Perjalanan Pendidikan Rumah 2015

Perjalanan Pendidikan Rumah 2015

Dengan berakhirnya tahun 2015, mengingatkan keluarga kami bahwa sudah hampir satu tahun Kiran menjalani pendidikan rumah. Banyak hal yang terjadi dan tidak semuanya sempat kami tuliskan di dalam blog ini. Kami pun masih kesulitan mengatur jadwal keseharian pendidikan Kiran sekaligus mencoba menuntaskan segala tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan kami. Semoga tahun ini kami bisa mengatur jadwal keseharian kami lebih baik lagi dan lebih konsisten menuliskan perjalanan keluarga kami khususnya tentang pendidikan rumah Kiran .

Pendidikan Rumah Kiran

Semenjak Kiran menjalani pendidikan rumah, kami sangat bersyukur Kiran telah tumbuh menjadi anak yang sangat percaya diri dan mampu berinteraksi dengan anak-anak yang lebih muda usianya. Karena kegiatannya yang hampir setiap hari berinteraksi dengan orang-orang baru dari berbagai usia (anak-anak hingga orang dewasa) membuat Kiran lebih mudah beradaptasi dengan orang-orang yang baru ditemuinya.

Setelah menjalani pendidikan rumah, Kiran pun menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab. Saat ini Kiran sudah mampu untuk melakukan tugas-tugasnya dengan mandiri tanpa harus dibantu (meskipun kadang-kadang harus diingatkan) seperti, merapikan tempat tidur, berkomitmen dalam mengatur waktu mainnya, membantu kami menyiapkan peralatan makan sebelum makan dan mencuci peralatan makannya sendiri, membereskan mainan dan membuat dapat menyelesaikan rencana yang kami rancang (meskipun kadang-kadang harus diingatkan ketika hatinya sedang tidak merasa senang). Perilaku yang paling kami apresiasi adalah kejujurannya ketika Kiran berani mengakui hal-hal buruk yang dilakukannya dan menyampaikannya kepada kami tanpa rasa takut dan atas kesadarannya sendiri.

Untuk kemampuan berbicaranya dalam bahasa Inggris sudah lebih baik dan Kiran telah dapat menggunakan kalimat kompleks sampai pada 3 buah kalimat. Kemampuan berbahasa Indonesianya (bahasa Indonesia yang sebenarnya) masih kurang, karena lebih sering berkomunikasi dengan dialek Jakarta. Saat ini kami memang masih berfokus untuk menguatkan kemampuan dasar bahasa Inggrisnya terlebih dahulu sampai dirinya mampu membaca, kemudian kami akan beralih untuk mengajarinya  berbahasa Indonesia.

Kami tidak memiliki target secara khusus untuk tahun pertama pendidikan rumah Kiran, karena masih dalam tahap mempererat hubungan orangtua dan anak. Kami pun masih dalam proses deschooling yang sedikit demi sedikit mulai kami rasakan manfaatnya. Secara keseluruhan kami sangat senang dengan segala perkembangan Kiran di tahun pertama pendidikan rumahnya.

Mencoba Menemukan Kesesuaian

Di luar perkembangan tumbuh kembang Kiran, kami sebagai orangtuanya yang kebetulan bergelut di dunia pendidikan merasa sangat kesulitan untuk mencari cara terbaik dalam menjalani kegiatan pendidikan rumah Kiran. Sebagai guru, kami terbiasa dengan adanya perencaaan dan melakukan kegiatan dengan cara pemberian materi atau lembar kerja yang terstruktur. Pada awalnya kami melakukan kesalahan yang mungkin umum dilakukan oleh para pemula yang menjalani pendidikan rumah. Kami mengatur jadwal untuk Kiran sedemikian rupa layaknya jadwal sekolah. Kegiatan tersebut hanya bertahan satu bulan dan segera kami hentikan karena kami merasa apa yang kami lakukan hanyalah memindahkan sekolah ke rumah dan apa yang kami lakukan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan rumah kami.

Karena kami tidak melihat Kiran menikmati kegiatan-kegiatan yang kami berikan akhirnya kami pun berusaha mengatur ulang segalanya. Berbagai jadwal keseharian sudah kami coba tetapi masih belum menemukan jadwal keseharian yang “ideal” seperti yang kami inginkan. Kami masih menemukan salah satu pihak “terkorbankan” baik dari sisi Kiran maupun sisi kami sebagai orangtuanya. Akhirnya kami pun mulai mencoba pendekatan pendekatan yang berbeda dengan cara menghilangkan kegiatan-kegiatan yang “kami anggap bagus” dan lebih memerhatikan hal-hal yang Kiran anggap lebih menarik. Kami mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri (tidak memberikan harapan-harapan baik untuk dari kami maupun dari Kiran) dan mulai menjalani keseharian kami dengan mengalihkan perhatian kami kepada Kiran bukan pada kegiatan yang harus dilakukannya. Sedikit demi sedikit kami pun mulai mendapatkan irama keseharian kami. Kami selalu berpikir terlalu rumit untuk hal yang sebetulnya sederhana. Tetapi kami pun belajar dan mulai melatih diri untuk “mengingat” kembali dunia anak-anak.

Satu hal yang selama ini kami pelajari, kemantapan diri. Bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan perencanaan kita tetapi tetap mencari cara untuk mencapai tujuan merupakan hal yang lebih penting karena untuk mencapai tujuan diperlukan penyesuaian.

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Perayaan Natal Jakarta Homeschool Club 2015

Salah satu alasan kami menjalani model pendidikan rumah bagi Kiran adalah penguatan karakter. Fokus utama pendidikan kami berada pada pendidikan karakter daripada akademis. Banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan karakter di antaranya adalah memiliki toleransi terhadap orang lain terlepas dari status dan kepercayaannya. Tidak ada satu manusia terlahir memiliki “label”, manusia dewasalah yang memberikan status dan label sehingga hubungan di antara individu semakin jauh dari rasa kemanusiaan.

Kami menyadari bahwa untuk memiliki sikap bertoleransi memerlukan perjalanan panjang dan pemahaman terhadap sifat ini bukanlah sebuah teori yang bisa kita ajarkan dalam waktu yang singkat. Kenyataannya belajar bertoleransi terhadap orang lain harus berada di dalam situasi “menyaksikan” atau “mengalami” karena hakikatnya mengetahui informasi dan menjalankan apa yang kita ketahui adalah dua hal yang sangat berbeda. Oleh karena itu, saya selalu mencari kesempatan untuk memperkenalkan Kiran kepada hal-hal baru yang mungkin untuk kebanyakan orang dianggap liberal. Tetapi saya selalu yakin bahwa segala sesuatu yang diniatkan dengan baik akan berakhir dengan baik.

Pengalaman kali ini sangat berkesan bagi kami sekeluarga. Semua berawal dari perkenalan kami dengan Ibu Ida Luther dan keluarga pada acara Festival Pendidikan Rumah (FESPER) 2015 di Cibodas pada bulan Agustus lalu. Setelah acara FESPER kami pun berkomunikasi via Whatsapp dan Facebook. Meskipun baru saling mengenal, entah mengapa sepertinya kami seperti sudah kenal lama tidak merasa canggung pada saat berkomunikasi (situasi seperti ini mulai menjadi pola keseharian kami semenjak menjalani pendidikan rumah dan bertemu dengan para praktisi pendidikan berbasis keluarga).

Singkat cerita saya menyampaikan kepada Ibu Ida bahwa kami ingin memberikan kesempatan kepada Kiran untuk merasakan indahnya memiliki sifat toleransi, salah satunya kami selalu mengundang diri kepada teman dekat kami yang beragama kristen yang sudah kami anggap sebagai keluarga pada setiap perayaan natal. Ya, kami yang mengundang diri dan tahun ini akan menjadi perayaan natal kami yang kelima bersama sahabat kami. Oleh karena itu, Ibu Ida pun tidak ragu untuk mengundang kami menghadiri acara perayaan natal Jakarta Homeschool Club (JHC) yang diselenggarakan pada tanggal 5 Desember 2015 di Jakarta Design Center.

Konsep acara ini patut ditiru karena minim sampah. Setiap keluarga membawa makanan yang bisa dibagikan kepada semua orang yang hadir dan setiap orang harus membawa peralatan makannya sendiri. Kami pun datang tepat pada waktu yang telah ditentukan dan langsung disambut oleh Kim (putri Ibu Ida). Acara ini dipandu langsung oleh Ibu Ida dan kami pun baru mengetahui kemudian bahwa Ibu Ida ternyata adalah salah satu dari tiga orang pendiri JHC.

Ada rasa waswas karena ini pertama kalinya kami bertemu dengan orang-orang di JHC dan pada saat acara yang sangat spesial bagi mereka. Apalagi JHC adalah komunitas homeschooling kristen dan kami adalah satu-satunya keluarga non-kristen yang hadir pada acara tersebut. Tetapi semua kekhawatiran itu langsung sirna ketika kami disambut dengan sangat ramah oleh setiap anggota JHC sejak awal kedatangan kami, bahkan kami pun terharu karena setiap makanan diberikan label dengan keterangan halal dan tidak halal dan beberapa orang mengingatkan kami menu apa saja yang halal pada saat makan malam berlangsung. Ada beberapa nama yang kami langsung kenal seperti Ibu Lenny dan Lina kemudian Ibu Dewi yang membantu saya menyisihkan makanan tidak halal karena saya salah mengambil.

Ibu Ida (paling kiri) dan Ibu Lenny (paling kanan)

Selama kami berada di acara tersebut, tidak sedikit pun kami melihat ada pandangan aneh baik dari anak-anak maupun orang dewasa JHC. Keberadaan Bunda Kiran yang berkerudung pun tidak terlihat mengganggu mereka. Bahkan kami pun diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri dan berbagi di bagian acara “Family Sharing Moment” di mana setiap keluarga menyampaikan rasa syukurnya dan kesan-kesan mereka dalam menjalani pendidikan rumahnya masing-masing tahun ini. Pola lainnya pun terlihat ketika para praktisi pendidikan berbasis keluarga ini mulai mendapatkan berkah dan kebahagiaan dari pendidikan rumah yang mereka jalani. Pengalaman perbaikan kehidupan di dalam keluarga ini selalu saya dengar dari para praktisi pendidikan rumah dan sedikit demi sedikit keluarga kami pun merasakannya.

Ada satu kegiatan di dalam rangkaian acara tersebut yang sangat berkesan bagi kami dan khususnya Kiran, di mana Ibu Ida memberikan Character Recognition Certificate kepada semua anak JHC atas pencapaian mereka hasil observasi keseharian mereka pada saat berkegiatan di JHC. Setiap anak menantikan namanya dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat tersebut dan terlihat sangat senang ketika menerima sertifikatnya. Tanpa diduga di akhir pemberian sertifikat itu, ternyata nama Kiran dipanggil. Dari interaksi Kiran pada saat acara FESPER bersama Ibu Ida sekeluarga, Kiran pun mendapatkan sertifikat dengan kualitas karakter Tolerance. Kiran pun merasakan sensasi kebahagiaan menerima sertifikat tersebut. Senyumnya melebar dan matanya berbinar pada saat namanya dipanggil ke depan oleh Ibu Ida.

 

Berikut ini adalah dokumentasi acara tersebut: 

Tidak terasa tiga jam pun telah berlalu dan kami menikmati setiap menitnya bersama keluarga JHC. Meskipun tidak banyak bercengkerama dengan para orangtua JHC, tetapi bahasa tubuh dan cara mereka menerima kami sangat membuat kami merasa nyaman. Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida dan seluruh keluarga JHC atas keramahan dan kehangatannya menerima kami sekeluarga. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami pun berharap Kiran dapat mengenang pengalaman malam itu dan menjadikannya sebagai contoh yang baik sikap bertoleransi antar umat beragama.

Seandainya semua orang bisa saling bertoleransi seperti ini tanpa memandang warna kulit, negara, dan khususnya agama. Bisa dibayangkan indahnya persatuan di dunia ini hidup rukun berdampingan seperti cuplikan lagu Imagine yang dilantunkan John Lenon di bawah ini.

. . .
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one
. . .

Keselamatan di Jalan Raya

Keselamatan di Jalan Raya

Kali ini saya ingin membagikan pengalaman bersama Kiran di jalan raya beberapa hari yang lalu. Membawa anak di jalan raya memiliki risiko yang sangat tinggi, khususnya bagi yang membawa balita. Keinginan bermain mereka yang sangat tinggi menyulitkan kita sebagai orangtua untuk bisa mengingatkan mereka untuk fokus dan berhati-hati di jalan raya.

Pada hari itu saya mengajak Kiran pergi ke sebuah percetakan untuk urusan pekerjaan. Singkat cerita setelah saya menyelesaikan urusan di sana, kami berjalan kaki menuju sebuah tempat yang terletak 2 gedung di sebelah percetakan untuk makan siang. Saat itu kami harus berjalan kaki di trotoar yang kondisinya sangat buruk dan tidak layak disebut sebagai trotoar. Setelah berjuang menghindari begitu banyak lubang di trotoar dan sekian banyak bunyi klakson yang ditujukan kepada kami, akhirnya kami tiba di lokasi.

Selama perjalanan saya memegang tangan Kiran untuk memastikan keamanannya. Ketika kami hendak menyebrang jalan di depan area lobi gedung, Kiran melepaskan tangan saya dan berlari dengan cepat mengejar sesuatu di atas aspal sehingga saya tidak bisa menjangkaunya. Melihat kendaraan yang melaju ke arah Kiran, saya memanggil Kiran dengan lantang dan langkahnya pun langsung terhenti karena terkaget mendengar suara saya.

Untung saja kendaraan tersebut pun melambatkan lajunya dan syukurlah tidak ada kejadian apa-apa. Ternyata ketika saya tanyakan kepada Kiran, dia bilang mau mengambil mainannya yang terjatuh dan menggelinding di atas jalan.

Pada saat makan siang, saya mencoba menyampaikan pesan bahwa apa yang dilakukannya sangat berbahaya dan dia harus selalu memerhatikan situasi di sekitarnya demi keselamatan dirinya. Akhirnya setelah berdiskusi mengenai keselamatan diri di jalan raya, berikut kesepakatan yang kami buat bersama :

  • Keselamatan diri adalah yang paling penting bukan barang.
  • Selalu mendengarkan ketika diingatkan.
  • Selalu berpegangan tangan ketika berjalan di jalan raya.
  • Jika menjatuhkan sesuatu jangan langsung mengambilnya. Lihat sekeliling dan pastikan tidak ada kendaraan.  Minta bantuan jika diperlukan dan jangan melakukan apa pun ketika ada kendaraan mendekati benda yang terjatuh.

Sebetulnya mungkin banyak hal yang bisa dibicarakan sebagai aturan ketika berada di jalan raya. Tetapi berdasarkan kejadian tersebut, poin-poin di atas adalah kesepakatan yang kami buat bersama dengan harapan bisa lebih memudahkan kami (saya dan istri) untuk mengingatkan Kiran ketika berada di jalan raya.

Semoga kiriman ini bisa menjadi pengingat untuk kita semua untuk tidak lengah ketika berada di jalan raya bersama anak. Memberikan pengertian kepada anak dengan cara yang mudah dipahami bisa meringankan tugas kita ketika bersama anak-anak di jalan raya.

Bertualang di Wahana Adventure of Human Body

Bertualang di Wahana Adventure of Human Body

Setelah bertualang di Rumah Perubahan beberapa hari yang lalu, sekarang saatnya kami membuktikan ketenaran Bekasi yang sempat heboh menarik perhatian banyak orang di jejaring sosial. Tujuan kami mendatangi Bekasi karena Summarecon Mal Bekasi menawarkan jelajah petualangan mengenai bagian tubuh manusia yang terangkum melalui wahana Adventure of Human Body yang menyajikan replika anatomi bagian tubuh manusia melalui pemanfaatan teknologi visual. 

Kami sudah membuat janji untuk berkegiatan bersama komunitas homeschooling Kerlap (Kelompok Bermain dan Belajar Depok) di sana. Waktu tempuh dari rumah kami ke lokasi yang dituju adalah 40 menit (dengan kondisi lalu lintas yang relatif lancar melalui Jalan Tol JORR).

Brosur Adventure of Human Body

Brosur Adventure of Human Body

Kesan pertama saya ketika keluar pintu Tol Bekasi Barat, sebetulnya tidak ada yang spesial tentang tempat ini, sampai di tengah perjalanan kami melihat sebuah gapura besar berdiri kokoh di atas jalan layang dengan tulisan SUMMARECON BEKASI di atasnya.

Jalan Layang Summarecon Bekasi

Jalan Layang Summarecon Bekasi

Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di mal Summarecon Mal Bekasi dan segera meluncur ke lantai satu. Wahana Adventure of Human Body mudah sekali ditemukan karena terdapat beberapa hiasan dinding yang berbentuk tubuh manusia. Setelah menunggu beberapa saat, kami pun bertemu dengan teman-teman KERLAP. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan tempat sudah secara resmi dibuka. Tetapi sayangnya kami harus menunggu sebentar karena petugas loketnya belum datang sehingga kami tidak bisa membeli tiket supaya bisa masuk.

Setelah petugas loket datang, kami pun segera membeli tiket karena sudah tidak sabar ingin segera memasuki wahana yang berukuran raksasa itu dengan luas area mencapai 800 m2 (sumber: www.malbekasi.com). Singkat cerita, kami pun memasuki pintu masuk melalui mulut patung dan diajak untuk menjelajahi tenggorokan, pita suara, organ jantung, hati, ginjal, pankreas, usus, sistem saraf, hingga ke saluran pembuangan (rektum).

Kami pun segera disambut dengan sebuah tanda yang bertuliskan PITA SUARA. Ketika memasuki bagian PITA SUARA kami harus berjalan melewati katup bergetar yang memotong aliran udara dari paru-paru. Untuk memahami bagaimana cara manusia menghasilkan suara bisa dilihat di sini. Kemudian kami pun berjalan menuju bagian paru-paru.

Adventure of Human Body

Pita Suara

Dengan kondisi cahaya yang redup dan efek suara nafas yang diperdengarkan melalui pengeras suara dengan keras untuk memberikan pengalaman di dalam tubuh, ternyata membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Semua anak yang memasuki ruangan ini langsung gelisah karena takut, termasuk Kiran. Saya pun mencoba menenangkan Kiran karena dia meminta untuk segera keluar. Tetapi saya bilang kalau mau keluar harus mengikuti jalan keluar, namanya juga petualangan.

Wahana unik ini mengajak para pengunjung untuk menjelajahi tenggorokan, pita suara, organ jantung, hati, ginjal, pankreas, usus, sistem saraf, hingga ke saluran pembuangan.

Berikut ini dokumentasi kunjungan kami di sana. Saya menampilkan foto-foto secara urut sesuai dengan urutan perjalanan. 

Jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba wahana Adventure of Human Body yang berlokasi di lantai 1 Summarecon Mal Bekasi. Wahana ini dibuka setiap hari, mulai tanggal 23 Oktober 2015 sampai dengan 31 Januari 2016 pukul 11.00 WIB – 22.00 WIB. Tiket masuk sebesar Rp 30.000 per orang.

Sekadar informasi dari pengalaman kami kemarin, bagi yang tertarik mengunjungi tempat ini disarankan untuk tidak membawa balita. Suasana gelap, sempit dan efek suara yang diciptakan di dalam wahana tersebut bisa membuat anak-anak ketakutan. Untuk anak balita memasuki wahana ini seperti memasuki rumah hantu 😆 . Sayangnya kami pun tidak begitu menikmati wahana ini karena harus menenangkan anak yang ketakutan.

Untungnya di dalam mal ada area bermain untuk anak-anak sehingga anak-anak bisa bermain dengan seru dan melupakan pengalaman menakutkan yang mereka alami di dalam wahana. Setelah puas bermain kami pun makan siang bersama.

Saya lebih menyarankan wahana ini untuk dikunjungi anak-anak yang sudah atau akan  mempelajari anatomi tubuh supaya bisa memberikan pengalaman belajar yang menghibur dan interaktif melalui pemanfaatan teknologi visual yang ditawarkan.

Di sisi lain, Summarecon Mal Bekasi juga bisa dijadikan tempat alternatif bagi warga Jakarta yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda. Pusat perMal yang dirancang sangat apik, membuat pengunjung sangat nyaman berada di dalamnya. Arena bermain dalam ruangan yang ditempatkan di tengah gedung membuat anak-anak bebas berlarian tanpa khawatir mengganggu pengunjung lainnya karena areanya yang luas. Tempat makan yang bervariasi juga ditawarkan tempat ini, mulai dari tempat makan ala resto cafe sampai dengan model pujasera dengan konsep pembayaran kartu yang sisa saldonya bisa diuangkan kembali. Yang paling penting untuk saya pribadi adalah ketersediaan lahan parkir yang sangat luas.

Saya bukan seseorang yang senang berjalan-jalan di mal atau mudah disenangkan dengan kondisi mal, tetapi mal ini telah memberikan pengalaman yang sangat positif untuk saya dan membuat saya ingin kembali ke sana. Bagi yang tertarik berkunjung ke sana berikut ini alamat lengkapnya :

Jalan Bulevard Ahmad Yani Blok M
Sentra Summarecon Bekasi 17142
Phone: (021) 2957 2888

Panduan dari Jakarta melalui Jalan Tol JORR :

Masuk Jalan Tol JORR kemudian mengarah ke Cikampek. Selanjutnya keluar di Pintu Tol Bekasi Barat. Setelah keluar pintu tol, ikuti jalan yang ada dan belok kiri pada pecahan jalan pertama, Anda akan langsung memasuki Jalan Jenderal Ahmad Yani (Anda tidak akan melihat petunjuk jalan menuju Summarecon Bekasi Mal sampai beberapa saat berada di jalan ini). Lurus saja dan naik flyover yang bertulisan SUMMARECON BEKASI. Selanjutnya Anda akan melewati bundaran dan setelah itu Anda harus berada di lajur jalan paling kanan karena akses masuk mal tidak jauh di depan Anda. Anda akan melihat tulisan MAL dengan tanda panah di jalan untuk mengarahkan Anda memasuki terowongan untuk langsung masuk ke area mal.

Ketuk di sini untuk melihat lokasi di Google Maps 

Berbagi Cerita di Komunitas Homeschooling Anak Usia Dini KERLAP

Berikut ini adalah catatan sesi berbagi saya bersama Komunitas homeschooling anak usia dini KERLAP.

Format tulisan sudah saya sesuaikan untuk kemudahan pembacaan dan sudah disesuaikan dengan keperluan penulisan di blog ini.

Sharing KERLAP:

Hari/Tgl: Sabtu/7 Nov 2015
Waktu : Pkl 21.00-23.00 WIB
Tema. : Pengalaman Deschooling Ananda, Mengapa Memilih Homeschooling?
Narsum: Paman Ian/Ayah Kiran 
Moderator: Mba Ersita
Notulen. : Mba Retno

Biodata Narasumber:

Nama: Rahdian Saepuloh
Umur: 32 tahun
Domisili: Jakarta Timur
Putra: Kiran
Aktivitas: Menjalani Homeschooling bersama Kiran dan bekerja.
Motto: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kita bisa mempelajari segalanya “jika” kita mau.

Prolog:

Kiran sudah bersekolah sejak umur 2 tahun dengan alasan memberikan kesempatan untuk bersosialisasi daripada duduk manis di rumah menonton televisi. Saat itu kami khawatir anak kami terlalu banyak menonton televisi ketika kami titipkan di rumah kakek dan neneknya karena saya dan istri masih sibuk bekerja. Kegiatan di sekolah tersebut pun tidak ada yang berkaitan dengan akademis dan hanya bermain saja.

Namun menjelang usia 4 tahun dan menghadapi persiapan masuk TK, kami mulai memerhatikan apa yang terjadi di TK saat ini. Rupanya tuntutan sistem sekolah terhadap anak sudah semakin tinggi demi mengejar “keberhasilan” sistem pendidikan kita. Karena khawatir dengan sistem sekolah yang ada sekarang dan saya mendengar dari teman-teman saya bahwa anak-anaknya sudah belajar hal-hal yang akademis di TK sebagai persiapan memasuki sekolah dasar. Anak “wajib” bisa membaca, menulis dan berhitung sebagai sebuah syarat masuk sekolah dasar yang diinginkan (meskipun tidak undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut).

Tidak ada masalah dari tempat Kiran bersekolah sebelumnya, hanya saja kami lebih khawatir dengan kondisi sistem pendidikan sekarang yang cenderung memaksa anak untuk bisa menguasai hal-hal yang akademis sebelum anak-anak matang dan siap.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Proses mengawali dan yg menjadi motivasi
    -eka, mama ginda-

Terima kasih atas pertanyaannya Mbak Eka.
Proses awal deschooling sudah saya lakukan dari semenjak Kiran bersekolah dengan cara melakukan kegiatan sepulang sekolah seperti mengunjungi perpustakaan dan membacakan banyak cerita, bermain di museum dan mengadakan kegiatan lainnya seperti mengajak Kiran mengunjungi tempat kerja saya dan makan siang bersama para pekerja lainnya. Kami pun membuat jadwal mingguan untuk Kiran bermain bersama teman saya yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Biasanya mereka makan siang bersama di luar dan berjalan kaki mengitari komplek perumahan teman saya.

Motivasinya adalah ingin menitikberatkan pada pendidikan karakter Kiran melalui kegiatan keseharian dan mempelajarinya melalui “mengalami” bukan pengajaran ceramah.

  1. Bolehkah minta contoh jadwal HS Kiran?
    -Retno-

Terima kasih Mbak Retno.
Jadwal Kiran selalu berubah mulai dari mengawali homeschooling sampai sekarang. Saya pribadi sempat stress mengatur jadwal karena masih menggunakan pendekatan “memindahkan sekolah ke rumah”. Akhirnya seiring berjalannya waktu kini kami lebih santai menjalani keseharian kami. Saat ini jadwal harian Kiran adalah mengikuti saya ke mana pun saya pergi. Kami belajar di mana pun itu memungkinkan.

Adapun kegiatan rutin yang kami lakukan bersama HSer lainnya adalah :

  • berkumpul dengan Klub Oase setiap hari rabu
  • berkegiatan bersama di Rockstar Gym setiap hari Kamis bersama Keluarga HSer
  • Mengikuti kelas Gymnastic, berenang dan tenis setiap hari Sabtu dan Minggu di Rockstar Gym.
  • Sisanya kami berkegiatan di rumah dan di tempat kerja saya.
  1. Mohon penjelasan bagaimana kalo anaknya yg sdh sekolah sampai kelas 5 sd dan sekarang sedang TK B. Karena saya mau meng-HS kan anak2. Truss bisakah klo kedua ortunya bekerja- -mondang ibu dari matthew kelas 5 sd dan kembar harel n herald TK B-

Terima kasih Mbak Mondang.
Sayangnya saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mbak Mondang karena tidak memiliki anak yang sudah besar. Mungkin mengadakan sebuah transisi seperti yang saya sebutkan di atas di mana sepulang sekolah menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama anak di luar dan menunjukkan kepada anak bahwa proses belajar bisa dilakukan di mana saja. Kemudian libatkan anaknya juga bahwa keputusan homeschooling ini dibuat bersama anak. Karena jika anaknya ingin bersekolah tetapi orangtuanya ingin homeschooling bisa menjadi konflik juga. Semoga jawaban saya bisa membantu Mbak Mondang. 

Oh ya satu lagi mengenai kondisi kedua orangtuanya yang bekerja.
Saat ini kami berdua dalam keadaan bekerja. Tetapi kondisi pekerjaan saya lebih fleksibel karena memiliki usaha sendiri sehingga memiliki keleluasaan untuk membawa Kiran ke tempat kerja. Saran saya adalah meminta ijin kepada tempat Mbak Mondang atau suami bekerja apakah diperbolehkan untuk membawa anak ke tempat kerja. Jika diijinkan tentunya bisa mengakomodir keperluan homeschooling anaknya tetapi jika tidak, mungkin harus dipikirkan alternatif lainnya. Yang pasti adalah komitmen seluruh anggota keluarga dalam menjalani homeschooling, insyaallah akan selalu ada jalan.

  1. Pernahkah Kiran minta kembali sekolah spt tmn-tmn yang lain? Lalu bgmn jawabannya?
    Trm ksh (Husnul ibunya Hanif)

Terima kasih Mbak Husnul.
Alhamdulillah sempat saya tawarkan untuk kembali ke sekolah tapi dengan tegas anaknya menjawab tidak. Karena lebih menikmati fleksibilitas kesehariannya. Sempat ada kejadian beberapa hari yang lalu saya diundang ke sekolah lamanya kiran untuk menjadi guest speaker dan uniknya saya harus tampil di depan teman-teman Kiran yang dulunya sekelas dengan Kiran. Kiran pun saya ajak untuk menjadi asisten saya pada kegiatan tersebut sekalian melihat apakah ada keinginannya untuk kembali ke sekolah. Ternyata anaknya masih tetap tidak mau bersekolah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di blog kami di sini :https://belajarbersama.com/bertugas-sebagai-asisten/ 

  1. Apakah proses deschooling utk kiran menyenangkan buat Kiran? Karena anak pertama saya juga deschooling sewaktu kelas 2 SD, yang kedua SMP TK saja, kelas 1 langsung hs, rasanya beda antara anak yang pernah sekolah dengan yang langsung hs, kalau Kiran gimana ya…
    -noname-

Alhamdulillah proses homeschooling kami tidak hanya menyenangkan untuk Kiran tetapi untuk orangtuanya. Sebetulnya kamilah sebagai orangtua yang banyak diajari oleh kesehariannya Kiran.

  1. Bagaimana menentukan target belajar Kiran? baik akademis maupun nonakademisnya.

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami tidak memiliki target akademis karena justru tujuan awal kami homeschooling adalah menghindarkan Kiran dari beban akademis sebelum dirinya siap. Meskipun tidak ada masalah mengenai kemampuan kognitifnya. Bahkan sekarang Kiran sudah mampu membaca buku sendiri dan berhitung dengan pengoperasian tambah dan kurang. Semua itu dipelajarinya karena ketertarikannya sendiri bukan atas dorongan kami. Dari kecil kami biasakan Kiran terbiasa dengan buku dan membacakan cerita kepadanya akhirnya muncullah ketertarikan untuk membaca (itu pun dari sebuah permainan Android). Kemudian berhitung pun dia pelajari dari bermain permainan papan ular tangga.

Saat ini kami tidak membuat target spesifik baik akademis maupun nonakademis. Tetapi lebih mengalir dalam keseharian kami dan membahas setiap kejadian untuk penguatan pendidikan karakternya. Seperti contohnya kami bisa membahas masalah kesadaran membuang sampah dan akibatnya terhadap lingkungan bisa menjadi bahan diskusi kami berhari-hari. Cara menghormati orang lain, pentingnya mengantre, cara menyela pembicaraan dengan baik, dll. Hal seperti ini lebih penting bagi kami daripada kemampuan akademisnya.

  1. Apa komentar atau opini orang2 terdekat (khususnya sanak saudara) yg mengetahui Kiran yg awalnya sekolah menjadi HS?

~Mba Febri (Bunda Yasmine)~

Terima kasih Mbak Febri
Pertanyaan yang menarik. Awalnya semua orang menentang keputusan saya termasuk istri saya sendiri. Singkat cerita (karena kalau diceritakan bisa panjang sekali di sini), istri saya sekarang sangat mendukung setelah melihat bagaimana homeschooling kami dilakukan. Tentunya semua orang menentang keputusan ini. Tetapi saya tidak menjadikan hal tersebut sebagai pilihan orang lain. Saya mencoba membuat situasinya jelas bahwa This is our own family and we do everything our own way. Sehingga tidak masalah apakah orangtua atau orang lain menentang, karena ini adalah keluarga kami dan kami tidak perlu meminta ijin kepada siapa pun. Seiring waktu berjalan pun pikiran mereka lebih terbuka setelah melihat keseharian kami. 

  1. Apakah pelajaran yang bersifat akademis itu diajarkan kepada kiran??
    -alisha-

Terima kasih Mbak Alisha.
Pelajaran yang bersifat akademis sama sekali tidak kami ajarkan. Kami lebih banyak membacakan buku cerita kepada Kiran untuk dijadikan pembelajaran dan bahan diskusi.

  1. Berarti Kiran sudah sekitar 3 ato 4 tahun homeschooling ya? Rencananya sampai berapa lama target homeschoolingnya? Diakhir. Homeschooling target orangtua terhadap Kiran apa aja, baik dari sisi anak ataupun lingkungan selepas homeschooling? Terimakasih Ayah Kiran

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Tidak, Kiran menjalani deschooling sejak October 2014 dan mulai menjalani homeschooling sepenuhnya bulan Maret 2015.

Berapa lama kami menjalani homeschooling kami kembalikan lagi kepada Kiran nantinya. Hanya saja saat ini anaknya sangat menikmati homeschooling. Jika nanti anaknya memutuskan terus homeschooling, ya kami lanjutkan. Kemudian jika anaknya ingin masuk sekolah ya, akan kami sekolahkan.

Tujuan utama kami dalam pendidikan Kiran tidaklah menekankan pada kemampuan akademisnya. Tetapi pada kepribadiannya. Secara sederhana kami menginginkan anak yang “benar” daripada anak yang “pintar”. Benar di sini diartikan dengan memiliki karakteristik manusia yang seutuhnya, untuk saling mengasihi tanpa memandang stasus sosial, agama dan sebagainya dan bisa menjadi seseorang yang bisa membuat perubahan yang baik di sekitarnya.

  1. Bolehkah kita sebagai ortu mentargetkan sesuatu skill atau kebisaan pada anak kita? Contoh : anak pandai bahasa inggris & hafal alquran?

~febri~

Terima kasih Mbak Febri.
Inilah yang saya sukai dari model pendidikan rumah (homeschooling). Seperti yang ditulis Mas Aar di bukunya Apa itu Homeschooling: Kata Kunci homeschooling adalah BOLEH. Saya hanya menambahkan asalkan anak juga memahami dan menikmati tujuan dari target tersebut sehingga anak tidak merasa terbebani atas “keinginan orangtua” bukan keinginan anak

  1. Bolehkah tau jadwal/timetable kesehariannya kegiatan kiran dr pagi smp malam? terimakasih.

– Ayu ratih (mama ryuga) –

Terima kasih Mbak Ayu Ratih.

Keseharian Kiran saat ini adalah:

Pagi: menyelesaikan 4 simple steps: Bangun tidur, Membereskan tempat tidur, mandi, dan sarapan. Setelah itu kami bermain bersama sampai siang.

Siang: Menemani saya bekerja di kantor (di kantor pun saya berdayakan untuk membantu sebisanya seperti mengelap meja, mencuci piring dan menawarkan bantuan kepada pekerja jika butuh bantuannya. Misalnya, memberikan dokumen dari satu ruangan ke ruangan lainnya.)

Sore dan malam : Menunggu Bunda Kiran mendatangi tempat kerja saya dan kami pulang ke rumah bersama. Magrib kami wajibkan solat berjamaah. Kemudian Bunda Kiran memperkenalkan Juz Amma. Kemudian selepas Isya biasanya kami melakukan review atas apa yang menjadi perhatian kami pada hari tersebut. Misalanya ada perilaku Kiran yang kurang menyenangkan dan kami membahasnya. Jika tidak ada yang dibahas biasanya kami mengajak Kiran menonton film bersama (elmo atau Charlie and Lola) dan membacakan cerita pengantar tidur.

  1. Memperhatikan pola komunikasi ayah kiran dan kiran selalu menggunakan bhs inggris atau bilingual (saat playdate),, apakah ini termasuk metode HS dari Ayah Kiran? Bagaimana kalau si orangtua yg memiliki keterbatasan dlm bhs inggris, namun ingin memperkenalkan bhs. Inggris kpd anaknya tapi jgn sampai terjebak pada metode pengajaran model sekolah formal

-Sastri-

Terima kasih Mbak Sastri.
Kami (saya dan istri) memang sudah merancang semenjak menikah jika memiliki anak ingin memiliki anak yang bilingual, bahkan kalau bisa poliglot (menguasai banyak bahasa). Tujuannya adalah untuk memberikan keterampilan dan berbahasa dan mencari informasi ke depannya. Misalnya saat ini sumber informasi di internet berlimpah ruah bahkan tak berbatas, hanya saja informasi tersebut hanya tersedia di dalam bahasa Inggris. Informasi dalam bahasa Indonesia masih sangat terbatas.

Jika ingin anaknya bilingual dan tidak terjebak dalam pengajaran model sekolah formal tentunya orangtua harus terlibat dan menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya. Tentu orangtua tidak harus “jago” berbahasa asing tetapi setidaknya menumbuhkan kebiasaan berbahasa asing yang diinginkannya dimulai dengan ungkapan-ungkapan sederhana. Sehingga setelah rasa percaya diri anak muncul, orangtua tinggal menyediakan kesempatan untuk anak menggunakan bahasanya. Misalnya bergaul dengan anak-anak yang bilingual, menonton acara berbahasa asing, atau menggunakan jasa guru bahasa untuk berlatih bersama anak.

Untuk penutup sharing malam ini. Saya hanya ingin menyampaikan kepada teman-teman sekaligus pengingat untuk diri saya sendiri untuk terus belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita tercinta. Berjejaring untuk saling menguatkan satu sama lain di antara keluarga praktisi homeschooling. Investasi terbesar yang bisa kita berikan untuk anak kita adalah waktu dan kehadiran kita.

Terima kasih untuk Mbak Ersita yang telah meluangkan waktunya menjadi moderator. Terima kasih Mbak Retno dan teman-teman lainnya atas kesempatan yang diberikan kepada saya membagikan pengalaman yang baru sedikit ini. Semoga kita bisa sama-sama belajar dan informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk teman-teman yang lain.

%d bloggers like this: