Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

Kamtasia (Kampung Komunitas Indonesia)

KAMTASIA diselenggarakan di Kampoeng Java, Salatiga selama 3 hari 2 malam (12-14 Agustus 2016). Konsep kegiatan ini dibuat dengan tema perkemahan. Meskipun berkemah, para peserta dimanjakan dengan layanan yang diberikan oleh panitia mulai dari makanan yang disiapkan tepat waktu dan makanan ringan yang selalu tersedia menjelang makan siang. Tim panitia telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kami pun tidak khawatir dengan anak-anak karena panitia telah menyediakan berbagai kegiatan untuk anak-anak sehingga orangtuanya dengan leluasa mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Acara ini dihadiri oleh pelaku komunitas di dunia pendidikan. Para keluarga yang mengutamakan pendidikan berbasis keluarganya. Terdapat lebih kurang 50 keluarga yang mengikuti kegiatan ini. Setiap keluarga ditempatkan dalam sebuah kampung dengan total 7 kampung dan terdapat 6 sampai 8 keluarga di setiap kampungnya. Terdapat kafe dadakan dari komunitas CBE Kampung Juara yang memanjakan kami dengan jajanannya yang sehat dan membuat kami dapat menikmati suguhan kafe di sela-sela kegiatan.

Kegiatan yang pertama kali diadakan ini adalah proses kolaborasi antara komunitas dari berbagai kota. Kami bertemu beberapa keluarga yang sudah kami kenal dan juga berkesempatan untuk mengenal keluarga-keluarga baru yang menyenangkan. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari kegiatan ini. Mulai dari penanganan pendidikan anak, cara berkomunitas, sampai dengan pengembangan diri. Untuk saya, kegiatan ini menyegarkan pikiran saya. Bagaimana saya belajar untuk mengelola diri dan berefleksi dari setiap orang yang saya jumpai.

Sudah dua kali saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Padepokan Margosari (sebutan untuk keluarga Ibu Septi dan Pak Dodik). Saya mulai melihat ciri khas dari kegiatan yang mereka adakan, salah satunya yang saya suka adalah larangan untuk membahas SARAT (Suku Agama Ras dan Anggota Tubuh) ketika berkegiatan dan fokus pada kebutuhan diri. Ambil yang kita anggap baik dan tidak perlu menghakimi orang lain. Tidak ada benar dan salah melainkan bermanfaat atau tidak bagi yang menerima informasi. Nilai ini mulai saya resapi dan kami terapkan sebagai nilai di dalam keluarga.

Fokus dari kegiatan ini adalah sebagai forum untuk belajar, berbagi dan berjejaring antara pelaku komunitas khususnya di bidang pendidikan dengan tema kegiatan CBE (Community Based Education).

Terdapat beberapa perwakilan dari komunitas yang sudah lama terbentuk dan yang baru terbentuk membagikan cerita dalam komunitasnya. Setiap peserta kegiatan diharapkan dapat mengambil nilai-nilai yang dapat ditiru dan diaplikasikan di dalam komunitasnya masing-masing. Sekali lagi Pak Dodik sebagai moderator mengingatkan kami semua bahwa sesi berbagi tersebut bukanlah sesi penghakiman melainkan sesi berbagi yang harus kami manfaatkan sebaik-baiknya.

Setiap komunitas dibentuk atas dasar kesamaan terhadap sesuatu, mulai dari kesamaan lokasi, kesamaan minat, hobi,atau profesi, kesamaan nilai atau perpaduan dari semuanya. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada sebuah harapan pemenuhan kebutuhan bersama yang kemudian dirancang untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Komitmen setiap anggota komunitas menjadi kunci utama dalam keberlangsungan sebuah komunitas.

Sebulan sebelum para peserta bertemu Pak Dodik dan Ibu Septi menyediakan forum diskusi via Whatsapp untuk persiapan kami yang diadakan seminggu sekali. Dimulai dari sesi Fine Tuning untuk memastikan semua peserta memahami konsep yang diadakan oleh Padepokan Margosari:

Komunitas terdiri dari sekumpulan orang atau kelompok orang yang memiliki kesamaan dan melakukan interaksi sosial diantara mereka.

Sifat komunitas ini longgar sekali, ada yang diorganisasi dengan baik (well organized), ada yang berjalan tanpa arah, ada yang memiliki ikatan kuat,  ada pula yang longgar, ada yang memiliki struktur dan pembagian tugas, ada juga yang serabutan, ada yang berbadan hokum, ada pula yang sekadar kumpulan, dan sebagainya. Sifat-sifat ini tidak serta merta menjadikan sebuah komunitas baik atau tidak baik.

KAMTASIA tidak bermaksud menyatukan pendapat. Peserta justru didorong untuk pulang dengan membawa aneka rupa gagasan yang akan diwujudkan di area aktivitas masing-masing. Warna-warni ini akan menjadikan kita kaya ragam dan memiliki banyak alternative kegiatan komunitas. Perbedaan itu indah dan rahmat. Berbeda itu biasa.

Beberapa tamu yang diundang bukan untuk mengajari hidup berkomunitas melainkan memperkaya wawasan kita.

Sejak Ibu Septi memperkenalkan CBE, banyak dari kami yang penasaran dengan konsep ini. Apa itu CBE dan apakah semua komunitas homeschooling adalah CBE? Dan banyak pertanyaan yang dilontarkan para peserta kegiatan. CBE adalah program swadaya masyarakat di dalam membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimulai dengan para keluarga mendidik anak-anaknya dengan baik, kemudian meluas pada masyarakat sekitarnya sehingga terwujud generasi yang unggul. 

Pak Dodik memberikan contoh CBE yang terjadi di Venezuela di tingkat pendidikan tinggi sebagai berikut:

Di Venezuela, sebuah revolusi sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Revolusi telah mengubah orientasi pendidikan: pendidikan tidak lagi untuk tujuan profit dan mencetak tenaga kerja murah, tetapi untuk mencerdaskan rakyat dan memanusiakan manusia.

Revolusi pendidikan di Venezuela telah melangkah lebih jauh lagi: metode dan konsep pendidikan pun berubah. Pendidikan tidak melulu formal dan mekanis, tetapi sekarang diselenggarakan secara demokratis, egaliter, dan terintegrasi dengan rakyat atau komunitas.

Salah satu terobosan itu adalah pembentukan sekolah dokter bernama “Medicina Integral Comunitaria” (MIC). Berbeda dengan sekolah dokter pada umumnya, MIC adalah “universitas tanpa tembok”, yang melatih kaum muda untuk menjadi dokter di komunitasnya. Sekolah ini terintegrasi pada dua misi sosial pemerintahan Chavez: program Mission Sucre (program pendidikan) dan Barrio Adentro (program klinik kesehatan komunitas).

Siswa dari MIC adalah para pemuda dari lingkungan di sekitar klinik barrio adentro. Sebagian besar mereka adalah pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Pada pagi hari, siswa ini membantu para dokter melayani pasien, seraya mempelajari bagaimana dokter merespon kebutuhan kesehatan komunitas. Pada sore harinya, para siswa akan bertemu dengan para pengajar MIC dalam sebuah klas formal dengan kurikulum sistematis. Para dokter muda ini akan dididik paling cepat enam tahun.

Model MIC sebetulnya diambil dari pengalaman Kuba. Di Kuba, konsep ini dinamai medicina general integral (MIG). Di tahun 1980an, sebagai upaya menjembatani layanan kesehatan dengan keluarga, Kuba memulai program yang disebut “Dokter Keluarga”. Di situ, dokter tinggal kantor medis kecil, sering disebut consultorio, yang berada di tengah komunitas yang dilayaninya.

Di tahun 1990-an, Kuba berhadapan dengan tiga kontradiksi besar: kejatuhan Soviet, krisis ekonomi Kuba, dan embargo AS. Kuba pun mengalami krisis pangan, energi dan obat-obatan. Untuk mengatasi soal krisis di bidang kesehatan, Kuba dipaksa melahirkan dokter lebih banyak. Inilah yang mendasari pembentukan medicina general integral (MIG).

Di Venezuela, konsep pendidikan dokter MIC dimulai tahun 2005, dengan dukungan penuh dokter-dokter Kuba. Saat itu, para dokter Kuba diberi tanggung-jawab ganda: tidak hanya melayani pasien di klinik barrio adentro, tetapi juga mengajar sebagai tutor atau mentor di pelatihan dokter komunitas.

Tujuan utama MIC mengintegrasikan pelatihan dokter keluarga ke dalam komunitas sebagai upaya merespon kebutuhan medis seluruh rakyat, menggunakan sumber daya lokal, dan mempromosikan penjagaan kesehatan preventif.

Keunggulan dari MIC terletak pada penyatuan antara teori dan praktek. Siswa tidak hanya mendengar pemaparan dari para guru, tetapi langsung juga terlibat dalam melayani pasien dengan bantuan dokter komunitas. Dengan begitu, mereka langsung memahami langkah-langkah pengobatan dasar.

MIC melahirkan jenis dokter yang berbeda dengan dokter pada umunya. Dokter yang dilahirkan oleh MIC adalah humanis, sosialis, berkomitmen penuh melayani rakyat.

 

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa

Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar Semarang, sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke Salatiga untuk menghadiri kegiatan KAMTASIA. Karena kegiatan tersebut dimulai pada pukul satu siang dan waktu tempuh dari Museum Kereta Api Ambarawa ke lokasi kegiatan KAMTASIA hanya 20 menit kami pun menyempatkan diri mampir ke Museum Kereta Api Ambarawa yang dapat kami tempuh dalam waktu 40 menit dari tempat kami menginap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 ketika kami tiba di sana dan kami langsung membeli tiket masuk museum seharga lima ribu rupiah per orang. Ketika memasuki area museum, kami melihat sejarah perkeretaapian yang terpampang di dinding museum (tulisan tentang sejarah kereta api akand ditulis terpisah karena panjang). Kami melihat koleksi kereta api uap dan kereta api diesel yang kondisinya terawat dengan baik. Kondisi museum pun terlihat terawat dan hampir tidak ada sampah di sekitar museum sehingga membuat kami merasa nyaman berlama-lama di sana. Sayangnya, kami tidak dapat kesempatan menaiki kereta api wisata karena kereta api wisata hanya beroperasi pada hari Minggu dengan 3 jadwal keberangkatan, pukul sepuluh pagi, pukul dua belas siang dan pukul dua siang.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Di museum ini terdapat peninggalan kereta api uap bergerigi yang sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. 

Anak-anak pun mulai mengeksplorasi museum dan mengamati setiap kereta yang dipajang. Dua jam kemudian, anak-anak masih asyik berkeliling di museum. Terlihat Kiran, Syifa dan Shawqi sangat menikmati waktu mereka di tempat museum. Kadang-kadang mereka pun merasa terganggu ketika kami mengajak mereka untuk berfoto bersama. 

Ketika saya memisahkan diri dari rombongan untuk beristirahat di pintu keluar. Nuni memanggil saya dan mengatakan bahwa Kiran tercebur ke dalam bak cuci kereta api. Ternyata karena sedang tidak fokus Kiran tidak sadar bahwa dia menginjak bak cuci yang dia kira adalah jalan. Untung saja Kiran bisa berenang karena baknya ternyata cukup dalam. Sebuah pengalaman yang membuat semua orang deg-degan. 

Setelah selesai mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, kami pun segera meluncur ke Kampoeng Java di Salatiga untuk mengikuti kegiatan KAMTASIA.

Nantikan cerita selanjutnya tentang KAMTASIA  . . .

Berkunjung ke Semarang

Berkunjung ke Semarang

Untuk pertama kalinya kami bertiga melakukan perjalanan yang cukup lama selama 10 hari. Perjalanan ini pun kami jadikan sebagai perayaan Nuni yang sudah menjadi ibu rumah tangga selama satu bulan ini. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah menghadiri acara KAMTASIA (Kampung Komunitas Indonesia) yang diselengarakan di Salatiga selama 3 hari 2 malam. Karena perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, kami pun merencanakan untuk mampir ke Semarang dan mengunjungi beberapa tempat di sana. Kemudian sepulangnya dari Salatiga kami berkunjung ke Cicalengka untuk merayakan ulang tahun kakek Kiran sekaligus menunjukkan perayaan kemerdekaan di sana kepada Kiran.

Selepas itu, saya harus mengunjungi beberapa tempat di Bandung kota dan daerah Lembang untuk keperluan pekerjaan. Jadi sekalian saja kami rencanakan sebagai liburan panjang untuk kami bertiga; belajar, bermain dan bekerja. Semenjak Nuni berhenti bekerja, kami semakin menikmati kehidupan keluarga kami. Setiap hari kami berdiskusi dan belajar untuk menyelaraskan kehidupan keluarga kami. Satu hal yang kami rasakan dan sangat kami nikmati bersama, tidak ada lagi perasaan terpisah antara bekerja, berumah tangga dan menjalani pendidikan rumah Kiran. Semakin lama semuanya menjadi sebuah kesatuan. Perjalanan panjang ini contohnya, tidak mungkin kami lakukan jika Nuni masih dalam keadaan bekerja.

Mengingat perjalanan yang cukup panjang, saya akan membagikan cerita perjalanan kami dalam beberapa bagian.

HARI PERTAMA  (JAKARTA-SEMARANG)

Kami berangkat pada Kamis malam bersama keluarga Mas Samli (Samli, Sari, Shawqi, dan Syifa) yang tinggal di Tangerang Selatan. Setelah beberapa hari sebelumnya kami berkomunikasi via Whatsapp kami bersepakat untuk bertemu di tempat istirahat yang berlokasi di kilometer 42. Kami pun berangkat pukul 10 malam dari rumah dan tiba di tempat istirahat pukul 11.30. Setelah menunggu Mas Samli dan keluarganya selama setengah jam karena sebelumnya mendapat kabar sedang terjebak di daerah Cilandak, saya pun mencoba menghubungi Mbak Sari dan ternyata mereka sudah melewati kami tempat kami. Rupanya ada kesalahan karena tempat istirahat yang dimaksud berlokasi di kilometer 39 bukan 42. Akhirnya kami pun bertemu di tempat istirahat selanjutnya di kilometer 57 dan berkendara bersama menuju Semarang. Berikut ini timelapse perjalanan kami dari Jakarta ke Semarang:

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Gedung Batu Sam Poo Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”. (sumber: wikipedia)

Sembilan jam kemudian kami pun tiba di Semarang pada hari Jumat pagi dan segera mengunjungi tempat pertama yang ingin kami kunjungi bersama, Kelenteng Sam Poo Kong. Ketika kami tiba, tempat parkir sudah mulai terisi mobil dan bus menunjukkan jumlah pengunjung yang meningkat selama kami berada di sana. Kami tidak melakukan penelusuran informasi mengenai tempat ini sebelumnya karena ingin menjadikan kegiatan ini sealami mungkin bagi Kiran dengan harapan banyak pertanyaan yang akan muncul darinya ketika tiba di sana. Rupanya Kiran dan Shawqi hanya tertarik dengan ular sanca yang berada di kandang, katak yang sedang berenang di parit dan seekor tikus yang kelelahan akibat terjebak di dalam parit daripada kemegahan bangunan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah kami mencoba memancing mereka pun dengan mengajukan pertanyaan pancingan yang berkaitan dengan klenteng dan patung-patung besar di sekitarnya, perhatian mereka berdua masih tetap terpusat di ketiga hal di atas, ya sudahlah. Berbeda dengan Syifa yang sudah berusia 10 tahun menunjukkan pengamatan terhadap sekelilingnya dan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran.

Terdapat 2 tempat penjualan tiket yang berbeda, yang pertama menjual tiket masuk area luar klenteng Rp 5.000 dan tempat penjualan tiket yang kedua menjual tiket untuk memasuki kelenteng sebesar Rp 30.000. Kami hanya membeli tiket untuk area luar kelenteng karena kami tiket yang dijual untuk memasuki kelenteng pun ternyata akses yang diberikan sangat terbatas dan kami hanya bisa melihat dari luar kelenteng (sama saja dengan melihat dari area luar kelenteng hanya saja jaraknya beberapa meter lebih dekat). Jujur saja kami agak bingung dengan konsep penjualan tiket yang ditawarkan. Tapi ya begitulah adanya.

Dari area luar kelenteng kami dapat menikmati keindahan arsitektur bangunannya yang megah dan tempatnya yang bersih terawat. Ada sebuah patung besar Laksamana Cheng He sebagai simbol bahwa beliau pernah dating ke Semarang dan sempat tinggal di sana. Bagi yang tertarik mendatangi tempat ini, lebih baik untuk berkunjung di pagi hari atau di sore hari untuk menghindari teriknya sengatan matahari. Tempat ini ramah anak karena areanya yang luas sehingga anak-anak dapat bergerak bebas ke sana sini.

Selepas itu, kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah, yang katanya adalah masjid kebanggaan warga Jawa Tengah. Dengan penuh harapan kami mendatangi tempat ini karena sempat melakukan penelusuran melalui mesin pencari Google dan foto-foto yang muncul di dalam hasil penelusuran sangat menarik. Begitu tiba di sana, kami merasa kecewa, karena mesjid kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini tidak seperti yang kami harapkan. Kondisi yang paling memprihatinkan adalah sampah yang berserakan di sekitar masjid. Terlihat banyak pengunjung yang berpotret di sekitar mesjid.

Berdasarkan keterangan Mbak Sari yang tiba lebih awal di sana (karena kami sempat terpisah dan tersasar) coretan di dinding masjid pun terlihat mengotori keindahan masjid ini. Bangunan nan megah pun tidak terasa nyaman karena kondisinya yang tidak terawat. Langit-langit yang kotor seolah tidak pernah dibersihkan sejak pertama kali dibangun. Karena tidak banyak hal yang bisa kami nikmati di sana, kami pun tidak berlama-lama di sana dan segera meninggalkan tempat tersebut selepas menunaikan solat Jumat.

Selanjutnya kami berencana mengunjungi Lawang Sewu. Tetapi, karena perjalanan panjang yang kami lakukan dari Jakarta dan belum sempat istirahat, akhirnya kunjungan ke Lawang Sewu pun kami batalkan dan segera meluncur ke penginapan kami di Djajanti House. Rencananya kami beristirahat sejenak dan mengunjungi Lawang Sewu di sore hari kemudian berwisata kuliner pada malam hari. Setelah berkeliling mencari Djajanti House karena lokasi di Google Maps yang salah, tibalah kami di sana pada pukul dua sore. Karena anak-anak masih bersemangat untuk bermain, kami pun menyempatkan diri untuk bermain menemani mereka meskipun badan sudah sangat kelelahan. Setelah kami puas bermain, saya sangat kelelahan karena belum tidur sejak Kamis malam. Akhirnya saya mandi dan beristirahat untuk menyegarkan diri. Rupanya saya tertidur pulas dan bangun tidur keesokan paginya sehingga rencana mengunjungi Lawang Sewu dan wisata kuliner pun tidak jadi kami lakukan. Mbak Sari dan keluarga sempat mencoba membangungkan kami pada malam hari untuk berwisata kuliner, tetapi Nuni dan Kiran pun ternyata terlelap dengan nyenyak sehingga mereka berwisata kuliner tanpa kami.

Saya sangat merekomendasikan Djajanti House sebagai tempat istirahat di Semarang. Tempat ini menyewakan 8 kamar dengan 2 jenis pilihan kamar dengan harga Rp 300.000 (sudah termasuk sarapan untuk dua orang) dan Rp 350.000 per malamnya (sudah termasuk sarapan untuk tiga orang). Selain harganya yang bersahabat, tempat ini unik, nyaman dan tenang. Berikut ini kondisi Djajanti House pada saat kami berkunjung:

Nantikan lanjutan cerita perjalanan kami berikutnya di Museum Kereta Api Ambarawa dan Kemah KAMTASIA . . .

Membuat Es Krim Goyang

Membuat Es Krim Goyang

Minggu ini kami belajar bersama hari Senin karena satu dan lain hal. Tapi tidak ada istilah I Don’t Like Monday pada kamus kami, jam setengah tujuh kami semua meluncur ke Jagakarsa untuk memulai hari bersama keluarga lainnya.  Walaupun  hujan plus macet, tetap tidak menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas bersama, apalagi Sifu Simon dari pagi sudah menanyakan waktu keberangkatan kami. Seperti Minggu lalu, berlatih Kungfu akan menjadi agenda tetap kami para orang tua yang ‘mager’ (malas gerak). Gurunya saja semangat begitu, kami juga ikutan semangat deh. Latihan Senin ini formasinya lengkap, Bibi Anita sudah sehat, yeeiiy, jadi ada teman senasib sependeritaan deh hihihi.

Lalu, kalau semua orangtua berolah raga, anak-anak ikutan jugakah? Ya jelas ngga dong. Mereka sibuk melepas rindu setelah seminggu tak bertemu. Sudah beberapa minggu ini Bibi Nada tidak mengeluarkan mainan milik Alma ketika anak-anak berkunjung. Justru dengan tidak adanya mainan, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Anak-anak menjadi lebih imaginative ketika bermain, misalnya mereka membuat rumah-rumahan dari kain dan bangku, pesawat dari lemari, bahkan main sekolah-sekolahan. Hmm, kayaknya mainan-mainan di rumah juga harus disingkirkan nih.

Kiran dan Ahsan juga sudah mengganti pesawat milik Alma yang rusak minggu lalu. Setelah satu minggu kedua anak laki-laki tersebut mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga pesawat yang persis sama. Alma pun senang menerima pesawat pengganti yang diberikan oleh Kiran dan Ahsan. Semoga dengan kejadian ini anak-anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati barang milik orang lain.

Selesai berolahraga, kami menyantap cireng dan pepaya sebagai menu sarapan bersama. Kami pun memulai kegiatan bersama anak-anak dengan melakukan pertemuan pagi. Pada kegiatan ini, anak-anak diminta untuk berbagi cerita. Mereka bebas menceritakan tentang apa saja yang mereka mau. Ketika bercerita, anak-anak belajar banyak hal, seperti belajar berbicara di depan orang banyak, belajar merangkai kalimat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, dan belajar mendengarkan ketika ada yang berbicara. Kali ini, semua anak mau berbagi cerita, mulai dari mobil yang bisa berubah menjadi robot sampai boneka Barbie. Setelah itu anak-anak menari lagu Tooty Ta bersama. Wah, seru deh.

Setelah itu, project pun dimulai. Mau membuat apa hari ini? Project minggu ini, anak-anak membuat es krim dengan cara tradisional yaitu menggunakan garam dan es batu. Loh kok garam? Asin dong? Ngga dong, garam dan es batu di sini adalah sebagai media pendingin dari minuman atau cairan yang akan dibekukan. Jadi garam berfungsi sebagai penurun suhu es batu sehingga suhu disekitarnya cukup dingin untuk membekukan susu. Jika tidak ditaburkan garam, suhu es batu tidak akan cukup dingin untuk membekukan susu menjadi es krim. Cara membekukannya juga mudah, cukup digoyang atau dikocok saja selama beberapa saat lalu es krim siap dinikmati. Sluurrpp, enaaakkk.

Berikut adalah bahan dan peralatan yang kami gunakan untuk membuat es krim goyang:

  • 2 Plastic Ziplock ukuran besar
  • Es batu (dihancurkan sampai menjadi bongkahan kecil)
  • 1 mangkok besar
  • Garam
  • Handuk atau sarung tangan (untuk melindungi telapak tangan kedingingan ketika mengocok es)
  • Susu cair (rasa sesuai selera)
  • Bahan taburan es krim (meises, susu kental, keju parut, dan sebagainya)

Cara membuat:

  • Masukkan bongkahan es batu yang sudah dihancurkan ke dalam mangkok besar dan taburi garam.
  • Masukkan es ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tuang susu cair ke dalam plastic Ziplock 2, tutup rapat
  • Masukkan plastic Ziplock 2 yang berisi susu ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tutup rapat plastic Ziplock 1 kemudian kocok atau goyangkan ziplock tersebut selama 10 sampai 15 menit atau sampai susu menjadi solid. (Jangan lupa untuk menggunakan handuk atau sarung tangan supaya tangan tidak kedinginan)
  • Pindahkan es yang sudah membeku ke wadah. Berikan taburan kesukaanmu.

Nah, minggu depan kira-kira kami akan berkegiatan apa ya? Tunggu postingan berikutnya.

“Children make their own paths into the unknown, paths we would never think of making for them”

-John Holt-

Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta 🙂

%d bloggers like this: