Membuat Es Krim Goyang

Membuat Es Krim Goyang

Minggu ini kami belajar bersama hari Senin karena satu dan lain hal. Tapi tidak ada istilah I Don’t Like Monday pada kamus kami, jam setengah tujuh kami semua meluncur ke Jagakarsa untuk memulai hari bersama keluarga lainnya.  Walaupun  hujan plus macet, tetap tidak menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas bersama, apalagi Sifu Simon dari pagi sudah menanyakan waktu keberangkatan kami. Seperti Minggu lalu, berlatih Kungfu akan menjadi agenda tetap kami para orang tua yang ‘mager’ (malas gerak). Gurunya saja semangat begitu, kami juga ikutan semangat deh. Latihan Senin ini formasinya lengkap, Bibi Anita sudah sehat, yeeiiy, jadi ada teman senasib sependeritaan deh hihihi.

Lalu, kalau semua orangtua berolah raga, anak-anak ikutan jugakah? Ya jelas ngga dong. Mereka sibuk melepas rindu setelah seminggu tak bertemu. Sudah beberapa minggu ini Bibi Nada tidak mengeluarkan mainan milik Alma ketika anak-anak berkunjung. Justru dengan tidak adanya mainan, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Anak-anak menjadi lebih imaginative ketika bermain, misalnya mereka membuat rumah-rumahan dari kain dan bangku, pesawat dari lemari, bahkan main sekolah-sekolahan. Hmm, kayaknya mainan-mainan di rumah juga harus disingkirkan nih.

Kiran dan Ahsan juga sudah mengganti pesawat milik Alma yang rusak minggu lalu. Setelah satu minggu kedua anak laki-laki tersebut mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga pesawat yang persis sama. Alma pun senang menerima pesawat pengganti yang diberikan oleh Kiran dan Ahsan. Semoga dengan kejadian ini anak-anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati barang milik orang lain.

Selesai berolahraga, kami menyantap cireng dan pepaya sebagai menu sarapan bersama. Kami pun memulai kegiatan bersama anak-anak dengan melakukan pertemuan pagi. Pada kegiatan ini, anak-anak diminta untuk berbagi cerita. Mereka bebas menceritakan tentang apa saja yang mereka mau. Ketika bercerita, anak-anak belajar banyak hal, seperti belajar berbicara di depan orang banyak, belajar merangkai kalimat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, dan belajar mendengarkan ketika ada yang berbicara. Kali ini, semua anak mau berbagi cerita, mulai dari mobil yang bisa berubah menjadi robot sampai boneka Barbie. Setelah itu anak-anak menari lagu Tooty Ta bersama. Wah, seru deh.

Setelah itu, project pun dimulai. Mau membuat apa hari ini? Project minggu ini, anak-anak membuat es krim dengan cara tradisional yaitu menggunakan garam dan es batu. Loh kok garam? Asin dong? Ngga dong, garam dan es batu di sini adalah sebagai media pendingin dari minuman atau cairan yang akan dibekukan. Jadi garam berfungsi sebagai penurun suhu es batu sehingga suhu disekitarnya cukup dingin untuk membekukan susu. Jika tidak ditaburkan garam, suhu es batu tidak akan cukup dingin untuk membekukan susu menjadi es krim. Cara membekukannya juga mudah, cukup digoyang atau dikocok saja selama beberapa saat lalu es krim siap dinikmati. Sluurrpp, enaaakkk.

Berikut adalah bahan dan peralatan yang kami gunakan untuk membuat es krim goyang:

  • 2 Plastic Ziplock ukuran besar
  • Es batu (dihancurkan sampai menjadi bongkahan kecil)
  • 1 mangkok besar
  • Garam
  • Handuk atau sarung tangan (untuk melindungi telapak tangan kedingingan ketika mengocok es)
  • Susu cair (rasa sesuai selera)
  • Bahan taburan es krim (meises, susu kental, keju parut, dan sebagainya)

Cara membuat:

  • Masukkan bongkahan es batu yang sudah dihancurkan ke dalam mangkok besar dan taburi garam.
  • Masukkan es ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tuang susu cair ke dalam plastic Ziplock 2, tutup rapat
  • Masukkan plastic Ziplock 2 yang berisi susu ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tutup rapat plastic Ziplock 1 kemudian kocok atau goyangkan ziplock tersebut selama 10 sampai 15 menit atau sampai susu menjadi solid. (Jangan lupa untuk menggunakan handuk atau sarung tangan supaya tangan tidak kedinginan)
  • Pindahkan es yang sudah membeku ke wadah. Berikan taburan kesukaanmu.

Nah, minggu depan kira-kira kami akan berkegiatan apa ya? Tunggu postingan berikutnya.

“Children make their own paths into the unknown, paths we would never think of making for them”

-John Holt-

Membangun Keteraturan Melalui Pertemuan Pagi

Kali ini saya ingin berbagi tentang Pertemuan Pagi yang sudah kami lakukan selama seminggu dan sangat bermanfaat untuk membangun keteraturan dalam kesehariannya. Ide ini saya modifikasi dari pengalaman saya mengajar di sebuah sekolah beberapa tahun lalu. Dalam pertemuan pagi ini kami melakukan tiga hal, yaitu, menyanyikan lagu nasional, berbagi cerita, dan berencana. Kegiatan ini kami lakukan setelah Kiran menyelesaikan tanggung jawabnya setiap harinya.

Mengapa menyanyi? Saat ini Kiran senang sekali menyanyi. Setiap kali dia bermain dia selalu bersenandung ria. Sayangnya saya mencampur lagu anak-anak dan lagu dewasa di dalam sebuah media penyimpanan untuk didengarkan di dalam mobil. Jadi Kiran pun sering menyanyikan lagu-lagu dewasa yang tidak tepat untuk usianya saat ini. Target saya adalah Kiran bisa menyanyikan satu lagu (nasional atau anak-anak) setiap minggunya.

Di sesi berbagi cerita, kami saling berbagi satu sama lain tentang banyak hal, mulai dari mainan kesukaannya, menyampaikan perasaan, mengulas kegiatan yang dilakukan sehari sebelumnya sampai masalah perilaku tidak baik yang dilakukannya. Di sini saya bisa menyisipkan hal yang saya anggap penting untuk dibahas, khususnya masalah perilaku atau kedisiplinan dengan bentuk diskusi sehingga menghindarkan saya untuk berceramah.

Selain itu di dalam sesi berbagi ini saya bisa mengevaluasi kemampuan berbahasa Kiran. saat ini evaluasi yang saya lakukan sangat sederhana saya menyimak apakah Kiran mampu menyampaikan isi pikirannya dengan baik dan terstruktur ketika dirinya sedang bercerita.

Di sesi ini, selain belajar tentang pentingnya bergiliran untuk berbicara, banyak hal lainnya yang bisa kita eksplorasi selama kegiatan ini berlangsung.

Bagian ketiga dari pertemuan pagi kami adalah berencana. Kami membahas rencana kegiatan pada hari tersebut. Perencanaan pun kami lakukan dengan sederhana hanya berfokus pada urutan kejadian. Misalnya, “Hari ini kita akan pergi ke lokasi A kemudian setelah itu pergi ke lokasi B dan makan siang di sana.”

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan supaya kegiatan ini bisa berlangsung lancar dan menyenangkan:

  • Lakukan dengan suka cita, jangan terjebak dengan label pertemuan pagi itu sendiri. Silakan berikan nama lain yang lebih bisa diterima oleh anak-anak sehingga bisa menghilangkan kekakuan dalam melakukannya.
  • Urutan kegiatan seharusnya tidak menjadi masalah jika setiap hari si anak memilih untuk membuat urutan yang berbeda. Kita tanggapi keinginan anak sebagai sebuah inisiatif supaya terbiasa menyampaikan keinginannya dan melatih anak untuk bisa memimpin sebuah pertemuan.
  • Biarkan kegiatan tersebut mengalir. Ada kalanya pertemuan berlangsung selama setengah jam tidak jarang juga pertemuan diselesaikan hanya dalam waktu 10 menit. Kuncinya adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari, bukan durasi. Saya tidak menyarankan membuat target waktu karena khawatir kegiatan tersebut akan menjadi kaku dan menjadi tidak menyenangkan lagi bagi anak karena terlalu mengkhawatirkan masalah waktu.
  • Yang paling penting adalah suasananya harus santai dan menyenangkan. Jangan terkesan seperti memindahkan suasana kelas ke dalam rumah.

Semoga informasi ini bermanfaat.