk kami gunakan selama setahun pun kami titipkan kepada seorang sahabat yang sedang pulang kampung ke Amerika. Buku tebal berisikan lesson plan, buku-buku pelajaran, alat belajar mulai dari penggaris, CD, pensil warna, akses untuk materi pendukung online (Brainpop Jr, education.com dan lain lain) sampai kertas sudah disediakan sehingga kami tidak perlu menyediakan apa pun untuk “mengajari” Kiran di rumah.

Kami gembira luar biasa karena sudah memiliki peralatan yang lengkap untuk pembelajaran Kiran di tingkat Kindergarten (saat itu Kiran berusia 4,5 tahun).

Karena kami berdua memiliki latar belakang pendidikan di bidang pendidikan tidaklah sulit untuk mengikuti lesson plan yang sudah disediakan. Namun selama 2 bulan pertama kami berusaha mengikuti panduan yang disediakan dengan mengganti rutinitas pembelajaran berkali-kali. Kondisi kami saat itu sangat tertekan karena harus “mengejar target” yang disediakan di dalam kurikulum. Saya dan Nuni Amaliah pun berefleksi dan mencoba mencari solusi yang terbaik dalam mengajari Kiran.

Setelah berdiskusi hampir setiap malam, suatu hari saya mencoba melepas ego dan ternyata jawabannya ada di depan mata selama ini, KIRAN. Sorot matanya tidak menunjukkan kebahagiaan dalam menjalaninya.

Ya, kami stress dan mengalami kesulitan dalam mengawali perjalanan homeschooling kami karena kami “memindahkan sekolah” ke rumah kami, kami masih “mengajari” anak kami, dan kami masih melihat Kiran sebagai “objek” pendidikan. Kami pun segera menghentikan semuanya di bulan ketiga dan menata ulang perjalanan homeschooling kami. Kurikulum yang kami miliki pun mulai kami tinggalkan karena berisikan program membaca, menulis dan berhitung, tidak ada bedanya dengan materi yang disediakan di dalam kurikulum TK di Indonesia hanya saja tampilannya lebih menarik dan lebih sistematis.

Bertemu dengan praktisi homeschooling lainnya benar-benar sangat membantu kami saat itu. Bagaimana kami harus belajar berdamai dengan diri sendiri dan mulai “bertumbuh bersama” anak kami bukan menjadi pengajar untuknya.

Ya inilah kegagalan pertama dalam perjalanan homeschooling kami. Apakah kami menyesali apa yang terjadi? Tentu saja tidak. Kami sangat bersyukur telah melakukannya sehingga betul-betul tahu dan memahami bahwa homeschooling bukan tentang orangtua menjadi guru bagi anaknya atau memindahkan sekolah ke rumah. Kegagalan tersebut menjawab kegelisahan yang selama ini kami rasakan mengenai sistem pendidikan yang tersedia. Cara pandang kami terhadap pendidikan menjadi lebih jelas.

Sedikit demi sedikit kami mulai berfokus kepada Kiran bukan apa yang kami ingin Kiran lakukan. Mengobrol, memerhatikan sorot matanya ketika melakukan sesuatu dan menemaninya setiap saat membantu kami untuk membantunya menjadi seorang pemelajar dengan cara yang diinginkannya dan menyenangkan. Sampai sekarang kami pun masih menjalani kegagalan-kegagalan lainnya dan menerima semuanya sebagai proses belajar kami semua. Jadi jangan takut untuk menjalani kegagalan karena itu adalah bagian dari proses belajar dan keberhasilan. Ketika Anda atau anak Anda mulai tertekan berhenti sejenak dan lihat sorot mata anak Anda, jawabannya akan Anda dapatkan seketika.

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Ayah (Mengira) Tahu yang Terbaik Untukmu Nak

Copi adalah seorang ayah yang mencoba mengajari anaknya yang bernama Paste dengan baik. Kebahagiaan Paste adalah segalanya bagi Copi. Segala sesuatunya sudah disiapkan untuk Paste supaya Paste bisa menjadi seorang anak yang berhasil. Tetapi Paste tidak melakukan hal-hal yang diharapkan Copi mulai merasa tidak bahagia yang kemudian ternyata sedikit demi sedikit merenggut kebahagiaan Paste. Seperti apa ceritanya? Silakan Anda tonton sendiri film singkat yang berjudul Alike.

Film singkat di atas mengingatkan saya dengan cara kita semua dibesarkan (setidaknya untuk generasi saya atau pendahulu saya), “pendidikan” sangatlah penting bagi “masa depan” kita, begitulah petuah yang sering kita dengar dari orangtua kita. Tidak ada yang salah dengan petuah tersebut karena setiap orangtua akan melakukan segalanya demi kebahagiaan anaknya.

Hanya saja bagaimana caranya kita mengetahui bahwa anak kita bahagia?

Orangtua seringkali lupa dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya. Bahkan kita sering mendengar ungkapan bahwa kita harus menjadi “orang” yang diartikan sebagai seseorang yang dihormati orang lain dan terpandang yang biasanya mengacu pada sebuah status, baik itu status ekonomi atau pangkat.

Orangtua mulai mengambil kendali tanpa melibatkan anaknya untuk menentukan masa depan si anak. Para orangtua mulai khawatir anaknya tidak mampu “bertahan hidup” sehingga mereka beranggapan bahwa dengan mempersiapkan anaknya lebih awal, anaknya dapat mencuri start lebih dulu sehingga anaknya bisa “tampil” dan menjadi juara. Sayangnya perilaku seperti ini bertolak belakang dengan tujuan awal memberikan kebahagiaan kepada si anak. Sebuah awal yang sangat menentukan bagi kebahagiaan si anak. Waktu bermain yang semakin sedikit, kreatifitas yang mulai dibatasi, hingga tekanan dari ketidaksiapan mental dan fisik anak yang ditumbalkan yang berawal dari rasa khawatir anaknya tidak bisa menjadi “orang”.

Apakah ini sebuah penghakiman bahwa apa yang orangtua kita lakukan salah? Tentu saja tidak. Ini adalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Semua orang bertindak atas pengetahuan dan pilihan yang dimilikinya masing-masing. Analogi sederhananya adalah seperti kebiasaan kita memakan sayuran. Apakah kita memakan sayuran karena kita tahu itu sehat untuk tubuh kita meskipun kita tidak suka dengan rasanya atau kita tidak memakan sayuran karena kita tidak suka rasanya yang aneh meskipun kita tahu tubuh kita memerlukan nutrisi dari sayuran tersebut.

Mari sapa anak kita apakah dirinya merasa bahagia?

Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta 🙂

Piknik di Kebun Raya Bogor

Piknik di Kebun Raya Bogor

Ada 2 tujuan utama kegiatan kami kali ini. Pertama, mencari ruang bergerak untuk anak-anak agar bisa leluasa bermain. Dan yang kedua, kami orangtua yang mencari tempat ngunyah-ngunyah lucu dengan setting yang berbeda. Akhirnya, Kebun Raya Bogor pun jadi pilihan yang pas.

Jam 8 pagi kami sudah berkumpul di stasiun Lenteng Agung untuk berangkat menggunakan KRL menuju Bogor. Paman Ian memberikan peraturan singkat kepada anak-anak untuk tidak berlari-lari dan harus selalu berpegangan tangan. Perjalanan naik kereta dari Lenteng Agung ke Bogor hanya 2000 rupiah/orang. Sangat murah. Kalau tidak punya kartu e-money Mandiri atau flazz, BCA, bisa menggunakan kartu single trip dengan jaminan 10.000 rupiah. Jaminan ini bisa diambil kembali setelah kita mengembalikan kartu ke loket. Sesampainya di stasiun Bogor, kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot nomor 2. Cukup bayar 4000 rupiah sudah sampai di depan gerbang Kebun Raya Bogor.

Untuk masuk ke Kebun Raya Bogor kami harus membeli tiket masuk seharga 15.000 rupiah perorang. Kemudian kami mencari tempat untuk menggelar tikar dan yang terpenting, gelar makanan.

Dan seperti biasa, Bibi Yulia selalu juara dalam mempersiapkan bawaannya. Rantang susun dengan isi beraneka macam lauk, pudding, buah dan sirup lengkap dengan es batu. “Nggak sekalian bawa kursi dan meja makan nih, Bibi Yulia?” Pokoknya ke mana pun dan di mana pun kami beraktivitas dijamin tidak akan kelaparan.

Sebenarnya kami belum merencanakan aktivitas anak-anak selama berada di sana. Paling hanya ke museum Zoologi, tapi itu pun kami rencakanan pada saat pulang nanti. Tapi kenyataannya anak-anak memang tidak memerlukan rencana untuk bermain dan bersenang-senang. Berikan mereka lapangan luas, bola dan alam. Mereka pun bersenang-senang dan membuat sendiri permainan dari apa yang mereka temukan. Dedaunan, batu, batang pohon, serangga, serta Paman Simon. Terhitung mulai dari jam 10 sampai jam 4 sore tidak sekalipun terucap kata bosan atau capek dari mulut mereka. Berbeda dengan kami orangtua yang kelelahan padahal seharian hanya duduk-duduk ngobrol dan ngunyah. Mungkin ke depannya perlu dibuatkan juga aktivitas untuk kami agar stamina tetap terjaga.

Piknik usai, kami pun mengunjungi Museum Zoologi. Waktu operasional museum adalah jam 07.30 sampai dengan 16.00 dan sekarang tidak perlu membayar lagi karena tiket Kebun Raya Bogor sudah termasuk tiket masuk Museum Zoologi. Di sini pun tidak kalah serunya. Anak-anak bisa melihat berbagai macam binatang yang ada di Indonesia termasuk kerangka paus yang dahulu terdampar di Pantai Pamengpeuk. Seru sekali aktivitas kami kali ini. Selanjutnya wisata ke mana lagi ya? Ada ide?

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya menemukan Kiran sedang asyik bermain dengan kereta api mainannya. Saya duduk di sofa dan menyapanya, Kiran langsung berkata “Ayah, I’m sorry if I used your batteries for my train yesterday.” dengan spontan saya merespons “Why did you do that? Why did you not ask permission first?” mencoba mengingatkan peraturan yang telah kami sepakati bersama untuk selalu meminta izin ketika hendak menggunakan barang orang lain.

Kemudian Kiran membalas pertanyaan saya dengan alasan “but I only used it for a short time. Your battery still have power.” Mendengar alasan itu saya pun menunjukkan kekecewaan saya bukan karena baterainya yang dia digunakan tetapi karena Kiran tidak meminta izin. Saat itu saya berpikir ini adalah masalah prinsip dan tidak bisa dibiarkan, Kiran harus tahu bahwa ayahnya sedih dan kecewa. Guilt trap, hal yang saya sendiri tidak sukai tetapi secara spontan saya lakukan terhadap Kiran dengan alasan ingin mengajarinya bahwa tindakan itu tidak dapat dibenarkan.

Akhirnya saya pun memaafkan Kiran dan mengingatkannya untuk selalu meminta izin jika ingin menggunakan barang orang lain. Masalah selesai, Kiran pun kembali bermain dan saya bersiap-siap untuk bekerja.

Ketika sedang bermotor menuju tempat kerja, saya masih memikirkan tentang kejadian tadi. Wajahnya yang menyesal masih terbayang dengan jelas. Terasa ada yang mengganjal dan mengganggu pikiran saya mengenai kejadian tersebut. Sepanjang perjalanan pun saya mencoba mencari tahu apa yang salah dengan kejadian tadi pagi. Saya mulai mempertanyakan apa yang akan saya lakukan jika saya adalah Kiran. Saya tahu apa yang akan saya lakukan, berbohong dan tidak akan ada yang tahu.

Timbul penyesalan dalam diri karena terlambat menyadari bahwa saya seharusnya merespons dengan cara yang berbeda. Dengan penuh kesadaran sekarang saya mencoba untuk membayangkan kejadian tersebut dengan menunjukkan apresiasi dari keberaniannya mengakui kesalahan yang dia lakukan. Padahal kalau Kiran tidak mengatakan hal itu saya pun tidak akan tahu bahwa baterainya dipakai dan tidak akan ada masalah timbul pagi ini. Seharusnya kejadian pagi ini menjadi pengalaman yang lebih berarti bagi kami daripada hanya sekadar berpegang teguh pada prinsip apa pun yang terjadi.

Pelajaran lagi sebagai orangtua (yang seringkali merasa lebih tahu daripada anak) untuk selalu mengambil jeda sebelum merespons terhadap suatu kejadian khususnya yang berkaitan dengan prinsip.

Ada kalanya kita harus mengesampingkan sesuatu untuk menyambut sesuatu yang lain.