Travelschooling (Part 1)

Travelschooling (Part 1)

Gabungan kata ‘travel’ dan ‘school’ ini sudah kita lakukan sejak dulu hanya saja dahulu belum ada istilah yang tepat untuk menyebutnya. Ini hanyalah masalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Biasanya kalau suatu kegiatan diberikan label yang menarik, maka orang-orang akan lebih tertarik untuk memahaminya. Kami pun ingin turut menyuarakan keistimewaan dari travelschooling. Menerapkan konsep pendidikan yang sejalan dengan tujuan travelling yang berfokus pada proses dan bukan tujuan. Kita semua pasti mencapai tujuan hanya masalah waktu saja. Bagian yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari setiap proses yang kita jalani. 

Menjalani travelschooling tidak perlu jauh-jauh dan mahal, mengunjungi keluarga atau teman yang tinggal di kota tetangga pun bisa kita lakukan. Pengalaman kali ini kami mengundang diri kami untuk tinggal bersama salah seorang teman kami di sekitar perbatasan Bandung dan Garut di daerah Cijapati. Beruntung kami diizinkan tinggal bersama Dahlan seorang pemuda setempat yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Ketika kami tiba di rumahnya kami dikenalkan kepada Risko seorang murid kelas 2 madrasah aliah yang merupakan salah satu anak didiknya yang sudah 6 bulan tinggal bersamanya. Dahlan pun bercerita bahwa orangtua Risko memiliki keterbatasan fisik dan ekonomi untuk menyekolahkannya. Dahlan dan teman-teman sejawatnya mencoba membantu Risko mengingat semangat belajarnya yang sangat tinggi. Guru-guru muda yang masih berstatus guru honorer itu bahu membahu mendukung keseharian Risko supaya bisa tetap bersekolah. Risko adalah seorang anak yang pemalu. Kiran suka sekali dengan Risko sampai saat ini pun selalu menyebut nama Risko karena memang Risko adalah seorang anak yang lugu dan likeable.

Dahlan adalah seorang guru bahasa Inggris dan mencoba melatih Risko untuk berbicara bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Mereka pun membuka rumah mereka kepada anak-anak tingkat dasar di sekitar untuk belajar bahasa Inggris di sore hari. Meskipun pelajaran bahasa Inggris sudah dihapus dari kurikulum saat ini tetapi Dahlan meyakini anak-anak sekolah dasar masih memerlukan bahasa Inggris. Saat kami berada di sana ada dua orang anak yang sedang berlajar bahasa Inggris bersama Risko bahkan anak-anaknya diantar dan dijemput. Bayarannya apa, kebahagiaan. Ketulusannya mendidik patut kita tiru.

Kami pun mengobrol berjam-jam dan bermain kartu Uno bersama ditemani ubi rebus dan goreng singkong yang menghangatkan tubuh kami melawan rasa dingin yang mulai menyerang. Keesokan harinya kami diundang oleh Ibu Heni, wakil kepala SMP Bina Harapan Bangsa, untuk berkunjung ke sana. Ketika kami tiba di sana Dahlan sedang sibuk melatih anak-anak pramuka yang akan mengikuti LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) tingkat propinsi yang di adakan di daerah Rancaekek. Kami melihat semangat yang membara dari para siswa yang akan mengikuti lomba tersebut. Bel istirahat berbunyi dan kedua regu yang akan menjadi perwakilan sekolah pun tampil di tengah lapangan basket ditonton oleh semua siswa yang sedang beristirahat. Dahlan menjelaskan latihan pada waktu istirahat ini adalah untuk melatih mental kedua regu supaya percaya diri menghadapi ratusan pasang mata yang akan menonton mereka pada saat lomba. Cara yang sangat cerdas.

Kiran terlihat sangat menikmati suguhan formasi baris berbaris yang ditampilkan oleh kedua regu sekolah itu. Kami pun bercengkerama dengan guru-guru lainnya yang sedang beristirahat di ruang guru dan menikmati suara merdu dari seorang siswi yang akan mengikuti lomba kesenian antar sekolah. Kami pun berkesempatan untuk melihat keterampilan seorang siswi yang akan dikirimkan untuk lomba bercerita bahasa Inggris. Luar biasa semangat belajar para siswa yang bersekolah di sana dan hal ini pun diakui guru-guru di sana. Mereka mengaku murid-murid di SMP Bina Harapan Bangsa masih belum terkontaminasi oleh derasnya teknologi yang di lain sisi adalah keterbatasan mereka untuk menerima informasi dari apa yang terjadi di luar wilayah mereka. 

Dengan segala keterbatasannya mereka menerima pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan dibekali pembelajaran Microsoft Office serta diberi tugas untuk mengakses internet setiap minggu yang mengharuskan mereka untuk ‘turun gunung’. Murid-murid yang bersemangat ditangani oleh para pendidik yang berdedikasi.

Kami sangat berterima kasih atas penerimaan yang sangat hangat oleh semua pihak SMP Bina Harapan Bangsa. Khususnya untuk Dahlan dan Risko untuk kebersamaannya selama kami tinggal di sana. Semoga kita bisa melakukannya lagi di lain kesempatan. Berdasarkan pengalaman ini saya mendapatkan sebuah ide ‘holiday swap’ (bertukar pengalaman tinggal di rumah orang lain sebagai alternatif liburan yang dapat mengedukasi anak-anak). Apakah Anda tertarik? Silakan kontak saya jika tertarik bergabung dan ingin ikut menindaklanjuti ide ini.

Berikut ini vlog bagian pertama yang saya buat untuk mendokumentasikan kegiatan travelschooling kami:

Belajar di Mana Saja

Belajar di Mana Saja

Minggu lalu Kiran memiliki dua proyek. Proyek pertama adalah proyek bersama mengenai DKI Jakarta dan Kiran mendapatkan bagian untuk mencari informasi mengenai pakaian dan rumah Betawi. Proyek yang kedua adalah proyek pribadi Kiran membuat lapbook mengenai ulat sutra. Dua minggu yang lalu Kiran berkunjung ke Rumah Sutra di Bogor dan belajar secara langsung dari ahlinya.

Sesuai dengan judulnya, saya ingin membagikan pengalaman Kiran melakukan presentasi 2 hari yang lalu dalam perjalanan menuju Bandung. Jika Anda menonton video berikut ini abaikan saja lokasinya karena kami berada di dalam sebuah toko waralaba di Stasiun Gambir. Karena jadwal yang cukup padat, kami banyak berkegiatan di luar baik itu berkaitan dengan keseharian Kiran maupun pekerjaan yang saya lakukan. Oleh karena itu, ketika Kiran menyelesaikan proyek lapbooknya, kami membawa lapbook yang Kiran buat dalam perjalanan kami ke Bandung.

Fleksibilitas dalam melakukan kegiatan belajar Kiran adalah salah satu keuntungan dalam menjalani homeschooling bersama Kiran. Kami dapat melakukan pekerjaan atau kegiatan lainnya tanpa harus mengorbankan kegiatan anggota keluarga lainnya.

Tujuan dari proyek ini sebenarnya adalah untuk melatih Kiran membuat lapbook dengan harapan dirinya terbiasa dengan tahapan yang harus dilakukan dalam membuat lapbook sebagai salah satu model belajar yang bisa dilakukannya.

Ada tiga hal yang menarik perhatian Kiran mengenai ulat sutra: ulatnya, predatornya, dan siklus hidupnya. Kiran membuat gambar-gambarnya secara bertahap kemudian menempelkannya di dalam sebuah map. Kiran menulisi gambar-gambar yang dibuatnya sedangkan judul sampulnya ditulis oleh Nuni. Berikut ini presentasi Kiran mengenai ulat sutra:

Bermain Bersama di Alam Bebas

Bermain Bersama di Alam Bebas

Kami memiliki agenda bulanan untuk bermalam bersama dengan tujuan mempererat ikatan di antara keluarga. Di Jakarta semua kegiatan selalu diadakan di dalam ruangan, sulit sekali untuk berkegiatan di luar ruangan. Oleh karena itu kami merasa ada baiknya memiliki agenda bulanan bersama anak-anak supaya mereka bisa bermain di alam bebas dan merasakan keindahan alam secara langsung. Beberapa kali kami berkemah bersama tetapi kali ini kami menginap di rumah Paman Rian yang berlokasi di Parakan Salak, Sukabumi. Kami menginap di sana selama 3 hari 2 malam.

Setelah menempuh perjalan selama tiga jam kami tiba di rumah Paman Rian dan kami semua langsung disuguhi pemandangan luar biasa, para petani yang sedang menanam padi. Terik matahari mulai terasa menyengat kulit. Terlihat seorang petani membuat pola kotak-kotak menggunakan peralatan sederhana di sawah yang tanahnya sudah diolah untuk membantu petani lainnya menanam padi menggunakan pola tersebut sebagai panduan jarak tanam. Di saat yang sama petani-petani lainnya yang kebanyakan adalah perempuan bekerja beriring menanam bibit padi di area yang sudah disiapkan. Anak-anak kami sangat beruntung karena untuk pertama kalinya mereka menyaksikan secara langsung proses penanaman padi. Anak-anak melihat usaha para petani yang bekerja keras untuk menanam padi.

Setelah puas mengamati para petani bekerja di sawah, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sungai yang terletak tidak jauh dari sawah. Kami melewati kebun singkong di mana tanaman-tanaman tersebut tumbuh tinggi menunjukkan kesuburan tanahnya. Anak-anak pun melewati tumpukan jerami sisa panen sebelumnya dan melakukan pengamatan singkat di sana.

Tidak lama kemudian kami pun tiba di sungai. Anak-anak terlihat sangat menikmati waktu mereka di sungai. Mungkin karena aliran airnya yang tidak begitu deras membuat mereka nyaman bermain di sana. Mereka melompat ke sana kemari mencoba memuaskan keingintahuan mereka di sungai. Mereka menemukan kepiting, ikan dan udang di sungai yang sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun melempari sungai dengan bebatuan  dan mengamati cipratan air yang terjadi menggunakan ukuran batu yang berbeda. Setelah puas berbasah-basah mereka pun kembali ke rumah Paman Rian dan membersihkan diri. Ternyata beberapa jam kemudian mereka mengajak kami pergi ke sungai lagi. Keriangan pun terjadi lagi di sungai dan mereka kembali ketika matahari hampir terbenam. Senangnya melihat mereka bermain bebas di alam terbuka. Syukur kami terhadap berkah dan karunia-Nya.

Keesokan harinya Paman Rian dan Bibi Rina mengajak kami untuk mengunjungi sebuah Situ Gunung di Cisaat. Kami menempuh perjalanan selama dua jam untuk tiba di lokasi. Ternyata danau ini terletak di bawah kaki Gunung Pangrango. Tidak banyak yang kami lakukan di sana selain makan dan menikmati pemandangan di sekitar danau yang diramaikan oleh kegembiraan anak-anak yang sedang asyik bermain bersama. Setelah kami semua memuaskan diri di sana, kami pun kembali untuk menyantap makan siang bersama. Setelah makan siang, kira-kira kegiatan apa yang anak-anak lakukan? Bermain di sungai (lagi).

Dua jam kemudian mereka sudah kembali. Terdengar teriakan mereka dari tengah sawah berlari kembali menuju rumah karena hujan mulai mulai turun dan semakin deras. Hujan tidak berhenti sampai malam hari dan kami pun mengisi waktu kami dengan mengobrol bersama dan anak-anak menyibukkan diri mereka dengan berbagai kegiatannya menghibur diri mereka sendiri dengan bermain bersama. Memang benar, dalam keadaan terbatas, anak-anak dapat mengeksplorasi imajinasinya tanpa harus dimanjakan dengan berbagai mainan (edukatif). Beberapa konflik terjadi tetapi pada akhirnya mereka dapat menyelesaikannya sendiri. Malam pun tiba dan suara obrolan kami digantikan oleh keheningan malam yang diiringi kemerduan suara binatang-binatang di sawah. 

Hari terakhir, kami pun mendapatkan kejutan karena pada pagi hari kami berjalan kaki ke pasar tradisional untuk sarapan di sana ternyata tidak jauh dari sana kami menemukan danau kecil yang bernama Situ Sukarame dan rencana sarapan di pasar pun batal dan kami menghabiskan pagi menyusuri pinggir danau. Anak-anak menaiki rakit untuk menyeberangi danau dan melihat seekor kalajengking yang telah mati. Sekali lagi mereka melihat pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan di Jakarta. Meskipun anak-anak kelelahan tetapi semuanya merasa senang.

Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 dan kami pun kembali ke Jakarta dengan perasaan senang luar biasa. Terima kasih Bibi Rina, Paman Rian, Rafa dan Rendra untuk pengalamannya yang tidak akan terlupakan. Banyak hal yang anak-anak pelajari di dalam kegiatan ini. Selama tiga hari anak-anak bermain bersama dan semakin mengenal satu sama lain. Obrolan malam orangtua pun menarik untuk ditindaklanjuti. Obrolannya tentang apa? Nanti saja saya ceritakan kalau sudah terealisasi supaya penasaran  😉 

CATATAN

Dalam perjalanan ini kami menggunakan aplikasi Wave untuk memantau masing-masing kendaraan ketika sedang berkendara sehingga mempermudah kami ketika kendaraan kami terpencar cukup jauh. Wave adalah sebuah aplikasi untuk berbagi lokasi secara waktu nyata (real time) dengan kontak yang kita pilih dan waktu akses pun dapat kita batasi mulai dari 15 menit sampai dengan 8 jam demi kenyamanan privasi penggunanya. Fungsinya lebih kurang sama seperti Life360 tetapi dengan batasan waktu sehingga para pengguna Wave hanya saling berbagi akses  ketika diperlukan saja sedangkan Life360 tidak dibatasi oleh waktu dan selalu terhubung setiap saat (meskipun bisa kita matikan secara manual di bagian pengaturan jika diperlukan). Aplikasi ini pun dilengkapi dengan fitur chat dan bisa melakukan panggilan. Kita bisa berbagi lokasi dengan salah satu kontak kita atau secara berkelompok dengan cara membuat grup (maksimal 10 kontak).

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .

Berkunjung ke Semarang

Berkunjung ke Semarang

Untuk pertama kalinya kami bertiga melakukan perjalanan yang cukup lama selama 10 hari. Perjalanan ini pun kami jadikan sebagai perayaan Nuni yang sudah menjadi ibu rumah tangga selama satu bulan ini. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah menghadiri acara KAMTASIA (Kampung Komunitas Indonesia) yang diselengarakan di Salatiga selama 3 hari 2 malam. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, kami pun merencanakan untuk mampir ke Semarang dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Kemudian sepulangnya dari Salatiga kami berkunjung ke Cicalengka untuk merayakan ulang tahun kakek Kiran sekaligus menunjukkan perayaan kemerdekaan di sana kepada Kiran.

Selepas itu, saya harus mengunjungi beberapa tempat di Bandung kota dan daerah Lembang untuk keperluan pekerjaan. Jadi sekalian saja kami rencanakan sebagai liburan panjang untuk kami bertiga; belajar, bermain dan bekerja. Semenjak Nuni berhenti bekerja, kami semakin menikmati kehidupan keluarga kami. Setiap hari kami berdiskusi dan belajar untuk menyelaraskan kehidupan keluarga kami. Satu hal yang kami rasakan dan sangat kami nikmati bersama, tidak ada lagi perasaan terpisah antara bekerja, berumah tangga dan menjalani pendidikan rumah Kiran. Semakin lama semuanya menjadi sebuah kesatuan. Perjalanan panjang ini contohnya, tidak mungkin kami lakukan jika Nuni masih dalam keadaan bekerja.

Mengingat perjalanan yang cukup panjang, saya akan membagikan cerita perjalanan kami dalam beberapa bagian.

HARI PERTAMA  (JAKARTA-SEMARANG)

Kami berangkat pada Kamis malam bersama keluarga Mas Samli (Samli, Sari, Shawqi, dan Syifa) yang tinggal di Tangerang Selatan. Setelah beberapa hari sebelumnya kami berkomunikasi via Whatsapp kami bersepakat untuk bertemu di tempat istirahat yang berlokasi di kilometer 42. Kami pun berangkat pukul 10 malam dari rumah dan tiba di tempat istirahat pukul 11.30. Setelah menunggu Mas Samli dan keluarganya selama setengah jam karena sebelumnya mendapat kabar sedang terjebak di daerah Cilandak, saya pun mencoba menghubungi Mbak Sari dan ternyata mereka sudah melewati kami tempat kami. Rupanya ada kesalahan karena tempat istirahat yang dimaksud berlokasi di kilometer 39 bukan 42. Akhirnya kami pun bertemu di tempat istirahat selanjutnya di kilometer 57 dan berkendara bersama menuju Semarang. Berikut ini timelapse perjalanan kami dari Jakarta ke Semarang:

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”. (sumber: wikipedia)

Sembilan jam kemudian kami pun tiba di Semarang pada hari Jumat pagi dan segera mengunjungi tempat pertama yang ingin kami kunjungi bersama, Kelenteng Sam Poo Kong. Ketika kami tiba, tempat parkir sudah mulai terisi mobil dan bus menunjukkan jumlah pengunjung yang meningkat selama kami berada di sana. Kami tidak melakukan penelusuran informasi mengenai tempat ini sebelumnya karena ingin menjadikan kegiatan ini sealami mungkin bagi Kiran dengan harapan banyak pertanyaan yang akan muncul darinya ketika tiba di sana. Rupanya Kiran dan Shawqi hanya tertarik dengan ular sanca yang berada di kandang, katak yang sedang berenang di parit dan seekor tikus yang kelelahan akibat terjebak di dalam parit daripada kemegahan bangunan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah kami mencoba memancing mereka pun dengan mengajukan pertanyaan pancingan yang berkaitan dengan klenteng dan patung-patung besar di sekitarnya, perhatian mereka berdua masih tetap terpusat di ketiga hal di atas, ya sudahlah. Berbeda dengan Syifa yang sudah berusia 10 tahun menunjukkan pengamatan terhadap sekelilingnya dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran.

Terdapat 2 tempat penjualan tiket yang berbeda, yang pertama menjual tiket masuk area luar klenteng Rp 5.000 dan tempat penjualan tiket yang kedua menjual tiket untuk memasuki kelenteng sebesar Rp 30.000. Kami hanya membeli tiket untuk area luar kelenteng karena kami tiket yang dijual untuk memasuki kelenteng pun ternyata akses yang diberikan sangat terbatas dan kami hanya bisa melihat dari luar kelenteng (sama saja dengan melihat dari area luar kelenteng hanya saja jaraknya beberapa meter lebih dekat). Jujur saja kami agak bingung dengan konsep penjualan tiket yang ditawarkan. Tapi ya begitulah adanya.

Dari area luar kelenteng kami dapat menikmati keindahan arsitektur bangunannya yang megah dan tempatnya yang bersih terawat. Ada sebuah patung besar Laksamana Cheng He sebagai simbol bahwa beliau pernah dating ke Semarang dan sempat tinggal di sana. Bagi yang tertarik mendatangi tempat ini, lebih baik untuk berkunjung di pagi hari atau di sore hari untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Tempat ini ramah anak karena areanya yang luas sehingga anak-anak dapat bergerak bebas ke sana sini.

Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah, yang katanya adalah masjid kebanggaan warga Jawa Tengah. Dengan penuh harapan kami mendatangi tempat ini karena sempat melakukan penelusuran melalui mesin pencari Google dan foto-foto yang muncul di dalam hasil penelusuran sangat menarik. Begitu tiba di sana, kami merasa kecewa, karena mesjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini tidak seperti yang kami harapkan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah sampah yang berserakan di sekitar masjid. Terlihat banyak pengunjung yang berpotret di sekitar mesjid.

Berdasarkan keterangan Mbak Sari yang tiba lebih awal di sana (karena kami sempat terpisah dan tersasar) coretan di dinding masjid pun terlihat mengotori keindahan masjid ini. Bangunan nan megah pun tidak terasa nyaman karena kondisinya yang tidak terawat. Langit-langit yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan sejak pertama kali dibangun. Karena tidak banyak hal yang bisa kami nikmati di sana, kami pun tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan tempat tersebut selepas menunaikan solat Jumat.

Selanjutnya kami berencana mengunjungi Lawang Sewu. Tetapi, karena perjalanan panjang yang kami lakukan dari Jakarta dan belum sempat istirahat, akhirnya kunjungan ke Lawang Sewu pun kami batalkan dan segera meluncur ke penginapan kami di Djajanti House. Rencananya kami beristirahat sejenak dan mengunjungi Lawang Sewu di sore hari kemudian berwisata kuliner pada malam hari. Setelah berkeliling mencari Djajanti House karena lokasi di Google Maps yang salah, tibalah kami di sana pada pukul dua sore. Karena anak-anak masih bersemangat untuk bermain, kami pun menyempatkan diri untuk bermain menemani mereka meskipun badan sudah sangat kelelahan. Setelah kami puas bermain, saya sangat kelelahan karena belum tidur sejak Kamis malam. Akhirnya saya mandi dan beristirahat untuk menyegarkan diri. Rupanya saya tertidur pulas dan bangun tidur keesokan paginya sehingga rencana mengunjungi Lawang Sewu dan wisata kuliner pun tidak jadi kami lakukan. Mbak Sari dan keluarga sempat mencoba membangungkan kami pada malam hari untuk berwisata kuliner, tetapi Nuni dan Kiran pun ternyata terlelap dengan nyenyak sehingga mereka berwisata kuliner tanpa kami.

Saya sangat merekomendasikan Djajanti House sebagai tempat istirahat di Semarang. Tempat ini menyewakan 8 kamar dengan 2 jenis pilihan kamar dengan harga Rp 300.000 (sudah termasuk sarapan untuk dua orang) dan Rp 350.000 per malamnya (sudah termasuk sarapan untuk tiga orang). Selain harganya yang bersahabat, tempat ini unik, nyaman dan tenang. Berikut ini kondisi Djajanti House pada saat kami berkunjung:

Nantikan lanjutan cerita perjalanan kami berikutnya di Museum Kereta Api Ambarawa dan Kemah KAMTASIA . . .