Zero Waste

Untuk kiriman (posting) pertama ini saya akan mengulas film dokumenter yang berjudul Trashed. Setelah menonton film tersebut bersama Klub Oase (klub praktisi homeschool) yang bertempat di Rumah Inspirasi, sedih rasanya mengetahui bahwa selama ini saya telah memberikan kontribusi sampah kepada beberapa generasi berikutnya khususnya anak saya dan keturuannya kelak.

Informasi yang saya dapatkan dari film tersebut ternyata adalah sebuah mimpi buruk yang saya yakin tidak ingin semua orang dengar. Sampah kita (sampah plastik pada khususnya) telah mencemari sumber kehidupan kita; air, tanah, dan udara. Bahkan di beberapa tempat yang tercemar secara langsung telah menyebabkan bayi-bayi baru lahir dengan keadaan cacat karena terkena zat-zat yang berbahaya dari sampah tersebut.

Sampah plastik ternyata tidak bisa dihancurkan atau terurai tanpa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Seperti dijelaskan di dalam film tersebut bahwa sampah yang dibakar oleh insinerator (tungku pembakaran sampah) akan melepaskan zat-zat berbahaya ke udara dan biasanya lokasi dari insinerator ini tidak jauh dari tempat bermukin warga. Bahkan di negara-negara maju pun yang sudah melakukan kegiatan ini, segera menghentikan pembakaran sampah karena warganya sudah mulai tercemar. Silakan baca lebih lanjut mengenai dampak plastik terhadap lingkungan.

Bahkan salah satu dampak negatif dari pembakaran sampah adalah terciptanya ‘dioksin’. Dioksin adalah bahan beracun berbentuk kristal putih yang dihasilkan saat terjadi pembakaran subtansi alami kimiawi, serta larut dalam lemak (silakan baca selengkapnya mengenai dioksin langsung dari Badan Kesehatan Dunia).

Berikut ini ilustrasi dari mana dioksin berasal:

sumber dioxin
(sumber: klik gambar)

Bagaimana dengan sampah yang dibuang di tempat penampungan sampah atau tempat pembuangan akhir (TPA)? Hal ini juga sama berbahayanya karena berbagai macam sampah bercampur menjadi satu dan pada akhirnya akan mencemari tanah dan sumber air di dalam tanah. Silakan baca apa yang terjadi di TPA.

Mungkin kita bisa saja mengatakan bahwa rumah kita sudah bersih atau rumah kita jauh dari tempat penampungan sampah. Tetapi apakah kita tahu sumber air yang kita gunakan sehari-hari dari mana? Apakah kita tahu bahwa sumber makanan kita seperti, ayam, ikan, kambing, sapi dan binatang lainnya yang dagingnya kita makan tidak terpapar atau hidup di lingkungan bebas sampah?

Sebagai informasi, Jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai sekitar 26.000 ton per hari, menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup. Jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai sekitar 26.000 ton per hari, menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup. (sumber)

Bayangkan jumlah puluhan ribu ton tersebut hanya ditampung di 10 TPA yang tersebar di seluruh Indonesia dan sampah yang dihasilkan oleh warga Jakarta adalah 6.500 ton setiap harinya. Berapa banyak sampah yang sudah kita hasilkan setiap harinya?

Mari kita lihat durasi penguraian sampah yang kita hasilkan:

Ternyata selama ini kita telah terbuai dengan “iklan” gerakan ‘recycle’ (daur ulang) yang ternyata berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari penyelenggara pemutaran film tersebut bahwa sampah yang kita daur ulang sebagai bahan baku untuk memproduksi barang baru hanyalah 3-5% dari barang baru tersebut. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa untuk memproduksi barang baru tersebut membutuhkan banyak hal, seperti, transportasi dan proses pembuatan barang baru tersebut yang melibatkan bahan bakar, listrik, dan hal lainnya yang juga dalam proses kegiatannya memberikan polusi terhadap lingkungan kita.

Dalam gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), nampaknya kita melupakan bahwa ada 2R lainnya yang belum kita maksimalkan, yaitu mengurangi (reduce) dan reuse (memakai ulang).

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah di dalam keseharian kita:

  1. Gunakan tas belanja yang bisa dipakai ulang supaya tidak menggunakan plastik kresek.
  2. Membeli makanan, sayuran, buah-buahan di pasar tradisional dan belilah barang dalam jumlah besar (untuk mengurangi penggunaan jumlah kemasan plastik).
  3. Hentikan pembelian barang yang menggunakan kemasan terlalu banyak.
  4. Jangan membuang barang yang masih berfungsi dan sudah tidak terpakai. Bergabunglah di grup Berbagi untuk Bumi, grup yang saya buat untuk menampung barang bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Anda bisa memberi barang atau mendapatkan barang gratis.
  5. Contoh sederhana memaksimalkan 3R dalam kegiatan sehari-hari.
  6. Lebih cermat dalam membeli peralatan makan dan minum berbahan plastik. Pastikan labelnya angka 5 (di dalam segitiga), artinya Kemasan tersebut berbahan PP (polypropylene) yang merupakan pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama sebagai tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum (termasuk botol minum untuk bayi). Mengenal arti kode label kemasan plastik.
  7. Langkah terakhir adalah tentunya kita harus melatih diri untuk tidak terlalu konsumtif dan mengurangi berjajan. Kalau pun berjajan, hendaklah membawa kotak makanan sendiri supaya tidak membawa sampah ketika pulang ke rumah.
  8. Menabunglah di bank sampah. Carilah informasi di daerah Anda dan menabung di bank sampah lebih menguntungkan untuk semua pihak dan lingkungan kita. Penyetor sampah akan mendapatkan uang dan penerima sampah bisa mengelola sampah yang sudah kita pilah untuk didaur ulang.
  9. Tujuh Kiat Membuat Acara yang Minim Sampah.

Semoga kiriman ini bermanfaat bagi yang membaca. Harap diingat bahwa saya dan keluarga pun masih belajar jatuh bangun untuk mengurangi sampah di dalam rumah kami. Kami pun ingin mengajak pembaca semuanya untuk memulai dari sekarang dan mulailah dari hal terkecil yang kita mampu lakukan. Mungkin untuk betul-betul hidup tanpa sampah (zero waste) adalah hal yang paling berat mengingat ketergantungan kita terhadap produk keseharian yang kita gunakan dan sulit untuk kita tinggalkan. Namun perubahan sekecil apa pun dari setiap rumah tangga akan membuat dampak yang besar terhadap bumi di mana kita tinggal.

Mari kita bersama-sama mengurangi sampah.

Posted by Rahdian Saepuloh

<p>Rahdian yang biasa dipanggil Ian adalah seorang swadidik. Kegiatannya saat ini mengelola Language Studies Indonesia, lembaga pendidikan Bahasa Indonesia untuk penutur asing di Jakarta dan menikmati keseharian bersama anak lelakinya yang sedang menjalani pendidikan rumah. Selain itu Ian sangat tertarik dengan teknologi dan perkembangannya.</p>
<p>Lembaga yang dipimpinnya telah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri sejak 2014 sebagai The Best Education Program of The Year serta pengalamannya di dunia bisnis sejak tahun 2007 telah membuat membuat dirinya dijadikan konsultan bisnis untuk membantu beberapa perusahaan startup nasional memulai bisnisnya.</p>

Leave a Reply

Required fields are marked*