Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Setelah tulisan sebelumnya membahas mengenai hari pertama dan dua hari terakhir di TNTP, tulisan ini adalah hasil pengamatan kami terhadap Kiran mulai dari persiapan dan selama melakukan perjalanan.

Apa saja yang Kiran lakukan selama di bandara dan di perahu selama tiga hari. Apakah Kiran tidak merasa bosan? Tentu saja rasa bosan hadir tetapi Kiran mampu mengatasi kebosanannya dengan benyak cara, seperti mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, bermain hujan, menyapa setiap orang yang di dalam perahu yang berpapasan, bermain kartu, bermain kaus kaki, mondar mandir mengelilingi perahu, tidur-tiduran, dan menikmati pemandangan. Selama melakukan perjalanan tidak ada rengekan dari Kiran dan kami melihat Kiran menikmati sekali perjalanannya selama berada di TNTP.

Persiapan

Pada perjalanan ini Kiran belajar memprediksi kebutuhannya  selama bepergian 3 hari. Kiran dapat menyiapkan barang bawaannya dan memeriksa ulang barang bawaannya secara mandiri sebelum pergi. Salah satu tambahan bawaan kami kali ini adalah kotak makanan, sendok dan garpu untuk memastikan kami bisa membeli makanan tanpa harus menggunakan plastik atau kemasan lainnya jika kami ingin membeli makanan di dalam perjalanan. Peralatan makan ini berada di dalam tas kami masing-masing.

Di bandara

Maskapai penerbangan yang kami gunakan tidak memiliki layanan web check-in sehingga kami harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan tiket masuk pesawat karena antrean cukup panjang dan banyak penumpang yang membawa bagasi. Kiran terlihat santai dan mampu menghibur dirinya sendiri dengan mengajak kami bermain untuk mengusir rasa bosannya. Kami pun memainkan beberapa permainan ketika menunggu pesawat datang. Meskipun beberapa kali terlihat merasa bosan tetapi kami tidak mendengarkan keluhan apa pun dari Kiran.

Mengingat banyaknya markah dan papan iklan di dalam bandara, Kiran terlihat cukup sibuk membaca tulisan yang ada di sekelilingnya. Ternyata memang kalau anaknya sudah siap tidak perlu disuruh membaca, anaknya sendiri yang akan membaca dengan suka hati ketika dirinya siap.

Di atas perahu

Kami melihat Kiran selalu berusaha untuk memulai percakapan dengan orang-orang. Pemandu kami cukup kewalahan karena Kiran banyak bertanya kepadanya selama berada di atas perahu bahkan pemandu kami tidak dapat menolak ketika Kiran mengajaknya bermain kartu.

Kiran sudah mulai belajar berbasa basi sebagai pembuka percakapan meskipun agak kocak, seperti, “Bapak, belum mandi ya?” kemudian mengalirlah obrolan mereka untuk beberapa saat. Kami menilai Kiran sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan baik seperti menanyakan kepada nakhoda “Bapak, berapa menit lagi kita sampai?” begitu pula ketika berinteraksi dengan Reka, “Tante, aku lapar mau makan”.

Pekerjaan rumah

Satu hal yang menjadi perhatian kami saat ini adalah melatih Kiran untuk menyebut nama orang yang diajak berbicara. Sering kali Kiran tidak mengingat nama orang-orang yang berinteraksi dengannya. Saat ini Kiran terlihat hanya menggunakan kata “bapak, ibu, tante, om, paman, dan bibi” tanpa diikuti nama orang tersebut. Begitu pula ketika bermain dengan teman barunya.

Beginilah cara kami menemani Kiran belajar dengan mengajaknya bepergian baik jarak dekat ke tempat kerja atau jarak jauh dan bertemu banyak orang baru membantu dirinya untuk belajar berkomunikasi dan belajar menempatkan diri. Bagaimana menjadi bagian dalam percakapan, menginterupsi percakapan dan menjadi pendengar yang baik. Dengan mengobrol kami melatih kemampuan berbahasanya. Bagaimana menyampaikan gagasan pikirannya dan memperkenalkannya pada kosakata baru yang diperlukannya.

Tidak banyak yang kami tuntut dari Kiran di usianya saat ini. Kami hanya mengamati kemandirian, nalar, bahasa, adab dan perilakunya untuk kemudian kami jadikan tujuan pencapaian keluarga kami bersama Kiran. Saat ini kemampuan akademis tidak kami persoalkan dan kami cukup senang dengan kemampuan membaca dan berhitung Kiran yang dipelajarinya secara alami dalam kegiatan sehari-hari atau melakukan permainan bukan dengan mengisi lembar kerja. Karena kami percaya belajar tidak selalu tentang hal-hal terkait akademis kami juga harus belajar tentang pemanusiaan.

Melakukan perjalanan, berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling kemudian melakukan pengamatan selama melakukan perjalanan. Itulah yang kami lakukan ketika menjalani travelschooling bersama Kiran.

Kami tidak membuat penilaian secara khusus tetapi melakukan pengamatan secara diam-diam. Sepertinya membuat panduan yang bisa kami gunakan untuk mengukur perkembangan Kiran dari waktu ke waktu akan mempermudah pencatatan pengamatan kami. Saya jadi bersemangat untuk membuat panduannya.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Pagi ini kami dibangunkan kicauan burung di sekitar pinggir sungai. Tadi malam kami tidur di atas perahu tanpa merasakan hawa dingin meskipun kami tidak menggunakan selimut. Baru kali ini saya mengalami tidur di alam bebas tanpa merasa kedinginan atau pun kepanasan.

Setelah kru perahu menyiapkan perahu, Reka sudah menyiapkan sarapan ala barat untuk kami, panekuk pisang, telur mata sapi dan roti bakar sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Setelah menyelesaikan makan pagi, kami pun melanjutkan perjalanan ke hulu sungai Sekonyer menuju pos kedua di Camp Pondok Tanggui untuk melihat orangutan di feeding area pada pukul 9 pagi. Seperti kemarin, setibanya kami di Camp Pondok Tanggui kami harus melakukan perjalanan singkat sekitar 30 menit ke dalam hutan menuju tempat pemberian makan orangutan.

Jarak batas pengamatan di tempat ini lebih dekat daripada jarak batas pengamatan di Camp Tanjung Harapan kemarin. Kali ini kami bisa mengamati orangutan dari jarak 6-8 meter. Ada pengalaman yang menarik di tempat ini karena ada 2 ekor orangutan yang melintas di atas kami dan hanya berjarak  sekitar 2 meter bahkan sempat berhenti beberapa saat sebelum mereka memasuki area makan. Terdapat 5 ekor orangutan yang datang silih berganti menikmati pisang dan susu yang disediakan. Setiap kali seekor orangutan menyantap makanannya, orangutan yang lainnya hanya mengamati seolah menunggu gilirannya tiba. Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan orangutan dari jarak dekat yang  bergerak bebas memanjat pohon dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Setelah puas melihat orangutan, kami berjalan kembali menelusuri hutan menuju perahu kami yang sudah menanti di pangkalan. Di tengah perjalanan kami melihat beraneka ragam semut berukuran besar, kantung semar pemakan serangga dan berbagai jenis lumut yang tumbuh di atas tanah dan batang pohon besar. Dari Camp Pondok Tanggui tujuan selanjutnya adalah pos ketiga, Camp Leakey, situs terbesar di TNTP dan salah satu tonggak sejarah kegiatan ekowisata di Indonesia. Di tengah perjalanan menuju Camp Leakey warna air sungai berubah dari warna cokelat menjadi hitam kemerahan. Pemandu kami menjelaskan bahwa sebenarnya air sungai yang tampak sangat jernih tetapi dasar sungai adalah gambut dan terjadi fermentasi dari dedaunan yang membusuk yang menyebabkan warna air tampak gelap dan di bagian atas air terlihat warna air kemerahan seperti air teh. Terlihat beberapa ekor burung eksotis yang saya tidak ingat namanya satu persatu melintas di depan perahu kami. Mulai dari burung kecil berwarna warni,  berparuh biru, berparuh merah, sampai burung besar terbang rendah di atas permukaan sungai seolah menyambut kedatangan kami dengan masing-masing suaranya yang khas.

Siang ini kami menyantap makanan khas setempat opor terong khas Kalimantan yang menggoyang lidah kami karena rasanya cukup pedas. Ikan mas goreng dan tumis tempe tahu melengkapi makan siang kami di atas perahu. Kiran terlihat lebih nyaman dan bertanya jawab bersama seluruh kru perahu. Saking nyamannya sampai tidak sungkan lagi meminta makan ketika merasa lapar.

Akhirnya kami tiba di pangkalan Camp Leakey sebagai pos terakhir yang berjarak 60 kilometer dari titik awal keberangkatan kami. Waktu berkunjung di Camp Leakey adalah pukul 14.00 – 16.00 dan kami tiba di sana sejam sebelum waktu berkunjung dibuka. Beberapa saat setelah perahu berlabuh di pangkalan hujan deras mengguyur. Tentu saja situasi ini membuat Kiran girang karena bisa bermain hujan. Awalnya saya enggan bermain hujan-hujanan karena takut sakit, tetapi akhirnya saya ikut bermain hujan juga bersama Kiran mengingat kesempatan langka bermain hujan di paru-paru dunia. Sejam kemudian hujan berhenti dan pemandu kami mengajak kami pergi menuju area pemberian makan orangutan di Camp Leakey tetapi kami menolak karena merasa lebih nyaman berada di atas perahu setelah mengonfirmasi kepada pemandu kami kegiatan di sana hanya sebatas observasi orangutan seperti di pos 1 dan pos 2 sebelumnya. Kami mengajak kapten perahu kami untuk kembali menyusuri sungai dan menikmati keindahan alam di sepanjang sungai dan menyaksikan bekantan dan monyet ekor panjang yang berkumpul di atas pohon. Beberapa kali buaya pun terlihat oleh pemandu kami tetapi saya hanya melihat seekor buaya yang terlindas tepat di bawah perahu kami.

Langit masih mendung dan tidak terasa perjalanan menuju hilir sungai mulai menggelap menunjukkan malam telah tiba. Kali ini kami meminta bermalam di tepi sungai dan bukan di pangkalan seperti malam sebelumnya. Kapten dan krunya menyusuri sungai mencari tempat yang tepat untuk menambatkan perahunya. Setelah cukup lama mencari, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan perahu kami pun merapat di tepi sungai bertambat pada batang pohon nipah. Langit terlihat gelap dan kami agak kecewa karena tidak dapat menikmati gemerlap bintang malam ini. Tanpa diduga, ternyata perahu kami berhenti tepat di depan dua pohon yang sedang dihinggapi ratusan kunang-kunang seolah alam mencoba menghibur kami karena tidak dapat menikmati kemilau bintang dan digantikan dengan kerlip kunang-kunang. Kami pun tersihir dengan pemandangan yang disuguhkan alam untuk kami. Makan malam ditemani kerlip kunang-kunang, alam terlalu baik menyambut kami. Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan atas segala nikmat yang kami terima selama di sana. Bersyukur masih dapat menikmati keindahan sang pencipta sebelum suatu hari punah oleh keserakahan manusia. Kiran dan Tessa sudah terlelap di dalam kurung kelambu sedangkan saya dan Nuni masih asyik mengobrol sampai larut sambil menikmati kerlip kunang-kunang sambil berdiskusi tentang keindahan alam dan keserakahan diri yang perlahan menghancurkan alam.

Keesokan paginya kami bangun pukul 5 pagi disambut kicauan burung-burung dan sinar matahari yang terhalang pepohonan dan memancar menerangi satu sisi perahu kami. Berat hati meninggalkan semua keindahan alam ini tetapi kami harus mengejar pesawat pagi yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta pukul 10 pagi. Perahu mulai bergerak ke arah muara dan kembali ke Pelabuhan Kumai. Sepanjang perjalanan kami semua terdiam seolah tidak rela meninggalkan tempat tersebut. Kami mencoba menikmati setiap detik keheningan yang tersisa menuju ingar bingar kehidupan masyarakat modern.

Selamat tinggal alam yang telah mengingatkan kami akan keindahan Sang Pencipta. Maafkan kami yang terlalu mencintai diri sendiri dan melupakan tugas kami untuk merawatmu. Semoga kami berkesempatan untuk kembali dan menikmati keindahanmu.

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Kali ini kami berempat, saya, Nuni, Kiran, dan adik saya, Tessa pergi mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Mengingat saya belum pernah pergi ke Kalimantan sebelumnya, untuk pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa pemandu tur untuk alasan keamanan. Kami mengambil program tur tiga hari dua malam. Hari pertama kami berangkat dengan penerbangan pagi pukul 09.30 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seharusnya penerbangan tersebut hanya memakan waktu satu jam lima belas menit tetapi pesawat kami mengalami penundaan penerbangan selama satu jam. Setelah mendarat di Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) kami dijemput oleh salah satu staff penyedia jasa tur yang bernama Arief. Pemandangan menjelang pesawat mendarat sangat menyejukkan mata, saya hanya melihat pepohonan dan perkebunan yang saat itu saya belum tahu bahwa itu adalah perkebunan kelapa sawit, ya perkebunan kelapa sawit sudah memenuhi area tidak jauh dari bandara.

Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 20 menit kami pun tiba di pelabuhan Kumai sebagai pintu masuk TNTP. Arief hanya mengantarkan kami ke dermaga dan kami “dipindahtangankan” kepada seorang pemandu yang bernama Arifin beserta tim perahu kelotok yang berjumlah tiga orang, seorang kapten, seorang asisten kapten dan seorang tukang masak. Kami pun bergegas menaiki perahu dengan penuh semangat. Ada tiga ukuran perahu kelotok yang tersedia di sana, perahu kecil, sedang dan besar. Kami menggunakan perahu berukuran sedang yang bernama Harapan Mina.

Terdapat tiga tempat rehabilitasi orangutan yang akan kami kunjungi di dalam perjalanan ini: Camp Tanjung Harapan, Camp Tanggui, dan Camp Leakey.

Hari Pertama

Setelah perahu meninggalkan pelabuhan dan mengarah ke muara, perahu kami bergerak ke arah hulu melawan arus sungai. Ketika meninggalkan hilir, ada pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, yaitu pertemuan air laut dan air tawar yang membentuk garis jelas karena air sungai yang berwarna cokelat dan air laut yang berwarna hitam. Taman nasional yang seluas pulau Bali berada di sebelah kanan perahu kami. Kami mengawali perjalanan menyusuri sungai Sekonyer menuju Camp Tanjung Harapan selama lebih kurang 2 jam sambil menikmati jamuan makan siang di atas perahu yang dimasak dengan lezat oleh seorang gadis yang bernama Reka.

Hawa di sungai Sekonyer membuat kami terkejut karena kami pikir akan berhawa panas mengingat tempat ini adalah hutan hujan tropis. Tetapi ternyata hawa di sana sangat sempurna, tidak panas dan tidak dingin. Ketika perahu melaju kami menikmati silir angin.

Setelah tiba di Camp Tanjung Harapan, kami melakukan perjalanan singkat selama 30 menit ke dalam hutan menuju feeding area untuk orangutan yang masih dalam proses rehabilitasi atau orang-orang di sana menyebutnya orangutan semi liar. Jalur trekking menuju feeding area pun ramah anak dan Kiran terlihat menikmati perjalanannya di dalam hutan tanpa keluhan. Masih banyak orangutan yang belum sepenuhnya bisa bertahan hidup secara mandiri dan TNTP ini adalah surga bagi orangutan karena mereka bisa belajar bertahan hidup di alam tanpa harus terganggu oleh manusia. Orangutan yang datang ke feeding area mendapatkan pisang dan susu sekali dalam sehari, terdapat petugas yang menyiapkan makanan pada waktu tertentu untuk memastikan mereka mendapatkan makanan jika memerlukannya. Kami hanya melihat 4 ekor orang utan yang datang kami mengamatinya dari tempat pengamatan yang berjarak lebih kurang 20 meter.

Dari Camp Tanjung Harapan, kami diajak menyusuri sungai Sekonyer lagi dan mencari kawanan bekantan di sepanjang pinggiran sungai. Perahu kami merapat ke dekat tanaman bakung supaya kami dapat menikmati pemandangan sekelompok bekantan yang sedang berkumpul di atas pohon. Mengamati binatang di habitatnya secara bebas merupakan pengalaman yang luar biasa dan sulit untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Sambil menikmati pemandangan tersebut dari atas perahu Reka memanjakan kami lagi dengan sepiring pisang goreng yang mengepul panas melengkapi sore hari kami.

Kiran terlihat menikmati hari pertamanya dengan berbincang-bincang bersama kapten dan pemandu kami, Arifin. Sesekali Kiran berkeliling ke bagian bawah perahu dan kembali ke bagian atas perahu untuk mengusir kebosanannya. Kami pun mengamati perkembangan interaksi sosial Kiran yang meningkat dan lebih percaya diri bertemu dengan orang baru dan berinteraksi tanpa kesulitan.

Setelah puas mengamati bekantan, atau lebih tepatnya diamati oleh bekantan, perahu kami kembali ke dermaga di Camp Tanjung Harapan. Sebagai pelengkap malam pertama kami di sana, kami memindahkan meja makan ke bagian paling belakang perahu yang tidak beratap dan kami menikmati makan malam di atas perahu ditemani cahaya lilin dan diterangi gemerlap bintang di langit. Keadaan di sungai gelap gulita dan tidak ada cahaya kecuali yang berasal dari dalam perahu sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang yang berkilauan di langit. Tidak hanya itu, karena kami sangat beruntung dapat menyaksikan benda langit yang jatuh ketika kami sedang asyik menikmati bintang-bintang di atas langit.

Selepas makan malam seharusnya kami melakukan trekking malam ke dalam hutan untuk melihat satwa-satwa yang ada di malam hari. Tetapi karena kondisi kesehatan saya yang tidak fit, kami pun memutuskan untuk beristirahat supaya keesokan harinya saya bisa berkegiatan lebih maksimal. Matras pun digelar di geladak dan kelambu dipasang di sekeliling matras untuk melindungi kami dari serangan nyamuk. Kegelapan dan keheningan malam membuat kami cepat terlelap. Suara-suara binatang malam ibarat lantunan lagu yang mengantarkan kami menuju alam mimpi.

TNTP bisa dijadikan sebagai tempat alternatif bagi pasangan yang ingin berbulan madu dan menjauh diri dari keramaian.

Bersambung ke bagian kedua . . .

Apa Saja yang dilakukan Selama Travelschooling

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berdasarkan pengalaman kami travelschooling, ada banyak manfaat yang kami dapatkan selama berada jauh dari rumah kali ini, yaitu:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri menjadi role model bagi Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke manapun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak akan ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian setempat

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner setempat

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari pekarangan, yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong. Lidah tidak cocok dengan masakan lokal? Jangan khawatir, Indomaret dan masakan Padang bertebaran di mana-mana.

Belajar bahasa lokal

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka. Dunia yang akan membuat anak –anak menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Kitalah sebagai orang dewasa yang harus menjaga agar dunia itu tetap ada selamanya.    

 

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling (Part 2)

Travelschooling, ngapain aja sih?

Di awal tahun 2017, travelschooling  menjadi salah satu resolusi keluarga kami. Semenjak kami memutuskan untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan Kiran, belajar langsung dari alam dan ahlinya sudah menjadi cita-cita kami.

Baru setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di pertengahan tahun lalu, travelschooling pertama kami terlaksana. Waktu itu kami berkunjung ke Salatiga, Ambarawa, Semarang. Temanggung, dan lanjut ke Bandung. Ternyata benar kata orang ya, travelling itu bikin nagih hehe. Tapi karena kami keluarga homeschooler, pengalaman selama di perjalanan secara sadar kami gunakan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk  mendapatkan pembelajaran dari tempat- tampat yang kami kunjungi.

Sebenarnya travelschooling itu apa sih? Travelschooling menurut pengertian kami adalah belajar mengalami langsung dengan berada di lokasi dan dari orang-orang yang tinggal di lokasi tersebut. Dengan kata lain, belajar dari pengalaman-pengalaman dan interaksi selama di perjalanan. Pada kesempatan kedua ini, kami melakukan perjalanan ke daerah Bandung Timur, yaitu ke daerah Cicalengka, Cijapati dan ke Purwakarta. Berikut ini manfaat yang kami dapatkan dari pengalaman travelschooling kami:

Ngobrol, ngobrol dan ngobrol

Perjalanan berjam-jam di dalam mobil tidak akan terasa membosankan jika digunakan untuk ngobrol banyak hal. Seperti yang kami lakukan selama 3 jam perjalanan ke Bandung, topik random, mulai dari tebak-tebakan merk mobil, membahas perjalanan padi menjadi nasi, sejarah Lamborghini, sampai The Power of Dream seorang Seichiro Honda. Ketika ngobrol tentang sesuatu atau ketika Kiran bertanya, kami memulainya atau menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan ke Kiran, “What do you think, Kiran?” Kami biarkan jawaban polos seorang anak mengalir dengan sendirinya. Dari situ, selain melatih proses berpikir Kiran, kami bisa melihat sejauh mana informasi yang ia tahu tentang suatu hal. Ngobrol pun bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Cape ngobrol? Saatnya putar musik, saya memasukkan lagu yang disukai semua anggota keluarga dan bernyanyilah kami bersama-sama selama di perjalanan.

Mendekatkan anggota keluarga

Ketika travelschooling, kami merasa kedekatan kami lebih terasa satu sama lain karena menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama.  Untuk travelschooling kali ini, kami berkesempatan tinggal selama 2 hari dengan warga setempat di daerah Cijapati, suatu daerah di atas gunung Mandalawangi, di perbatasan Bandung dan Garut. Di daerah ini sama sekali tidak ada sinyal Hp dan koneksi internet. Jadi selama 2 hari di sana, batre HP saya awet sekali hihihi. Nah, momen berharga ini kami manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga. Berjalan-jalan menikmati hamparan sawah dan pepohonan hijau, memasak makanan, membaca buku, akan sangat terasa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Kalau bosan bagaimana? Kami membawa kartu permainan. Kiran suka sekali bermain Uno, jadi kami bisa berkali-kali bermain kartu Uno dan tertawa lepas bersama, Baru kali itu hari-hari kami terasa panjang karena tidak terganggu alat komunikasi.

Berinteraksi dengan warga setempat

Sebagai keluarga homeschooler, kami berusaha memantaskan diri untuk menjadi role model untuk Kiran. Jadi dalam perjalanan ini, kami berusaha menunjukkan kepada Kiran cara berinteraksi dengan masyarakat setempat. Beruntung Ian mengenal beberapa orang di kampung yang kami singgahi dan kami diperbolehkan menginap di rumah salah satu warga bernama Dahlan. Dahlan adalah seorang seorang guru muda yang mengajar satu-satunya SMP di daerah Cijapati. Dahlan memperbolehkan kami untuk menginap di rumahnya. Kami belajar banyak sekali dari seorang Dahlan, terutama  tentang keikhlasan. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi SMP Dahlan mengajar. Ian pun diminta untuk membantu salah satu siswa sekolah itu. Guru-guru di sekolah itu menyambut kami dengan makanan khas daerah Sunda. Kiran pun belajar membaur dengan siswa di sekolah. Meskipun usia Kiran jauh lebih muda, mereka mau bermain bersama Kiran. Ke mana pun kami berjalan, senyuman, anggukan dan sapaan berbahasa Sunda selalu dilemparkan oleh warga setempat. Keramahan yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Kehangatan yang diberikan oleh warga yang tidak terpapar kemajuan teknologi inilah yang kami ingin Kiran rasakan dan semoga memberikan kesan yang mendalam di dalam dirinya.

Mendekatkan diri dengan alam

Lebih dekat dengan alam adalah salah satu dari banyak alasan kenapa kami memulai perjalanan ini. Dari awal, saya dan Ian ingin Kiran mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia dapatkan di Jakarta. Bermain tanah, turun ke sawah, mengejar ayam dan bebek, mengenal berbagai macam tanaman (yang ayah dan bundanya tahu aja sih hehe), menangkap belut, mendaki gunung, menyusuri sungai kecil, dan yang paling penting menikmati semua ciptaan yang kuasa. Susahnya sinyal dan koneksi internet terasa sangat menguntungkan bagi kami, karena banyaknya waktu bisa kami luangkan untuk mengajak Kiran bersyukur atas ciptaan yang Maha Kuasa.

Mengenal kesenian daerah tersebut

Ketika berkunjung ke Cijapati, kami beruntung bisa melihat langsung permainan musik Calung, salah satu kesenian tradisional daerah Jawa Barat. Anak-anak setempat sedang berlatih memainkan alat musik tersebut. Setelah itu, diskusi pun mengalir, mulai dari bahan baku alat musik tersebut, cara memainkannya, sampai cara membuatnya. Sayangnya Kiran tidak sempat mencoba memainkan Calung tersebut, Isin ceunah hehe.

Mencoba kuliner lokal

Berkunjung ke suatu daerah tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba makanan khas setempat. Lebih bagus lagi jika bisa terlibat dalam proses membuat masakan khas daerah itu. Dengan mencoba makanan lokal, kita bisa tahu sumber daya alam yang menjadi bahan dasar makanan yang disantap. Selama di Cijapati, lidah kami dimanjakan dengan cemilan khas yang bahan dasarnya diambil langsung dari kebun yaitu combro, singkong goreng, ubi rebus, awug, dan keripik singkong.

Belajar bahasa penduduk setempat

Karena kunjungan kali ini ke Bandung, otomatis bahasa yang kami dengar adalah bahasa Sunda. Karena Ian adalah penutur asli, saya dan Kiranlah yang banyak belajar bahasa lokal. Kiran justru banyak mendapatkan kosakata baru dari interaksi dengan anak-anak warga setempat. Begitu pula dengan saya, selama satu minggu di Jawa Barat, perbendaharaan kata Sunda saya cukup meningkat hehe.

Main, main dan main

Sebelum memulai perjalanan, saya dan Ian sepakat akan mengurangi penggunaan gawai selama di perjalanan dan tidak memberikan gawai untuk Kiran sama sekali. Ternyata, it worked! Kiran hanya sekali meminta untuk bermain game di gawai. Setelah itu ia sama sekali tidak ingat dan sibuk bermain. Dalam keterbatasan, apa pun bisa menjadi permainan bagi anak-anak. Daun dan batu pun bisa disulap menjadi kompor dan piring. Pasir dan batu bisa menjadi istana di dunia imajinasi mereka.

Apakah ada yang mau mengundang kami ke kampung halamannya, hehehe?