Nutrition Fact Label, Bagaimana sih Cara Membacanya?

Nutrition Fact Label, Bagaimana sih Cara Membacanya?

Selamat pagiiii… ^^

Apa kabar hari ini? Semoga kita semua selalu dilimpahkan kesehatan dan kemudahan oleh tuhan YME, amiinn.

Bagaimana asupan Anda hari ini? Sarapan apakah tadi pagi? Nasi uduk dan gorengan 3 biji? (itu sih saya hehe) . Beberapa teman saya sedang berusaha keras untuk menurunkan berat badan dan cara yang diambil adalah┬áberdiet. Nama dietnya pun macam-macam, ada yang bilang diet Mayo, diet Karbo, sampai diet air putih (cuma minum air putih ajah, ekstrimkan?). Dulu waktu habis melahirkan, saya juga ikut-ikutan diat, nama dietnya EAT CLEAN DIET. Jadi diet itu memungkinkan orang yang berdiet untuk tetap makan 6x sehari. Tapiiii, jenis makanannya harus yang bersih, bukan bersih dari debu, tapi bersih dari lemak dan minyak alias direbus, dikukus, dan ngga di goreng. Rendah karbohidrat tapi tinggi protein. Terus terang, di awal-awal diet, saya masih semangat 45 hehe. Motivasi saya (waktu itu) setinggi gunung dan semangat menggebu-gebu supaya badan bisa kurus lagi, minimal gelambir-gelambir di perut mengecil lah. Tapi bertahan cuma 1-2 bulan saja kalo ngga salah, tergoda sekali saya kalau melihat suami saya makan “normal” dan ngemil-ngemil tjantik. Akhirnya saya melambaikan tangan ke arah kamera *sigh*.

Mungkin banyak dari Anda yang juga berpikiran sama dengan saya, ingin berat badan turun (atau paling ngga tetap di angka yang sama lah), tapi tetap ingin makan cemilan2. Kalau kata Ayah Kiran saya sih “Dream on Bunda” hehehe. Diet itu masalah komitmen dan pengetahuan akan makanan yang dikonsumsi. Akhirnya saya tahu, berat badan bisa terjaga kalau kalori yang masuk terpantau. Lalu tahu dari mana jumlah kalori makanan itu? Naaahh, di setiap bagian belakang kemasan makanan yg kita makan, ada informasi gizi dan nutrisi serta kalori dari makanan tersebut. Kandungan yang ada di makanan tersebut, tertulis dengan jelas sekali serta ada juga berapa kali makanan dalam kemasan itu harus dimakan. Namun, kebanyakan dari kita tidak bisa membaca nutrition facts label dikemasan makanan. Label nutrition facts yang kaya gimana sih? Ini nih contohnya. Ini contoh label yang ada di belakang bungkus kemasan Chitato, my old time fav chrisps.

Di label itu ada tulisan serving per package about 5. Jadi, dalam satu kantong Chitato ukuran 60gr, disarankan untuk dimakan 5 kali, bukan sekali makan habis. Sekali Dibawah tulisan itu ada tulisan lain amount per serving calories 124,8. Makan sekali saja kalorinya 125, gimana makan satu kantong sekali habis 125 x 5 = 625 kalori!! itu baru cemilan Chitato ukuran 60gr lho. Hampir semua orang akan langsung habis makan cemilan seperti itu sekali makan. Dan yang jelas, makan keripik begitu ngga akan kenyang, yang ada mau nambah cemilan yang lain. Padahal tubuh kita perlu dimasukkan makanan bernutrisi.

Kebutuhan kalori setiap orang berbeda2, tapi secara umun, laki-laki membutuhkan kira-kira 2.500 kalori perhari dan wanita membutuhkan sekitar 2.200 kalori. Jadi, pada perempuan misalnya, jika kebutuhan kalori per harinya 2.200 kalori, bisa dibagi menjadi makan pagi sekitar 20 persen, makan siang dan makan malam 30 persen, dan sisanya snack. Snack bisa 2 kali, pagi dan sore, masing-masing 10 persen. Untuk laki-laki hampir sama, hanya saja porsi mereka lebih banyak.

Nah makanya, kalau mengkonsumsi Chitato 60gr sendirian dan sekali habis, tubuh mendapatkan kalori 625, itu baru cemilan loh, belum makan besar. Makanya berhati-hatilah memilih makanan yang akan dikonsumsi. Pilihlah makanan yang sehat dan bernutrisi agar tubuh kita sehat selalu. ^__________^

selamat beraktifitaaass ­čÖé

Belajar di mana saja, kapan saja

Belajar di mana saja, kapan saja

Selamat pagi, cuaca hari ini cerah sekali, semoga membuat aktifitas kita semua menjadi lebih bersemangat (baca: bakalan gerah kayanya hari ini). Kiran dan ayahnya sedang bekegiatan di luar nih. Jadi setiap hari Selasa dan Kamis ada pertemuan rutin para praktisi homeschooling anak usia dini bernama Tunas di daerah Tanah Kusir. Tempat tersebut bernama Hikari, tempat teduh dan asri yang pernah di gunakan sebagai TK. Karena pernah menjadi TK, maka di situ ada beberapa permainan seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan  Monkey Bar. Pekarangannya pun cukup luas, anak-anak bisa berlarian di tanah yang lumayan lapang.

Pada hari Kamis minggu lalu, kebetulan anak-anak sekolah libur, jadi saya bisa ikut Kiran dan ayahnya datang ke Hikari. Ternyata pengajarnya pada hari itu adalah suami saya sendiri!! (Pantesaaann pagi-pagi repot sendiri :D). Kegiatan di Hikari dimulai dengan perkenalan dengan teman baru, kebetulan ada satu anak yang baru bergabung dengan Tunas. Anak-anak terlihat sangat senang mendapatkan teman baru. Salam dan saling menyapa memang menjadi salah satu kegiatan wajib anak-anak Tunas, agar mereka terbiasa menyapa satu sama lain. Salam pun dilakukan kepada semua orang, tidak hanya antara teman-teman sebaya.

Topik yang sedang diajarkan hari itu adalah bagian-bagian dari pohon, seperti akar, batang, dahan, ranting, dan daun. Anak-anak bereksplorasi, mengamati dan mengobservasi bagian-bagian dari tumbuhan secara langsung. Beruntung Hikari banyak terdapat banyak pepohonan tinggi dan besar, jadi anak-anak bisa memegang dan menyentuh langsung pohon-pohon besar itu. Ada kejadian lucu ketika anak-anak diminta untuk mencari bagian akar dari pohon rambutan. Mereka semua kaget ketika diberitahu kalau akar pohon rambutan itu menyembul dari bawah tanah. Mungkin mereka pikir itu batang biasa hehe. Cara sang guru ÔÇťmengajarkanÔÇŁ anak-anak balita itu benar-benar menarik dan interaktif; jadi anak-anak ┬ámerasa mereka sedang bermain dan belajar. Seru sekali kegiatan mereka! ┬áJadi kepingin ikutan terus kegiatan Tunas di Hikari hehe.

memegang batang pohon

memegang batang pohon

ini namanya ranting

ini namanya ranting

Setelah itu, anak-anak bersiap untuk makan siang. Tetapi sebelum itu, mereka harus antre untuk mencuci tangan mereka. Para orang tua sudah menyiapkan makanan untuk anak-anak mereka masing-masing di tempat makannya masing-masing. Jadi, semua anak makan sendiri tanpa bantuan orang tua. Sehabis makan, anak-anak mengulas kembali apa yang mereka sudah lakukan dengan riang dan antusias.

Ternyata kegiatan anak-anak homeschooling itu sangat menyenangkan. Mereka sangat aktif dan yang pasti tanpa paksaan melakukan aktifitas di sana. Anak-anak mendapatkan ilmu tanpa harus duduk diam di meja. Untuk saat ini, Kiran mengikuti kegiatan di dua perkumpulan homeschooling, Tunas dan Oase. Para orang tuanya pun sangat open-minded, informatif, berwawasan luas, dan bersahabat. jadi, siapa bilang anak homeschooling itu tidak bersosialisasi dan hanya belajar di rumah? Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja.

anak-anak dan orang tua Tunas

anak-anak dan orang tua Tunas

Oh iya, bagi yang tertarik untuk bergabung, klub Tunas berkegiatan di Hikari daerah Tanah Kusir setiap Selasa & Kamis pukul 10.00 ÔÇô 12.00. Klub Oase berkegiatan di daerah Cipinang setiap hari Rabu pukul 09.00 ÔÇô 12.00.

Untuk lokasi Hikari, silakan ketuk tautan berikut ini : Hikari (dengan petunjuk dari Pondok Indah Mall 2)

Untuk lokasi berkegiatan di Klun Oase biasanya bertempat di Rumah Inspirasi.

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Bermain Ular Tangga dan Belajar Berhitung

Kali ini saya ingin membagikan cerita tentang permainan kesukaan Kiran.

Pada perayaan natal tahun lalu Kiran mendapatkan kejutan dari Paman Des dan menerima sebuah kado natal berupa permainan ular tangga klasik. Kemasan dari permainan ini didisain dengan apik dan mengedepankan tampilannya yang sangat klasik sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengingat masa kecilnya memainkan permainan ini.

Kado Natal

Ini adalah permainan papan pertama Kiran. Pada saat itu juga Kiran meminta untuk memainkannya. Dalam waktu 1 hari Kiran mulai memahami cara memainkan permainan ini dengan konsep permainan yang sangat sederhana, naik ketika berhenti di tangga dan turun ketika berhenti di ular. Semua orang yang Kiran kenal diajak memainkan permainan papan ini, mulai dari ayah dan bundanya hingga semua orang yang tinggal di rumah kakek dan neneknya yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Ketika semua orang sudah “selesai” bermain dan Kiran masih ingin bermain, biasanya dia akan mengatakan bermain sendirian.┬á

“So, nobody wants to play with me? Okay, I can play by myself.”

Bermain ular tangga sendirian

Tanpa terasa kami mulai mengenalkan angka satuan, belasan, dan puluhan kepada Kiran karena dia penasaran dengan banyaknya angka yang tertera di atas papan permainan. Seiring waktu berjalan, dalam waktu satu minggu, Kiran sudah mengerti konsep belasan dan puluhan. Setelah itu tanpa diajarkan, Kiran mulai memahami konsep penambahan di bagian papan paling bawah yang menunjukkan satuan. Ketika orang-orangan berdiri di angka 3 dan Kiran melempar dadu yang menunjukkan angka 4, secara otomatis tangan mungilnya akan menggiring orang-orangannya ke kotak angka 7. Saya sendiri sempat terkaget melihat apa yang dilakukannya. Tanpa disadari, dia sudah mulai memahami konsep penambahan. Akhirnya sedikit-demi sedikit kami mulai menantang Kiran untuk memindahkan orang-orangannya tanpa menghitung setiap kotak yang dilaluinya melainkan langsung melompati kotak-kotak tersebut dan menempatkan orang-orangannya di kotak yang dituju.

permainan ular tangga

Ular tangga

Tidak hanya sampai di situ, ternyata setelah terbiasa memainkan permainan papan ini setiap hari (dan bisa lebih dari ┬á10 kali setiap harinya), Kiran mulai terbiasa menyebutkan angka-angka yang diperlukannya untuk mendaratkan orang-orangannya di kotak yang ingin dia tuju. Ketika dia sudah mulai bosan, dia mulai mencari cara bagaimana memainkan permainan ini dengan cara yang berbeda (saya sendiri saja belum pernah melakukannya), yaitu bermain mundur dari atas ke bawah tanpa mengubah┬áfungsi dari tangga dan ularnya. Ketika orang-orangan kami mendarat di tangga, maka kami harus “kembali ke atas” (karena tujuannya adalah kami harus menuruni papan permainan).

Bangun tidur, selepas mandi, setelah makan, pagi, siang, petang, malam, tanpa mengenal waktu, semua orang yang Kiran temui akan diajak bermain ular tangga. Saya merasa beruntung sekali Kiran mendapatkan kado tersebut dan ketika saya menyampaikan cerita ini kepada pamannya, Paman Des merasa senang sekali kado pemberiannya telah berguna.

Meskipun permainan papan ini terkesan “jadul” tetapi permainan sederhana ini telah memberi warna dalam kehidupan keluarga kami sehingga kami selalu bisa berkumpul, bercengkerama dan tertawa bersama tanpa mengenal waktu, rasa lelah dan beban pekerjaan yang sedang membelenggu kami. Sungguh sangat menakjubkan bahwa permainan “purbakala” bisa mempererat hubungan anggota keluarga dan mengajari anak kami sesuatu yang mungkin akan sangat sulit kami ajarkan dengan penuh kerelaan dan kesenangan, yaitu berhitung.

Begitu banyak permainan-permainan modern yang dijual dan dinyatakan sebagai permainan “edukatif” sehingga setiap orang tua (termasuk saya) mulai “menabung” berbagai macam permainan supaya Kiran bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mulai dari flashcard sampai permainan digital.

Permainan-permainan yang ditawarkan di era modern ini memang sangat menarik perhatian. Mulai dari kemasan hingga pernak-pernik mainannya itu sendiri. Namun dibandingkan dengan permainan “purbakala” ini, semua permainan yang sudah saya tabung dan bernilai jauh lebih besar itu tidak semenyenangkan permainan papan ini, ular tangga.

Sebuah pelajaran mendasar sebagai orang tua yang belajar dari anaknya, bahagia itu sangat murah dan sederhana.

Belajar Memasak dan Bertanam

Belajar Memasak dan Bertanam

Senang rasanya bisa menghabiskan waktu bersama anak tersayang dan sekaligus berkarir. Tentunya sangat melelahkan membesarkan anak sambil bekerja, tetapi sangat sepadan dengan kebahagiaan yang saya dapatkan untuk selalu bersama anak di setiap kesempatan yang ada.

Hari ini kami memutuskan untuk melakukan kegiatan memasak sayuran dan bertanam. Bunda Kiran sudah melakukan persiapan malam sebelumnya dengan menyiapkan bumbu yang harus dimasukkan ke dalam makanan. Karena Bunda Kiran harus bekerja, hanya saya dan Kiran yang melakukan kegiatan ini. Setelah melakukan rutinitas pagi, kami pun meluncur keluar untuk membeli sayuran dan alat bertanam (karena belum memiliki peralatannya).

Kami pun membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sayur sop. Kiran tampak serius memperhatikan aktivitas sang penjual yang gesit melayani pembelinya. Akhirnya tiba sang penjual melayani keperluan kami dan Kiran terlihat senang ketika menerima barang belanjaannya.

Setelah itu kami pun meluncur ke Pasar Minggu untuk membeli peralatan bertanam. Seperti biasanya, perhatian Kiran langsung terpusat pada kereta api yang hilir mudik hampir setiap lima menit. Setelah 4 rangkaian kereta berlalu, saya pun mendapatkan peralatan yang kami perlukan untuk bertanam. Kemudian kami kembali ke rumah dengan bersemangat.

Berbelanja alat bertanam di Pasar Minggu

Sibuk memerhatikan kereta api yang datang silih berganti

Sesampainya di rumah, kami langsung membersihkan dinding tanam dan mengganti tanah yang ada di dinding taman dengan media tanam yang sudah kami beli minggu lalu. Kami mendapatkan sebuah kejutan ketika sedang membersihkan tempat  tanam. Ternyata Kiran menemukan seekor keong dan penemuan binatang ini semakin menyemangati Kiran untuk bertanam. Setelah semuanya selesai, kami pun melanjutkan kegiatan kami, memasak sayur sop.

Kami mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan dan Kiran bertugas untuk mencuci sayuran sampai bersih. Setelah selesai dicuci, kami melanjutkan proses selanjutnya, yaitu memotong. Mengingat Kiran masih terlalu muda untuk memotong menggunakan pisau, sebagai gantinya Kiran bertugas untuk menguliti wortel. Tiga buah wortel pun selesai dikuliti oleh Kiran dan selanjutnya saya membantu untuk memotong sayuran.

Setelah semuanya selesai, saya memasak sayuran tersebut di dapur dan Kiran asyik bermain dengan binatang temuannya, sang keong di depan rumah. Setelah beberapa saat, sayur sop pun siap untuk dihidangkan dan kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang.

Voila! Sayur sop siap untuk disantap

Makan siang pun selesai dan Kiran ingin bermain di rumah kakeknya. Akhirnya Kiran menghabiskan sisa siangnya mengunjungi kakek dan neneknya. Saya pun segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja.

Belanja Hotwheels

Belanja Hotwheels

Hari Minggu kemarin Kiran mendadak ingin mengajak ke mal untuk membeli hotwheels. Padahal koleksi hotwheels Kiran lumayan banyak (sepertinya Kiran merasa bosan memainkan mobil yang sama). Akhirnya kami ada ide untuk mengeluarkan tabungan koin yang selama ini Kiran kumpulkan dan terkumpullah uang receh sebanyak Rp 25.000,-

Sedikit flashback, ini adalah kedua kalinya Kiran mengeluarkan tabungan koinnya. Sebelumnya Kiran sudah mengumpulkan koin kurang lebih setahun dan ketika kami buka (pada saat itu Kiran ingin membeli sebuah mobil truk) ternyata lumayan juga. Ketika kami hitung uang koin yang terkumpul sebanyak 400 ribuan. Pada saat itu kesulitan juga menukarkan koin karena warung pun sudah tidak tertarik lagi dengan uang recehan dan setiap warung yang kami datangi memasang wajah aneh seolah tidak percaya jaman orang sudah memakai kartu ATM, kami masih mengumpulkan koin sebanyak itu. Tetapi akhirnya sebuah tempat fotokopi mau menerima uang koin kami meskipun tidak semuanya berhasil ditukarkan. Sisanya saya simpan di bagasi motor untuk membayar uang parkir ­čśë Singkat cerita, akhirnya Kiran membeli truk mainan yang diinginkan seharga Rp 30.000 dan sisa uangnya ditabung kembali di dalam celengan ayam ­čÖé

Kembali ke masa kini, kali ini tidak begitu banyak uang koin yang terkumpul dan kami hanya mengeluarkan koin sebesar Rp 25.000 senilai dengan harga mobil hotwheels. Kami menghitung dan menyimpan koin-koin tersebut di dalam sebuah tas kecil dan kami pun berangkat ke sebuah mal di Jakarta Selatan. Dengan sepenuh hati Kiran menjaga uang yang dibawanya di dalam tas supaya tidak diambil “bank robber” (korban cerita lego) ­čśë

Setiba di mal tersebut, kami menyelesaikan keperluan kami dan selepas itu meluncur ke salah satu toko mainan yang sangat lengkap. Kiran sempat terhenti di bagian depan toko mainan tersebut karena melihat karakter kesukaannya, Thomas sang kereta api. Kami mengetahui bahwa Kiran sangat ingin membeli mainan tersebut tetapi kami mengingatkan tujuan kami mendatangi tempat tersebut adalah untuk membeli sebuah mobil Hotwheels. Kiran pun berkata “I want this for my birthday present okay?” seraya menunjuk Thomas sang kereta api.

Kemudian kami memasuki toko tersebut lebih dalam dan ini pertama kalinya di mal tersebut kami memasuki toko mainan ini. Kami pun bingung di mana harus menemukan Hotwheels yang ingin Kiran beli. Kebetulan salah seorang penjaga toko berdiri tidak jauh dari tempat kami dan kami menyuruh Kiran untuk bertanya kepada penjaga toko tersebut di mana letak mobil Hotwheels dijajakan. Dengan sangat bersemangat Kiran mendekati penjaga toko tersebut dan dengan baiknya penjaga toko tersebut mengantar Kiran ke tempat yang diinginkan.

Akhirnya penantian telah berakhir dan Kiran langsung memutuskan untuk memilih salah satu mobil yang dipajang. Kemudian Kiran segera meluncur ke tempat kasir dan mengantre. Ketika giliran Kiran tiba untuk membayar, kasir sempat bingung menanyakan uang untuk mobil yang ingin Kiran beli karena Kiran hanya menyodorkan kantong kecil (berisi koin-koin). Inilah yang terjadi di tempat pembayaran:

Setelah melakukan pembayaran, akhirnya Kiran segera memainkan mobil yang telah dibelinya dan mengakhiri hari dengan kegembiraan memainkan mobil-mobilan tersebut.

Pelajaran yang sangat berharga untuk kami sebagai orangtua bahwa kebahagiaan untuk anak itu tidak harus mahal dan lux.

Museum Polri

Museum Polri

Kali ini menerima undangan terbuka dari Tunas (salah satu komunitas homeschooling di Jakarta Selatan) untuk pergi ke Museum Polri. Hanya saya dan Kiran yang berangkat ke museum karena kegiatan ini dilakukan pada hari kerja dan Bunda Kiran harus bekerja. Kiran bersemangat sekali ketika saya beritahu bahwa di sana dia akan melihat helikopter.

Ketika tiba di sana, saya bertemu keluarga-keluarga baru yang penuh semangat menemani anak-anaknya berkegiatan. Sebelum semuanya berkumpul kami sudah mencuri start untuk berfoto di depan museum. Di bagian depan museum terparkir gagah sebuah tank dan helikopter. Ketika kami memasuki lobi museum, kami disambut oleh 3 orang polisi wanita yang ramah. Sebuah mobil polisi pun terparkir di pojok lobi yang langsung menjadi incaran anak-anak.

Rangkaian tur museum diawali dengan menonton sebuah film di lantai 2. Sempat terkaget juga ketika memasuki ruang menonton di museum ini, karena sangat bersih, tertata rapi dan tasteful. Kurang lebih seperti bioskop XXI (kecuali mutu suaranya, belum Dolby ;)). Tidak menyangka mendapat kualitas setara bioskop untuk menonton di museum ini. Film yang dimainkan adalah tentang polisi wisata di Bali. Bercerita mengenai sekelompok anak yang berperan sebagai polisi wisata. Untuk mengetahui detil ceritanya, silakan datang langsung ke lokasi ­čÖé

Ruang menonton

Setelah film selesai dimainkan, kemudian ketiga polwan tersebut mengajak anak-anak bermain area Kids Corner. Di area ini anak-anak bisa bermain peran menjadi polisi. Kostum polisi pun tergantung rapi siap untuk digunakan. 2 buah mobil dan motor bertenaga baterai terparkir di pinggir area. Namun sayang, sepertinya daya baterai untuk motor mainan tersebut tidak diisi ulang sehingga anak-anak agak kesulitan menggunakan motor mainannya. Namun hal itu tidak menghambat anak-anak untuk menikmati waktu mereka di sana. Selain itu tersedia macam-macam puzzle dan mainan edukatif lainnya yang tersedia di atas meja. Anak-anak juga belajar sedikit tentang rambu lalu lintas dari ketiga polwan yang ramah itu.

Yang paling menarik di area ini adalah dindingnya. Dinding di area ini sudah disulap menjadi sebuah permainan bercerita di mana kita akan berperan sebagai detektif yang harus memecahkan sebuah kasus dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Konsep yang sangat menarik, namun permainan ini lebih tepat dimainkan untuk anak berumur 8 tahun ke atas karena melibatkan kemampuan membaca dan berlogika.

Kids Corner

Bermain di Kids Corner

Setelah anak-anak selesai bermain di Kids Corner, ketiga polwan tadi melanjutkan rangkaian kegiatan tur dengan menjelaskan macam-macam seragam polisi. Mulai dari seragam polisi berkuda, lengkap dengan pecutnya sampai berbagai jenis topi yang dikenakan oleh polisi. Kemudian anak-anak diajak untuk melihat robot penjinak bom yang dikendalikan menggunakan pengendali jarak jauh dan sebuah komputer untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh robot penjinak itu. Anak-anak bersemangat sekali mendengarkan penjelasan dari ketiga polwan tersebut sampai beberapa anak langsung berkomentar ingin menjadi polisi supaya bisa bermain dengan robot penjinak bom (namanya juga anak-anak, bawaannya tetap saja ingin bermain) ­čśë

Selepas itu, kami diajak turun kembali ke lantai 1 untuk melihat koleksi persenjataan yang terdapat di museum. Yang menarik ketika kami berada di lantai 1 adalah tantangan yang diberikan oleh salah satu polwan kepada anak-anak ketika menanyakan jika ada anak yang ingin bernyanyi. Ternyata Kiran langsung menjawab tantangan polwan tersebut dan menyanyikan lagu “The Alphabet Song” 2 kali. Saya kaget sekaligus senang, karena saya tahu Kiran selalu malu jika disuruh bernyanyi atau tampil di depan ayah dan bundanya. Inilah pertama kalinya saya menyaksikan penampilan Kiran yang dilakukan atas keinginan dia sendiri dan dilakukan penuh percaya diri. Berikut ini penampilan Kiran:

Setelah Kiran selesai bernyanyi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan melihat koleksi senjata dan kendaraan kepolisian yang terdapat di museum. Rangkaian kegiatan ini pun diakhiri dengan anak-anak berfoto bersama di depan gedung museum dengan latar helikopter dan tank.

Setelah itu, kami pun makan siang bersama di lobi museum (Terima kasih kepada Mbak Yulia yang sudah mau repot membawa karpet dan tempat sampah terpilah). Tidak terasa 4 jam sudah berlalu dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun akhirnya berpamitan dan berfoto bersama ­čÖé

Seru sekali berkegiatan bersama dengan keluarga lainnya dan bertemu keluarga-keluarga baru dengan ceritanya masing-masing. Kiran pun mempunyai teman-teman baru.

%d bloggers like this: