Apology of Action

Apology of Action

Selamat sore semuanya, apa kabar hari ini? Semoga kita semua sehat-sehat selalu ya. Saya sedang berada di atap Mall Kota Kasablanka, menemani Kiran berenang. Di kejauhan saya melihat dua orang anak laki-laki mengambil kacamata renang seorang anak perempuan, adik salah satu anak laki-laki sepertinya. Si anak perempuan itu menangis dan kedua anak laki-laki itu dimarahi oleh seorang perempuan. Saya jadi ingat kejadian Selasa lalu di rumah bibi Nada.

Waktu itu terjadi insiden yang melibatkan duo sahabat Kiran dan Ahsan ketika sedang berkegiatan di rumah Alma. Insiden tersebut mengakibatkan hancurnya mainan pesawat milik Alma dan Maji sampai berkeping-keping. Memang apa yang dua anak ini lakukan? Jadi sepertinya mereka ingin mengetahui hubungan antara barbel 1 kilo, pesawat replika plastik besar dan gaya gravitasi bumi. Mereka menjatuhkan barbel 1 kilo itu ke atas pesawat plastik Alma. Hasilnya sudah bisa ditebak, hancur minaahh itu pesawat.

Apology of Action

Korban

Mengetahui pesawatnya hancur, Ahsan dan Kiran meminta maaf kepada Alma. Tapi apa gunanya polisi kalau masalah bisa selesai hanya dengan meminta maaf? Meskipun Alma memaafkan Kiran dan Ahsan, tetap ada konsekuensi yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengganti pesawat mainan Alma yang rusak. Kalau di ilmu keguruan yang saya pernah pelajari, konsekuensi yang Kiran dan Ahsan harus jalani ini disebut Apology of Action, yaitu permintaan maaf yang diiringi oleh tindakan nyata sebagai rasa tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. You break it, you fix it, istilahnya begitu. Kamu merusakkan mainan aku, kamu harus perbaiki. Tidak bisa diperbaiki? Ganti dengan yang baru. Jadi dengan konsekuensi logis seperti ini, diharapkan anak akan belajar dari perbuatan mereka sehingga di kemudian hari tidak melakukannya lagi. Ada 3 jenis konsekuensi logis yang bisa diterapkan kepada anak-anak, nanti akan saya bahas ditulisan selanjutnya.

Jadi apa konsekuensi logis yang Kiran dan Ahsan lakukan? Berdasarkan diskusi antara Kiran dan Ahsan yang didampingi oleh kedua orang tua, mereka sepakat akan mengumpulkan uang untuk mengganti pesawat Alma. Harga pesawat tersebut menurut Bibi Nada sekitar 80 ribu, jadi Kiran dan Ahsan akan patungan masing-masing 40 ribu dan akan membeli pesawat tersebut bersama-sama. Di rumah, Kiran dan Ahsan berdiskusi dengan orang tua masing-masing tentang bagaimana cara mengumpulkan uang.

Pada hari Rabu, saya berdiskusi dengan Kiran, bagaimana caranya mengumpulkan uang. Awalnya Kiran mau membuat kartu dan menjualnya ke om dan tantenya, tapi karena anaknya ogah nulis banyak, ide itu dicoret. Ide selanjutnya Kiran mau menjual beberapa mainannya, tapi karena galau tak berkesudahan, coret lagi hehe. Sampai akhirnya tersebut ide membuat kue. Kebetulan setiap hari Jumat itu Cooking Project Day, jadi sekalianlah kami berproject ria membuat Genji Pie cookies. Kenapa Genji Pie cookies? Kebetulan Kiran suka sekali makanan itu, dan berhubung membuatnya gampang banget dan cepat, jadilah kue tersebut kami eksekusi.

Hasil diskusi kami tulis di papan diskusi. Sebenarnya Kiran punya cukup uang miliknya untuk membeli pesawat baru, tapi saya dan ayahnya sepakat untuk tetap menyarankan Kiran mencari uang. Niat kami untuk mengajarkan tanggung jawab kepada Kiran atas segala tindakan yang dilakukannya. Judulnya jualan, padahal modal membeli bahannya saja 70 ribu dan diambil dari uang tabungan Kiran hahahaha.

Biasanya kalau cooking project sama Kiran itu ngga lama, at least Kiran membantu di awal-awal untuk mencampur bahan dan mencetak beberapa kali dan di akhir untuk menyapu lantai dan membereskan peralatan. Karena fokusnya masih singkat, biasanya saya yang meneruskan perjuangan sampai selesai. Nah untuk cooking project kali ini Kiran benar-benar melakukan dari awal sampai akhir. Mulai dari mencetak adonan, memotong, memasukkan ke stoples, sampai mempromosikan hasil kuenya ke pembeli. Cooking project kami mulai dari jam 10 dan selesai jam 3. Waktu yang cukup lama untuk Kiran karena teman-teman di rumah sudah bolak-balik memanggil Kiran untuk mengajak bermain bersama. Tapi karena project kuenya belum selesai, Kiran tidak bisa bermain. Terlihat wajahnya sedih karena tidak bisa bermain dengan temannya dan kami harus mengingatkan Kiran kembali kenapa ia harus melakukan project ini. Untuk satu stoples kue dijual 15 ribu rupiah. Alhamdulillah dagangan (hasil nodong om tante kakek dan ayah) laris manis hehe.

Di malam hari, saya mengulas kembali kegiatan hari ini dengan Kiran, saya senang Kiran bisa mengalami konflik seperti ini. Semoga apa yang Kiran dan Ahsan pelajari dari konsekuensi yang mereka lakukan, membuat mereka lebih berhati-hati lagi ketika bermain.

Semangat untuk Sahabat

Semangat untuk Sahabat

Selamat sore, apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu ya. Sabtu sore ini cerah sekali, tidak terlihat awan kelabu menggelayut di langit seperti beberapa hari ke belakang. Hari Sabtu lalu saya dan Kiran pergi ke Rockstar Gym Kota Kasablanka. Seperti akhir pekan biasanya, Rockstar penuuuhhh sekali. Tetapi Kiran merasakan apa yang saya rasakan. “Rockstar is more fun if my friends are here just like before”.

Kamis lalu, keluarga Belajar Bersama berkumpul di Rockstar Gym Kota Kasablanka. Kiran sangat senang bertemu lagi dengan sahabat-sahabatnya, Ahsan, Akhtar, Alma dan Adiva (minus Maji dan Angkasa). Pada hari itu, anak-anak tidak hanya berkegiatan bersama di Rockstar, tetapi juga merayakan hari yang spesial untuk Ahsan. Kenapa? Karena pada tanggal 21 Juli, Ahsan berulang tahun yang ke 6! Horeee.

Sesampainya di Rockstar, Alma, Adiva, Ahsan, Akhtar dan Kiran masuk ke kelas Gymnastic, Martial Art, and ditutup dengan kegiatan berenang bersama. Setelah selesai, makan malam untuk kami semua sudah disiapkan oleh Bibi Anita, waaahh, senangnyaaa. Selamat ulang tahun ya Ahsan, semoga Ahsan tumbuh menjadi anak yang selalu memberikan manfaat untuk orang banyak serta menjadi penyejuk hati ayah dan mama. Doa kami semua akan selalu menyertai Ahsan.

Melihat begitu semangatnya Kiran mempersiapkan kado ulang tahun untuk Ahsan, saya jadi menyadari betapa berharganya pertemanan mereka. Meskipun usia mereka masih kecil dan sering sekali saling membuat menangis satu sama lain, tapi semua itu tidak sebanding dengan posisi setiap anak di hati masing-masing temannya. Kiran misalnya, bangun tidur, hal pertama yang ia sebut adalah, “Bun, today is Ahsan birthday, come on we need to get hurry to Rockstar”. Membuat kartu ucapan pun dilakukan tanpa negosiasi, langsung saja Kiran kerjakan. Kaget loh saya, biasanya kan Kiran paling susah kalau berurusan sama tulisan hihi.

Alma dan Adiva pun demikian, Bibi Nada bercerita kalau Alma langsung membuatkan gambar yang disukai Ahsan. Alma tahu kalau Ahsan sangat suka dengan mobil, jadi dibuatkanlah gambar mobil untuk Ahsan. Paman Simon juga bilang kalau hadiah yang Adiva berikan ke Ahsan dibeli menggunakan uang Adiva sendiri. Wah, terharu sekali saya mendengar cerita pemberian kado untuk sahabat mereka tersebut.

Saya berharap semoga persahabatan yang sudah terjalin ini bisa berlanjut sampai mereka dewasa. Sahabat yang akan selalu saling mengingatkan, saling mendukung dan saling mengerti. Sahabat yang akan selalu ada dalam suka dan duka.

“One of the best thing in life is when you have friends that treat you like a family”

 

Membuat Pie Susu

Membuat Pie Susu

Hari Jumat minggu ini, Kiran dan saya memulai cooking project. Saya dan Kiran sepakat kalau setiap Hari Jumat kami memasukkan cooking project sebagai salah satu jadwal harian Kiran, soalnya Kiran itu suka sekali makan cemilan. Nah dalam rangka memberikan anak cemilan sehat dan memperkenalkan Kiran dengan urusan perdapuran, jadilah hari Jumat itu hari cooking project.

Untuk menu snack yang pertama, saya tanyakan kepada Kiran, mau buat kue apa, tapi bingung ternyata anaknya. Lalu browsinglah kami untuk mencari apa yang Kiran mau, ternyata dari gambar-gambar yang muncul di Google search, Kiran mau membuat pie susu. “The cookies I ate from Ahsan, Bun”, kata Kiran. Rupanya Kiran masih ingat oleh-oleh yang diberikan oleh Ahsan, sahabatnya yang pergi ke Bali. Okelah kalau begitu, mari kita eksekusi.

Saya berusaha memasukkan pelajaran Matematika ketika membuat kue dengan Kiran. Misalnya saya meminta Kiran untuk menimbang terigu, gula, atau mentega dan memperhatikan angka yang muncul di timbangan agar sesuai dengan resep. Sering juga bermain perbandingan, “kalau satu resep butuh 2 telur, kita gunakan berapa telur kalau pakai dua resep?” Kiran juga senang-senang saja jawabnya, ngga seperti kalau mengerjakan IXL Math hihihi.

Setelah setengah jam lebih berjibaku dengan bahan-bahan kue, akhirnya masuk juga si pie susu ke dalam oven. Butuh waktu sekitar 40 menitan sampai pie ini matang. Setelah matang, wangi semerbak tercium dari oven, Cuma wangi aja sih, belum tahu rasanya gimana soalnya kami harus buru-buru pergi ke UNJ untuk trial multilateral dengan teman-teman dari klub OASE. Malam hari baru sempat dicicip, dan ternyata rasanya wenak rek!

Untuk teman-teman yang mau mencoba resep pie susu ala kami, silakan loh, beneran enak, dan dijamin anti gagal, soalnya resepnya bukan buatan saya hihihi.

Resep Pie Susu

Bahan crust:

  • 250 gr terigu
  • 200 gr mentega
  • 1 butir telur

Bahan vla

  • 200 ml susu kental manis
  • 3 butir telur
  • 1 sendok makan maizena (larutkan dengan 100ml air)
  • Beberapa tetes vanilla (untuk menghilangkan bau amis telur)

Cara membuat:

  • Campur semua bahan crust dalam wadah, aduk-aduk dengan tangan sampai adonan tercampur dan kalis.
  • Campur semua bahan vla dalam wadah, aduk rata.
  • Siapkan loyang (kecil bisa, besar juga bisa. Kalau saya pakai loyang pie besar), oles dengan margarin.
  • Ratakan adonan crust pada loyang, padatkan.
  • Setelah rata, tusuk-tusuk dasar adonan dengan garpu (katanya sih untuk menghindari gelembung vla gitu deh)
  • Tuang adonan vla ke loyang dan panggang dengan api kecil selama 40 menit atau sampai vla padat (maklum saya pakai otang hehe)
  • Jadi deeehhh. Selamat mencobaaa ^^
Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pengakuan Dosa Vs Keteguhan Prinsip

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya menemukan Kiran sedang asyik bermain dengan kereta api mainannya. Saya duduk di sofa dan menyapanya, Kiran langsung berkata “Ayah, I’m sorry if I used your batteries for my train yesterday.” dengan spontan saya merespons “Why did you do that? Why did you not ask permission first?” mencoba mengingatkan peraturan yang telah kami sepakati bersama untuk selalu meminta izin ketika hendak menggunakan barang orang lain.

Kemudian Kiran membalas pertanyaan saya dengan alasan “but I only used it for a short time. Your battery still have power.” Mendengar alasan itu saya pun menunjukkan kekecewaan saya bukan karena baterainya yang dia digunakan tetapi karena Kiran tidak meminta izin. Saat itu saya berpikir ini adalah masalah prinsip dan tidak bisa dibiarkan, Kiran harus tahu bahwa ayahnya sedih dan kecewa. Guilt trap, hal yang saya sendiri tidak sukai tetapi secara spontan saya lakukan terhadap Kiran dengan alasan ingin mengajarinya bahwa tindakan itu tidak dapat dibenarkan.

Akhirnya saya pun memaafkan Kiran dan mengingatkannya untuk selalu meminta izin jika ingin menggunakan barang orang lain. Masalah selesai, Kiran pun kembali bermain dan saya bersiap-siap untuk bekerja.

Ketika sedang bermotor menuju tempat kerja, saya masih memikirkan tentang kejadian tadi. Wajahnya yang menyesal masih terbayang dengan jelas. Terasa ada yang mengganjal dan mengganggu pikiran saya mengenai kejadian tersebut. Sepanjang perjalanan pun saya mencoba mencari tahu apa yang salah dengan kejadian tadi pagi. Saya mulai mempertanyakan apa yang akan saya lakukan jika saya adalah Kiran. Saya tahu apa yang akan saya lakukan, berbohong dan tidak akan ada yang tahu.

Timbul penyesalan dalam diri karena terlambat menyadari bahwa saya seharusnya merespons dengan cara yang berbeda. Dengan penuh kesadaran sekarang saya mencoba untuk membayangkan kejadian tersebut dengan menunjukkan apresiasi dari keberaniannya mengakui kesalahan yang dia lakukan. Padahal kalau Kiran tidak mengatakan hal itu saya pun tidak akan tahu bahwa baterainya dipakai dan tidak akan ada masalah timbul pagi ini. Seharusnya kejadian pagi ini menjadi pengalaman yang lebih berarti bagi kami daripada hanya sekadar berpegang teguh pada prinsip apa pun yang terjadi.

Pelajaran lagi sebagai orangtua (yang seringkali merasa lebih tahu daripada anak) untuk selalu mengambil jeda sebelum merespons terhadap suatu kejadian khususnya yang berkaitan dengan prinsip.

Ada kalanya kita harus mengesampingkan sesuatu untuk menyambut sesuatu yang lain.

Proyek Mengumpulkan Dana untuk Berdonasi Buku

Pagi ini saya mendapatkan informasi di Facebook dari seorang teman. Informasi tersebut tentang program donasi buku paket yang berjudul Anak Bertanya Pakar Menjawab seharga Rp 120.000 untuk satu paket buku. Karena penasaran dan tidak memiliki informasi yang jelas, saya pun mengunjungi akun resmi https://www.facebook.com/kitaberbagibuku dan meminta informasi lengkap mengenai isi dari buku tersebut. Tidak lama berselang permintaan saya ditanggapi oleh admin dari FB Page tersebut dan diberikan tautan www.anakbertanya.com.

Setelah mengunjungi situs web resminya, yang saya pahami adalah buku ini berisi pertanyaan anak-anak yang dijawab langsung oleh pakarnya. Isi situs web tersebut sangat menarik, karena pertanyaan dari anak-anak dijawab oleh pakarnya menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh anak-anak. Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi situs web di atas.

Tadinya saya berpikir untuk memberikan donasi secara langsung, tetapi kok rasanya tidak berkesan. Tiba-tiba saya memiliki ide dan menyampaikannya kepada Kiran. Ide tersebut adalah mengumpulkan dana untuk berdonasi. Jadi saya sampaikan kepada Kiran bahwa kami bisa membantu anak-anak di tempat yang jauh untuk menerima buku yang kita donasikan. Akhirnya kami putuskan untuk membuat sebuah proyek selama 2 minggu (mulai tanggal 1 Februari sampai 14 Februari) dan kami telah mendiskusikan hal apa saja yang sekiranya Kiran bisa lakukan supaya bisa mendapatkan uang untuk memberikan donasi.

Saya pun mengajak Kiran untuk membuat video untuk menyampaikan proyek ini kepada semua orang. Berikut ini videonya:

Kami pun membuat video mengenai buku kesukaannya.

Setelah membuat video, kemudian kami berdiskusi dan membuat rencana supaya Kiran dapat menghasilkan uang untuk dikumpulkan dan didonasikan. Saya sangat senang berdiskusi dengan Kiran dan tingkat konsentrasinya sudah mulai meningkat dan bertahan lebih lama. Berikut ini hasil diskusi yang kami (semoga terbaca dengan baik):

Hasil Diskusi

Hasil Diskusi

Kami mohon dukungannya dari teman-teman semua semoga proyek ini dapat berjalan dengan lancar. Saya akan mencoba mendokumentasikan kegiatan ini setiap hari (semoga bisa disiplin). Jika ada ide lain yang bisa kami lakukan, silakan sampaikan di kolom komentar.

Untuk yang ingin bergabung mengumpulkan dana, yuk kita berusaha sama-sama.

Informasi terkini*

1 Februari 2016: Pembuatan kampanye di kitabisa.com untuk mempermudah penerimaan donasi. Kampanye sedang dalam pengecekan admin Kita Bisa. Setelah disetujui, akan saya bagikan di media sosial.

%d bloggers like this: