Mengenal DKI Jakarta

Mengenal DKI Jakarta

Selama 3 minggu terakhir anak-anak kami belajar mengenal kebudayaan betawi yang kemudian diperluas lagi menjadi DKI Jakarta. Berawal dari ketertarikan anak-anak kami bermain bola dunia kemudian kami tindak lanjuti memperkenalkan peta dan lima pulau terbesar di Indonesia.

Proyek bersama mengenai DKI Jakarta ini menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk mempelajari daerah-daerah lainnya. Tujuan kami adalah mengenalkan tempat tinggal dan kebudayaan sendiri sebelum mengenal kebudayaan di negeri seberang. Dalam proyek ini kami membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok sesuai dengan pembagian tugasnya yang kami undi bersama. Berikut ini adalah hasil pembagian tugasnya:

  • Adiva: Alat musik tradisional
  • Ahsan dan Akhtar: Peta wilayah Jakarta
  • Alma: kesenian Betawi
  • Kiran: Pakaian dan rumah Betawi
  • Shawqi dan Syifa: Makanan khas Jakarta

Minggu Pertama

Anak-anak berkunjung ke anjungan DKI Jakarta di TMII. Kami meminta bantuan pemandu untuk menjelaskan kepada anak-anak. Ternyata anak-anak bertahan selama 2 jam mendengarkan penjelasan dari Pak Edward, bapak pemandu kami. Anak-anak berlatih memberikan pertanyaan meskipun seringkali pertanyaannya terkesan “asal bertanya” (kalau kita ukur dari sudut pandang orang dewasa. Kami harus berusaha keras untuk tidak berkomentar dan hanya mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung. Kami pun menyadari hal penting dari kegiatan hari itu bahwa kita tidak bisa menilai anak dari sudut pandang orang dewasa. Apa yang penting untuk kita belum tentu dilihat penting oleh anak-anak.

Minggu Kedua

Sepulang dari TMII, anak-anak kami berikan tugas untuk mengumpulkan informasi sesuai dengan pembagian tugas di atas dan membawa materinya pada minggu selanjutnya. Kiran belajar membuat kartu popup dan menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Anak-anak mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengumpulkannya untuk diolah bersama-sama menjadi sebuah lapbook. Semua anak mencetak gambar yang dikumpulkan, menggunting dan menempelnya dalam format yang bervariasi.

Dalam kegiatan minggu ini, Kiran belajar mengoperasikan komputer untuk mencari informasi di internet, menyimpan gambar dari internet dan melabelinya yang tentunya kegiatan ini memotivasi Kiran dalam kegiatan membacanya.

Minggu Ketiga

Setelah anak-anak menyelesaikan proyeknya. Mereka harus belajar menampilkan hasil pekerjaan mereka kepada para orangtua. Selain belajar untuk berani tampil, anak-anak juga belajar untuk menghormati satu sama lain karena mereka harus belajar mengontrol diri untuk tahu kapan waktunya mendengar dan kapan waktunya untuk didengarkan oleh orang lain. Hal ini menjadi sorotan para orangtua karena anak-anak kami masih perlu berlatih untuk mendengarkan orang lain.

Menjaga ketertarikan selama tiga minggu bukanlah hal yang mudah apalagi konteks informasi yang kami terapkan masih tergolong sederhana karena belum membahas segala sesuatunya secara mendalam, hanya dalam tahap pengenalan. Sayang sekali Shawqi dan Syifa tidak bisa ikut menampilkan hasil pekerjaannya karena harus beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh.

Karena usia anak-anak yang masih tergolong kecil, tentunya proses kegiatan dalam pengerjaan proyek ini lebih penting dan lebih berkesan daripada proyeknya itu sendiri. Bagi kami informasi mengenai DKI Jakarta untuk saat ini cukup “mengenal saja” tetapi kegiatan untuk “mengenal” ini membutuhkan usaha yang tidak cukup dengan kata “saja”. Banyak sekali kesan dan cerita dalam pengerjaan proyek kali ini.

Tiga proyek selanjutnya adalah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali yang akan dilakukan dengan siklus yang sama seperti penjabaran di atas. Semoga anak-anak semakin tertarik dan mengenal negerinya sendiri sebelum mengenal negeri orang lain.

Presentasi Proyek Bersama

Presentasi Proyek Bersama

Hari Selasa lalu kami melakukan kegiatan seperti biasa di rumah Bibi Nada. Tetapi pertemuan kali ini sedikit berbeda dari pertemuan Selasa lainnya, karena anak-anak mempresentasikan hasil diskusi dan kerja sama antar partner untuk proyek pertama mereka, yeiyy, we are so excited! Anak-anak sudah mempersiapkan proyek ini dari satu minggu yang lalu seperti yang telah dibahas oleh Ayah Kiran sebelumnya. Jadi setiap anak bekerja dengan satu orang temannya untuk mencari solusi dari masalah yang selalu ada ketika bertemu setiap hari Selasa, seperti tidak mau main bergantian, memilih teman, bermain yang aman, dll. Berkat proyek perdana ini, anak-anak juga jadi tahu yang namanya Video Call menggunakan aplikasi Google Hangout, wah lucu deh melihat tingkah polah anak-anak itu ketika melihat wajah temannya di layar HP. Diskusinya 5 menit, bercandanya satu jam hahaha.

Jam 10 tepat kegiatan di mulai. Bibi Sari menawarkan diri untuk menjadi fasilitator kegiatan anak-anak kali ini. Ada yang menarik dari sesi berbagi kali ini, hampir semua anak mencoba untuk memberikan tebak-tebakan! Ya, tebak-tebakan. Seperti tebakan yang diberikan oleh Kiran, “What car that starts with letter L?” Semua orang termasuk orang tua yang mendampingi berusaha untuk menjawab. Ada yang menjawab Lexus tetapi ternyata Tetooott, salah jawabannya. “La Ferrari” jawab Ahsan. dan ternyata jawabannya benar. Tetapi namanya juga anak-anak, ada tebakan yang serius dan ada tebakan yang ngga nyambung. Tapi itu semua menambah keceriaan kami semua.

Selesai pertemuan pagi, anak-anak kami berikan waktu untuk bermain sampai waktunya makan siang. Masih mengusung konsep ala Reggio Emilio, anak-anak bermain tanpa mainan sama sekali. Kami mencoba membiarkan anak-anak untuk mengembangkan imajinasi bersama-sama dengan menggunakan keadaan di lingkungan sekitar rumah Bibi Nada.

Para orang tua pun hampir semua sedang mencoba menjalani pola makan Ketogenic, yaitu pola makan rendah karbo dan tinggi lemak. Jadi makan siang setiap selasa selalu tersedia makanan berlemak dan berkolesterol tinggi hihihi. Bibi Nadalah yang membuat kami mau mencoba pola makan ini. Tujuan pola makan ini Cuma satu: hidup lebih sehat plus bonus berat badan yang turun. Semangat teman2, semoga kita sehat selalu!! Salam lemak!!

Selesai makan siang, anak-anak bersiap untuk mempresentasikan proyek mereka masing-masing dan difasilitasi oleh Paman Simon. Presentasi dimulai dari Ahsan dan Alma yang menjelaskan bagaimana bermain yang nyaman. Ahsan dan Alma bersama-sama membuat poster dan menggambar. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi dari Akhtar dan Rava. Kedua anak ini masing-masing membuat poster dan menjelaskan bermain dengan semuanya dan tidak memilih teman. Selanjutnya, Adiva dan Rendra yang mempresentasikan cara menjadi pendengar yang baik. Adiva dan Rava menggambar bersama-sama sebelum memulai menjelaskan hasil diskusi mereka. Presentasi proyek diakhiri dengan penjelasan dari Kiran dan Syifa yang menjelaskan bagaimana caranya bergiliran. Syifa dan Kiran memutuskan untuk merekam hasil diskusi mereka dengan bantuan Paman Ian supaya video mereka bisa diunggah di Youtube.

Tak lama sehabis presentasi terakhir selesai, hujan mulai turun dengan derasnya dan anak-anak pun mengakhiri presentasi perdana hari itu dengan hati gembira, karena sehabis itu mereka mandi hujaaaaaannn. Wah, raut muka mereka terlihat sangat bahagia ketika semua orang tua memberikan mereka izin untuk bermain bersama di bawah guyuran air hujan.

Pengalaman hari ini sangat berharga, anak-anak memulai Problem Based Learning perdana mereka dengan lancar. Semoga dengan dimulainya PBL ini, anak-anak akan semakin peka dalam menganalisis masalah dan semakin mudah mencari solusi atas masalah yang terjadi di sekitar mereka. Semoga ilmu yang mereka pelajari sekarang akan berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.

Proyek Kolaborasi Pertama

Proyek Kolaborasi Pertama

Berawal dari obrolan seru dikelilingi makanan tiba-tiba menyerempet pada hal yang lebih serius, proyek untuk anak-anak. Diskusi pun terjadi dengan cukup serius, mulai dari model proyek, tema proyek dan hal-hal lainnya mengenai proyek yang sebetulnya belum bisa kami bayangkan pada saat itu. Ide-ide pun keluar satu persatu dari setiap orangtua dan akhirnya kami bersepakat untuk memulai dari sesuatu yang kecil dahulu yang sering terjadi ketika kami semua berkumpul.

Seminggu kemudian kami pun mulai mengajak anak-anak untuk berdiskusi mengenai masalah yang sering terjadi setiap kali berkegiatan dan mencari solusinya bersama. Berikut ini hasil diskusi orangtua bersama anak-anak mengenai masalah yang sering terjadi ketika berkegiatan bersama. Mengingat jumlah anak yang hadir adalah 9 orang, kami membuat kelompok yang terdiri dari 2 anak untuk mendiskusikan setiap masalah yang ada. Penentuan kelompok dan masalah yang akan dibahas dilakukan dengan cara pengundian.

  • Alma dan Ahsan

Membahas cara bermain yang nyaman untuk mengatasi teman yang usil atau iseng yang mengakibatkan temannya merasa tidak nyaman dan terganggu.

  • Rava dan Akhtar

Membahas cara bermain bersama tanpa meninggalkan temannya yang lain. Usia snak-anak kami bervariasi mulai dari 3 sampai 10 tahun dan anak yang paling kecil biasanya jarang sekali diajak bermain dan cenderung dikucilkan oleh anak-anak yang lebih besar.

  • Kiran, Shawqi dan Syifa

Membahas cara bermain bergiliran. Masalah ini seringkali terjadi ketika anak-anak berebut sesuatu dan tidak ada yang mau mengalah, misalnya bermain ayunan.

  • Rendra dan Adiva

Membahas cara mendengarkan ketika ada orang yang sedang berbicara. Setiap berkegiatan, kami mengadakan pertemuan pagi di mana anak-anak bisa bercerita tentang hal berkesan yang mereka lakukan seminggu sebelumnya. Namun anak-anak belum bisa mengontrol dirinya dengan baik karena seringkali mereka sibuk berbicara satu sama lain ketika ada temannya yang sedang berbicara di depan mereka.

Setiap kelompok anak di atas diberikan waktu selama satu minggu untuk berdiskusi jarak jauh menggunakan aplikasi Google Hangouts untuk mencari solusi dari setiap masalah dan mempresentasikannya di depan teman-temannya. Kiran sudah terbiasa menggunakan aplikasi ini bersama saya untuk menghubungi saya di malam hari ketika saya harus kerja larut dan Kiran ingin mengucapkan selamat malam kepada saya.

Lain cerita untuk teman-temannya yang lain. Ini adalah pengalaman pertama kali mereka menggunakan aplikasi Google Hangouts dan ternyata menjadi momen yang sangat berharga bagi tiap keluarga melihat tingkah anaknya masing-masing ketika melakukan video call dengan temannya. Mulai dari yang bingung, bengong, teriak-teriak,  sampai yang jingkrak-jingkrakan.

Ternyata melakukan video call ini menjadi kegiatan rutin beberapa anak untuk menyapa teman-temannya. Sungguh terasa manfaat teknologi yang semakin membantu dari hari ke hari. Kita bisa melakukan apa saja di mana saja hanya dengan sebuah ponsel pintar murah dan koneksi internet.

Bagaimana hasil diskusi anak-anak? Saya pun penasaran melihat hasilnya.

Membuat Es Krim Goyang

Membuat Es Krim Goyang

Minggu ini kami belajar bersama hari Senin karena satu dan lain hal. Tapi tidak ada istilah I Don’t Like Monday pada kamus kami, jam setengah tujuh kami semua meluncur ke Jagakarsa untuk memulai hari bersama keluarga lainnya.  Walaupun  hujan plus macet, tetap tidak menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas bersama, apalagi Sifu Simon dari pagi sudah menanyakan waktu keberangkatan kami. Seperti Minggu lalu, berlatih Kungfu akan menjadi agenda tetap kami para orang tua yang ‘mager’ (malas gerak). Gurunya saja semangat begitu, kami juga ikutan semangat deh. Latihan Senin ini formasinya lengkap, Bibi Anita sudah sehat, yeeiiy, jadi ada teman senasib sependeritaan deh hihihi.

Lalu, kalau semua orangtua berolah raga, anak-anak ikutan jugakah? Ya jelas ngga dong. Mereka sibuk melepas rindu setelah seminggu tak bertemu. Sudah beberapa minggu ini Bibi Nada tidak mengeluarkan mainan milik Alma ketika anak-anak berkunjung. Justru dengan tidak adanya mainan, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Anak-anak menjadi lebih imaginative ketika bermain, misalnya mereka membuat rumah-rumahan dari kain dan bangku, pesawat dari lemari, bahkan main sekolah-sekolahan. Hmm, kayaknya mainan-mainan di rumah juga harus disingkirkan nih.

Kiran dan Ahsan juga sudah mengganti pesawat milik Alma yang rusak minggu lalu. Setelah satu minggu kedua anak laki-laki tersebut mengumpulkan uang, akhirnya terbeli juga pesawat yang persis sama. Alma pun senang menerima pesawat pengganti yang diberikan oleh Kiran dan Ahsan. Semoga dengan kejadian ini anak-anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati barang milik orang lain.

Selesai berolahraga, kami menyantap cireng dan pepaya sebagai menu sarapan bersama. Kami pun memulai kegiatan bersama anak-anak dengan melakukan pertemuan pagi. Pada kegiatan ini, anak-anak diminta untuk berbagi cerita. Mereka bebas menceritakan tentang apa saja yang mereka mau. Ketika bercerita, anak-anak belajar banyak hal, seperti belajar berbicara di depan orang banyak, belajar merangkai kalimat, belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, dan belajar mendengarkan ketika ada yang berbicara. Kali ini, semua anak mau berbagi cerita, mulai dari mobil yang bisa berubah menjadi robot sampai boneka Barbie. Setelah itu anak-anak menari lagu Tooty Ta bersama. Wah, seru deh.

Setelah itu, project pun dimulai. Mau membuat apa hari ini? Project minggu ini, anak-anak membuat es krim dengan cara tradisional yaitu menggunakan garam dan es batu. Loh kok garam? Asin dong? Ngga dong, garam dan es batu di sini adalah sebagai media pendingin dari minuman atau cairan yang akan dibekukan. Jadi garam berfungsi sebagai penurun suhu es batu sehingga suhu disekitarnya cukup dingin untuk membekukan susu. Jika tidak ditaburkan garam, suhu es batu tidak akan cukup dingin untuk membekukan susu menjadi es krim. Cara membekukannya juga mudah, cukup digoyang atau dikocok saja selama beberapa saat lalu es krim siap dinikmati. Sluurrpp, enaaakkk.

Berikut adalah bahan dan peralatan yang kami gunakan untuk membuat es krim goyang:

  • 2 Plastic Ziplock ukuran besar
  • Es batu (dihancurkan sampai menjadi bongkahan kecil)
  • 1 mangkok besar
  • Garam
  • Handuk atau sarung tangan (untuk melindungi telapak tangan kedingingan ketika mengocok es)
  • Susu cair (rasa sesuai selera)
  • Bahan taburan es krim (meises, susu kental, keju parut, dan sebagainya)

Cara membuat:

  • Masukkan bongkahan es batu yang sudah dihancurkan ke dalam mangkok besar dan taburi garam.
  • Masukkan es ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tuang susu cair ke dalam plastic Ziplock 2, tutup rapat
  • Masukkan plastic Ziplock 2 yang berisi susu ke dalam plastic Ziplock 1
  • Tutup rapat plastic Ziplock 1 kemudian kocok atau goyangkan ziplock tersebut selama 10 sampai 15 menit atau sampai susu menjadi solid. (Jangan lupa untuk menggunakan handuk atau sarung tangan supaya tangan tidak kedinginan)
  • Pindahkan es yang sudah membeku ke wadah. Berikan taburan kesukaanmu.

Nah, minggu depan kira-kira kami akan berkegiatan apa ya? Tunggu postingan berikutnya.

“Children make their own paths into the unknown, paths we would never think of making for them”

-John Holt-

Foosball dari Kotak Sereal

Foosball dari Kotak Sereal

Kemarin saya sempat membagikan cuplikan video permainan cereal box tabletop foosball game (panjang ya namanya). Cara membuat permainan ini sempat saya tonton di dalam salah satu koleksi video dari grup Facebook yang saya ikuti, 5-Minutes Craft. Ya, sesuai dengan namanya, semua kegiatan yang dibagikan di grup tersebut bisa dilakukan dalam waktu 5 menit (jika bahan-bahan sudah tersedia).

Salah satu video yang saya sempat simpan  di dalam daftar penyimpanan Facebook saya beberapa waktu lalu adalah cara membuat Shoe Box Table Football.

Ketika saya bangun tidur kemarin, saya melihat Kiran sedang memegang kotak sereal Co*****nch di dapur sambil menemani bundanya memasak. Tiba-tiba saya teringat video yang pernah saya lihat di 5-Minutes Craft. Setelah mengecek ke dapur, bahan-bahan yang diperlukan pun sudah tersedia, akhirnya kami langsung mengeksekusinya bersama-sama.

Sangat mudah dan singkat untuk membuatnya. Karena kegiatan ini bersifat spontan, hasilnya tidak seindah contohnya (sayang, kami juga tidak sempat mendokumentasikan proses pembuatannya). Meskipun hasil akhirnya tidak sebagus contohnya, tetapi tidak menghilangkan keseruan yang terjadi ketika memainkannya. Permainan yang sangat sederhana tetapi sangat menyenangkan untuk dimainkan sekaligus memupuk kedekatan antara orangtua dan anak.

Untuk peralatan, bahan-bahan dan cara membuatnya bisa melihat sumber asli video tutorialnya, silakan ketuk di sini, hasilnya jauh lebih baik daripada yang kami buat. Silakan kreasikan sesuka hati bersama ananda tersayang.

Selamat bermain bersama keluarga tercinta 🙂