taman nasional tanjung puting

Taman Nasional Tanjung Puting – Bagian Pertama

Kali ini kami berempat, saya, Nuni, Kiran, dan adik saya, Tessa pergi mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Mengingat saya belum pernah pergi ke Kalimantan sebelumnya, untuk pertama kalinya kami melakukan perjalanan dengan menggunakan jasa pemandu tur untuk alasan keamanan. Kami mengambil program tur tiga hari dua malam. Hari pertama kami berangkat dengan penerbangan pagi pukul 09.30 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seharusnya penerbangan tersebut hanya memakan waktu satu jam lima belas menit tetapi pesawat kami mengalami penundaan penerbangan selama satu jam. Setelah mendarat di Bandara Iskandar (Pangkalan Bun) kami dijemput oleh salah satu staff penyedia jasa tur yang bernama Arief. Pemandangan menjelang pesawat mendarat sangat menyejukkan mata, saya hanya melihat pepohonan dan perkebunan yang saat itu saya belum tahu bahwa itu adalah perkebunan kelapa sawit, ya perkebunan kelapa sawit sudah memenuhi area tidak jauh dari bandara.

Setelah melakukan perjalanan menggunakan mobil selama 20 menit kami pun tiba di pelabuhan Kumai sebagai pintu masuk TNTP. Arief hanya mengantarkan kami ke dermaga dan kami “dipindahtangankan” kepada seorang pemandu yang bernama Arifin beserta tim perahu kelotok yang berjumlah tiga orang, seorang kapten, seorang asisten kapten dan seorang tukang masak. Kami pun bergegas menaiki perahu dengan penuh semangat. Ada tiga ukuran perahu kelotok yang tersedia di sana, perahu kecil, sedang dan besar. Kami menggunakan perahu berukuran sedang yang bernama Harapan Mina.

Terdapat tiga tempat rehabilitasi orangutan yang akan kami kunjungi di dalam perjalanan ini: Camp Tanjung Harapan, Camp Tanggui, dan Camp Leakey.

Hari Pertama

Setelah perahu meninggalkan pelabuhan dan mengarah ke muara, perahu kami bergerak ke arah hulu melawan arus sungai. Ketika meninggalkan hilir, ada pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, yaitu pertemuan air laut dan air tawar yang membentuk garis jelas karena air sungai yang berwarna cokelat dan air laut yang berwarna hitam. Taman nasional yang seluas pulau Bali berada di sebelah kanan perahu kami. Kami mengawali perjalanan menyusuri sungai Sekonyer menuju Camp Tanjung Harapan selama lebih kurang 2 jam sambil menikmati jamuan makan siang di atas perahu yang dimasak dengan lezat oleh seorang gadis yang bernama Reka.

Hawa di sungai Sekonyer membuat kami terkejut karena kami pikir akan berhawa panas mengingat tempat ini adalah hutan hujan tropis. Tetapi ternyata hawa di sana sangat sempurna, tidak panas dan tidak dingin. Ketika perahu melaju kami menikmati silir angin.

Setelah tiba di Camp Tanjung Harapan, kami melakukan perjalanan singkat selama 30 menit ke dalam hutan menuju feeding area untuk orangutan yang masih dalam proses rehabilitasi atau orang-orang di sana menyebutnya orangutan semi liar. Jalur trekking menuju feeding area pun ramah anak dan Kiran terlihat menikmati perjalanannya di dalam hutan tanpa keluhan. Masih banyak orangutan yang belum sepenuhnya bisa bertahan hidup secara mandiri dan TNTP ini adalah surga bagi orangutan karena mereka bisa belajar bertahan hidup di alam tanpa harus terganggu oleh manusia. Orangutan yang datang ke feeding area mendapatkan pisang dan susu sekali dalam sehari, terdapat petugas yang menyiapkan makanan pada waktu tertentu untuk memastikan mereka mendapatkan makanan jika memerlukannya. Kami hanya melihat 4 ekor orang utan yang datang kami mengamatinya dari tempat pengamatan yang berjarak lebih kurang 20 meter.

Dari Camp Tanjung Harapan, kami diajak menyusuri sungai Sekonyer lagi dan mencari kawanan bekantan di sepanjang pinggiran sungai. Perahu kami merapat ke dekat tanaman bakung supaya kami dapat menikmati pemandangan sekelompok bekantan yang sedang berkumpul di atas pohon. Mengamati binatang di habitatnya secara bebas merupakan pengalaman yang luar biasa dan sulit untuk dideskripsikan melalui kata-kata. Sambil menikmati pemandangan tersebut dari atas perahu Reka memanjakan kami lagi dengan sepiring pisang goreng yang mengepul panas melengkapi sore hari kami.

Kiran terlihat menikmati hari pertamanya dengan berbincang-bincang bersama kapten dan pemandu kami, Arifin. Sesekali Kiran berkeliling ke bagian bawah perahu dan kembali ke bagian atas perahu untuk mengusir kebosanannya. Kami pun mengamati perkembangan interaksi sosial Kiran yang meningkat dan lebih percaya diri bertemu dengan orang baru dan berinteraksi tanpa kesulitan.

Setelah puas mengamati bekantan, atau lebih tepatnya diamati oleh bekantan, perahu kami kembali ke dermaga di Camp Tanjung Harapan. Sebagai pelengkap malam pertama kami di sana, kami memindahkan meja makan ke bagian paling belakang perahu yang tidak beratap dan kami menikmati makan malam di atas perahu ditemani cahaya lilin dan diterangi gemerlap bintang di langit. Keadaan di sungai gelap gulita dan tidak ada cahaya kecuali yang berasal dari dalam perahu sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang yang berkilauan di langit. Tidak hanya itu, karena kami sangat beruntung dapat menyaksikan benda langit yang jatuh ketika kami sedang asyik menikmati bintang-bintang di atas langit.

Selepas makan malam seharusnya kami melakukan trekking malam ke dalam hutan untuk melihat satwa-satwa yang ada di malam hari. Tetapi karena kondisi kesehatan saya yang tidak fit, kami pun memutuskan untuk beristirahat supaya keesokan harinya saya bisa berkegiatan lebih maksimal. Matras pun digelar di geladak dan kelambu dipasang di sekeliling matras untuk melindungi kami dari serangan nyamuk. Kegelapan dan keheningan malam membuat kami cepat terlelap. Suara-suara binatang malam ibarat lantunan lagu yang mengantarkan kami menuju alam mimpi.

TNTP bisa dijadikan sebagai tempat alternatif bagi pasangan yang ingin berbulan madu dan menjauh diri dari keramaian.

Bersambung ke bagian kedua . . .

Posted by Rahdian Saepuloh

Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.

Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.

Leave a Reply

Required fields are marked*