Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Ketiga (Catatan Kiran)

Setelah tulisan sebelumnya membahas mengenai hari pertama dan dua hari terakhir di TNTP, tulisan ini adalah hasil pengamatan kami terhadap Kiran mulai dari persiapan dan selama melakukan perjalanan.

Apa saja yang Kiran lakukan selama di bandara dan di perahu selama tiga hari. Apakah Kiran tidak merasa bosan? Tentu saja rasa bosan hadir tetapi Kiran mampu mengatasi kebosanannya dengan benyak cara, seperti mengobrol dengan orang-orang di sekitarnya, bermain hujan, menyapa setiap orang yang di dalam perahu yang berpapasan, bermain kartu, bermain kaus kaki, mondar mandir mengelilingi perahu, tidur-tiduran, dan menikmati pemandangan. Selama melakukan perjalanan tidak ada rengekan dari Kiran dan kami melihat Kiran menikmati sekali perjalanannya selama berada di TNTP.

Persiapan

Pada perjalanan ini Kiran belajar memprediksi kebutuhannya  selama bepergian 3 hari. Kiran dapat menyiapkan barang bawaannya dan memeriksa ulang barang bawaannya secara mandiri sebelum pergi. Salah satu tambahan bawaan kami kali ini adalah kotak makanan, sendok dan garpu untuk memastikan kami bisa membeli makanan tanpa harus menggunakan plastik atau kemasan lainnya jika kami ingin membeli makanan di dalam perjalanan. Peralatan makan ini berada di dalam tas kami masing-masing.

Di bandara

Maskapai penerbangan yang kami gunakan tidak memiliki layanan web check-in sehingga kami harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan tiket masuk pesawat karena antrean cukup panjang dan banyak penumpang yang membawa bagasi. Kiran terlihat santai dan mampu menghibur dirinya sendiri dengan mengajak kami bermain untuk mengusir rasa bosannya. Kami pun memainkan beberapa permainan ketika menunggu pesawat datang. Meskipun beberapa kali terlihat merasa bosan tetapi kami tidak mendengarkan keluhan apa pun dari Kiran.

Mengingat banyaknya markah dan papan iklan di dalam bandara, Kiran terlihat cukup sibuk membaca tulisan yang ada di sekelilingnya. Ternyata memang kalau anaknya sudah siap tidak perlu disuruh membaca, anaknya sendiri yang akan membaca dengan suka hati ketika dirinya siap.

Di atas perahu

Kami melihat Kiran selalu berusaha untuk memulai percakapan dengan orang-orang. Pemandu kami cukup kewalahan karena Kiran banyak bertanya kepadanya selama berada di atas perahu bahkan pemandu kami tidak dapat menolak ketika Kiran mengajaknya bermain kartu.

Kiran sudah mulai belajar berbasa basi sebagai pembuka percakapan meskipun agak kocak, seperti, “Bapak, belum mandi ya?” kemudian mengalirlah obrolan mereka untuk beberapa saat. Kami menilai Kiran sudah mampu menyampaikan keinginannya dengan baik seperti menanyakan kepada nakhoda “Bapak, berapa menit lagi kita sampai?” begitu pula ketika berinteraksi dengan Reka, “Tante, aku lapar mau makan”.

Pekerjaan rumah

Satu hal yang menjadi perhatian kami saat ini adalah melatih Kiran untuk menyebut nama orang yang diajak berbicara. Sering kali Kiran tidak mengingat nama orang-orang yang berinteraksi dengannya. Saat ini Kiran terlihat hanya menggunakan kata “bapak, ibu, tante, om, paman, dan bibi” tanpa diikuti nama orang tersebut. Begitu pula ketika bermain dengan teman barunya.

Beginilah cara kami menemani Kiran belajar dengan mengajaknya bepergian baik jarak dekat ke tempat kerja atau jarak jauh dan bertemu banyak orang baru membantu dirinya untuk belajar berkomunikasi dan belajar menempatkan diri. Bagaimana menjadi bagian dalam percakapan, menginterupsi percakapan dan menjadi pendengar yang baik. Dengan mengobrol kami melatih kemampuan berbahasanya. Bagaimana menyampaikan gagasan pikirannya dan memperkenalkannya pada kosakata baru yang diperlukannya.

Tidak banyak yang kami tuntut dari Kiran di usianya saat ini. Kami hanya mengamati kemandirian, nalar, bahasa, adab dan perilakunya untuk kemudian kami jadikan tujuan pencapaian keluarga kami bersama Kiran. Saat ini kemampuan akademis tidak kami persoalkan dan kami cukup senang dengan kemampuan membaca dan berhitung Kiran yang dipelajarinya secara alami dalam kegiatan sehari-hari atau melakukan permainan bukan dengan mengisi lembar kerja. Karena kami percaya belajar tidak selalu tentang hal-hal terkait akademis kami juga harus belajar tentang pemanusiaan.

Melakukan perjalanan, berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling kemudian melakukan pengamatan selama melakukan perjalanan. Itulah yang kami lakukan ketika menjalani travelschooling bersama Kiran.

Kami tidak membuat penilaian secara khusus tetapi melakukan pengamatan secara diam-diam. Sepertinya membuat panduan yang bisa kami gunakan untuk mengukur perkembangan Kiran dari waktu ke waktu akan mempermudah pencatatan pengamatan kami. Saya jadi bersemangat untuk membuat panduannya.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*