taman nasional tanjung puting

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Kedua

Pagi ini kami dibangunkan kicauan burung di sekitar pinggir sungai. Tadi malam kami tidur di atas perahu tanpa merasakan hawa dingin meskipun kami tidak menggunakan selimut. Baru kali ini saya mengalami tidur di alam bebas tanpa merasa kedinginan atau pun kepanasan.

Setelah kru perahu menyiapkan perahu, Reka sudah menyiapkan sarapan ala barat untuk kami, panekuk pisang, telur mata sapi dan roti bakar sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan. Setelah menyelesaikan makan pagi, kami pun melanjutkan perjalanan ke hulu sungai Sekonyer menuju pos kedua di Camp Pondok Tanggui untuk melihat orangutan di feeding area pada pukul 9 pagi. Seperti kemarin, setibanya kami di Camp Pondok Tanggui kami harus melakukan perjalanan singkat sekitar 30 menit ke dalam hutan menuju tempat pemberian makan orangutan.

Jarak batas pengamatan di tempat ini lebih dekat daripada jarak batas pengamatan di Camp Tanjung Harapan kemarin. Kali ini kami bisa mengamati orangutan dari jarak 6-8 meter. Ada pengalaman yang menarik di tempat ini karena ada 2 ekor orangutan yang melintas di atas kami dan hanya berjarak  sekitar 2 meter bahkan sempat berhenti beberapa saat sebelum mereka memasuki area makan. Terdapat 5 ekor orangutan yang datang silih berganti menikmati pisang dan susu yang disediakan. Setiap kali seekor orangutan menyantap makanannya, orangutan yang lainnya hanya mengamati seolah menunggu gilirannya tiba. Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan orangutan dari jarak dekat yang  bergerak bebas memanjat pohon dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

Setelah puas melihat orangutan, kami berjalan kembali menelusuri hutan menuju perahu kami yang sudah menanti di pangkalan. Di tengah perjalanan kami melihat beraneka ragam semut berukuran besar, kantung semar pemakan serangga dan berbagai jenis lumut yang tumbuh di atas tanah dan batang pohon besar. Dari Camp Pondok Tanggui tujuan selanjutnya adalah pos ketiga, Camp Leakey, situs terbesar di TNTP dan salah satu tonggak sejarah kegiatan ekowisata di Indonesia. Di tengah perjalanan menuju Camp Leakey warna air sungai berubah dari warna cokelat menjadi hitam kemerahan. Pemandu kami menjelaskan bahwa sebenarnya air sungai yang tampak sangat jernih tetapi dasar sungai adalah gambut dan terjadi fermentasi dari dedaunan yang membusuk yang menyebabkan warna air tampak gelap dan di bagian atas air terlihat warna air kemerahan seperti air teh. Terlihat beberapa ekor burung eksotis yang saya tidak ingat namanya satu persatu melintas di depan perahu kami. Mulai dari burung kecil berwarna warni,  berparuh biru, berparuh merah, sampai burung besar terbang rendah di atas permukaan sungai seolah menyambut kedatangan kami dengan masing-masing suaranya yang khas.

Siang ini kami menyantap makanan khas setempat opor terong khas Kalimantan yang menggoyang lidah kami karena rasanya cukup pedas. Ikan mas goreng dan tumis tempe tahu melengkapi makan siang kami di atas perahu. Kiran terlihat lebih nyaman dan bertanya jawab bersama seluruh kru perahu. Saking nyamannya sampai tidak sungkan lagi meminta makan ketika merasa lapar.

Akhirnya kami tiba di pangkalan Camp Leakey sebagai pos terakhir yang berjarak 60 kilometer dari titik awal keberangkatan kami. Waktu berkunjung di Camp Leakey adalah pukul 14.00 – 16.00 dan kami tiba di sana sejam sebelum waktu berkunjung dibuka. Beberapa saat setelah perahu berlabuh di pangkalan hujan deras mengguyur. Tentu saja situasi ini membuat Kiran girang karena bisa bermain hujan. Awalnya saya enggan bermain hujan-hujanan karena takut sakit, tetapi akhirnya saya ikut bermain hujan juga bersama Kiran mengingat kesempatan langka bermain hujan di paru-paru dunia. Sejam kemudian hujan berhenti dan pemandu kami mengajak kami pergi menuju area pemberian makan orangutan di Camp Leakey tetapi kami menolak karena merasa lebih nyaman berada di atas perahu setelah mengonfirmasi kepada pemandu kami kegiatan di sana hanya sebatas observasi orangutan seperti di pos 1 dan pos 2 sebelumnya. Kami mengajak kapten perahu kami untuk kembali menyusuri sungai dan menikmati keindahan alam di sepanjang sungai dan menyaksikan bekantan dan monyet ekor panjang yang berkumpul di atas pohon. Beberapa kali buaya pun terlihat oleh pemandu kami tetapi saya hanya melihat seekor buaya yang terlindas tepat di bawah perahu kami.

Langit masih mendung dan tidak terasa perjalanan menuju hilir sungai mulai menggelap menunjukkan malam telah tiba. Kali ini kami meminta bermalam di tepi sungai dan bukan di pangkalan seperti malam sebelumnya. Kapten dan krunya menyusuri sungai mencari tempat yang tepat untuk menambatkan perahunya. Setelah cukup lama mencari, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam dan perahu kami pun merapat di tepi sungai bertambat pada batang pohon nipah. Langit terlihat gelap dan kami agak kecewa karena tidak dapat menikmati gemerlap bintang malam ini. Tanpa diduga, ternyata perahu kami berhenti tepat di depan dua pohon yang sedang dihinggapi ratusan kunang-kunang seolah alam mencoba menghibur kami karena tidak dapat menikmati kemilau bintang dan digantikan dengan kerlip kunang-kunang. Kami pun tersihir dengan pemandangan yang disuguhkan alam untuk kami. Makan malam ditemani kerlip kunang-kunang, alam terlalu baik menyambut kami. Rasa syukur yang tak terhingga kami panjatkan atas segala nikmat yang kami terima selama di sana. Bersyukur masih dapat menikmati keindahan sang pencipta sebelum suatu hari punah oleh keserakahan manusia. Kiran dan Tessa sudah terlelap di dalam kurung kelambu sedangkan saya dan Nuni masih asyik mengobrol sampai larut sambil menikmati kerlip kunang-kunang sambil berdiskusi tentang keindahan alam dan keserakahan diri yang perlahan menghancurkan alam.

Keesokan paginya kami bangun pukul 5 pagi disambut kicauan burung-burung dan sinar matahari yang terhalang pepohonan dan memancar menerangi satu sisi perahu kami. Berat hati meninggalkan semua keindahan alam ini tetapi kami harus mengejar pesawat pagi yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta pukul 10 pagi. Perahu mulai bergerak ke arah muara dan kembali ke Pelabuhan Kumai. Sepanjang perjalanan kami semua terdiam seolah tidak rela meninggalkan tempat tersebut. Kami mencoba menikmati setiap detik keheningan yang tersisa menuju ingar bingar kehidupan masyarakat modern.

Selamat tinggal alam yang telah mengingatkan kami akan keindahan Sang Pencipta. Maafkan kami yang terlalu mencintai diri sendiri dan melupakan tugas kami untuk merawatmu. Semoga kami berkesempatan untuk kembali dan menikmati keindahanmu.

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*